Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Dalam Dekapan Kabut
Izinkan saya kembali bercerita tentang sebuah kejadian di masa lalu

dalam dekapan kabut, aku terhangatkan oleh kalimat cintamu, kalimat sederhana penuh makna yang terucap diantara hamparan bunga bunga edelweis yang menjadi simbol keabadian... 

Chapter :

DDK - Chapter 1

DDK - Chapter 2

DDK - Chapter 3

DDK - Chapter 4

DDK - Chapter 5



Diubah oleh meta.morfosis 08-03-2024 09:56
riodgarp
jenggalasunyi
bukhorigan
bukhorigan dan 5 lainnya memberi reputasi
6
567
12
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#4
Chapter 4
Terlahirnya Sebuah Rencana







Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku itu, perkataanku itu kini terhenti seiring dengan tatapan mataku yang mendapati adanya keganjilan di salah satu sudut ruangan dari ruangan yang diperuntukan untuk buang air kecil, dalam pengelihatanku saat ini, terlihat kepulan asap berwarna putih keruh yang muncul dari berbagai arah, dan dalam hitungan yang tidak terlalu lama, kepulan asap putih itu kini mulai menyatu dan mulai membentuk kabut asap yang menyamarkan keberadaan sesuatu di dalamnya

“ ya tuhan... bukankah itu— ”

Sulit rasanya bagiku untuk melanjutkan perkataanku itu di saat pengelihatanku ini kini mulai melihat secara jelas sebuah sosok yang tadi sempat tersamarkan oleh kabut asap, dalam balutan kain kafan yang kini telah terlihat lusuh akibat terkotori oleh tanah merah yang basah, sosok penampakan mahluk ghaib yang menyerupai arif terlihat hanya terdiam dengan tatapan mata tertuju ke arahku, dari mulutnya yang terbuka lebar, terdengar suara yang menyerupai suara seseorang yang tengah kesulitan untuk bernafas

“ ya tuhan... ya tuhann... ”

Hanya perkataan itulah yang bisa terucap dari mulutku diantara rasa takut yang saat ini membuat seluruh tubuhku ini bergetar, hanya saja kini belum sempat rasa takut yang aku rasakan itu membuatku kehilangan kesadaran diri, aku kini kembali dikejutkan oleh kejadian menyeramkan lainnya yang membuatku tersadar untuk melakukan suatu tindakan agar aku terbebas dari situasi menyeramkan ini, keputusanku yang kini memutuskan untuk berlari keluar dari dalam ruangan kamar mandi untuk menghindari sosok menyeramkan berwujud lelaki berkulit hitam legam, yang merangkak menghampiriku melalui langit langit kamar mandi, tanpa aku duga ternyata kini harus berujung dengan kejadian menyeramkan lainnya yaitu berupa berubahnya lorong pendek yang telah aku lalui menjadi lorong panjang yang sama sekali tidak terlihat ujung akhirnya

“ mampus aku... mampus ! ” racauku dalam rasa panik yang saat ini aku rasakan, dan dikarenakan saat ini aku sangat merasa khawatir akan kehadiran sosok menyeramkan yang tadi menghampiriku, aku memutuskan untuk kembali berlari dengan turut serta membawa sebuah harapan aku akan terbebas dari situasi yang menyeramkan ini

“ apang ! ”

Tersadar dalam rasa bingung, sepertinya hanya kalimat itulah yang bisa menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini ketika aku mendengar suara panggilan anindia yang memanggil namaku, dalam posisiku yang saat ini tengah berdiri terpaku di depan ruangan kamar mandi, anindia berjalan menghampiriku dengan ekspresi wajah yang penuh dengan rasa kekhawatiran

“ kamu kenapa pang ? ” aku terdiam, tatapan mataku masih terpaku pada lorong pendek yang saat ini sudah tidak lagi berupa lorong panjang yang tidak mempunyai ujung akhir

“ pang, kamu ini baik baik saja kan ? ” tanya anindia kembali seraya menggenggam pergelangan tanganku, rasa dingin yang saat ini dirasakannya ketika menyentuh pergelangan tanganku, kini telah menghadirkan ekspresi keterkejutan di wajah anindia

“ astaga pang, kamu sakit yaa ?, jawab dong pang, jangan membuat aku khawatir seperti ini ”

“ aku... ” kembali aku terdiam, keinginanku untuk berkata jujur kepada anindia kini terhalang oleh egoku sendiri yang tidak ingin harga diriku ini jatuh di mata anindia

“ aku... aku apa apang ?, kamu itu kenapa ? ”

“ enggak tahu nih nin, tadi itu tiba tiba saja pandangan mataku ini terasa nanar ”

“ yaa ampun pang, jangan jangan kamu belum makan nih, pantas saja tadi itu aku melihat kamu hanya berdiri saja seperti orang kesakitan ” aku tersenyum lega, anindia yang saat ini masih merasa khawatir dengan kondisi kesehatanku ini, kini memutuskan untuk menuntunku meninggalkan ruangan kamar mandi

“ lain kali biasakan pang, kalau kamu mau berpergian sebaiknya kamu makan terlebih dahulu, jangan sampai kejadian tadi itu terjadi lagi di lain waktu ” saran anindia diantara keberadaan kami yang saat ini telah berada di parkiran sepeda motor

“ siap nin, aku janji... besok besok kalau kita jalan lagi, aku akan makan terlebih dahulu ” diantara senyuman tipis yang mengembang di wajahnya, anindia menggeleng gelengkan kepalanya

“ ohh iya pang, tadi itu kamu mencium apa enggak sih, aroma kurang sedap yang sepertinya bersumber dari ruangan kamar mandi itu ”

“ ahh kamu itu nin, masa iya sih aku enggak menciumnya, aku jadi merasa curiga nih... jangan jangan pertanyaan kamu itu ditujukan untuk meledek aroma kurang sedap yang melekat di pakaianku ini ”

Gelak tawa kami yang tercipta diantara hari yang saat ini mulai beranjak semakin sore, kini menjadi akhir dari keberadaan kami di museum, selepas dari anindia yang kini telah aku antarkan pulang ke rumahnya, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dengan turut serta membawa rasa kebahagian yang teramat sulit untuk aku tuliskan dalam rangkaian kata kata

“ loh, itu kan motornya ismed ” gumamku di dalam hati karena mendapati keberadaan sepeda motor ismed terparkir di halaman rumah, dan kini diantara aktifitasku yang tengah memarkirkan sepeda motorku tepat di samping sepeda motor ismed terparkir, anto keluar dari dalam rumah dengan membawa pemberitahuan bahwa saat ini ismed tengah menungguku di dalam kamar

“ sudah lama to, kang ismed di rumah ? ”

“ sudah hampir setengah jam kang ” jawab anto dengan memasang ekspresi wajah yang kurang nyaman

“ kamu kenapa to ? wajah kamu itu kok terlihat seperti enggak senang sih melihat akang ? ”

“ astaga kang, bukannya anto enggak senang melihat akang, tapi anto merasa mual dengan bau badan akang, sumpah kang, bau badan akang itu seperti bau— ”

Diantara rasa mual yang saat ini sudah tidak bisa untuk ditahannya lagi, anto memilih untuk tidak menyelesaikan perkataannya lalu beranjak pergi meninggalkanku, mendapati hal itu, dalam rasa jengkel yang saat ini aku rasakan akibat dari melihat tingkah laku anto yang terkesan merasa jijik dengan diriku ini, aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri

“ widihh mantab nih, pulang berpergian dengan anin langsung mandi ”

Perkataan yang sarat dengan pemikiran negatif itu terucap ketika aku baru saja memasuki kamar dengan handuk yang masih melekat di tubuhku ini, ismed yang saat ini tengah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menggodaku melalui senyumannya dan juga pergerakan alis matanya yang terlihat berkedut kedut 

“ ahh dasar otak mesum kamu med, kalau otak kamu itu dibedah pasti otak kamu itu isinya pikiran gencet menggencet semuanya ” ujarku dalam perasaan jengkel yang berbalas dengan gelak tawa ismed

“ lah terus alasannya kamu langsung mandi itu apa dong pang ? ” ismed mengalihkan tatapan matanya dari keberadaanku yang saat ini tengah mengenakan pakaian, mendapati saat ini telah terdengar suara kumandang adzan magrib, aku mengajak ismed untuk sholat magrib berjamaah, dan pada akhirnya selepas dari sholat magrib yang telah kami laksanakan,  aku mulai menceritakan kepada ismed tentang kejadian kejadian yang telah aku alami sewaktu aku berpergian dengan anindia

“ benar benar sinting kamu pang ” gelak tawa ismed terdengar begitu lepas, perkataanku yang mengatakan bahwa aku telah buang besar di celana sewaktu aku mengalami kejadian menyeramkan di ruangan kamar mandi, sepertinya kini telah menjadi hiburan tersendiri bagi ismed yang memang haus akan hiburan

“ enggak usah tertawa kamu med, sumpah... aku itu bakalan malu banget jika sampai anin itu mengetahui aib yang telah aku perbuat itu ” kembali ismed tertawa dengan gelak tawanya yang lepas, mendapati hal itu, kini tanpa menghiraukan lagi gelak tawa ismed yang sepertinya sangat sulit untuk aku hentikan, aku kembali melanjutkan keinginanku yang ingin berbagi cerita dengan ismed, dan pada akhirnya seiring dengan perkataanku yang mengatakan bahwa aku telah mengalami kejadian menyeramkan semenjak aku mengetahui kabar berita tentang kematian arif, dalam seketika gelak tawa ismed terhenti dan berganti dengan ekspresi keseriusan 

“ astaga, berarti kejadian kamu meminta agar aku memboncengi anin dan juga kejadian kamu berselisih dengan ida sewaktu melihat jenazah arif, itu ada hubungannya dengan kejadian menyeramkan yang telah kamu alami itu pang ? ”

“ iya med, di saat aku meminta kamu menggantikan aku memboncengi anin, itu dikarenakan saat itu aku merasakan motor yang aku kendarai terasa berat, sedangkan untuk kejadian aku berselisih dengan ida, itu dikarenakan saat itu aku seperti melihat kain putih yang menutupi wajah jenazah arif tersingkap hingga memperlihatkan kondisi wajahnya yang rusak ” ismed terdiam, ekspresi wajahnya menunjukan ada sesuatu yang saat ini tengah dipikirkannya

“ apa mungkin yaa med, arif itu enggak suka aku mendekati anin ”

“ entahlah pang, rasanya aneh saja jika kita berkesimpulan seperti itu, masa iya sih orang yang sudah meninggal dunia masih bisa cemburu ”

Dilatarbelakangi oleh keinginanku yang saat ini ingin merokok, aku mengajak ismed untuk melanjutkan pembicaraan di halaman rumah, bertemankan dua buah gelas kopi panas yang saat ini telah dibuatkan oleh anti, pembicaraan yang kami lakukan ini kini mulai menyinggung pada rencanaku yang ingin mengajak anindia berpetualang ke sebuah gunung yang berlokasi di jawa barat

“ wahh... wahh jangan gila kamu pang, memangnya kamu itu mempunyai pengalaman mendaki gunung ?, ingat loh pang, mendaki gunung itu bukan perkara main main ”

“ kamu tenang saja med, mendaki gunung itu juga enggak serumit apa yang ada di dalam pikiran kamu itu, kita hanya perlu— ”

“ pang, memangnya kamu yakin anin itu menginginkan petualangan seperti itu ? ”

“ seratus persen aku merasa yakin med, untuk apa juga dia memberikan tanda pada kalimat yang tertulis di buku itu jika dirinya itu tidak menginginkan kejadian seperti itu terjadi pada dirinya ” aku menghembuskan asap rokokku ke udara, melarungkan rencanaku pada kegelapan malam

“ kira kira kapan kamu akan melaksanakan rencana kamu itu pang ? ”

“ mungkin di liburan semester ini med ”

Selepas dari perkataanku itu, dikarenakan saat ini aku membutuhkan alasan yang kuat agar ismed dan ida mendukung rencanaku itu, aku langsung menceritakan kepada ismed tentang kondisi kesehatan ibu saat ini, termasuk keinginannya yang ingin melihatku secepatnya menikah, dan kini begitu ismed mendapati ceritaku itu, tanpa berpikir panjang lagi, ismed langsung menyatakan dukungannya atas rencanaku itu

“ tapi ingat pang, nanti itu sebelum kita mendaki gunung, kita berkunjung dulu ke rumah mamang aku untuk mendapatkan perlindungan ”

“ mendapatkan perlindungan ? ”

“ iya pang mendapatkan perlindungan, perlindungan yang dapat melindungi kamu dari gangguan ghaib ”

“ loh kok hanya aku saja sih med yang mendapatkan perlindungan, seharusnya kan perlindungannya itu untuk kita semua ” ujarku mencoba untuk meralat perkataan ismed

“ perlindungan itu hanya untuk orang orang yang imannya lemah pang, bukan untuk orang orang yang imannya kuat seperti aku dan ida ”

Mendapati candaan ismed tersebut, bungkusan rokok yang saat ini tengah aku genggam, aku lemparkan ke tubuhnya, gelak tawa yang tercipta diantara canda kami ini, sedikit banyak kini telah membantuku untuk mengurangi keteringatanku pada kejadian menyeramkan yang telah aku alami

“ kang ismednya sudah pulang kang ? ” tanya anti menyambut kehadiranku yang saat ini baru saja masuk ke dalam rumah, sehelai tikar yang saat ini tengah dipegang oleh anti, menunjukan saat ini anti berkeinginan untuk tidur di kamar ibu

“ sudah ti ” aku mengunci pintu rumah, terlihat saat ini anti hendak berjalan memasuki kamar ibu

“ apa enggak sebaiknya kamu tidur di kamar kamu saja ti, besok itu kan kamu harus sekolah ”

“ tenang saja kang, anti pasti enggak terlambat bangun kok ”

Tanpa bisa menahan lagi keinginan anti untuk tidur di kamar ibu, aku membiarkan anti berjalan memasuki kamar ibu, dan kini seiring dengan keteringatanku akan sholat isya yang belum aku laksanakan, aku memutuskan untuk terlebih dahulu mengambil air wudhu sebelum memasuki kamarku

“ tadi itu benar juga yaa perkataan ismed, enggak mungkinlah orang yang sudah meninggal dunia itu bisa cemburu ”

Dalam posisiku yang saat ini telah merebahkan diri di tempat tidur, gumamanku itu terucap diantara rasa mengantuk yang saat ini mulai sesekali memejamkan mataku, dan kini setelah cukup lama juga aku terjaga dengan tatapan mata memandang ke arah langit langit kamar yang saat ini memperlihatkan keberadaa dua ekor cicak yang tengah berkejaran dalam memadu asmara, tanpa tersadar aku pun mulai tertidur dan terbuai dalam mimpi indah, hingga pada akhirnya aku kembali terjaga diantara selimut kegelapan yang saat ini menyelimuti ruangan kamar

“ duhh... kok mati sih lampunya ” gumamku seraya beranjak bangun dari tempat tidur, kecurigaanku atas kemungkinan matinya listrik di rumahku ini disebabkan oleh adanya gangguan listrik, kini telah membuatku memutuskan untuk memeriksa benser listrik yang berada di luar rumah, dan pada akhirnya aku kini mendapati kenyataan berupa turunnya benser listrik yang kemungkinan besar disebakan oleh penurunan tegangan listrik di kampungku ini

“ hehh benser, besok besok itu kalau kamu mau turun lagi, tolong jangan tengah malam seperti ini, bikin repot aku saja ”

Seiring dengan cahaya lampu yang kini telah kembali menerangi rumahku, aku putuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurku yang tadi sempat terganggu karena padamnya listrik di rumahku ini, dan kini diantara keberadaanku yang telah kembali menaiki tempat tidur, aku kembali memejamkan mataku dengan harapan aku akan kembali tertidur, hanya saja kini belum sempat aku tertidur, tiba tiba saja lampu kamar kembali padam, dan hal tersebut kini telah membuatku kembali membuka pejaman mata dalam perasaan yang yang kesal 

“ brengsek, listrik ini maunya apa sih ” ujarku seraya hendak beranjak bangun dari posisiku terbaring saat ini, hanya saja kini baru saja aku mengangkat kepalaku untuk beranjak bangun, keberadaan sesuatu yang saat ini menyentuh wajahku, telah membuatku memutuskan untuk kembali merebahkan kepalaku di tempat tidur

“ sial, apa itu ? ”

Firasatku yang mengatakan adanya sesuatu yang ganjil dari situasi yang tengah aku hadapi saat ini, secara perlahan kini mulai meremangkan bulu kuduk di tubuhku, kebuntuan pikiranku yang terlahir dari rasa ketakutanku yang tidak ingin wajahku ini kembali bersentuhan dengan sesuatu yang tersembunyi di dalam kegelapan, kini telah membuatku memutuskan untuk berdiam diri dengan mata yang terpejam, saat ini aku benar benar berharap apa yang aku lakukan ini akan membuat situasi yang tengah aku hadapi ini akan berlalu dengan sendirinya, hanya saja kini seiring dengan menit demi yang terus berjalan, harapanku yang berharap situasi yang aku hadapi ini akan berlalu dengan sendirinya, sepertinya kini harus aku kubur dalam dalam, karena saat ini justru aku malah terjebak dalam situasi buruk lainnya yang pada akhirnya menghilangkan kesadaran diriku

69banditos
69banditos memberi reputasi
1