Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#16
BAB 9


Hari berikutnya, di siang menjelang sore itu orang-orang ramai berjalan ke aula satu. Mereka semua memakai pakaian bagus, riasan wajah cantik dan rambut yang ditata sedemikian rupa. Para laki-laki memakai kemeja bahka jas, sementara gaun-gaun indah para perempuan melengkapi suasana. Anak-anak pun turut hadir, tak kalah dengan para orang dewasa.

Aula satu penuh dengan kerumunan orang, satu per satu dari mereka masuk dan mencari posisi untuk duduk. Aula itu tidak memiliki kursi, sehingga para orang yang datang bebas duduk di mana saja. Bahkan kalau harus berdesakkan. Di depan mereka, sebuah panggun teater berdiri. Dengan tirai yang masih tertutup.

Di tengah kerumunan itu, hadir pula kedua orang konten kreator yang menjadi tamu undangan. Ray dan Rissa. Dengan membawa kamera, mereka masuk ke dalam aula. Bahkan Dazza telah menyiapkan tempat khusus untuk mereka. Sehingga mereka tidak perlu berdesakan dengan orang lainnya.

Ray dan Rissa duduk di sebuah tempat khusus dengan lebar sekitar 3 x 3 meter dengan sebuah pagar kayu yang melingkar membatasi mereka dari orang-orang lainnya. Ray mendirikan tripod lalu meletakkan kameranya. Mengarahkan lensa ke posisi paling bagus untuk melakukan rekaman. Mikrofon tak lupa mereka pasang demi kualitas suara yang bagus.

Hari ini memang merupakan hari yang ditunggu bagi semua pengikut Dazza. Bagi Ray dan Rissa, hari ini sangat menarik untuk masuk ke dalam konten mereka. Di mana ibadah tahunan akan dibuka sebentar lagi. Sambil menunggu acara di mulai, mereka duduk di kursi yang disediakan.

“Lama banget,” keluh Rissa sambil mengipas-ngipasi dirinya.

“Iya, tapi gimana lagi. Harus sabar,” jawab Ray.

Rupanya, keadaan ramai ini tidak menandakan bahwa acara segera dimulai. Masih ada rentang waktu satu jam dari ketika para orang-orang ini berkumpul sampai Dazza naik ke panggung dan membuka acara.

“Baru pertama kali, Bang?” tanya salah satu orang yang berada duduk di lantai kepada Ray.

Ray lalu menoleh ke orang itu. “Iya, kapan mulainya?” tanya balik Ray.

“Nanti juga mulai, sesuai rencana Tuhan,” jawab orang itu.

Ray tersenyum lebar. “Oke, semoga Tuhanmu itu gak telat ya. Soalnya saya males nunggu lama,” ucap Ray sedikit bercanda. “Lagi-lagi Tuhan,” gumamnya sambil membenarkan posisi duduk.

Pada jam yang ditentukan, akhirnya acara dimulai. Tirai hitam itu dibuka. Semuanya bertepuk tangan saat melihat Dazza berdiri di atas panggung. Dengan pakaian seperti biasa, jubah serba putih dan tongkat yang ia bawa kemana-mana. Hanya anehnya, kali ini Dazza memakai topeng berwarna putih yang berbentuk wajah manusia tanpa ekspresi.

Ray tak mau melewatkan momen itu, buru-buru ia merekam dan mendapatkan gambar. “Eh, kita belum bikin opening,” kata Rissa mengingatkan.

“Gak apa-apa, opening bisa kita bikin nanti selesai video,” jawab Ray dengan suara sedikit keras akibat suara riuh dan tepuk tangan dari semua orang yan datang.

Tak lama pengeras suara mulai berbunyi, suara Dazza pun membuat hening semuanya. Para hadirin pun terdiam dan menunggu kalimat pembuka yang akan diucapkan Dazza. “Los Meyordes!” ucap Dazza dengan begitu bersemangat.

“Los Meyordes!” jawab para hadirin.

“Aku amat bahagia di hari yang istimewa ini. Aku bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menjalankan ibadah tahunan yang sangat berarti bagi kita semua. Tuhan masih mempercayaiku,” ucap Dazza. “Dan sebagaimana acara pembuka seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini akan ada teater yang akan dimainkan oleh Enam Pilar. Anak-anak yang aku banggakan, yang lahir bersama zat Tuhan dalam diri mereka.” Dazza lalu menoleh ke samping panggung.

“Romero!” panggilnya Dazza, kemudian sosok pria berjanggut naik ke atas panggung yang merupakan anak kedua Dazza dari istrinya yang pertama. Sekaligus pemimpin dari Enam Pilar dan calon pembawa pesan setelah Dazza.

“Clara!” panggil Dazza lagi. Kini seorang perempuan naik ke atas panggung.

“Monica!”

“Nico!”

“Claudio!”

“Iago!”

Setelah menyebutkan nama-nama itu, kini Enam Pilar yang terdiri dari dua perempuan dan empat laki-laki berdiri di atas panggung. Para hadirin terus memeriahkan dengan tepuk tangan tanpa henti. Serta sorakan-sorakan dan siulan yang semakin membuat aula satu begitu riuh kala itu.

Dazza kembali bicara. “Mereka yang akan membuka ibadah tahunan ini dengan sebuah pertunjukkan teater yang melambangkan keagungan dan kehadiran Tuhan di sini. Bagaimana pun juga—“

Tiba-tiba ucapan Dazza terhenti, dari balik topengnya mata orang tua itu menatap ke arah langit-langit aula. Begitu fokus dan serius seolah melihat sesuatu di atas sana. Para hadirin saat itu pun terheran-heran, termasuk Ray dan Rissa. Mereka sama-sama melihat ke arah atas, tapi tak ada apa-apa di sana.

Semua menjadi semakin aneh saat tiba-tiba Dazza lemas dan jatuh terduduk. Iago yang berada paling dekat dengannya lalu menjaga sang ayah. Laki-laki muda berkepala botak itu menahan tubuh ayahnya agar tak jauh ke belakang.

“Dia di sini,” kata Dazza lirih. Semua orang mendengar ucapan itu. “Tuhan hadir di sini, Tuhan di sini!” Dazza kembali bicara sambil terus menatap ke arah langit-langit aula. Tak lama ia pun bersujud seolah Tuhan benar-benar ada di hadapannya.

Melihat itu, Enam Pilar ikut sujud bersama ayahnya. Sedangkan para hadirin cukup membacakan doa-doa serta pujian kepada Tuhan yang menurut penuturan Dazza hadir dalam acara ini dan hanya ia seorang yang dapat melihatnya.

Ray dan Rissa menggeleng-gelengkan kepala. Sesekali ia melihat ke arah langit-langit, tapi tetap tidak ada apa-apa di sana. “Ini orang-orang pada kenapa sih?” tanya Rissa yang bingung.

“Aku melihatnya, Rissa. Tuhan ada di sana, Tuhan hadir di sini,” ucap Ray sambil menunjuk ke langit-langit.

“Ah, yang bener kamu! Kamu jangan ikutan halu deh!” balas Rissa sambil menepuk bahu pacarnya.

“Tapi bohong, hahahahaha,” kata Ray dengan nada mengejek dan tawanya yang menjengkelkan.

Dazza lalu kembali berdiri, kedua tangannya menadah ke atas. “Oh, sungguh aku tidak akan mengecewakanmu wahai Tuhanku,” ucap Dazza. “Mulai sekarang juga!” teriak Dazza yang kemudian berjalan dan berdiri di posisi paling belakang panggung. Sedangkan Enam Pilar akan memulai pertunjukkan teater mereka.

Enam Pilar membuka pertunjukkan dengan tarian khas Eropa. Dengan tubuh lincah dan sudah terlatih, keenam orang itu berputar dan melakukan gerakan-gerakan indah yang menarik mata siapapun.

Musik-musik pun mulai dimainkan, berupa beberapa alat musik klasik seperti piano dan biola. Suasana berubah begitu syahdu, semua hadirin diam dan tenang sambil melihat pertunjukkan itu. Tak ada dari mereka yang bersuara.

Enam Pilar yang bernama Nico lalu bergerak berpisah dari para penari. Lalu kelima anak lainnya menatap Nico dengan tatapan sedih. Musik pun seketika berhenti saat Nico memilih menjauh dari sudara-saudaranya itu.

“Oh, saudaraku. Mengapa engkau menjauh dari kami?” tanya Romero sang anak pertama.

“Karena aku meninggalkan keyakinanku, Tuhan tidaklah ada di sini. Aku akan berjalan seorang diri dan memilih jalan hidupku,” jawab Nico yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.

Tak lama keluar beberapa orang yang memakai kostum setan. Setan-setan itu lalu mengelilingi Nico, yang melambangkan dosa-dosa dan godaan duniawi yang membutakan mata manusia.

“Nico ku tersayang,” panggil Monica kepada adiknya. “Tidakkah kamu sadar bahwa dunia ini fana, semua hanya ilusi, kebohongan. Hanya Tuhanlah yang paling benar diantara segalanya, mengapa engkau lebih memilih kebohongan daripada kebenaran,” tambah Monica.

“Tidak bisa dibiarkan, kita harus bertindak!” kata Iago yang ikut dalam dialog.

“Kita harus selamatkan Nico dari kefanaan dunia!” Clara ikut bicara.

Dengan tegas Claudio menambahkan, “Nico! Tunggu kami, akan kami bawa kamu kembali dalam pelukan Tuhan!”

Kelima anak itu lalu begerak dan menghajar para setan-setan yang mengelilingi Nico. Terjadi perkelahian antara lima anak itu dengan para setan. Hingga pada akhirnya Nico terbebas dari rayuan setan itu. Ia lalu menatap saudara-saudaranya yang datang menyelamatkan dirinya.

“Oh, saudara-saudaraku. Kehadrian kalian amat berarti, tanpa kalian mungkin aku ingkar pada janjiku kepada Tuhan. Janji untuk selalu berada di sisinya dan patuh atas semua perintahnya. Sungguh kepada Tuhanlah aku tunduk!” kata Nico yang kini kembali ke jalan yang benar.

Cerita pertama pun selesai dengan ending bahagia, di mana sang tokoh utama yaitu Nico akhirnya kembali ke jalan Tuhan dan meninggalkan nafsu duniawinya. Setelah pertunjukkan pertama selesai, musik kembali terdengar dan Enam Pilar kembali menari-nari di atas panggung. Tak lupa para hadirin memberi tepuk tangan atas pertunjukkan pertama yang menampilkan akting brilian para Enam Pilar.

Sebelum masuk ke cerita kedua yang akan mereka tampilkan dalam teater ini, tari-tarian dan musik menjadi transisi sekaligus gambaran untuk cerita selanjutnya. “Menurutku, teater ini sampah! Malahan sinetron-sinetron di TV lebih layak ditonton dari pada ini,” kritik Rissa dengan begitu kejam dan membuat Ray tertawa.

“Bagiku pertunjukkan ini lucu, akting mereka seperti orang tolol! Kayaknya ini pertunjukkan lebih ke komedi deh. Asli semua orang di internet harus lihat ini,” kata Ray sambil terus memantau rekamannya.

“Sayang gak ada sinyal, kalau ada aku bakalan live di sini,” sahut Rissa.

Cerita-cerita selanjutnya yang ditampilkan dalam teater ini pun tak berbeda jauh. Semuanya memperagakan kisah mengenai keagamaan mereka, menyebarkan pesan-pesan Tuhan dalam bentuk kesenian. Semua mata di aula terpukau, terhipnotis dengan pertunjukkan itu. Kecuali Ray dan Rissa yang mulai mengantuk melihat teater konyol mereka.

Sampai akhirnya tak terasa, dua jam sudah terlewat begitu saja. Enam Pilar berakting tanpa henti di depan ratusan pasang mata yang hadir di aula. Berita bahagia pun terdengar ke telinga Ray, yaitu bahwa teater telah selesai. Semua orang bertepuk tangan, ada yang sampai berdiri. Bahkan ada orang yang sebegitu kagumnya sampai menangis terharu melihat pertunjukkan tadi. Semua itu karena unsur-unsur agama yang dimasukkan dalam pertunjukkan itu. Unsur paling emosional dalam hati mereka.

“Hadirin sekalian, teater telah selesai. Tuhan telah melancarkan semuanya tanpa kendala. Aku sangat bersyukur dan bangga terhadap keenam anakku,” ucap Dazza sambil berjalan ke depan panggung. “Kini, saatnya aku meresmikan pembukaan ibadah tahunan!” tambahnya.

Mendengar itu, Enam Pilar duduk di atas panggung dan membuat lingkaran. Lalu Dazza melangkah dan berdiri di tengah-tengah para Enam Pilar yang duduk melingkar. Ia hentakkan tongkatnnya beberapa kali sambil bersenandung. Semua orang dengan serius melihatnya.

Doa-doa mulai keluar dari mulut Dazza. Kepalanya yang tertutup topeng menatap ke arah atas. Suara hentakkan tongkat kayu bertemu lantai panggung terus terdengar. Enam anaknya itu hanya menunduk sambil mendengar alunan doa indah yang keluar dari mulutnya.

“Kalian telah memakan makanan doa kemarin, kini doa itu telah masuk ke dalam diri kalian. Menyatu dengan zat Tuhan yang sudah ada sejak kalian lahir, kini kalian harus mengeluarkannya. Sebagai keberkahan dari Sang Maha Kuasa!” ucap Dazza yang kemudian lanjut berdoa.

Enam Pilar lalu merubah posisi duduk mereka. Lima orang duduk dengan posisi sejajar menghadap ke arah hadirin. Sedangkan sang anak pertama yaitu Romero berdiri dan berjalan beberapa langkah ke depan. Diiringi dengan doa-doa yang terus keluar dari mulut ayahnya.

Di tengah ratusan pasang mata di depannya, Romero lalu melepas celananya berikut celana dalamnya juga. Ia juga melepas bajunya. Kini ia telanjang tanpa busana di atas panggung. Ray dan Rissa mulai merasakan hal aneh akan terjadi.

Romero lalu berjongkok di hadapan hadirin semua. Pelan-pelan benda kekuningan dan lembek keluar dari anusnya. Ya, Romero buang air besar di atas panggung. Kotorannya jatuh begitu saja ke lantai panggung. Para hadirin yang melihatnya begitu kagum dan terkesima. Ray dan Rissa memalingkan wajah dari pemandangan menjijikan itu.

Selama beberapa menit, Romero bertahan dalam posisi itu. Kotoran demi kotoran keluar dari anusnya. Terus memenuhi lantai dan menyebarkan bau tidak sedap. Sampai akhirnya ia berdiri, kemudian berjalan ke belakang meninggalkan kotorannya begitu saja. Masih dengan tubuh telanjangnya.

“Tuhan, lihatlah ini! Keberkahanmu datang kepada kami,” ucap Dazza sambil menunjuk kotoran anaknya yang menumpuk di lantai panggung. “Kelima anakku, lakukanlah!” perintah Dazza.

Mendengar perintah sang ayah, kelima anaknya yang terdiri dari Monica, Clara, Nico, Claudio, dan Iago lalu berjalan merangkak. Sementara Dazza membacakan doa-doa. “Ayo! Semuanya!” Dazza turut mengajak hadirin untuk ikut berdoa.

“Ya Tuhan, berilah kami keberkahan! Masukkan keberkahan itu dalam diri kami! Ya Tuhan, berilah kami keberkahan! Masukkan keberkahan itu dalam diri kami!” Kalimat itu terus diucapkan dengan berulang-ulang oleh semua hadirin yang datang. Aula pun ramai dengan doa mereka.

Kelima anaknya lalu duduk di depan kotoran Romero kakak tertua mereka. Mereka abaikan semua bau dan rasa jijik. Dengan pelan tangan mereka secara bergantian memegang kotoran itu. Setelah semuanya memegang kotoran Romero, Dazza lalu menghentakkan tongkatnya ke lantai satu kali.

Mendengar suara hentakkan itu, kelima anaknya secara serentak memasukkan kotoran Romero ke dalam mulutnya. Mereka memakan kotoran manusia yang tak lain adalah kakak mereka. Sang calon pembawa pesan Tuhan. Benda kuning lembek itu masuk ke dalam mulut mereka, mereka rasakan dan telan mentah-mentah. Meskipun baunya sangat menyengat.

“Hueek!” Rissa hampir saja muntah melihat pemandangan menjijikan itu. Beruntung sang pacar buru-buru mengalihkan pandangannya. Ray dan Rissa berbalik badan, menolak menyaksikan apa yang terjadi di atas panggung.

“Gila! Ini gila! Agama macam apa ini?! Bener-bener gak beres!” kata Ray sambil mengelus punggung Rissa. “Udah, jangan diliat,” katanya kepada Rissa yang menahan mual di perutnya.

Hadirin bersorak-sorai, tak ada sedikit pun wajah jijik di wajah mereka. Bagi mereka, justru mereka memuji para Enam Pilar yang dianggap mewakilkan mereka semua dalam menjalankan perintah Tuhan. Melakukan apa yang disebut dengan berbakti pada Sang Maha Kuasa. Entah anak-anak, perempuan, laki-laki, tua, muda semuanya bahagia melihat apa yang ada di panggung.

“Makanan yang Enam Pilar makan kemarin telah keluar! Menjadi sebuah keberkahan sejati yang berasal dari zat Tuhan!” Dazza lalu mengambil sedikit kotoran anaknya. “Inilah keberkahan Tuhan!” ucapnya memuji kotoran itu. Kemudian sambil memejamkan mata ia makan kotoran itu.

Sementara kelima anaknya terus memakan kotoran kakak pertamanya sampai habis dengan disaksikan ratusan pasang mata. Kini benda kuning itu telah belepotan di mulut mereka, di gigi dan juga lidah mereka. Semua bagian mulut mereka turut penuh dengan kotoran Romero yang baunya sangat tidak sedap.


tariganna
tariganna memberi reputasi
1