Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#15
BAB 8

“Dulunya aku pekerja lepas di pabrik,” ucap salah satu orang di sebuah kantin yang terletak di belakang mansion. Kala itu jam makan siang telah tiba, tepat setelah pemberkatan Enam Pilar di depan rumah Dazza. Karena sempat tertunda setengah jam, kantin menjadi ramai. Banyak orang-orang yang terlambat makan, antrian menjadi penuh.

Sosok laki-laki mantan pekerja lepas di pabrik itu bernama Dono, kini ia tengah makan di depan Ray dan Rissa. Mereka menyantap makanan yang sama seperti yang lainnya. Kedua sejoli itu sengaja tidak makan makanan yang disediakan oleh Eve yang terbilang lebih enak, tanpa antri dan tidak berbaur dengan orang lainnya. Semua itu demi bertemu dengan orang-orang penghuni mansion dan mencoba mengulik agama ini berdasarkan sudut pandang mereka.

Kantin itu sendiri tidak terlalu besar, sedangkan orang-orang yang ditampung sampai ratusan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana penuhnya. Bahkan banyak orang-orang yang memilih untuk makan di luar kantin, atau memilih dibungkus dan makan di ruangan mereka masing-masing. Saat masuk kantin, hal pertama yang dirasakan adalah bau makanan yang tercium begitu menggoda selera makan. Asap-asap mengepul dari dapur yang banyak mempekerjakan ahli-ahli masakan dari berbagai daerah.

“Kamu kerja di pabrik apa?” tanya Ray sambil menyantap makanannya yang berupa nasi dan lauk pauk sederhana.

“Aku kerja di pabrik minuman, disana aku jadi supir forklift,” jawabnya. “Tapi gajinya gak seberapa, terlalu pas-pasan,” tambah Dono.

“Padahal supir forklift itu butuh keahilan khusus lho,” sahut Ray.

“Tapi mungkin karena pabriknya juga bukan pabrik besar. Jadi, gaji yang dibayar ke kita juga sedikit. Lagian juga, kerjaan kita gak terlalu banyak. Kadang kita terlalu santai, kalo gak ada yang butuh forklift ya kita cuma duduk-duduk aja,” jawab Dono.

Ray mengangguk, ia menaruh sendok dan garpunya. Kemudian ia menatap Dono, dan bersiap untuk bertanya maksud sebenarnya ia memulai pembicaraan. “Jadi, kenapa kamu milih buat masuk komunitas ini?” tanya Ray.

Mendengar pertanyaan yang menjadi serius, Dono mencoba untuk menjawab dengan serius pula. Sama seperti Ray, garpu dan sendok di tangannya ia letakkan terlebih dahulu. “Karena aku menemukan keberadaan Tuhan di sini, aku merasakannya,” jawabnya.

“Kenapa orang-orang selalu bilang begitu sih?” tanya Rissa penasaran. “Maksud aku, kayanya kita udah sering deh denger ‘Tuhan ada di sini.’ Tapi aku masih gak paham maksudnya, coba deh jelasin maksudnya gimana?” Rissa ikut masuk ke dalam pembicaraan yang makin serius itu.

Wajah Dono menatap Rissa dan Ray secara bergantian, senyum kecil tersimpul di wajahnya. Senyum dengan aura yang sedikit aneh. “Gak bisa dijelasin. Yang jelas, dia ada di sini. Tuhan,” jawabnya. Kemudian Dono langsung melanjutkan makanannya.

“Lah? Jawaban kaya gitu gak—“

“Sssstt ....” Ray langsung menghentikan Rissa sebelum menyelesaikan kalimatnya. “Udahlah, gak usah diperpanjang,” ucap Ray.

Sambil menggelengkan kepala, Rissa melanjutkan makannya. Sendok demi sendok masuk ke mulutnya. Meski kepalanya masih dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai keimanan dan ketuhanan orang-orang di tempat ini. Ketuhanan di tempat ini masih abu-abu bagi Rissa.

Setelah lima belas menit di sana, pasangan itu lalu berdiri sambil membawa piring yang telah kosong. Meninggalkan Dono seorang diri di meja. Mereka berjalan berbaur dengan orang-orang lainnya, menaruh piring di tempatnya. Tak lupa pula mengambil segelas air untuk membasahi tenggorokannya.

Kaki mereka melangkah meninggalkan tempat itu. Di tengah teriknya matahari siang ini, mereka tak ada agenda apa-apa. Eve pun nampaknya sedang beristirahat di rumahnya setelah acara pemberkatan Enam Pilar. Rissa dan Ray berjalan mengitari mansion, melewati rumah Dazza. Di sana sisa-sisa makanan pemberkatan masih terlihat, belum ada yang membersihkannya.

Angin begitu kencang menerpa wajah mereka walau panas matahari begitu terik, melihat itu Ray mengajak pacarnya ke suatu tempat. Kaki Ray memimpin di depan, membawa Rissa ke halaman belakang mansion. Melalui pintu kecil yang ada di belakang, mereka berjalan  ke luar dinding putih pembatas antara properti Dazza dan lingkungan sekitar.

Kuil mereka terlihat di depan sana, tapi bukan itu tujuan Ray dan Rissa. Melainkan sebuah pohon ceri yang tampak kesepian di tengah padang rumput bukit ini. Tepat beberapa puluh meter di samping kuil. Mereka berdua mengarah ke sana.

Di bawah pohon ceri keduanya duduk bersama, dengan perut kenyang dan sepoi-sepoi angin yang memanja. Kaki mereka menyentuh lembutnya rumput yang masih bersih dan terjaga. Ray melepas kacamatanya, bersandar di batang pohon, menikmati suasana syahdu ini. Di sampingnya, sang kekasih duduk menaruh kepalanya di bahu Ray.
“Capek juga,” kata Rissa.

Ray bertanya, “abis ngapain emang? Pake acara capek segala.”

“Capek sama orang-orang di sini, yang kalo ditanya jawabannya muter-muter,” jawab Rissa.

“Yaudah, biar gak capek aku ada sesuatu buat kamu.” Ray lalu merogoh saku kemejanya.

“Apaan sih?” tanya Rissa penasaran. Tangan Ray keluar dari sakunya, tidak ada yang ia ambil dari saku tersebut. Hanya saja Ray menunjukkan ibu jari dan jari telunjukknya yang ia silangkan dan membentuk sebuah hati. “Lebay!” Sambil tertawa kecil Rissa langsung menepis tangan itu dari depan wajahnya.

Sambil tersenyum lebar, Ray melihat sekitar. “Sekali-kali kita santai di sini, berdua,. Nikmatin suasana,” kata Ray. “Ngomong-ngomong, pemandangan di sini indah juga ya. Di sana banyak gunung dan bukit.” Tangan Ray menunjuk ke sebuah gugusan perbukitan yang jauh di arah barat. Terlihat kebiruan dan megah dengan hiasan awan-awan tipis di sekitarnya.

“Dari kemarin aku udah tau kalo di sini itu indah. Kamu aja yang terlalu fokus sama orang-orang mabuk agama gak jelas itu,” kata Rissa sambil melihat gugusan bukit itu.

Ray menghela nafas, menghirup udara sekitar yang masih asri. “Mau gimana lagi? Emang itu kan tujuan kita ke sini. Nanti kalau konten ini menghasilkan banyak uang buat kita, kami boleh minta apa aja,” ucap Ray.

“Gimana kalau aku minta dinikahi?” tanya Rissa sambil tersenyum.

Ray menoleh, menatap senyuman di wajah pacarnya itu. “Tentu, aku udah punya rencana buat nikah sama kamu,” jawab Ray. “Tapi sebelum itu, aku punya keinginan buat beli rumah yang layak. Bukan kandang ayam kaya yang kita tempatin sekarang,” tambah Ray.

Rissa mengangguk. “Aku paham,” balas Rissa singkat.

Tangan Ray mengelus pelan rambut pirangnya. “Tak apa-apa, Sayang. Tenang aja, nanti juga hari bahagia itu bakal dateng ke kehidupan kita,” ucapnya.

Rissa lalu mengangkat kepalanya. Ia melepas sepatu yang ada di kakinya. Tubuhnya lalu ia baringkan di atas rumput, lalu kepalanya ia taruh di paha Ray. Wajah keduanya saling bertemu, Rissa menatap wajah Ray yang berlatarkan dedaunan pohon ceri yang bergerak menari tertiup desiran angin. Tak ada kata yang terucap, hanya sebuah senyum manis sederhana yang menggambarkan cinta.

Ray membalas senyumannya. “Aku pasti bakal serius sama kamu, Sayang,” bisik Ray. Tangannya kembali mengelus kepala pacarnya. Membiarkan ia memejamkan mata, sampai mungkin tertidur di tengah desiran angin yang memanja.

Laki-laki itu kembali melihat ke depan, menikmati suasana berdua dengan orang yang ia cintai. Tangannya melepas dua kancing atas di kemejanya, membiarkan angin masuk dan menyejukkan tubuhnya. Siang itu, pohon ceri yang kesepian dan belum berbuah di tengah padang rumput ini menjadi satu dari sekian saksi cinta mereka berdua.


itkgid
tariganna
tariganna dan itkgid memberi reputasi
2