Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#14
BAB 7


Jauh sekitar seratus meter di depan mansion, berdiri sebuah bangunan yang tidak terlalu besar. Posisinya sendiri masih berada dalam lingkup bangunan yang dijaga oleh dinding putih. Pada pagi hari yang sedikit berawan itu, anak-anak berjalan beramai-ramai masuk ke dalam bangunan itu. Di depan pintu, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun dengan sanggul di rambutnya berdiri mengabsen anak-anak yang masuk tersebut.

Di sinilah sekolah yang Dazza dirikan guna memberi pendidikan kepada anak-anak. Sistemnya amat berbeda dengan sekolah di luar pada umunya. Begitu juga dengan kurikulumnya yang sudah jelas tidak mengikuti kurikulum Kemendikbud. Dalam sekolah itu, mereka hanya dibagi menjadi tiga tingkatan.

Sekolah tingkat satu adalah sekolah membaca, menulis dan berhitung. Masa sekolah tingkat satu sendiri berlangsung hanya selama tiga tahun. Kemudian tingkat kedua, yaitu di mana anak-anak akan diberikan arahan mengenai bakat dan minat mereka. Tingkat kedua memiliki masa belajar selama dua tahun. Dan yang terakhir tingkat ketiga, di mana mereka diajarkan mengenai ilmu-ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi kebutuhan tempat ini seperti bertani, beternak, memasak dan banyak lagi.

Dari ketiga tingkatan sekolah itu, semua baik dari tingkat satu sampai tiga sama-sama di isi oleh unsur-unsur keagamaaan. Itu artinya, melalui sekolah Dazza menanamkan doktrin keagamaannya kepada anak-anak usia dini.

“Buka halaman 11, lihat poin nomor 4!” perintah seorang guru yang sedang mengajar anak-anak tersebut. Dengan seretak mereka membuka sebuah buku pelajaran sesuai dengan permintaan sang guru. “Kamu baca!” ujar sang guru lagi sambil menunjuk salah satu anak.

“Dalam lingkungan, setiap umat wajib mengingatkan satu sama lain mengenai perintah Tuhan dan ajaran-ajaran Tuhan yang telah ditetapkan oleh si pembawa pesan,” tutur anak itu membaca poin yang dimaksud.

Dari arah luar kelas, tampak Ray dan Rissa datang. Dari balik jendela mereka memperhatikan kegiatan belajar mengajar tersebut. Ray menyalakan kameranya dan merekamnya dari balik jendela. Hal tersebut diketahui oleh sang guru. Tanpa mereka sadari, guru itu berjalan ke luar meninggalkan murid-muridnya.

Sang guru membuka pintu kelas dan berjalan mendekat. “Bukannya malah kurang bagus hasilnya kalau rekam dari balik kaca jendela?” tanya guru itu dengan ramah.
Ray dan Rissa lalu mengalihkan pandangannya ke arah guru itu. Mereka menyapa dan tersenyum dengan sopan. Ray berjalan maju ke arahnya. “Maaf ganggu kegiatannya, kita tamu di sini. Kita lagi meliput soal kegiatan kelompok di sini,” ucapnya.

“Saya tahu itu, semua orang tahu kalian,” jawab wanita itu. “Nama saya Dwi, salam kenal,” tambahnya dengan nada ramah.

“Iya, saya Ray dan ini Rissa pacar saya,” balas Ray.

“Halo, Bu Dwi,” sapa Rissa.

“Hai, cantik.” Bu Dwi tersenyum ke arah Rissa. “Mau masuk ke dalam? Mending di dalam sana, kalian bisa lebih jelas ambil gambarnya,” ajak Bu Dwi.

“Apa gak ganggu?” tanya Ray memastikan.

“Enggak kok, udah ayo masuk aja.” Bu Dwi lalu berjalan masuk ke dalam ruang kelas. Ray dan Rissa yang sudah dipersilahkan masuk pun mengikuti dari belakang. Mereka berdiri beberapa meter di depan pintu, tepat dihadapan anak-anak yang duduk rapi di bangkunya masing-masing. Bu Dwi kembali berdiri di posisinya dan melanjutkan kegiatannya.

“Seperti yang kita tahu, Tuhan memberikan hak kepada umatnya untuk menghukum siapa pun yang melanggar aturan. Termasuk anak-anak seperti kalian. Kalian juga harus turut belajar dan peka mengenai hukuman-hukuman kepada pelanggar. Dan yang laing penting, kalian harus berani bertindak!” kata sang guru pada murid-muridnya.

Bu Dwi lalu melihat dan memilih salah satu anak. “Kamu, tolong sebutkan tanpa melihat buku. Hukuman apa yang pantas bagi pezina?” tanyanya sambil menunjuk salah satu murid yang duduk di belakang.

Murid itu dengan tegak berdiri dari bangkunya. “Bagi perempuan, ia akan digantung dengan kail besar yang tajam. Payudaranya akan ditusuk oleh kail tersebut dan dipamerkan di depan umum. Kemudian yang laki-laki, bagian kelaminnya akan ditusuk dengan jarum sepanjang lima belas sentimeter dan harus merasakan sakitnya selama lima belas menit. Sama seperti sang perempuan, laki-laki juga turut dipamerkan di depan umum,” tutur murid itu menjelaskan.

Ray dan Rissa yang tak biasa mendengarnya pun bergidik ngeri. Akan tetapi, bagi mereka ini hal yang menarik. Sementara kamera terus merekam, bagian ini akan menjadi bagian menarik dalam konten video mereka. Rissa menggeleng-gelengkan kepala kala mendengar kalimat-kalimat sadis itu keluar dari mulut seorang anak-anak.

“Kamu! Apa yang kamu lakukan saat melihat seseorang menapakkan kakinya di ruang peribadahan tanpa melapas pakaian?” tanya Bu Dwi lagi kepada anak lain.
Seperti anak sebelumnya, ia berdiri dan menghadap gurunya. “Aku akan segera mengambil pedang yang ada di kuil dan memotong kaki orang itu tanpa ampun. Sebagai hukuman atas sikap kurang ajarnya terhadap rumah Tuhan!” ucapnya.

“Huuft, untung kita lepas pakaian waktu itu,” gumam Ray.

“Mengapa kamu tidak memberikan ampun kepada orang itu?” Sang guru kembali mengetesnya dengan pertanyaan.

“Karena ampunan datangnya dari Tuhan, bukan dari manusia,” jawabnya.
Bu Dwi pun mengangguk puas mendengar jawaban dari anak-anaknya. Sebagai guru, ia merasa telah berhasil mendidik serta menanamkan hukum agama kepada anaknya. “Dan ingat anak-anak, setiap orang yang dihukum maka ampunan Tuhan akan langsung masuk ke dalam diri orang itu. Maka setiap darah yang keluar dari tubuh pendosa, maka darah itu darah suci yang mengandung ampunan Tuhan. Kita semua bisa dengan bebas meminum darah itu sebagai sumber ampunan Tuhan, barangsiapa yang meminum satu tenggak darah pendosa berarti segala kesalahannya selama satu tahun akan diampuni. Anak-anak seperti kalian juga diperbolehkan meminum darah pendosa,” tutur Bu Dwi menambahkan.

Beberapa menit kemudian, Bu Dwi memberikan tugas kepada anak-anak. Memberi mereka kesibukan sebelum pelajaran berakhir dua puluh menit lagi. Bu Dwi pun duduk di kursinya. Di mejanya terdapat buku yang menyimpan data anak-anak muridnya. Tangannya mengambil sebuah botol lalu meminum air yang ada di dalamnya.

Ray dan Rissa berjalan mendekat ke arahnya. Kamera mereka matikan, sudah cukup ia merekam segala kegiatan ajar mengajar saat itu. Melihat kedua orang itu mendekatinya, Bu Dwi memberikan senyum ramahnya.

Sebelum Ray bicara, Rissa lebih dulu bicara dan bertanya kepada Bu Dwi. “Ibu, gak salah Ibu ajarin anak-anak kecil sama hal-hal sadis kaya gitu? Kita aja orang dewasa dengernya ngeri lho,” kata Rissa.

“Begitulah cara agama ini mendidik anak, hukum-hukum agama harus ditegakkan sejak dini. Dengan dasar itu, kita mempunyai anak-anak yang tegas dan peka terhadap hal-hal menyimpang yang ada di lingkungan sekitar,” jawab Bu Dwi.

“Lho? Justru semua orang di sini memang sudah menyimpang,” celetuk Rissa sambil memalingkan wajahnya.

“Sayang, terkadang memang banyak hal yang salah di mata kita. Tapi apabila hal tersebut dianggap benar di mata orang lain, maka kita harus menghormatinya,” ucap Ray menasihati pacarnya.

“Iya, Sayang! Tapi mereka masih kecil-kecil, kisaran umur 6-7 tahun tapi udah dapet pelajaran-pelajaran kaya gitu. Udah gila kali? Banyak kok hal baik dan norma-norma yang lebih pantas buat didenger sama anak-anak seusia mereka. Tempat gila yang disebut sekolah ini cuma bakal menghasilkan psikopat-psikopat!” kata Rissa yang dengan tegas tak setuju dengan apa yang diajarkan di sekolah ini.

Di tengah perdebatan itu, terdengar suara langkah kaki dari luar ruang kelas. “Ray! Rissa!” panggil seseorang yang kemudian membuka pintu. Dari balik pintu itu, muncul Eve dengan gaun putih dan model yang sangat khas di tubuhnya. “Kalian bisa ikut aku sebentar? Ada sesuatu yang harus kalian lihat!” katanya.

Mendengar ajakan dari Eve, mereka tanpa basa-basi langsung berjalan meninggalkan ruang kelas. Berjalan di belakang Eve, mengikuti langkahnya yang terus mendekat ke pintu keluar. Mereka bertiga ke luar bangunan sekolah itu. Wanita berparas Eropa itu membawa Ray dan Rissa ke suatu tempat.

Dari langkahnya, sepertinya Eve membawa mereka ke rumah Dazza Mendes sang pembawa pesan Tuhan. Dan benar saja, setelah melewati taman mereka sampai di depan rumah Dazza. Tampak orang-orang berkerumun di depan rumahnya sambil membacakan doa-doa.

Eve membuka jalan untuk mereka berdua, menerobos kerumunan orang-orang itu. Hingga akhirnya mereka sampai tepat di depan rumah Dazza. Di depan rumah itu, mereka enam orang berpakaian serba hitam tengah menyantap makanan. Terlihat juga Dazza di depan pintu rumahnya berdiri sambil memegang tongkatnya, matanya fokus menatap enam orang itu. Mulutnya komat-kamit membaca doa.

“Ingat soal Enam Pilar yang aku jelaskan kemarin? Inilah mereka,” kata Eve menunjuk keenam orang itu.

“Dan biar kutebak, mereka sedang makan makanan yang kemarin sempat didoakan?” tanya Ray.

Eve mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Mereka akan makan semua makanan yang telah didoakan ini. Doa dari makanan dan zat Tuhan yang ada dalam diri mereka akan menyatu menjadi sebuah keberkahan,” kata Eve sambil menatap kagum enam orang yang dipanggil Enam Pilar tersebut. “Setelah ini, mereka dilarang makan sampai besok malam saat ayah membuka ibadah tahunan di aula satu,” tambah Eve.

“Sangat menarik,” gumam Ray yang kemudian mengeluarkan kamera untuk merekam hal unik yang ada dihadapannya itu. Sedangkan Rissa, ia hanya diam sambil melipat tangannya di dada. Matanya memperhatikan Enam Pilar yang sedang makan di hadapan banyak orang itu.

Sekitar satu jam lamanya, mereka berdua menonton Enam Pilar menghabiskan makanan yang cukup banyak itu. Makanan yang membawa doa dan dipercaya akan bertemu dengan za Tuhan dalam diri Enam Pilar, sehingga datanglah keberkahan pada umatnya. Orang-orang lain yang menonton begitu antusias dengan doa-doa yang tak henti-hentinya mereka bacakan.

“Tuhan berkahilah, berilah anak-anakmu keberkahan dunia yang tiada tara!” ucap para semua orang yang berdiri menonton secara bersamaan sambil memandangi Enam Pilar. Eve pun tak lupa untuk turut mendoakan saudara tirinya itu.
Sementara itu, di depan aula tampak beberapa orang yang sedang gotong royong menghias aula dengan pita dan berbagai ornamen-ornamen keagamaan lainnya demi menyambut ibadah tahunan yang akan diselenggarakan besok malam sampai beberapa hari ke depan. Satu hal yang ditunggu semua orang yang ada di tempat ini.
itkgid
tariganna
tariganna dan itkgid memberi reputasi
2