Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#12
BAB 6


Eve membawa sepasang kekasih itu berjalan ke samping mansion. Kaki mereka terus melangkah jauh ke arah belakang mansion sepi, hanya ada barisan pohon ceri dan beberapa kursi dengan daun-daun kering di atasnya. Di beberapa lokasi rumputnya terlihat lebih panjang dari yang lainnya.

Dinding putih besar yang berada di belakang mansion menandakan kalau mereka telah sampai, hanya ada satu pintu kecil yang cukup untuk masuk dua orang. Pintu besi yang juga dicat dengan warna putih. Tangan Eve menggenggam gagang pintu, mendorongnya ke luar dan membuat pintu itu terbuka.

Mereka bertiga melangkah dan sampai di luar dinding putih itu. Sebuah padang rumput luas dan indah membentang di hadapan mereka. Angin berdesir begitu kencang, menerbangkan rambut pirang Rissa. Tepat sekitar seratus meter di hadapan mereka, berdiri sebuah bangunan dengan gaya Eropa yang cukup kental. Atapnya segitiga dengan empat buah menara di setiap sudutnya. Menara yang berbentuk seperti obor.

Ornamen-ornamen, ukiran dan berbagai hal lainnya begitu indah. Eve menyebutnya sebagai kuil keagamaan mereka. Tempat di mana mereka melakukan ibadah kepada Tuhan. Mereka bergerak menuju kuil tersebut, melangkah dan menginjak rerumputan yang menari-nari tertiup air.

“Di sinilah biasanya umat kami melakukan ibadah kepadanya. Apabila kuil itu tidak bisa menampung lebih banyak maka sisanya akan berkumpul di padang rumput ini,” kata Eve menjelaskan kepada mereka berdua.

Mata mereka berdua justru fokus kepada beberapa orang yang sedang duduk di rumput dan membentuk sebuah lingkaran. Di tengah-tengah mereka, terdapat makanan seperti buah, kentang dan beras. Mata mereka terpejam, mulut mereka komat-kamit membaca doa. Ray lalu berhenti karena ingin melihat lebih lama.
“Mereka ngapain?” tanyanya pada Eve.

Eve berhenti, ia melihat ke arah pandangan Ray tertuju. “Mereka sedang melakukan ritual menyucikan makanan. Makanan-makanan itu mereka doakan, untuk kemudian dimakan oleh enam anak ayahku yang berasal dari istri pertama,” jawab Eve menjelaskan.

“Maksudnya gimana?” Ray mulai bingung.


“Dalam kitab kami, disebutkan bahwa anak-anak dari istri pertama yang dinikahi oleh sang pembawa pesan adalah anak-anak suci. Mereka memiliki zat Tuhan dalam tubuhnya, sama seperti yang ayahku miliki. Mereka dikenal dengan nama Enam Pilar Dan setiap ibadah tahunan, mereka akan diberikan makanan yang telah didoakan. Dengan begitu doa-doa para umat kami akan bertemu langsung oleh zat Tuhan yang ada dalam diri anak-anak itu.” Eve menjelaskan kepada Ray.

“Maaf, berarti anak-anak yang dimaksud itu adalah saudara tirimu dari istri pertama Dazza. Dengan kata lain, kamu sendiri dengan mereka memiliki tingkat kasta yang berbeda?” tanya Ray.

Eve mengangguk. “Benar, tapi biar berbeda kasta mereka tetap bersahabat dengan semua anak ayah. Mereka tak pernah memberi jarak atau membatasi diri dari kami. Karena hal itu tidak diajarkan dalam kitab. Mereka tetap rendah diri,” jawab Eve.

Ray menganguk sambil terus melihat ritual yang orang-orang itu lakukan. “Menarik,” gumamnya. “Jadi, di mana mereka sekarang? Bisakah aku mewawancarai mereka juga?” tanya Ray lagi.

“Tidak, mereka tidak ada di sini. Mereka berada di luar kota. Menjalankan bisnis ayahku, menggerakan roda ekonomi di berbagai tempat. Ayah bukan sekedar pemuka agama, ia punya banyak bisnis di mana-mana. Sekarang Enam Pilar bekerja keras di luar sana dan semua hasil dari bisnis itu masuk ke dalam anggaran keagamaan untuk menunjang segala kebutuhan tempat ini.” Eve lalu mengakhiri penjelasanannya.

“Wah, bener tebakanku kalau Dazza itu bukan orang sembarangan,” balas Ray.

“Dia orang kaya, Sayang,” celetuk Rissa. “Kalau dia punya banyak uang dan bisa memberikan kita apapun yang kita butuh. Maka lebih baik kita menyembah dia,” tambah Rissa.

“Ah, kamu suka bercanda, Sayang,” sahut Ray.
“Kita lanjut.” Eve lalu kembali berjalan menuju ke arah kuil. Ray dan Rissa masih setia mengikutinya dari belakang.

Mereka lalu sampai di depan kuil tersebut. Eve berhenti tepat di depan kuil, ia buka pintu besar itu sekuat tenaga. Ray pun turut membantunya, pintu kayu itu cukup berat untuk dibuka oleh satu orang. Pintu terbuka, tapi mereka tidak bisa langsung melihat ke dalam kuil. Masih ada satu pintu lagi, sebuah pintu kecil yang langsung terhubung ke ruang peribadahan. Antara ruang peribadahan dengan pintu keluar dipisahkan oleh satu ruangan kecil. Pintu besar dan berat tadi, ditutup kembali oleh Eve. Menutupnya lebih mudah ketimbang membukanya.

“Oke, sekarang kita masuk ke pintu ini?” tanya Ray sambil menggenggam gagang pintu.
“Tunggu!” ujar Eve. “Ada satu hal yang harus kalian ketahui.” Eve berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kecil itu. Lalu matanya menatap ke Ray dan Rissa secara bergantian. Sedangkan sepasang kekasih itu melirik satu sama lain. “Buka pakaian kalian,” perintah Eve.

“Maaf?” ucap Ray. “Buka pakaian?” tanyanya.
“Iya, lepas semua pakaian dan barang-barang yang melekat di dalam tubuh kalian. Termasuk anting, gelang, kalung dan jam tangan. Kalian harus masuk ke ruang peribadahan ini tanpa membawa satu pun benda yang bersifat duniawi. Kalian harus masuk sebagaimana Tuhan menciptakan kalian dahulu. Bahkan apabila kalian memiliki tato, kalian dilarang masuk,” tutur Eve menjelaskan.

“Jadi kamu mau kita telanjang masuk ke dalam sana?” tanya Rissa yang heran sambil menunjuk ke arah pintu. “I-ini udah aneh, aku gak mau kaya gini.” Dengan tegas Rissa menolak perintah itu.
“Kalau begitu silahkan keluar, silahkan kunjungi tempat lain,” kata Eve.

Mendengar itu, Ray pun langsung menarik tangan pacarnya menjauh dari Eve beberapa meter. Wajah Rissa tampak tak nyaman. “Sayang, sayang. Bisa gak kalau kita ikutin aja kemauan dia?” tanya Ray.

“Kamu gila ya? Kamu mau telanjang masuk ke sana?!” Rissa memalingkan wajahnya.
“Sayang dengerin aku!” Ray mengarahkan wajah Rissa yang semula berpaling darinya. “Ini kesempatan kita masuk ke sana dan mengambil gambar. Ingat tujuan awal kita datang ke sini, demi konten! Ayolah, kita harus melihat ke dalam. Kumohon, Sayang. Tempat ibadah adalah salah satu hal penting dalam sebuah agama, kita gak boleh lewatin itu,” bujuk Ray pada pacarnya.

“Lagipula kita gak bakal boleh bawa kamera, Sayang. Apanya yang mau disebut konten?” tanya Rissa.

“Tak peduli soal itu, Sayang. Yang penting, kita harus melihat ke dalam! Walaupun tidak ada konten video yang kita dapat di dalam. Kita masih bisa membuat konten dengan cara lain, yang penting kita masuk aja dulu ke dalam. Inget, Sayang. Siapa kita? Konten kreator! Kita harus kreatif walau gak bisa ambil gambar apa-apa.” Ray terus membujuk pacarnya agar mau masuk ke dalam.

Rissa diam dan tak menjawab. “Kumohon, ayolah!” bujuk Ray lagi sampai akhirnya Rissa menganggukkan kepala tanda setuju walau wajahnya tampak tidak nyaman dengan hal tersebut.

Ray kembali berjalan menarik pacarnya kembali ke hadapan Eve yang masih berdiri di depan pintu itu. Dengan wajah yakin Ray berkata, “kami siap masuk ke dalam!”

Ray lalu mulai menaruh tas kameranya di lantai. Ia mulai melepas satu per satu kancing di kemejanya. Sementara Eve menunggu di depan mereka. Dengan terpaksa, Rissa juga melepas pakaian yang ia kenakan saat itu. Celana ia turunkan, kaos ia buka dan ia taruh di lantai.

Ray mulai melepas sepatunya, setelah celana dan bajunya lepas kini laki-laki itu berdiri tanpa busana sedikit pun di depan Eve. Rissa melepas pakaian dalamnya yang menjadi benda terakhir yang melekat di tubuhnya. Setelah itu, kedua sejoli itu benar-benar berdiri dengan tubuh telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.

Setelah itu, giliran Eve yang juga harus melepas pakaiannya. Ia tarik satu tali di bagian atas gaun yang ia kenakan saat itu. Kemudian ia melepas tali yang mengikat di pinggangnya. Setelah tali itu dilepas, gaun Eve jatuh dengan mudahnya ke lantai. Badan Eve langsung polos tanpa memakai baju dalam apapun. Tubuh indahnya dengan bebas terlihat oleh mata Ray dan Rissa.
“Sekarang kita masuk.” Eve lalu mendorong pintu itu ke dalam hingga terbuka.

Ketiga orang tanpa busana itu lalu masuk ke ruang peribadahan. Di dalam ruangan itu, aroma-aroma khas spa dan terapi tercium dengan begitu pekat. Aroma yang cocok untuk relaksasi. Lilin-lilin menyala di dinding. Ruang peribadahan hanya berupa ruangan kosong yang luas membentang. Di bagian ujung ruangan terdapat sebuah mimbar tempat di mana Dazza melakukan ceramahnya.

Di sisi kiri dan kanan mimbar, berdiri sebuah patung orang dengan baju besi dan wajah rata tanpa bentuk. Patung yang melambangkan Tuhan mereka, persis seperti yang mereka temui di ruangan Dazza tadi. Mereka bertiga berjalan mendekat ke ujung ruangan, melewati ruang-ruang kosong yang tidak begitu menarik pandangan.

Sesampainya di depan patung-patung itu, tampak ada dua orang laki-laki yang juga telanjang sama seperti mereka. Kedua laki-laki itu bersujud di hadapan patung Tuhan.

Terdengar suara isak tangis dari arah mereka. Eve sengaja berhenti tepat di dekat mereka, sengaja agar Ray dan Rissa bisa melihatnya.
“Apakah seperti ini cara kalian beribadah?” tanya Ray.

“Tidak, mereka sedang berdoa. Meminta sesuatu dari Tuhan, ibadah hanya di malam-malam tertentu. Ketika ayahku Dazza mendapatkan mimpi perintah dari Tuhan, atau ketika terjadi musibah di dunia ini,” jawab Eve.

“Begitu ya, aku paham sekarang mengapa Dazza disebut pembawa pesan. Karena ibadah hanya dilakukan saat Dazza mendapat perintah dari Tuhan melalui mimpinya,” tutur Ray sambil mengangguk.

“Kau yang maha penyanyang dari semua yang menyayangi kami,” ucap salah satu laki-laki yang bangun dari sujudnya dan berlutut dengan kepala mendongkak menatap patung tersebut. “Kumohon, sembuhkan anakku. Berilah dia kesempatan untuk hidup, Tuhan!” ucapnya dengan berlinang air mata, menunjukkan kepedihan hatinya di hadapan patung itu. Berharap Sang Tuhan memberinya kasih sayang.

Laki-laki yang satunya lalu merangkak ke arah patung. Ia peluk kaki dan ia ciumi kaki patung tersebut. “Kebesaranmu melebihi segalanya, kumohon kabulkan doaku. Kumohon, Tuhan!” Laki-laki itu terus mencium kaki patung tersebut.

“Kumohon dengarlah doaku,” tambahnya.

“Penyembah berhala,” gumam Rissa.

“Tuhan pasti mengasihi kalian semua, jangan berhenti meminta padanya,” ucap Eve pada kedua orang itu.

Eve kemudian membawa berdua naik ke mimbar. Dari atas mimbar itu terlihat seluruh bagian kuil. Di belakangnya, terdapat foto para pembawa pesan Tuhan. Dari mulai Bene Mendes sampai Dazza sendiri yang kini memimpin umat. Terdapat juga sebuah podium dengan sebuah kitab di atasnya. Sayang, mereka berdua tidak bisa meneliti mengenai kitab dari agama ini.

Mereka bertiga menghabiskan setengah jam berada di ruang peribadahan dengan tubuh telanjang. Ray dan Rissa banyak mengamati bangunan ini, mulai dari lantai marmernya sampai ukiran-ukiran cantik di dindingnya. Eve membiarkan mereka berdua berjalan-jalan melihat semuanya, sementara ia berlutut di hadapan patung Tuhan dan memberi penghormatan.

ardian76
itkgid
tariganna
tariganna dan 2 lainnya memberi reputasi
3