Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Iblis Suci


Blurb:

Mengisahkan tentang dua orang vlogger yang mendatangi sebuat sekte rahasia di tengah hutan terpencil. Semakin lama mereka di sana, mereka mulai merasakan keanehan, kegilaan dan hal-hal abnormal yang tidak manusiawi.

Akankah mereka bertahan di sana? emoticon-Takut (S)

emoticon-Takut


BAB 1

Quote:

To be continued


Diubah oleh harrywjyy 01-04-2024 09:42
regmekujo
sampeuk
itkgid
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
2.7K
37
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
#10
BAB 4


“Mulai dari sini, saya yang bawa mobilnya,” kata salah satu orang bersenjata lengkap itu.
Rissa dan Ray saling pandang. “Kenapa gak biarin kita aja yang setir mobilnya? Kalian kan bisa tunjukin jalannya aja. Saya ikut kalian dari belakang,” ucap Ray menyarankan.

“Mansion Dazza Mendes adalah properti rahasia. Tidak ada yang boleh mengetahui ke mana jalan menuju mansion tersebut. Selama perjalanan pun, kalian tidak diperbolehkan melihat apa-apa. Mata kalian akan ditutup,” jawab orang itu.

“Ih, kok aneh banget,” bisik Rissa pada pacarnya.

“Tenang, biar aku ngomong.” Ray lalu menghela nafas dan menatap orang itu. “Iya, saya paham. Tapi apa enggak—“

“Kalau tidak mau mengikuti prosedur kami tidak apa-apa. Kalian masih punya hak untuk putar balik dan pulang ke rumah!” tegas orang itu memotong kalimat Ray.

Kedua sejoli itu lagi-lagi saling pandang. Tangan Rissa menggenggam tangan Ray, lalu kepalanya mengangguk dengan wajah pasrah. Memberikan satu kode kepada Ray untuk mengambil keputusan. Ray menarik nafas panjang. “Yaudah, kita nurut aja deh,” kata Ray.

“Terima kasih, kalau begitu permisi!” Akhirnya mereka berdua menuruti permintaan orang-orang itu. Ray dan Rissa pindah duduk ke jok belakang. Dua orang pria bersenjata laras panjang mengambil alih mobil mereka di depan. Satu orang lagi duduk mendampingi sepasang kekasih itu di belakang. Seperti aturan yang sebelumnya dikatakan, mata mereka ditutup agar tidak bisa melihat apa-apa selama perjalanan.

Pandangan mereka gelap gulita. Sebuah kain menutupi mata mereka. Hanya suara mesin mobil yang menjadi petunjuk bahwa mereka masih dalam perjalanan. Rissa bersandar di bahu pacarnya. Sementara pacarnya sendiri berharap-harap cemas, berkeringat dan gelisah dalam perjalanan yang mendebarkan ini. Jalanan yang mereka rasakan terus menanjak dengan sesekali terasa adanya guncangan akibat jalan rusak.

Mobil mereka terus dibawa masuk ke dalam perbukitan oleh orang-orang itu. Mobil yang berjalan di depan adalah mobil milik mereka, di belakangnya mobil Ray berjalan beriringan. Hutan lebat dan semak belukar itu tak bertahan lama. Perlahan rimbunnya pepohonan mulai menipis ketika suasana mulai berubah menjadi padang rumput yang luas di atas bukit. Tampak sebuah bangunan mewah super megah berdiri di atasnya.

Kedua mobil itu masuk ke dalam area bangunan besar bak istana dengan warna serba putih itu. Gerbang raksasa dengan desain klasik yang cantik terbuka perlahan, mempersilahkan kedua mobil itu berjalan melewati taman-taman indah dengan berbagai air mancur dan paviliun di mana-mana. Tak lupa sebuah dinding putih nan kokoh dengan tinggi sekitar empat meter berdiri mengelilingi bangunan-bangunan ini.

Rissa mulai duduk dengan tegak saat merasa mobil mereka telah berhenti. Ray pun merasakan hal yang sama. Kain penutup mata itu dibuka, mata mereka langsung tertuju ke luar mobil. Ke arah suatu tempat yang sangat asing, bahkan bagi mereka ini seperti di luar negeri.
“Wah, bangunan apa ini?” tanya Ray sambil berdecak kagum.

Tak lama pintu mobil mereka dibuka, dengan hormat para pelayan dari mansion tersebut menyambut kedatangan mereka. Mereka keluar dari mobil, badan mereka berputar-putar melihat semua kemegahan dan kemewahan ini.

“Siapa pun yang membangun ini, dia pasti orang paling kaya di republik ini,” ucap Ray.

“Aku gak nyangka. Berawal dari situs web yang mirip situs porno, kita ada di tempat seindah ini,” kata Rissa yang ikut kagum. Para orang-orang bersenjata tadi pun pergi meninggalkan Ray dan Rissa di depan mansion karena merasa bahwa kedua orang itu sudah bukan tugas mereka lagi.

Pintu utama mansion yang besar dengan banyak ukiran-ukiran seni yang cantik itu terbuka sedikit. Dari dalamnya muncul wanita cantik bak putri dalam cerita-cerita dongeng. Memakai gaun indah berwarna merah muda dan riasan wajah sederhana yang membuatnya semakin elok dipandang mata.

Wanita berdarah Eropa itu berjalan mendekat, para pelayan memberinya jalan. Ray dan Rissa berdiri menunggunya sampai di hadapan. Suara langkah sepatunya terus terdengar beradu dengan lantai, hingga akhirnya sampai di hadapan Ray dan Rissa dengan senyum cantik terukir di wajahnya.

“Hola,” sapanya. “Namaku Sleve Mendes. Kalian bisa panggil aku Eve, salam kenal Rissa dan Ray,” katanya memperkenalkan diri.

“Ah, baru saja aku mau memperkenalkan diri. Tapi rupanya kamu udah tahu nama kita ya. Hehe,” jawab Ray dengan canggung.

“Aku adalah yang memegang bagian administrasi. Ketika kalian sudah terpilih, maka aku bertugas mengurus semua data-data kalian dan juga memandu kalian selama di sini. Aku sendiri adalah anak ke dua belas dari istri ke enam Sang Nabi. Dazza Mendes, ayahku yang mulia. Pembawa pesan dari Tuhan,” ucap Eve menjelaskan.

Ray dan Rissa saling pandang dengan senyum canggung di wajahnya. “Sang Nabi ya? Menarik,” kata Ray.

“Mari masuk.” Eve lalu membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam mansion. Karena sudah mendapat ajakan, mereka berdua turut ikut masuk ke dalam. Kaki mereka mulai menginjak karpet tipis nan lembut yang melapisi lantai marmer bangunan ini. Sangat nyaman bagi siapa pun yang berjalan di atasnya.

Ray dan Rissa melewati pintu besar indah itu. Mereka dihadapkan dengan sebuah bangunan dengan interior yang sangat mewah dan kaya akan nilai-nilai seni. Banyak patung di mana-mana, dinding putih yang penuh ukiran. Langit-langit dengan pola yang cantik, dan beberapa lukisan. Mereka berdua melihat dan mengagumi apa yang mereka lihat sambil terus mengikuti Eve berjalan melewati beberapa orang yang tengah lalu lalang.

“Ah, iya. Bagaimana dengan barang-barang kita yang masih di mobil?” tanya Ray.

“Tenang saja, pelayan akan mengurus itu ke kamar kalian,” jawab Eve sambil terus berjalan membelakangi mereka berdua.

Suasana lobi mansion dengan berbagai seni indahnya telah mereka lewati. Ray mulai menaiki tangga dan masuk ke ruangan penuh lorong dan koridor. “Ini adalah toilet yang bisa kalian pakai,” kata Eve menunjuk salah satu ruangan. “Ini kamar mandi,” tunjuknya lagi.

“Untuk makan siang, malam dan pagi. Akan ada pelayan yang menjemput kalian ke kamar,” kata Eve menjelaskan. Mereka perlahan mengarah ke ujung lorong, tampak sebuah pintu terbuka di ujung sana.

Sampailah mereka bertiga di sebuah balkon yang mengarah ke kawasan perbukitan yang indah. Ditambah saat itu langit tengah senja, malam hendak datang menyapa. Angin mendesir begitu sejuk. Di tengah balkon sudah tersedia makanan dan minuman yang siap untuk disantap.

Eve mengajak mereka untuk mendekat ke ujung balkon. “Bangunan mansion ini berguna untuk menampung umat kami. Total ada beberapa ratus orang dari sekitar 127 kepala keluarga. Semuanya ditampung di bangunan ini. Aku sendiri tidak tinggal di sini, melainkan di sana.” Tangan Eve menunjuk ke salah satu rumah yang besarnya tak kalah dengan mansion ini. “Di sana, besok kalian akan berjumpa dengan Sang Nabi.” Tangan Eve terus menunjuk satu per satu bangunan yang ada di sekitarnya.

“Itu adalah sekolah untuk anak-anak dari umat kami, itu adalah aula 1, aula 2 dan juga gudang. Tak lupa juga, di belakang mansion ini ada kuil tempat di mana kami semua berdoa kepada Sang Penyelamat kami. Tuhan yang sebenar-benarnya,” kata Eve. “Kalau boleh tahu, kalian menyembah Tuhan yang mana?” tanya Eve.
“T-Tuhan?” gumam Rissa yang kemudian melirik pacarnya.

Ray berpikir sesaat. “Hmmm ... untuk saat ini. Kami sedang tidak mengimani Tuhan mana pun. Kami tidak percaya Tuhan,” kata Ray dengan yakin.

Eve lalu mendekat, wajahnya berubah menjadi amat gembira. Suara langkah sepatunya terdengar begitu cepat mendekat ke arah mereka berdua yang berjarak beberapa meter. Dengan lembut, kedua tangan Eve memegang pipi Ray dan Rissa secara bergantian. Matanya menatap mereka berdua dengan berkaca-kaca.

“Terberkatilah kalian para orang-orang tanpa Tuhan, sungguh ia yang Maha Agung telah menyematkan kalian dari gelapnya dunia yang membutakan mata hati. Kalian datang ke tempat yang benar. Di sinilah kalian akan menemukan kebesaran Tuhan, yang tidak bisa kalian dapatkan di agama mana pun. Agama-agama yang hanya bisa memberikan janji dan surga. Tapi di sini, kalian akan merasakan sendiri keberadaan Tuhan,” ucap Eve dengan begitu emosional.

Ia sampai harus menyeka air mata yang menetes ke pipinya. Hampir saja tangisnya pecah. “Maaf, aku terbawa suasana,” ucap Eve. “Kalian boleh makan semua yang ada di sini.” Eve mempersilahkan kedua tamunya untuk mengisi perut setelah seharian dalam perjalanan panjang dan melelahkan.

Beberapa pelayan mendekat dan menarik kursi untuk mereka berdua. Ray dan Rissa duduk di hadapan makanan yang cukup mengugah selera. Bau daging panggang dan beberapa olahan kentang masuk ke hidung mereka membuat mereka tak sabar untuk menyantap makanan.

Sementara mereka makan, Eve memisahkan diri. Ia berdiri di ujung balkon sambil menikmati suasana senja di atas bukit itu. Dengan berlatarkan langit senja mereka mulai menyantap makanan yang tersedia. Sebuah pengalaman makan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Daging ayam, sapi dan babi yang tersedia di meja itu Ray makan sedikit demi sedikit. Sedangkan Rissa hanya makan sedikit daging. Porsi makan Ray saat itu memang terbilang cukup raksasa. Entah mengapa rasa dari makanan ini seakan memaksanya untuk terus dan terus makan.

“Hah, selesai sudah,” ucap Ray sambil bersandar ke kursi dan membuang tulang ayam ke piringnya. Sambil mengelap mulutnya dengan Tissu, Rissa melihat pacarnya yang kekenyangan itu.

“Kamu pasti puas makan segini banyak, gratis lagi,” ucap Ray. “Tapi jangan lupa, kita harus bikin opening,” tambahnya mengingatkan.

“Oh iya.” Ray lalu membuka tas kamera yang sejak tadi ia bawa. Ia keluarkan kamera miliknya. Setelah menyala, lensa itu ia arahkan kepada pacarnya yang tepat berada di depannya. “Oke, kamu bikin yang simpel aja,” ucap Ray dengan nada malas yang kemudian langsung menekan tombol rekam.

Rissa menarik nafas. “Halo semuanya, tau aku lagi di mana? Ya, aku lagi di tempat di mana suatu agama yang belum tersentuh oleh masyarakat. Yang selama bertahun-tahun ini hidup tersembunyi di antara kita. Kalian pasti penasaran kan? Kalau begitu ....” Rissa tiba-tiba menghentikan kalimatnya.

“Sayang, kayanya lebih bagus kalau kita bikin di sana deh.” Tangan Rissa menunjuk ke ujung balkon yang langsung menghadap ke perbukitan dan juga langit yang masih menunjukkan warna oranye.

“Oke.” Mereka berdua lalu bergegas pindah dari meja makan ke tempat yang Rissa maksud. Rekaman pun dilanjutkan. Di tempat ini, Ray dan Rissa akan mulai merasakan hari-hari yang akan berbeda dari sebelumnya. Di tengah orang-orang asing yang tak mereka kenal sebelumnya, ditambah kepercayaan asing yang baru sampai di telinganya.

Langit perlahan menjadi gelap, menutup hari dengan tetap menunjukkan kecantikannya yang syahdu. Bersama Eve, kedua pasangan itu masuk ke dalam mansion. Meninggalkan balkon yang kini penuh desiran angin pembawa udara dingin.
itkgid
itkgid memberi reputasi
1