Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
Dalam Dekapan Kabut
Izinkan saya kembali bercerita tentang sebuah kejadian di masa lalu

dalam dekapan kabut, aku terhangatkan oleh kalimat cintamu, kalimat sederhana penuh makna yang terucap diantara hamparan bunga bunga edelweis yang menjadi simbol keabadian... 

Chapter :

DDK - Chapter 1

DDK - Chapter 2

DDK - Chapter 3

DDK - Chapter 4

DDK - Chapter 5



Diubah oleh meta.morfosis 08-03-2024 09:56
riodgarp
jenggalasunyi
bukhorigan
bukhorigan dan 5 lainnya memberi reputasi
6
567
12
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
meta.morfosisAvatar border
TS
meta.morfosis
#2

Chapter 2

Kabar Berita Yang Tidak Terduga






“ cukup bu, cukup... ” ujarku dengan suara bergetar, butiran air mata yang telah sedari tadi menggenang di kedua kelopak mataku, kini bisa aku rasakan mengalir begitu saja tanpa bisa aku menahannya.

“ ibu harus berobat bu, ibu bisa menggunakan gaji apang dan bapak untuk mengobati penyakit ibu dan jikalau semuanya itu kurang, ibu masih bisa menjual rumah ini untuk— ”

“ pang ”

Gejolak emosi yang saat ini aku rasakan, kini memuncak seiring dengan terucapnya perkataan ibu yang memotong perkataannku, dalam tangisanku kini, ibu hanya bisa memelukku dengan pelukannya yang hangat, usapan jari jemari tangannya yang menyentuh kepalaku seperti memberikanku sebuah isyarat agar aku bisa menyikapi situasi yang sulit ini dengan hati yang lapang.

“ kamu itu sudah dewasa pang, kamu sudah harus bijak di dalam menghadapi permasalah hidup ini ”

“ tapi bu ”

“ kamu harus mengutamakan kelangsungan hidup keluarga kita ini pang, terutama adik adik kamu yang masih membutuhkan biaya yang banyak untuk pendidikannya ” ibu melepaskan pelukannya dari tubuhku, dalam pengelihatanku saat ini, aku bisa melihat ekspresi ketegaran yang terpancar di wajah ibu, ekspresi ketegaran yang terlahir dari seseorang yang sudah pasrah di dalam menghadapi permasalahan hidup yang harus dilaluinya.

“ hidup dan mati kita itu hanya tuhan yang menentukan, kamu harus yakin dengan ketentuan itu pang ” ujar ibu sambil mengembangkan senyumnya.

“ bu, apakah bapak, anti dan anto sudah mengetahui penyakit yang ibu derita ini ? ”

“ mereka enggak perlu tahu dan jangan sampai mereka tahu, kamu harus berjanji itu pang ”

Entah saat ini aku harus merespon dengan kalimat apa untuk menanggapi permintaan ibu, ekspresi ketegaran yang terpancar di wajahnya kini seperti memaksaku untuk menganggukan kepalaku ini, hingga akhirnya selepas dari anggukan kepalaku untuk menanggapi permintaannya itu, dari mulut ibu kembali terucap pertanyaan yang menanyakan tentang kapan aku akan menikah.

“ doakan saja bu, apang mendapatkan jodoh secepatnya ”

“ ibu selalu mendoakannya pang, dan ibu sangat merasa yakin kamu akan mendapatkan jodoh dalam waktu yang tidak lama lagi ”

Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin seorang ibu dengan anaknya, perkataan ibu yang mengatakan bahwa aku akan menemukan jodoh dalam waktu yang tidak lama lagi, kini mengingatkanku akan sosok anindia, dan kini begitu aku mendapati perkataannya itu, aku segera menceritakan kepada ibu tentang segala sesuatu yang terhubung dengan anindia, dan di saat itulah ibu memintaku untuk mengajak anindia berkunjung ke rumah agar ibu bisa mengenal anindia lebih dekat lagi.

“ duh bu, sepertinya untuk permintaan ibu yang itu apang sulit untuk mengabulkannya, jujur saja bu, saat ini apang masih dalam tahap pendekatan dengan anindia ”

“ ibu mengerti pang, ibu yakin kok... suatu hari nanti, kamu pasti akan mengajak anindia ke rumah ini untuk diperkenalkan dengan ibu ”

Tiga hari sudah waktu berlalu dari percakapanku dengan ibu, diantara cerahnya langit sabtu sore yang berhiaskan lembayung senja berwarna jingga, aku memacu sepeda motorku dengan laju yang kencang, keinginanku yang ingin segera mewujudkan secara nyata berbagai macam imajinasi romantis yang saat ini tengah bermain main di dalam pikiranku, sedikit banyak kini telah membantuku di dalam menghadirkan rasa kepercayaan diriku untuk mendekati anindia, hanya saja kini diantara keberadaan diriku yang hanya menyisakan setengah jam perjalanan lagi untuk tiba di rumah anindia, aku terpaksa menghentikan laju sepeda motor yang aku kendarai ini akibat mendapati sebuah situasi yang membuatku bertanya tanya atas apa yang sebenarnya telah terjadi sebelum aku melintasi jalan raya yang akan aku lintasi ini.

“ kalau melihat dari tanda tandanya, sepertinya di jalan ini telah terjadi peristiwa kecelakaan  ” ujarku di dalam hati seraya mengamati tumpukan pasir yang sepertinya diperuntukan untuk menutupi sesuatu di jalan raya, beberapa ekor lalat yang sesekali hinggap di atas tumpukan pasir itu, memberikan tanda adanya sesuatu yang menjadi sumber makanan bagi lalat lalat tersebut

“ sedang mencari apa kang ? ” aku terkejut, seorang penjaja rokok keliling yang saat ini tengah berdiri tidak jauh dari diriku, terlihat tengah melayangkan tatapan matanya ke arah jalan raya, mungkin saat ini dia menduga aku tengah mencari sesuatu di jalan raya.

“ saya enggak sedang mencari apa apa pak, hanya sedang penasaran saja dengan tumpukan pasir itu ”

“ ohh begitu ” gumam penjaja rokok sambil mengangguk anggukan kepalanya.

“ di jalan ini telah terjadi kecelakaan yaa pak ? ”

“ iya kang, lebih tepatnya sih kecelakaan yang aneh ”

“ hahh... kecelakaan yang aneh ? ” tanyaku dalam ekspresi wajah yang bingung.

“ iya kang, bagaimana enggak aneh, coba akang bayangkan... tadi itu saya melihat seorang pemuda meronta ronta di sepeda motornya yang tengah berjalan, lalu setelah itu pemuda itu secara tiba tiba menghentikan laju sepeda motornya dan berlari ke arah bis yang tengah melaju kencang hingga tubunya itu tertabrak dan terseret beberapa meter di jalan ”

“ astagaaa... ”

“ intinya sih kang, orang itu seperti orang yang tengah ketakutan dengan sesuatu tapi itu entah apa ditakutinya ”

Untuk sejenak aku terdiam, mencoba untuk mencari jawaban ilmiah dari peristiwa kecelakaan yang telah terjadi itu, hanya saja kini diantara keterdiamanku itu, keteringatanku akan tujuan utama dari perjalananku ini, kini mengantarkanku untuk berpamitan pergi kepada bapak penjaja rokok, hingga akhirnya selepas dari setengah jam perjalanan yang telah kembali aku tempuh, kedatanganku di rumah anindia kini bersambut dengan sebuah kabar berita yang membuatku langsung menghubungkannya dengan kejadian kecelakaan yang menurut penuturan bapak penjaja rokok adalah kejadian kecelakaan yang aneh.

“ astaga, berarti lokasi kejadian kecelakaan yang aku lihat tadi adalah lokasi arif mengalami kecelakaan ”

“ kalau merujuk dari penuturan anin sih, memang itu lokasinya pang ” ujar ismed yang mengingatkanku akan keberadaan anindia yang saat ini tidak terlihat keberadaannya.

“ sekarang anin berada dimana med ? ”

“ sedang berada di kamar pang bersama dengan ida, mereka tengah bersiap siap untuk takziah ke rumah almarhum arif ”

Mengiringi jawaban ismed tersebut, tatapan mataku kini tertuju ke arah lemari besar yang berada tidak jauh dari ruang tamu, beberapa benda pusaka yang tersimpan di dalam lemari tersebut, tersusun dengan rapih dan sangat terawat, seperti memang disengajakan untuk dirawat.

“ orang tuanya anin berada dimana pang ? ”

“  mereka sedang keluar rumah pang, menurut penuturan anin sih... katanya mereka tengah menghadiri acara pernikahan salah satu kerabat jauhnya yang tinggal di jakarta ”

“ ohh begitu ” ujarku seraya beranjak bangun dari kursi yang aku duduki, hanya saja kini belum sempat aku berjalan menuju ke lemari besar untuk melihat benda benda pusaka yang tersimpan di dalam lemari itu, kehadiran ida dan juga anindia yang saat ini baru saja keluar dari dalam kamar, telah membuatku memutuskan untuk kembali duduk dan menanti perkataan pertama yang akan terucap dari mulut anindia begitu melihat kehadiranku ini.

“ ehh ada apang ” tegur anindia sambil mengembangkan senyumnya, di sisi yang lain terlidat ida dan ismed bermain mata untuk menggoda kecanggungan sikapku saat ini.

“ kamu sudah lama pang datangnya ? maaf yaa pang, tadi itu aku sedang bersiap siap untuk takziah ke rumah arif ”

“ belum begitu lama nin, mungkin baru sekitar sepuluh menitan ” anindia mengangguk anggukan kepalanya, tatapan matanya kini tertuju ke arah jam dinding yang saat ini telah menunjukan pukul lima sore hari.

“ sebaiknya kita berangkat sekarang saja yuks, biar nantinya kita bisa sekalian sholat magrib di rumah almarhum arif ”

Selepas dari perkataan anindia tersebut, ida langsung mengusulkan agar aku berboncengan sepeda motor dengan anindia, dan apa yang diusulkan oleh ida tersebut kini bersambut dengan persetujuan anindia dengan alasan dirinya saat ini tengah berada dalam situasi hati yang kurang baik selepas mendapatkan kabar berita tentang kecelakaan yang menimpa arif.

“ kamu itu baik baik saja kan nin ? ”

Pertanyaanku itu terucap diantara laju sepeda motor yang kini mulai berjalan menjauh meninggalkan rumah anindia, dan entah yang aku rasakan saat ini apakah hanya perasaanku saja atau bukan, aku merasakan motor yang aku kendarai ini seperti membawa beban yang teramat berat, dan hal ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku bawa saat ini.

“ aku baik baik saja pang, tadi itu aku hanya sedikit terkejut karena mendapati kabar berita yang tidak terduga itu ”

“ maaf nin, kalau aku boleh bertanya, kamu itu kekasihnya alamarhum arif ya ? ”

“ kekasih ? ”

“ iya... kekasih, karena berdasarkan apa yang aku ketahui, kamu itu— ”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku itu, entah saat ini apa yang telah terjadi, aku seperti melihat adanya kepulan asap putih yang bersumber dari ban belakang sepeda motorku, dan dikarenakan saat ini aku merasa khawatir kepulan asap putih yang telah aku lihat itu adalah pertanda akan adanya kerusakan pada sepeda motorku, aku segera menepikan sepeda motor di pinggir jalan lalu memeriksanya.

“ nin, tadi itu kamu melihat juga kan kepulan asap itu ? ” tanyaku diantara indera penciumanku yang saat ini mencium adanya bau hangus yang biasa muncul akibat dari pergesekan dua buah benda padat.

“ iya pang aku melihatnya, malah tadi itu aku menyangkanya motor kamu ini rusak karena sedari tadi itu kamu membawa sepeda motor dengan sangat pelan ”

Ingin rasanya saat ini aku memberitahukan kepada anindia penyebab mengapa aku membawa sepeda motor dengan laju yang pelan, namun dikarenakan saat ini aku tidak ingin informasi yang aku berikan itu akan memberikan dampak negatif di dalam pikiran anindia, aku kini memilih untuk tidak memberitahukannya.

“ pang, itu ismed dan ida ”

Dalam posisiku yang saat ini tengah berjongkok untuk mengamati keadaan ban, pemberitahuan anindia tersebut kini telah membuatku memalingkan tatapan mataku dari ban, terlihat saat ini ismed memarkirkan motornya lalu berjalan menghampiriku.

“ motor kamu kenapa pang ? ”

“ enggak tahu nih med, tiba tiba saja tadi dari ban ini muncul kepulan asap ” ismed berjongkok, tatapan matanya tertuju ke arah ban yang saat ini tengah aku pegangi.

“ mungkin kamu jarang mencuci motor ini kali pang ” aku terdiam, dalam pengelihatanku saat ini, terlihat anindia tengah berbincang bincang dengan ida.

“ med, sekarang kita tukaran penumpang yaa, kamu yang memboncengi anindia, aku yang memboncengi ida ” ismed mengembangkan senyumnya karena merasakan adanya sesuatu yang janggal dengan permintaanku itu

“ waduhh... kamu ini enggak lagi kesambet kan pang ? kamu yakin nih aku yang memboncengi anin ? ”

“ sudah jangan cerewet med, lebih baik sekarang kamu berangkat duluan bersama anin, nanti aku akan menyusul bersama ida ”

“ pang... pang..., memang benar benar aneh kamu ini ”

Mengakhiri perkataanya itu, ismed segera beranjak bangun dari jongkoknya lalu berjalan menghampiri keberadaan anindia dan ida, hingga akhirnya selepas dari pembicaraan yang telah dilakukannya, anindia langsung berjalan menghampiriku dan langsung menanyakan alasan mengapa aku memutuskan untuk berganti penumpang, dan di saat itulah aku memberikan jawaban yang mana jawabanku itu dapat diterima dengan baik oleh anindia

“ ohh jadi begitu pang ”

“ iya nin, sudah sewajarnya kamu itu berangkat duluan karena kamu itu adalah orang yang paling dekat dengan alamarhum arif ”

Melihat saat ini ismed dan anindia telah beranjak pergi, aku segera mengajak ida untuk menaiki sepeda motor, keinginanku untuk membuktikan akan adanya perbedaan laju kecepatan sepeda motor yang aku kendarai ini di saat aku memboncengi anindia dengan di saat aku memboncengi ida, kini telah membuatku memutuskan untuk sesekali memutar tali gas, dan apa yang aku lakukan itu kini telah membuktikan akan adanya perbedaan di saat aku memboncengi anindia dengan di saat aku memboncengi ida, saat ini aku sama sekali tidak merasakan adanya rasa berat seperti apa yang aku rasakan sewaktu memboncengi anindia

“ kamu ini kenapa sih pang, membawa motornya kok seraduk seruduk seperti kambing ”

“ motor kan memang seperti kambing da, masa iya seraduk seruduk seperti kerbau sih ” candaku yang berbalas dengan gelak tawa ida

Sesampainya aku dan ida di rumah arif, aku langsung memarkirkan motorku lalu segera mengajak ida untuk menghampiri keberadaan ismed dan anindia yang sudah terlebih dahulu berada di dalam rumah, aroma wangi kemenyan yang tercium begitu menyengat di dalam rumah, kini menyambut kahadiranku yang saat ini tengah berusaha untuk mencari keberadaan ismed dan anindia diantara beberapa warga kampung yang tengah bertakziah

“ apang, ida ” panggil ismed dengan suaranya yang pelan, terlihat saat ini ismed tengah duduk seorang diri dengan keberadan sebuah al qur’an kecil ditangannya

“ kok kamu sendiri med, aninnya kemana ? ” tanya ida yang berbalas dengan jawaban ismed bahwa saat ini anindia tengah berada di dalam kamar bersama dengan ibunya arif

“ sebaiknya kita lihat jenazah almarhum arif dulu da, sekalian kita mendoakannya ” ida menganggukan kepalanya, tatapan matanya tertuju ke arah jenazah arif yang diletakan di tengah ruangan

“ pang, da, sebaiknya kalian itu jangan melihat wajah jenazah arif karena— ”


suryaassyauqie3
69banditos
namakuve
namakuve dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup