getih.sangit
TS
getih.sangit
Rumah Sangit




Quote:


Quote:


Spoiler for Disclaimer:


HAPPY READING!!


Diubah oleh getih.sangit 02-06-2023 08:36
rotten7070arieaduhletnankimi
letnankimi dan 72 lainnya memberi reputasi
73
62.8K
140
Berikan Komentar
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
getih.sangit
TS
getih.sangit
#4
Misteri Rumah Sangit Episode-4: Menemui Keluarga Sahabat Pesugihan


Saya bergeming di pintu, dan merasa nyaris pipis di celana. Ruangan ini tampak manis dan hangat, tapi saya takut sekali. Pengalaman buruk saya dengan kematian dan iblis di rumah ini membuat saya tidak bisa berpikir baik tentang ibu ini. Terlebih, ibu ini adalah perempuan tua yang tadi saya temui di tengah jalan ke sini… Ibu yang berpapasan dengan saya dan menunjukkan rumah keluarga Wening ini…

“Ayo, ke sini, ‘Nak…” Ibu Wening memanggil saya untuk duduk bersamanya mengelilingi meja makan itu. Saya diam saja. Saya bahkan tidak sudi mendekat ke meja makan
tempatnya berada…

“Kamu ke sini cari Wening, ya?” tanya ibunya lagi. Saya gemetar hebat, bukan main takutnya.

Ibu Wening tampak tersenyum dan berpenampilan rapi, dengan sikap menyambut hangat, tapi saya tidak yakin ibu ini manusia atau bukan… Kalaupun ibu ini manusia… manusia macam apa yang mengurung iblis, demit, dan membantai manusia di rumahnya?!?!

“Wening biasanya enggak ada di rumah yang ini, karena ini Rumah Sangit, rumah ritual. Tapi, sekarang dia sedang ada di sini. Saya panggilkan Wening, ya…” kata Ibu Wening, suaranya halus tapi membuat tubuh saya sungguh lemas saking ketakutan.

Tiba-tiba ruangan ini tidak lagi berwarna-warni, melainkan berubah menjadi hitam, seperti gosong… Hawanya sangat panas dan bau gosong, dengan tulisan yang bermunculan pada dinding… Banyak angka “1.999” dan dibalik menjadi “666.1” berwarna merah terang muncul pada dinding, seperti ditulis oleh api membara…

Seketika terdengar suara sudut dinding yang didobrak keras!!! Wenang muncul, tetapi wajahnya… wajahnya berubah!! Wajah Wenang kini menyerupai monster… atau iblis?! Wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan, dan menyeringai lebar. Wenang masih dalam balutan pakaian putihnya yang kotor, tapi sisi kanan bajunya sekarang dilumuri darah segar!!!
Darah siapa itu?! Darah Wening??!!

Wenang menjilat darah yang menetes-netes dari tangannya, lalu mengelapkan sisa darah di tangannya itu ke bagian dada kanan bajunya. Saya kemudian menyadari, satu tangan Wenang menggenggam tali yang menggantungkan sebuah pasung kayu… dengan ada satu potongan tangan manusia yang masih terpasung!! Apa jangan-jangan… potongan tangan itu…
dan darah itu… adalah dari teman Wening yang disekap di gudang tadi?!!

Di sudut ruang makan ini yang barusan dindingnya ia dobrak, Wenang lantas duduk bersila, dengan satu tangan memegang segenggam penuh batang bunga sedap malam dan tangan lainnya masih memegangi tali pasung kayu.

“Ue… ngin, ngan, ngin, ngin, ngan… Ue… ngin, ngan, ngin, ngin, ngan…”Wenang seperti merapal sebuah mantra dengan suara menggeram keras dan mengerikan, sambil menggerakkan segenggam batang bunga sedap malam itu ke arah saya… Dia tampak sedang mengarahkan mantra ritual pada saya!!

Tolong…! Lari… Lari… Lari…! Di tengah kengerian ini, seketika sayup-sayup saya mendengar suara Wening.

Ada sebuah pintu panjang menyerupai lorong yang menyala di sudut lain ruangan ini. Dari situ datangnya suara Wening, “Tolong! Saya di sebelah! Lari! Lari ke sini!”

“WENING?! KAMU DI MANA?!” Saya berteriak, sambil curi-curi pandang ke
arah Wenang yang terus komat-kamit menjalankan ritual di sudut ruangan.

“Di ruangan sebelah! Lari! Lari ke sini!” Suara Wening terdengar berasal dari lorong di samping kanan saya, terus bersahut-sahutan dengan suara teriakan Wenang yang melakukan ritual iblis kepada saya.

“Ue… ngin, ngan, ngin, ngin, ngan… Ue… ngin, ngan, ngin, ngin, ngan…” Kepala saya terasa sangat pusing dan berputar-putar. Saya sangat mual, saya mau muntah…

“Ue… ngin, ngan, ngin, ngin, ngan… Ue… ngin, ngan, ngin, ngin, ngan…” Wenang masih terus menyerukan mantra ritualnya sambil mengibaskan batang-batang bunga sedap malam ke arah saya, mencipratkan darah…

“LARI!!! MASUK LORONG!!! LARIII!!!” Wening terdengar menjerit penuh rasa putus asa. Namun, suaranya itu seolah memberi kekuatan bagi saya.

Saya secepatnya berlari menuju lorong yang menyala di sana. Wenang ternyata tidak tinggal diam. Melihat saya berusaha melarikan diri, pria itu langsung bangkit dan beranjak dari sudut ritualnya… Wenang menggenggam batang bunga sedap malam dan menyeret pasung kayu berdarah…, mengejar saya.

Dengan sisa-sisa tenaga, saya terus berlari hingga mencapai ujung lorong. Memang ternyata ada ruangan, ada sebuah kerangkeng, dan ada Wening.

“CEPAT ANGKAT BALOKNYAAA!!!” Wening menyambut kemunculan saya dengan suara teriakan yang melolong dan mata yang memelototi saya
Diubah oleh getih.sangit 02-06-2023 08:37
kemintil98rotten7070riri49
riri49 dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup