KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Melihat Hukum Di Indonesia Yang Sakit, Sejak Kasus Sengkon dan Karta!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/62f04278826ba9401209c32d/melihat-hukum-di-indonesia-yang-sakit-sejak-kasus-sengkon-dan-karta

Melihat Hukum Di Indonesia Yang Sakit, Sejak Kasus Sengkon dan Karta!





Semakin peradaban berkembang, semakin kritis netizen Indonesia ditambah dengan adanya pengacara-pengacara yang masih takut kepada Tuhan untuk mengungkap rekayasa kasus yang dimainkan dalam penanganan hukum di Indonesia saat ini.

Bisa jadi ini langkah besar agar bisa menyelamatkan sebuah negara, dimana hukum bak sebuah pisau yang hanya tajam kebawah namun tumpul keatas.



Ironi keadilan ini sebenarnya bukan sekarang saja, dimana yang berkuasa, yang bertahta, dan yang berharta tidak bisa tersentuh, bahkan ada cerita Edy Tansil sang koruptor kelas kakap yang dapat melarikan diri dan hilang ditelan bumi hingga sekarang. Mirip dengan mas Harun, yang tak pernah ada kabar beritanya.

Tapi, bagaimana kalau ada korban salah tangkap akibat kasus pembunuhan pasangan suami istri Sulaiman dan Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi. Mereka dipaksa mengaku dengan beebagai siksaan sebagai pelakunya pada tahun 1974.



Walau keduanya telah membantah melakukan hal itu, namun cerita berujung duka untuk mereka hingga akhirnya di bulan Oktober 1977, Sengkon mendapatkan vonis penjara selama 12 tahun, sedangkan Karta divonis lebih ringan yakni 7 tahun.

Namun ternyata, pelaku sebenarnya berbicara hingga tahun berganti tahun keduanya sudah di penjara hingga tahun 1980, barulah pelaku sebenarnya Gunel akhirnya dijatuhi hukuman 12 tahun penjara.



Di tahun 1981 barulah keduanya bisa bebas, karena adanya jalur peninjauan kembali. Lantas apa yang mereka dapatkan dalam kasus salah tangkap ini? Kehancuran kehidupannya, karena apa yang ia alami hanya penuh cerita duka.

Hidupnya tak seindah dulu, keluarganya sudah kocar-kacir. Harta pun sudah ludes terjual, tapi apa yang terjadi setelah bebas, semakin menderita dan tak tentu arah.

Sengkon dan Karta juga sempat mengajukan tuntutan ganti rugi Rp 100 juta kepada lembaga peradilan yang salah memvonisnya, namun MA menolaknya dengan alasan tidak pernah mengajukan permohonan kasasi.



Inilah yang menjadikan keadilan di negeri ini tidak akan pernah berpihak pada rakyat kecil. Bahkan kasus yang sedang hangat sekarang ini tentang polisi tembak polisi, kalau tidak adanya medsos dan netizen kejadian yang menimpa Brigadir J dengan pelakunya Bharada E yang harusnya tunggal, menjadi berkembang.

Kini nyanyian Bharada E mulai membuka tabir, akan ada babak baru ketika jabatan rendah dijadikan tumbal.



Apa tanggapan juragan dari peran medsos dan netizen terhadap kasus-kasus hukum di Indonesia?

Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.

emoticon-I Love Indonesia



"Nikmati Membaca Dengan Santuy"


Tulisan : c4punk@2022
referensi : 1, 2
Pic : google

emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star















profile-picture
profile-picture
profile-picture
provocator3301 dan 42 lainnya memberi reputasi
mungkin sudah kodratnya yang berlaku di dunia ini adalah siapa yg kuat dia yang menguasai yang lemah.
mayoritas vs minoritas
pengusaha vs pekerja
pejabat vs rakyat jelata
atasan vs bawahan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hasbi93 dan 3 lainnya memberi reputasi
profile picture
bingsunyata
kaskus geek
- Selagi yang berada di posisi di atas menyangka bahwa dirinya adalah Tuhan ...
- Selagi seorang manusia menyangka bahwa dia hidup selamanya ...

===> Itu berlaku pada kedua belah pihak.
Karena ada kecenderungan juga ketika orang yang ditekan kemudian menyangka bahwa dirinya ada pada pihak yang dianiaya (yang kemudian "diterjemahkan", sebagai pihak yang benar), padahal bisa saja orang itu mendapat "reaksi yang sepadan" dengan tindakan yang telah ia lakukan. Semisal, orang yang terhukum di penjara (apalagi kalau penjara jaman bahuela) bisa saja merasa sebagai pihak yang tersisihkan (dari kelompok sosial umum normalnya).
Memuat data ...
1 - 2 dari 2 balasan
×
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di