KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/628b46086727d061c976a514/real-story-mengenang-perjuanganku-di-zaman-bukan-penjajahan

(Real Story) Mengenang Perjuanganku di Zaman (Bukan) Penjajahan





Halo, kawan! Akhirnya aku nulis lagi di sini. Mungkin ini bakalan jadi thread terakhir aku di Kaskus. Aku nulis ini untuk mengenang masa perjuanganku awal masuk dunia kerja. Mungkin bakalan panjang, tapi aku akan tulis semua yang kuingat, biar menjadi kenangan di masa tua nanti.

Oke, tulisan ini adalah murni kisahku, tanpa adanya tambahan drama, karena memang perjalananku sendiri sudah penuh dengan drama, wkwk. Justru karena kisahku ini banyak drama dan unik, jadi harus dikenang. Kalo kisahku lempeng, ngapain juga aku capek nulis dan mengenang? Ya, nggak? Jadi, ini asli, no kawe kawe!

Jadi, namaku Yeni, rumah asalku Ngawi, Jawa Timur. Berasal dari keluarga sederhana, jadi aku putus sekolah. Sekitar tahun 2014 (kalo nggak salah), aku pertama kali merantau ke Sidoarjo. Jadi, awalnya temenku yang bernama Budi (nama asli), dia manas-manasin aku karena dah berhasil diterima di sebuah pabrik chiky (Siantar Top, Sidoarjo). Aku nanya dia, ada lowongan nggak. Dia jawab ada, tapi aku harus datang sendiri ke sana. Dia nggak bisa jemput atau ngantar. Dia bilang syaratnya bawa ft ijasah, ft ktp, skck, surat sehat dan pas foto. Ya ampun, banyak sangat. Pusing lah aku.

Akhirnya aku ijin emak dan abang buat pergi ke Sidoarjo. Walau mereka sempat kuatir karena aku mau kerja di pabrik. Takut kalo aku sakit gada yang rawat, harus nyari makan sendiri, blablabla. Mereka malah nyaranin aku jadi Tkw karena tetangga ada yang ke sana, jadi ntar ada barengannya. Lah? Mengsedih sangad!

Ogahlah aku jadi Tkw, takut diperkaos, wkwk. Akhirnya dengan sedikit memaksa, aku diijinin buat ke Sidoarjo. Kebetulan tetangga ada yang merantau juga di Surabaya, jadi nanti sementara aku tidur di kontrakan dia. Aku seret abangku buat nganterin ke polsek dan puskesmas di kecamatan, bikin skck dan surat sehat.

Setelah semua dokumen dan perlengkapan beres, berangkatlah aku. Emak super duper baek banget, aku dikasih uang saku 800rb, patungan sama abang. Cukuplah buat hidup sebulan di kota orang.

Sampai di Surabaya, aku bermalam di kontrakan temen (tetangga) tadi. Dia ngontrak bareng suaminya, jadi agak sungkan juga sih kalo malem tidur bertiga. Untung tidurnya di lantai. Kalo di ranjang, bisa-bisa jadi pelakor, aku. Fiuh!

Aku hubungi lagi si Budi. Aku bilang ke dia bahwa aku udah sampai di Surabaya. Dia agak syok, nggak nyangka kalau aku bakal senekat itu. Iyalah nekad, daripada di rumah ntar buru-buru dikimpoiin. Ogah banget!

Aku nanya sedetailnya, di mana aku harus ngelamar kerja, sebutin alamatnya dan ke sana lewat mana (harus naik apa). Dia jelasin semuanya lewat telepon, tapi dia agak nggak yakin gitu kalo aku bakalan berani atau berhasil nemuin kantor/PT nya.

Bermodal nekad, besoknya aku langsung nyegat angkot ke Sidoarjo. Tentunya sambil bawa berkas-berkas dokumen. Waktu itu aku disuruh naik angkot warna biru muda jurusan Sedati. Berhenti di pom bensin Sedati, trus jalan ke arah barat sekitar satu kilometer. Arah ke sana nggak dilewati angkot, jadi harus jalan kaki. Itu yang dia bilang. Aku harus nyari PT SIR.

Oke, aku ikuti semua yang dia bilang. Walaupun panas-panas, aku berhasil jalan sampai ke sana. Aku nanya-nanya ke penjual minuman di pinggir jalan, ketemulah itu si PT SIR. Ternyata letak rukonya di deretan agak ke belakang gitu, jauh dari jalan.

Sesampai di sana, kok sepi? Katanya ada lowongan? Jangan-jangan ditipu aku! Fiuh!

Akhirnya aku nanya sama security di situ dan langsung disuruh masuk ketemu sama hrd-nya. Alhamdulilah. Sampai di dalem, aku serahin dokumenku ke mbak-mbak hrd.

"Loh, ini surat lamarannya mana? Kok nggak ada?" tanya si mbak.

"Loh, pakai surat lamaran ya, Buk?"

"Iyalah pake. Masa ngelamar kerja nggak pake surat lamaran. Daftar riwayat hidupnya juga nggak ada!"

Waduh, mampus ini. Si Budi nggak bilang sih harus pake surat lamaran juga. Akunya juga beg* nggak mikir kalo ini tuh ngelamar kerja, jadi harus pake surat, wkwk. Apes memang.

"Aduh, maaf ya Bu, saya lupa."

"Yaudah, kamu pulang aja dulu. Besok ke sini lagi bawa persyaratan lengkap, ya."

"Iya, Bu."

MENGSEDIH! Ibu itu seenaknya nyuruh aku pulang, buat balik lagi besok. Tanpa dia tahu kalo aku ini nggak punya rumah, hiks! Tempat singgahku jauh di Surabaya. 😢


Nggak mau balik ke Surabaya dengan harapan kosong, aku pun nekad jalan-jalan di sekitar pom bensin Sedati. Nyari kost-kostan ceritanya. Setelah jalan dan nanya-nanya ke sana kemari akhirnya aku nemu kost di daerah Sedati Gede kalo nggak salah. Pokoknya seingatku, aku masuk gang masjid kiri jalan kalau dari arah selatan.

Aku nemu kost-an kosong sepetak pinggir jalan, waktu itu sewanya 200rb perbulan. Udah ada ranjang plus kasur. Okelah, langsung kubayar 200rb di muka. Aku nyari tahu sedikit, jadi kost-an itu ada 4 kamar berderet. Kamarku nomor dua dari depan. Sebelah kiriku dihuni seorang bapak-bapak (menjurus ke kakek karena rambut pada ubanan), sebelah kananku ibu dengan dua anaknya (nggak tau ada suaminya atau enggak), trus kamar paling ujung gembokan, nggak tahu siapa yang menghuni.

Fyi, aku cuma semingguan kost di sini. Ada satu dan lain hal kenapa aku harus pindah dari sini. Lengkapnya, nanti diceritain.

Oke, singkatnya aku balik ke Surabaya, pamitan ama temenku dan membawa barang-barang untuk pindah ke kost yang baru. Keesokan harinya aku datang ke PT SIR dengan membawa dokumen lengkap. Si mbak hrd bilang aku suruh nunggu panggilan di hari kamis jam tigaan. Kalau keterima, bakalan ditelepon. Akhirnya aku pulang ke kost an dan istirahat, nyuci baju dan lain-lain. Sambil ngobrol-ngobrol sama ibu penghuni kost sebelah.

Ketika aku sedang sendirian di kamar (pintu kamar kubuka karena panas nggak ada kipas), tetiba datanglah bapak-bapak kost sebelah. Beliau nanya-nyanya.

"Mau kerja di pabrik ya, Nduk?"

"Nggeh, Pak."

(Note : aslinya semua percakapan dalam bahasa Jawa Suroboyoan, tapi aku ogah translate, jadi langsung pake bahasa Indonesia aja)

"Udah keterima?"

"Belum, Pak. Nunggu panggilan besok."

"Nduk, Nduk, kerja di pabrik itu berat loh. Badan kamu kecil gitu mana sanggup kerja di pabrik."

Dih, menghina sangad. Iya, emang badanku kecil, tapi aku akan berusaha kok, hiks!

"Ya, nanti aku coba dulu, Pak. Kuat atau enggaknya."

"Itu anaknya si anu kemaren aja kerja di pabrik baru seminggu nggak kuat, sampe diopname loh."

Lah, si bapak malah nakutin. Kok sampai opname, memang kerjanya kayak apa? Benar-benar bikin bimbang galau gegana ini mbah-mbah tua.

Aku cuma ber "oh", "nggeh toh?" dalam menanggapi si bapak. Nggak mau berkomentar lebih. Aku udah nekad dan nggak ada yang bisa menggoyahkanku!

"Daripada kamu capek-capek kerja di pabrik, mending kamu ikut aku aja."

Lah?

"Mengko yen kowe gelem melu aku, separo bondoku tak walik ning atas namamu. Aku nduwe omah akeh. Meluo aku, ngramut aku, ngancani uripku. Aku sek legan loh, Nduk."

Lah, si mbah mengerikan sangad! 😳
Aku arep dipek bojo! 😭



Percakapan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Malamnya aku nggak bisa tidur. Ketakutan, gaes!

Tak sabar menunggu esok hari saatnya panggilan kerja.

Dan perjuanganku yang sesungguhnya baru dimulai!



Next bakal dilanjut kalo ada waktu luang

next di sini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bohemianflaneur dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh YenieSue0101
~ 4 ~




Pertama kali masuk kerja, aku nyaris telat karena sibuk tolah-toleh di depan satpam. Ceritanya nyari temenku yang baru kenalan kemaren sewaktu di PT SIR. Sebenernya kita udah janjian mau masuk bareng karena sama-sama baru, jadi biar nggak tersesat dan tak tau arah jalan pulang, aku tanpamu ... (yah malah nyanyi, wkwk). Tapi masalahnya, kita nggak tukeran nomor hp waktu itu dan aku agak-agak lupa gitu wajahnya, gimana sih, belum terlalu inget wkwk. Namanya juga baru kenal.

Sampai di gudang, aku ditegur pak mandor karena hampir telat absen. Jadi, absennya tuh kayak semacam masukin kartu ke mesin gitu, trus nanti otomatis tertulis di sana kita masuknya jam berapa. Dulu di pabrik STT belum ada finger print. Si pak mandor ngancem-ngancem, kalo absennya mepet-mepet (harusnya 10 menit sebelum bel), bakal dipotong gajinya. Padahal yang gaji kan bukan dia, tapi PT SIR, wkwk.

Oke skip

Aku dapat divisi Mie 2. Yang memproduksi snack berupa mie. Waktu itu ada setidaknya dua macam mie di divisiku, yaitu mie Gemes dan Mie Fajar. Penampakan produknya ada di bawah ini.


Spoiler for penampakan:



Jadi, bagian mie ini ada tiga gudang. Hall, Mie 1, dan Mie 2. Jadi gudangku ini terletak paling belakang, yang jalan dari pintu satpam sampe pintu gudangnya itu memakan waktu 10 menit. Kalau datang mepet jam benar-benar menyusahkan. Harus berlari biar cepet sampai gudangnya. 😑
Gudang Mie 2 ini paling belakang, mepet tembok. Mana belakang pabrik ada kuburannya lagi. Huh!

Pertama masuk, aku dapat bagian mesin. Jadi mie-nya ini berjatuhan dari mesin, trus kita nyusun di kompayer (eh, apa sih namanya, gatau, wkwk). Sempat pusing sih karena terus mantengin mesin berjalan. Kayak orang mabok gitu. Tapi lama-lama terbiasa juga kok. Jadi aku sama temen-temen baru lainnya, kalau nggak ada mandor, suka makanin itu mie. Gimana sih rasanya dapet jajanan yang masih anget, baru keluar dari oven, bener-bener fresh? Pasti girang banget lah. Berasa norak aku, haha. Tiap ada kesempatan selalu makan, sampai berminggu-minggu akhirnya bosan juga.

Sebenarnya kerja di sana enak, shiftnya juga pendek. Nggak berasa capeknya. Bener-bener nggak seperti yang dibilang si mbah-mbah di Sedati Gede itu.

Aku mulai bertemu dengan satu dua teman yang akhirnya akrab. Yah, walaupun waktu itu kita jarang ngobrol karena ketemu cuma di tempat kerja. Herannya, kita nggak manfaatin sms atau bbm. Eh, waktu itu hpku masih jadul sih (hp bekas abangku), belum bisa instal bbm. Jadi ya, jarang komunikasi sama temen.

Kerja delapan jam sehari rupanya benar-benar terasa kurang bagiku. Apalagi kalau shift malam yang masuk jam sebelas, pulang jam tujuh pagi. Pulang kerja trus seharian glimbang glimbung di kost tuh lama-lama juga bosen. Mau jalan keluar. belum terlalu kenal lingkungan. Plus aku orangnya introvert juga. Hp juga belum ada hiburannya, cuma efbe an doang. Kalo sekarang kan enak bisa ngedrakor berjam-jam. Dulu mana ada?

Akhirnya setelah sebulanan kerja (dan sedikit mengenal dunia luar), aku memutuskan untuk mencari sampingan. Awalnya aku beli koran Jawa Pos, buat nyari info loker di iklan baris. Ketemu di Gunung Sari, Surabaya. Jiwa petualanganku bangkit. Aku ajaklah temenku (Novi) buat ngelamar kerja ke sana. Eh, nyampai sana ternyata harus bayar dan harus mau ditempatin di cabang perusahaannya di seluruh Jawa Timur. Pulang deh kita. Males banget, mau kerja malah suruh bayar dulu.

Kami nggak menyerah. Waktu itu kami nemu iklan yang ditempelin di pohon. Iklan aneh yang membuat kami tergiur. Jadi, kerjanya ngelem benang teh, per pack dapat komisi 60rb. Itu pekerjaan gampang! Sehari bisa dapat berpack-pack itu. Semangatlah kita nyari alamat si perusahaan yang menawarkan komisi itu. Namanya PT Hadena Indonesia. Alamatnya di depan BG Junction Surabaya. Wah, di mana itu? Baru dengar nama daerah itu.

Setelah tanya-tanya sopir angkot di terminal Joyoboyo, akhirnya kita diarahkan ke angkot yang benar. Waktu itu kita naik angkot turun Pasar Turi, trus jalan kaki ke BG Junction. Jauh ternyata, haha. Mana panas-panas pula!

Sesampai di sana, ternyata sudah banyak orang yang datang. Beberapa di antaranya pulang sambil menenteng sepaket teh celup sama botol entah isi apa.

Kita disuruh bayar admin per orang 5rb. Kubayarin lah itu. Tiba saatnya dipanggil, trus diwawancarai sama sesebapak gitu. Setelah obrolan ngalor ngidul panjang lebar, ujung-ujungnya kita disuruh bayar 250rb buat dapetin satu paket teh celup dan parfum. Haha!

Trus gimana? Ya mundurlah kita. Mana bawa kita duit segitu. Kalopun bawa duit, tetep aja ogah ngasih. MLM itu sih. Dulu kita buta soal bisnis beginian. Kalo sekarang kan udah menjamur di mana-mana.

Pulangnya kita jalan ke Tugu Pahlawan, trus jalan lagi ke Tunjungan Plaza. Ini ceritanya jalan-jalan sambil menyesatkan diri. Akhirnya kita tersesat beneran dan salah naik angkot. 🤣

Beberapa bulan setelahnya, itu kantor PT Hadena Indonesia dah tutup, gaes! Udah pada kabur nyari lahan baru. 🤣

Oke skip 🤣

Aku dan temenku nyerah karena tak kunjung dapet kerja sampingan. Memang rakus sih, ya. Udah enak dapat kerja gajian tiap bulan, masih aja kurang.

Akhirnya sebagai pelipur lara, aku ikut kursus komputer di Karang Menjangan, Surabaya. Dapet infonya juga dari iklan baris. Bayar 400rb, 5 kali pertemuan. Mahal ya? Iya, bagiku yang kere ini, wkwk.

Bayangin naik angkotnya aja pp 16rb. Karena harus oper dua kali. Tambak Sawah-Joyoboyo, Joyoboyo-Karang Menjangan. Perjalanan hampir dua jam karena harus tiduran dulu di terminal nungguin angkot penuh baru jalan. 😑


Untung jadwalnya fleksibel. Jadi kayak privat gitu, jamnya semau kita. Aku ambil jadwal kalo pas shift malam. Jadi siangnya longgar. Btw, aku cuma datang 3 kali pertemuan. Abis itu dah bosan nggak pernah datang lagi. Si guru privatnya juga nggak nanyain. 🤣

Mang dasar gabut aku tuh 😑



Oke, di part berikutnya bakal aku ceritain ketika aku dan teman-temanku resign massal (setelah kerja kurleb 3 bulan), demi mendapat kenaikan gaji. Dan ternyata perjalanan yang kutempuh tak semudah yang kubayangkan. Berjuang lagi dari nol 😑




~~~~~~~~~





Btw, ini update partnya sesukaku ya, karena aku agak sibuk plus kadang nggak mood. Tapi kisah ini bakal aku tulis sampai habis (sampai aku mendapatkan kejayaanku di tempat kerja), buat kenangan di masa tua nanti.

Trimakasih yang sudah membaca. 🙂



profile-picture
profile-picture
disya1628 dan indrag057 memberi reputasi
Diubah oleh YenieSue0101
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di