KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Mertua Si Pahit Lidah (14-16)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a1f72c36baf259112f9fbf/mertua-si-pahit-lidah-14-16

Mertua Si Pahit Lidah (14-16)

Mertua Si Pahit Lidah

14



Part 14


Rasanya gemas sekali hatiku melihat Mamak dkk berkumpul di warung milik Bu Ros. Tapi tak mungkin aku mendatangi mereka semua untuk melabrak. Lebih baik aku main cantik. Melihatku semakin bersinar tentu akan secara otomatis membuat mereka teler sendiri.


Hari minggu, saatnya beberes dan bersih-bersih rumah. Aku menyapu bersih seluruh ruangan di dalam rumahku. Kemudian aku juga menyapu halaman depan rumah yang luasnya hanya beberapa jengkal saja dari jalan gang.


“Rajin kau, ya, Na? pagi-pagi udah nyapu! Tumben?” Buk Ros berteriak dari warungnya. Aku hanya tersenyum dan membiarkannya bermain dengan pikirannya sendiri. Mau dilayani pun percuma.


“Na! sekalian lah itu halaman rumah mertuamu disapukan, biar jadi mantu idaman kau!” ujarnya lagi.


“Apa perlu sekalian halaman rumah Ibuk kusapukan?” Ku jawab saja sekalian.


“Hahahah! Gak pala, lah! Nanti marah mertuamu! Hahaha!” Buk Ros malah tertawa terpingkal-pingkal sambil membuang sampah di depan warungnya. Dasar jorok! Sampah yang sudah bertumpuk dan berbau itu malah di onggokkan begitu saja di depan warung. Lalat hijau beterbangan kemana-mana gara-gara aroma busuk dari si sampah.


“Na …. Nina!” terdengar suara Mamak dari belakang rumahku. Pasti Mamak sudah masuk lewat pintu belakang. Bang Bondan sepagi ini masih ngorok, jadi aku belum membuat sarapan.


“Apa, Mak?” tanyaku sambil masuk ke dalam rumah.


“Belum masak kau jam segini? Kok gak ada makanan?” tanyanya sambil membanting tudung saji.


“Belom! Bang Bondan aja belom bangun!”


“Memang yang malasan lah kau ya?”


“Bukan malas, Mak. Masih bersih-bersih rumah nya Nina!”


“Bapakmu belum sarapan itu, ha!”


“Loh! Ya Mamak lah yang buatkan Bapak sarapan! Kok Nina yang diubrak-ubrak?”


“Kau itu memang tak bisa diandalkan jadi mantu! Harusnya ya, kalok mertua gak masak, kau lah yang ngantari kami makanan!”


“Bweh! Mana bisa kek gitu! Kalok Nina masak apa-apa selama ini ya tetap Nina antari orang Mamak sama Bapak! Kok ngilng-ngilangi aja Mamak ini!”


“Kapan terakhir kau ngasi? Udah lama nggak nya!”


“Semenjak Mamak bilang anakku rakus! Malas lagi aku!”


“Ha, kan! Masih dendam jugak kau masalah itu?”


“Gak dendam, cuman ingat!”


“Payah kali memang, punya menantu berpendidikan tapi sama mertua tak ada hormatnya!”


“Bweh!”


“Jadi mau makan apa la itu Bapakmu?”


“Kan bisa Mamak bikinkan nasi goreng.”


“Malas Mamak! Buatkan dulu, ya! Nanti antar ke rumah Mamak! Awas kalok gak kau antar!”


Mamak langsung keluar dan berjalan pulang. Enak sekali dia mengatur hidupku! Mentang-mentang gelarnya mertua, bukan berarti dia bisa seenaknya memperlakukan menantu sesuka hatinya.


Akhirnya aku memasak nasi goreng pagi ini. Aku sengaja membuat hanya untuk porsi empat orang. Aku antarkan sepiring Nasi goreng ke rumah Mamak. Untung saja Mamak sedang kongkow di warung Buk Ros.


“O, Pak! Ini Nina antari nasi goreng. Kata Mamak Bapak belum sarapan.”


“Oo, iya? Waah makasih banyak ya, Na!”


“Iya, Pak. Dimakan ya, Pak!”


“Iya iya nanti Bapak makan. Mau cuci tangan dulu Bapak.”


Aku langsung saja pulang ke rumahku sendiri dan sarapan bersama Riri. Tak lama kemudian Bang Bondan bangun dan langsung ikut sarapan.


“Bisanya kau, Bang! Melek mata langsung makan. Bukannya sikat gigi dulu apa cuci mukak dulu!”


“Ah! Udah lapar ini!” jawabnya cuek.


“Na … Nina!” Lagi-lagi Mamak berteriak memanggil namaku.


“Mak! Mbok ya jangan jerit-jerit ngapa kalok manggil namaku!”


“Mana nasi gorengnya?”


“Udah kuantar tadi sama Bapak!”


“Cuman satu?”


“Iya! Tapi kata Mamak untuk Bapak, Bapak belom sarapan.”


“Ya ampuun! Bodok kali kau ini jadi orang! Jadi Mamak gak kau buatkan sekalian?”


“Salah sendiri, perintahnya tadi cuman untuk Bapak, kok!”


“Gak ada lagi?” tanyanya kesal.


“Abess!” Aku meletakkan piring kotor milikku dan Riri ke wadahnya.


“Memang betol-betol binik kau ini, Dan! Lokeknya mintak ampun!”


“Mamak kan bisa bikin sendiri.”


“Malas!” jawab Mamak ketus.


“Buatkan lagi aja, lah, Na!” perintah Bang Bondan.


“Sama, aku pun malas!”


“Sengaja itu dia bikin Mamak merepet pagi-pagi! Cemana mau gak merepet? Kelakuan menantunya gak beres!”


“Lucu Mamak ini! Nonggok margosip ke tetangga sempat, masak untuk sarapan kok malas! Kenyang rupaknya Mamak kalok margosip? Nggak, kan?”


“Siapa yang margosip? Nunggu tukang along-along nya Mamak!”


“Mana ada jam segini along-along lewat!”


“Aah! Udah udah! Berisik kali pun cuman gara-gara nasi goreng! Gak mertua gak menantu sama aja gak ada yang mau ngalah! Setres aku lama-lama!” Bang Bondan berkata gusar sambil beranjak dari meja makan membawa serta kotak rokoknya.


“Binikmu ini yang parah! Itu kok piring mamak masih ada di sini? Kapan kau ngambili piring Mamak itu?”


“Kok aku? Mamak itu makan kemari, bawak nasi dari rumah, ambil lauk di sini. Abis makan Mamak tinggal piringnya! Kayak gitu tiap hari. Makanya ada di sini piring Mamak. Amnesia!”


“Mamak memang udah lansia! Gak pala kau bilang udah tau Mamak!”


“Amnesia! Bukan Lansia!”


“Antarkan cepat! Pulangkan semua piring-piring Mamak!”


“Males, sih! Mamak bawak la sendiri!”


“Mantu gak jelas kau ini! Bantah aja kerjamu kalok disuruh!”


“Iya! Nanti kuantarkan! Tapi jangan Mamak bawak-bawak lagi ke sini. Nanti aku lagi yang Mamak tuduh nyolong piring!”


“Ah! Mulutmu, lah!”


Aku langsung mengambil semua piring Mamak yang ada di rak piring. Lalu aku antar ke rumah Mamak lewat pintu belakang.”


“Sendoknya sekalian!” ujar Mamak yang sudah pulang lebih dulu.


“Sendoknya Mamak bawak itu kemana-mana. Bisa untuk macem-macem pun itu sendoknya.”


“Apanya maksudmu?”


“Mamak kan makan pakek tangan! Kok sendok pulak Mamak suru pulangkan? Sendoknya itu tangan Mamak!”


“Tinggal bilang gak ada aja pun susah kali!”


“Susah memang!”


Aku langsung keluar dari dapur. Namun sudut mataku sekilas menangkap benda yang aku kenali sebagai milikku. Tongkat pemutar bola lampu. Aku mencarinya beberapa hari kemarin karena lampu kamar mandi suka berkedip. Mungkin kurang kencang posisinya pada fitting. Aku bergegas mengambil si tongkat untuk aku bawa pulang.


“Kalok udah siap pakek pulangkan tongkatnya!” ujar Mamak saat melihatku mengambil benda itu.


“Bah! Aku yang punya kok jadi kayak aku yang minjam pulak?”


“Mamak itu ya yang belik!”


“Mana ada! Punyaku ini! Ada tulisannya nama Riri kubuat pakek spidol! Ngaku-ngaku aja Mamak!”


“Punya si Nina itu, Mak! Bapak itu kemaren dulu yang minjam!” ujar Bapak dari kursi goyangnya.


“Bapak ini pun ikot aja ngomong!”


Entah apa lagi yang dikatakan Mamak. Langsung saja aku membawa pulang tongkat milikku itu. Aku akan menyimpannya di tempat yang aman! Barang kalau sudah terlalu lama di rumah Mamak, maka akan jadi hak milik. Hufh!


“Na! Kau ngalah sikit ngapa sama Mamak!” Bang Bondan menghampiriku yang baru saja membetulkan posisi lampu di kamar mandi.


“Perasaan dari dulu aku ngalah banyak, lah! Bukan ngalah sikit!”


“Orang tua itu, Na! Kau lawan terus berdosa kau!”


“Tau dosa nya Abang! Kalau suami lebih berat sama Mamaknya daripada anak istrinya itu apa gak dosa jugak, Bang?”


“Ya cemana? Namanya orang tuaku udah gak kerja, gak punya penghasilan!”


“Berarti mereka butuh sama kita, kan? Kenapa gak mau ngomong yang bagus-bagus aja sama menantu? Dari masih numpang sampek rumah sendiri kok aku gak pernah diperlakukan baek? Dulu numpang dibuat kayak babu.”


“Namanya numpang, ya sadar diri, lah!”


“Numpang memang numpang, numpang beteduh aja. Selebihnya aku keluar biaya jugak. Abang ini enak aja kalok ngomong! Gak mikir perasaan binik!”


“Setidaknya kau jangan njawap kalok dibilangi!”


“Serah Abang, lah! Abang iya enak, jadi anak kesayangan! Aku mantu yang dianggap sampah! Tiap hari digosipkan!”


“Payah memang kau dibilangi! Keras kepala!”


“Hatiku pun udah keras jugak! Kelamaan dipijak-pijak!”


“Na! Aku mau pigi, sore baru pulang!"


“Kemana? Tumben pamit!”


“Jumpa kawan lama!” Bang Bondan berkata setelah membaca sebuah pesan dari smartphonenya. Ia langsung mengambil kemeja yang tergantung dan langsung buru-buru memakainya sambil berjalan keluar. Ia melupakan ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas kasur! Kebiasaan!


Aku lanjutkan saja membereskan kamar. Merapikan kasur dan tempat tidur. Namun aku penasaran karena sejak tadi ponsel Bang Bondan bergetar-getar. Tak seperti biasanya, naluri kepoku muncul. Aku mengambil si ponsel dan berniat mengecek isi pesan yang masuk.


Baru saja aku akan membuka kuncinya, ternyata dikunci dengan pola. Halah! Gampil! Bang Bondan orang yang paling malas ribet. Kucoba pola membentuk huruf S. Benar saja, terbuka!


Ada banyak laporan panggilan tak terjawab yang tak dibukanya. Dari kontak dengan nama huruf R2. Apa itu R2?


Sekali lagi ponsel bergetar panggilan masuk dari R2. Aku mengangkat telepon itu.


“Halo! Lama kali, pun, ngangkat telponnya! Aku ke rumah Mamakmu sekarang!” ujar seseorang di seberang sana. Perempuan! Siapa? Belum sempat aku bertanya dia sudah menutup telponnya! Aku penasaran, ada janji apa Bang Bondan dengan wanita bernama R2 ini? Mau ke rumah Mamak? Hmm ... Sebaiknya nanti aku intai saja siapa dia.


Tak butuh waktu lama, setengah jam kemudian masuk pesan baru dari R2. Tak ada riwayat chat mereka sebelumnya. Foto profil dari kontak bernama R2 adalah kembang sepatu berwarna putih.


[Aku di rumah Mamakmu!] bunyi pesan itu. Oke kita lihat sekarang! Siapa dia dan mengapa dia mencari suamiku.


Aku mengendap-endap dari pintu dapur Mamak. Untung saja Riri masih asyik dengan mainannya, jadi dia tak sibuk ingin ikut denganku.


Aku mendengar Mamak bercakap-cakap ramah dengan seorang perempuan. Mau masuk dari pintu dapur ternyata dikunci. Mau tak mau aku hanya bisa nguping dari dinding di samping rumah. Ada sebuah pohon bunga yang lumayan rimbun, jadi aku tak perlu sampai ketahuan si tetangga resek depan rumah Mamak.


“Udah pigi dia tadi, kok malah kesini kau?” tanya Mamak pada perempuan itu.


“Looh! Aku kesini kok dia malah udah pigi? Tapi tadi diangkatnya pas aku nelpon!”


“Kebiasaan itu anak Mamak memang! Kalok pigi lupa bawak hape.”


“Jadi cemana, Mak?” tanya orang itu dengan nada manja.


“Kau sabar lah dulu, masih Mamak buat supaya biniknya itu gak betah lagi di sini. Mamak musuhi dia biar dia gak betah terus mintak pisah sama si Bondan!”


“Aku udah gak sabar mau jadi biniknya Bang Bondan, Mak!” rengeknya lagi.


Deg!! Serrr!! Darahku berdesir hebat mendengar percakapan mereka. Bang Bondan benar-benar dicarikan istri baru oleh Mamak. Benar-benar keterlaluan! Tapi siapa perempuan ganjen itu? Sudah tau Bang Bondan sudah punya istri dan anak, kok mau-maunya sama lakik orang? Apa jangan-jangan Bang Bondan pun sudah sering bertemu perempuan itu?


Aku mencari celah dari jendela samping rumah Mamak untuk mengintip. Aku berhasil mengintip dari kaca jendela yang tak tertutup gorden. Memang benar Mamak sedang berbicara dengan seorang perempuan muda. Sayangnya posisi duduknya membelakangi jendela tempat aku mengintai. Sial! Mau kulabrak langsung tapi aku tak punya bukti yang kuat! Baiklah, aku punya rencana lain. Akan kubuat tiga manusia laknat ini terjebak dalam satu lubang! Mamak, tunggu saja! Menantumu ini tak akan tinggal diam! Ternyata selain mulutnya jahat, hatimu juga jahat!



profile-picture
profile-picture
profile-picture
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
Cinta Itu Enggak Buta, Cinta Justru Mandang Strata
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di