KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Mertua Si Pahit Lidah (14-16)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61a1f72c36baf259112f9fbf/mertua-si-pahit-lidah-14-16

Mertua Si Pahit Lidah (14-16)

Mertua Si Pahit Lidah

14



Part 14


Rasanya gemas sekali hatiku melihat Mamak dkk berkumpul di warung milik Bu Ros. Tapi tak mungkin aku mendatangi mereka semua untuk melabrak. Lebih baik aku main cantik. Melihatku semakin bersinar tentu akan secara otomatis membuat mereka teler sendiri.


Hari minggu, saatnya beberes dan bersih-bersih rumah. Aku menyapu bersih seluruh ruangan di dalam rumahku. Kemudian aku juga menyapu halaman depan rumah yang luasnya hanya beberapa jengkal saja dari jalan gang.


“Rajin kau, ya, Na? pagi-pagi udah nyapu! Tumben?” Buk Ros berteriak dari warungnya. Aku hanya tersenyum dan membiarkannya bermain dengan pikirannya sendiri. Mau dilayani pun percuma.


“Na! sekalian lah itu halaman rumah mertuamu disapukan, biar jadi mantu idaman kau!” ujarnya lagi.


“Apa perlu sekalian halaman rumah Ibuk kusapukan?” Ku jawab saja sekalian.


“Hahahah! Gak pala, lah! Nanti marah mertuamu! Hahaha!” Buk Ros malah tertawa terpingkal-pingkal sambil membuang sampah di depan warungnya. Dasar jorok! Sampah yang sudah bertumpuk dan berbau itu malah di onggokkan begitu saja di depan warung. Lalat hijau beterbangan kemana-mana gara-gara aroma busuk dari si sampah.


“Na …. Nina!” terdengar suara Mamak dari belakang rumahku. Pasti Mamak sudah masuk lewat pintu belakang. Bang Bondan sepagi ini masih ngorok, jadi aku belum membuat sarapan.


“Apa, Mak?” tanyaku sambil masuk ke dalam rumah.


“Belum masak kau jam segini? Kok gak ada makanan?” tanyanya sambil membanting tudung saji.


“Belom! Bang Bondan aja belom bangun!”


“Memang yang malasan lah kau ya?”


“Bukan malas, Mak. Masih bersih-bersih rumah nya Nina!”


“Bapakmu belum sarapan itu, ha!”


“Loh! Ya Mamak lah yang buatkan Bapak sarapan! Kok Nina yang diubrak-ubrak?”


“Kau itu memang tak bisa diandalkan jadi mantu! Harusnya ya, kalok mertua gak masak, kau lah yang ngantari kami makanan!”


“Bweh! Mana bisa kek gitu! Kalok Nina masak apa-apa selama ini ya tetap Nina antari orang Mamak sama Bapak! Kok ngilng-ngilangi aja Mamak ini!”


“Kapan terakhir kau ngasi? Udah lama nggak nya!”


“Semenjak Mamak bilang anakku rakus! Malas lagi aku!”


“Ha, kan! Masih dendam jugak kau masalah itu?”


“Gak dendam, cuman ingat!”


“Payah kali memang, punya menantu berpendidikan tapi sama mertua tak ada hormatnya!”


“Bweh!”


“Jadi mau makan apa la itu Bapakmu?”


“Kan bisa Mamak bikinkan nasi goreng.”


“Malas Mamak! Buatkan dulu, ya! Nanti antar ke rumah Mamak! Awas kalok gak kau antar!”


Mamak langsung keluar dan berjalan pulang. Enak sekali dia mengatur hidupku! Mentang-mentang gelarnya mertua, bukan berarti dia bisa seenaknya memperlakukan menantu sesuka hatinya.


Akhirnya aku memasak nasi goreng pagi ini. Aku sengaja membuat hanya untuk porsi empat orang. Aku antarkan sepiring Nasi goreng ke rumah Mamak. Untung saja Mamak sedang kongkow di warung Buk Ros.


“O, Pak! Ini Nina antari nasi goreng. Kata Mamak Bapak belum sarapan.”


“Oo, iya? Waah makasih banyak ya, Na!”


“Iya, Pak. Dimakan ya, Pak!”


“Iya iya nanti Bapak makan. Mau cuci tangan dulu Bapak.”


Aku langsung saja pulang ke rumahku sendiri dan sarapan bersama Riri. Tak lama kemudian Bang Bondan bangun dan langsung ikut sarapan.


“Bisanya kau, Bang! Melek mata langsung makan. Bukannya sikat gigi dulu apa cuci mukak dulu!”


“Ah! Udah lapar ini!” jawabnya cuek.


“Na … Nina!” Lagi-lagi Mamak berteriak memanggil namaku.


“Mak! Mbok ya jangan jerit-jerit ngapa kalok manggil namaku!”


“Mana nasi gorengnya?”


“Udah kuantar tadi sama Bapak!”


“Cuman satu?”


“Iya! Tapi kata Mamak untuk Bapak, Bapak belom sarapan.”


“Ya ampuun! Bodok kali kau ini jadi orang! Jadi Mamak gak kau buatkan sekalian?”


“Salah sendiri, perintahnya tadi cuman untuk Bapak, kok!”


“Gak ada lagi?” tanyanya kesal.


“Abess!” Aku meletakkan piring kotor milikku dan Riri ke wadahnya.


“Memang betol-betol binik kau ini, Dan! Lokeknya mintak ampun!”


“Mamak kan bisa bikin sendiri.”


“Malas!” jawab Mamak ketus.


“Buatkan lagi aja, lah, Na!” perintah Bang Bondan.


“Sama, aku pun malas!”


“Sengaja itu dia bikin Mamak merepet pagi-pagi! Cemana mau gak merepet? Kelakuan menantunya gak beres!”


“Lucu Mamak ini! Nonggok margosip ke tetangga sempat, masak untuk sarapan kok malas! Kenyang rupaknya Mamak kalok margosip? Nggak, kan?”


“Siapa yang margosip? Nunggu tukang along-along nya Mamak!”


“Mana ada jam segini along-along lewat!”


“Aah! Udah udah! Berisik kali pun cuman gara-gara nasi goreng! Gak mertua gak menantu sama aja gak ada yang mau ngalah! Setres aku lama-lama!” Bang Bondan berkata gusar sambil beranjak dari meja makan membawa serta kotak rokoknya.


“Binikmu ini yang parah! Itu kok piring mamak masih ada di sini? Kapan kau ngambili piring Mamak itu?”


“Kok aku? Mamak itu makan kemari, bawak nasi dari rumah, ambil lauk di sini. Abis makan Mamak tinggal piringnya! Kayak gitu tiap hari. Makanya ada di sini piring Mamak. Amnesia!”


“Mamak memang udah lansia! Gak pala kau bilang udah tau Mamak!”


“Amnesia! Bukan Lansia!”


“Antarkan cepat! Pulangkan semua piring-piring Mamak!”


“Males, sih! Mamak bawak la sendiri!”


“Mantu gak jelas kau ini! Bantah aja kerjamu kalok disuruh!”


“Iya! Nanti kuantarkan! Tapi jangan Mamak bawak-bawak lagi ke sini. Nanti aku lagi yang Mamak tuduh nyolong piring!”


“Ah! Mulutmu, lah!”


Aku langsung mengambil semua piring Mamak yang ada di rak piring. Lalu aku antar ke rumah Mamak lewat pintu belakang.”


“Sendoknya sekalian!” ujar Mamak yang sudah pulang lebih dulu.


“Sendoknya Mamak bawak itu kemana-mana. Bisa untuk macem-macem pun itu sendoknya.”


“Apanya maksudmu?”


“Mamak kan makan pakek tangan! Kok sendok pulak Mamak suru pulangkan? Sendoknya itu tangan Mamak!”


“Tinggal bilang gak ada aja pun susah kali!”


“Susah memang!”


Aku langsung keluar dari dapur. Namun sudut mataku sekilas menangkap benda yang aku kenali sebagai milikku. Tongkat pemutar bola lampu. Aku mencarinya beberapa hari kemarin karena lampu kamar mandi suka berkedip. Mungkin kurang kencang posisinya pada fitting. Aku bergegas mengambil si tongkat untuk aku bawa pulang.


“Kalok udah siap pakek pulangkan tongkatnya!” ujar Mamak saat melihatku mengambil benda itu.


“Bah! Aku yang punya kok jadi kayak aku yang minjam pulak?”


“Mamak itu ya yang belik!”


“Mana ada! Punyaku ini! Ada tulisannya nama Riri kubuat pakek spidol! Ngaku-ngaku aja Mamak!”


“Punya si Nina itu, Mak! Bapak itu kemaren dulu yang minjam!” ujar Bapak dari kursi goyangnya.


“Bapak ini pun ikot aja ngomong!”


Entah apa lagi yang dikatakan Mamak. Langsung saja aku membawa pulang tongkat milikku itu. Aku akan menyimpannya di tempat yang aman! Barang kalau sudah terlalu lama di rumah Mamak, maka akan jadi hak milik. Hufh!


“Na! Kau ngalah sikit ngapa sama Mamak!” Bang Bondan menghampiriku yang baru saja membetulkan posisi lampu di kamar mandi.


“Perasaan dari dulu aku ngalah banyak, lah! Bukan ngalah sikit!”


“Orang tua itu, Na! Kau lawan terus berdosa kau!”


“Tau dosa nya Abang! Kalau suami lebih berat sama Mamaknya daripada anak istrinya itu apa gak dosa jugak, Bang?”


“Ya cemana? Namanya orang tuaku udah gak kerja, gak punya penghasilan!”


“Berarti mereka butuh sama kita, kan? Kenapa gak mau ngomong yang bagus-bagus aja sama menantu? Dari masih numpang sampek rumah sendiri kok aku gak pernah diperlakukan baek? Dulu numpang dibuat kayak babu.”


“Namanya numpang, ya sadar diri, lah!”


“Numpang memang numpang, numpang beteduh aja. Selebihnya aku keluar biaya jugak. Abang ini enak aja kalok ngomong! Gak mikir perasaan binik!”


“Setidaknya kau jangan njawap kalok dibilangi!”


“Serah Abang, lah! Abang iya enak, jadi anak kesayangan! Aku mantu yang dianggap sampah! Tiap hari digosipkan!”


“Payah memang kau dibilangi! Keras kepala!”


“Hatiku pun udah keras jugak! Kelamaan dipijak-pijak!”


“Na! Aku mau pigi, sore baru pulang!"


“Kemana? Tumben pamit!”


“Jumpa kawan lama!” Bang Bondan berkata setelah membaca sebuah pesan dari smartphonenya. Ia langsung mengambil kemeja yang tergantung dan langsung buru-buru memakainya sambil berjalan keluar. Ia melupakan ponsel pintar miliknya yang tergeletak di atas kasur! Kebiasaan!


Aku lanjutkan saja membereskan kamar. Merapikan kasur dan tempat tidur. Namun aku penasaran karena sejak tadi ponsel Bang Bondan bergetar-getar. Tak seperti biasanya, naluri kepoku muncul. Aku mengambil si ponsel dan berniat mengecek isi pesan yang masuk.


Baru saja aku akan membuka kuncinya, ternyata dikunci dengan pola. Halah! Gampil! Bang Bondan orang yang paling malas ribet. Kucoba pola membentuk huruf S. Benar saja, terbuka!


Ada banyak laporan panggilan tak terjawab yang tak dibukanya. Dari kontak dengan nama huruf R2. Apa itu R2?


Sekali lagi ponsel bergetar panggilan masuk dari R2. Aku mengangkat telepon itu.


“Halo! Lama kali, pun, ngangkat telponnya! Aku ke rumah Mamakmu sekarang!” ujar seseorang di seberang sana. Perempuan! Siapa? Belum sempat aku bertanya dia sudah menutup telponnya! Aku penasaran, ada janji apa Bang Bondan dengan wanita bernama R2 ini? Mau ke rumah Mamak? Hmm ... Sebaiknya nanti aku intai saja siapa dia.


Tak butuh waktu lama, setengah jam kemudian masuk pesan baru dari R2. Tak ada riwayat chat mereka sebelumnya. Foto profil dari kontak bernama R2 adalah kembang sepatu berwarna putih.


[Aku di rumah Mamakmu!] bunyi pesan itu. Oke kita lihat sekarang! Siapa dia dan mengapa dia mencari suamiku.


Aku mengendap-endap dari pintu dapur Mamak. Untung saja Riri masih asyik dengan mainannya, jadi dia tak sibuk ingin ikut denganku.


Aku mendengar Mamak bercakap-cakap ramah dengan seorang perempuan. Mau masuk dari pintu dapur ternyata dikunci. Mau tak mau aku hanya bisa nguping dari dinding di samping rumah. Ada sebuah pohon bunga yang lumayan rimbun, jadi aku tak perlu sampai ketahuan si tetangga resek depan rumah Mamak.


“Udah pigi dia tadi, kok malah kesini kau?” tanya Mamak pada perempuan itu.


“Looh! Aku kesini kok dia malah udah pigi? Tapi tadi diangkatnya pas aku nelpon!”


“Kebiasaan itu anak Mamak memang! Kalok pigi lupa bawak hape.”


“Jadi cemana, Mak?” tanya orang itu dengan nada manja.


“Kau sabar lah dulu, masih Mamak buat supaya biniknya itu gak betah lagi di sini. Mamak musuhi dia biar dia gak betah terus mintak pisah sama si Bondan!”


“Aku udah gak sabar mau jadi biniknya Bang Bondan, Mak!” rengeknya lagi.


Deg!! Serrr!! Darahku berdesir hebat mendengar percakapan mereka. Bang Bondan benar-benar dicarikan istri baru oleh Mamak. Benar-benar keterlaluan! Tapi siapa perempuan ganjen itu? Sudah tau Bang Bondan sudah punya istri dan anak, kok mau-maunya sama lakik orang? Apa jangan-jangan Bang Bondan pun sudah sering bertemu perempuan itu?


Aku mencari celah dari jendela samping rumah Mamak untuk mengintip. Aku berhasil mengintip dari kaca jendela yang tak tertutup gorden. Memang benar Mamak sedang berbicara dengan seorang perempuan muda. Sayangnya posisi duduknya membelakangi jendela tempat aku mengintai. Sial! Mau kulabrak langsung tapi aku tak punya bukti yang kuat! Baiklah, aku punya rencana lain. Akan kubuat tiga manusia laknat ini terjebak dalam satu lubang! Mamak, tunggu saja! Menantumu ini tak akan tinggal diam! Ternyata selain mulutnya jahat, hatimu juga jahat!



profile-picture
profile-picture
profile-picture
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi


Part 16

 

“Na! Nina! Buka la pintunya! Masak tidur di luar lagi, Abang?”

“Duli aku!” balasku sengit.

“Iya, besok Abang tambahi jatah belanjamu! Tapi bukak la dulu!”

“Jangan berisik! Nanti Riri bangun!”

“Yaa ampuun! Nasib lah!” ujarnya pasrah.

Dasar suami aneh, barus beberapa menit saja aku membiarkannya, sudah terdengar bunyi dengkurannya dari ruang tamu. Sementara pintu depan belum dikunci, sepeda motor dua-duanya masih di teras. Benar-benar bikin jengkel!

Terpaksa aku yang memasukkan motor dan mengunci pintu. Kulihat ponselnya terletak begitu saja. Pelan-pelan kuambil lalu kubawa masuk ke dalam kamar. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang lain agar Bang Bondan tak curiga aku pernah meminta wanita simpanannya untuk mentransfer dana. Aku kloning saja aplikasi hijau di ponselnya. Kucari tahu caranya di internet. Aku pernah mendengar ada cara mengkloning WA milik seseorang agar bisa terbaca di ponsel milik kita sendiri. Benar saja, memang ternyata ada sebuah aplikasi yang bisa digunakan untuk menggandakan WA milik seseorang. Tujuannya biasanya untuk memata-matai pasangan yang suka berbohong atau selingkuh. Baiklah, memang ini yang aku butuhkan!

Aku langsung menginstal si aplikasi kloningan diponsel milikku. Kuikuti semua tahapan yang dijabarkan oleh penulis artikel yang jadi acuanku. Akhirnya selesai. Berhasil, kucoba mengirimkan pesan dari WA Bang Bondan ke WA milikku sendiri. Tring! Masuk dua notifikasi secara bersamaan. Tandanya aku sudah sukses menyadap WA suamiku ini. Jadi, jika nanti dia berkomunikasi dengan si janda gatel melalaui WA, aku pasti akan langsung tahu. Setelah ini, kukirimkan pesan pada si ulat bulu, bahwa aku membatalkan janji pertemuan palsu yang telah aku kirimkan tempo hari.

[Yang, kayaknya kita jangan ketemu dulu besok. Suasana rumah lagi kacau! Nina mulai curiga aku ada main dengan perempuan lain!]

Tak lama kemudian masuk balasan.

[Kok gitu, Bang? Aku kan rindu! Abang apa gak rindu samaku?]

Langsung saja ku balas lagi.

[Ya rindu jugak la sayang! Tapi sabar lah kau sedikit lagi!]

[Oke lah! Padahal aku udah hampir booking hotel biar kita bisa berduaan. Tapi ya udahlah. Kapan-kapan aja!]

Ooh rupanya permainan mereka sudah sampai hotel, ya! Astagaa! Pantas saja Bang Bondan semakin jarang mau berduaan denganku. Untungnya aku bukan tipe wanita bernafsu tinggi seperti si Ranti itu.

Hari-hari selanjutnya kujalani dengan santai, seolah-olah aku tak pernah mengetahui apa-apa yang mereka rahasiakan. Mamak masih saja tetap kekeuh meminta jatahnya pada Bang Bondan! Hahaha, aku hanya tertawa melihat perseteruan mereka, rasakan!

Bang Bondan juga seperinya sedang bermasalah dengan si keong racun. Tak kulihat lagi pesan-pesan mereka di WA kloningan dalam ponselku. Terakhir kali mereka berkirim pesan saat Ranti menanyakan perihal uang dua juta tempo hari. Tentu saja Bang Bondan tak merasa meminta. Mereka akhirnya malah saling tuduh! Bang Bondan menyangka kalau Ranti sudah mengirim uang pada laki-laki lain lagi. Aku semakin tertawa lebar. Bodohnya si Ranti ini tak memanfaatkan fitur screenshoot pada ponsel miliknya. Cantik kaya tapi kok otak udang.

Hari ini aku melihat Kak Ruli datang mengunjungi Mamak. Mereka bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak di dalam rumah Mamak. Sepulang sekolah aku mengunjunginya ke rumah Mamak. Sebagai adik, tentulah aku yang harus mendatanginya jika dia berkunjung ke rumah orang tua.

“He! Nina! Udah pulang dari sekolah nya kau?” tanya Kak Ruli.

“Iya, Kak. Barusan aja. Nampakku Kakak datang makanya aku langsung kemari!”

“Pantaslah masih bauk asam kau! Hahaha, gurau nya Kakak!” ujar Kak Ruli mengejek.

“Ntah! Bukannya mandi dulu!” ujar Mamak menimpali.

“Haha, iya memang aku belum mandi. Namanya baru pulang. Kalok gak langsung kemari nanti aku dibilang gak sopan! Jam berapa orang Kakak datang? Mana si Andi anak Kakak?”

“Tadi, jam tiga sore Kakak sampek! Gak Kakak bawak, sengaja! Biar aja sama Bapaknya yang lokek itu!”

“Bah! Kakak ini baru datang kok udah gibahin suami!”

“Biar aja! Makanya Kakak datang ini karna orang Mamak yang nyuruh. Kakak mau dibelikan hape baru, mumpung masih banyak duet Mamak.”

“Ooh, gitu,” ujarku singkat.

“Iya, la! Kakak pun kan kepingin punya hape yang macam punyakmu. Apa itu mereknya? Biar pigi dulu Kakak besok sama orang Mamak ke toko yang jualan hape.”

“Hapeku ini udah buruk nya, Kak. Banyak kok model lain yang paling baru lebih bagus.”

“Oo, iya, nya? Iya lah kalok gitu Kakak mau belik yang lebih mahal daripada punyamu!”

“Sekalian la beli yang lain jugak, mumpung ditraktir Mamak!” Aku sengaja memancing Kak Ruli supaya meminta lebih banyak pada Mamak. Biar lekas habis duitnya! Hahahah.

“Tenang aja kau, Nak’e! Kau mau apa biar nanti Mamak belikkan! Ini pun masih ada utang si Bondan sama Mamak. Kalok dah dibayarnya kan tambah lagi duet Mamak!” ujar Mamak menimpali.

“Biar tau kau, Nina! Kau kemaren gak mau kan minjami Kakak duet, sekarang ada hikmahnya! Kakak gak pala minjam sama kau, dibelikkan nya Kakak sama Mamak. Itu balasannya untuk orang sombong!” ujarnya sambil melirik sinis padaku.

“Ya udah dapat hikmahnya ngapai lagi Kakak kesal samaku? Kan bagus, jadi Kakak bisa punya tanpa harus berhutang!” ujarku selow.

“Cak mana lah gelangmu yang diceritakan Mamak itu?” Kak Ruli meraih tanganku dan menyingkap bagian lengan baju yang menutup pergelangan tanganku.

“Apa nya Kakak ini. Gelang kecil aja pun ceritanya sampek jaoh kali.”

“Mak! Besaran punya Mamak kok, ya kan?”

“Ya jelas, lah! Apa kata tetangga kalok gelang mantu lebih besar dari gelang mertua? Malu lah Mamak!”

“Iya ya kan, Mak? Belikkan lah aku jugak, Mak!” Kak Ruli merengek macam anak kecil.

“Besok la, Nak’e! Kalok lancar bisnis Mamak, Mamak belikkan kau gelang besar jugak. Sekarang hape aja lah dulu. Beli yang lebih mahal lebih bagus dari punya Nina, ya!”

“Oo, iya, nya, Mak? Punya bisnis baru nya Mamak? Apa itu?”

“Nantiklah kita cerita. Rahasia ini!” jawab Mamak santai.

“Apa lah cerita orang perempuan ini? Heran kali Bapak dengarnya dari tadi. Kerjaan kok saingan harta! Kayak sintron aja pun kelen!” ujar Bapak yang baru keluar dari dalam kamarnya.

“Bapak-bapak mana ngerti urusan emas sama gengsi!” sambar Mamak sewot.

“Bapak sebenarnya gak setuju Mamakmu jual tanah itu. Malu Bapak sama orang tuamu, Na!” Bapak duduk di kursi di sebelahku.

“Gak papa lah, Pak. Bagusan Nina bayari aja daripada besok-besok jadi sengketa.”

“Halah! Bapak ini! Kapan lagi kita punya duet banyak, Pak? Ngarapkan Bapak ya makan pakek garam aja lah kita!” cerocos Mamak.

“Jangan Mamak ilang-ilangkan rezeki! Nina ini udah banyak ngalah sama Mamak, tapi Mamak malah kayak gitu sama menantu!”

“Udahlah Bapak diam aja! Jangan dibela-belain kali si Nina itu! Ngelunjak nanti dia!” sambung Mamak lagi.

“Maapkan aja lah kelakuan Mamak mertuamu itu, ya, Na! Payah udah itu memang, gak bisa dibilangi. Nanti habis duitnya jangan lagi sibuk merongrong anak mantu!” Bapak memilih mengakhiri ucapannya dan kembali masuk ke dalam kamar.

“Bapakmu itu jadi laki-laki kok gak sadar diri. Kayak yang bisa aja dia nyarik duet!” Mamak merengut sambil mengganti chanel tv. Aku memilih pamit saja daripada pusing mendengar omelan Mamak yang tiada habisnya.

Sampai di rumah langsung saja aku dan Riri mandi. Bang Bondan belum pulang. Biasanya jam segini dia sudah sampai di rumah. Aku mencoba mengecek percakapan mereka yang sudah kusadap sebelumnya.

Ternyata hari ini mereka janjian bertemu di sebuah tempat. Hufh! Rasanya ingin sekali aku ke sana dan langsung melabrak mereka berdua. Namun apa daya, tubuhku hari ini sudah cukup lelah. Aku hanya perlu menjaga emosiku tetap stabil agar semua rencana yang telah aku susun tidak hancur berantakan.

Esok harinya, Kak Ruli menyambangi rumahku hanya untuk pamer barang belanjaan dan hape baru miliknya. Dia memintaku untuk melihat apakah ponsel barunnya itu lebih canggih atau tidak daripada yang aku punya. Macam anak kecil saja kelakuan si OKB ini.

“Jelaslah bagusan punya Kakak. Punyaku ini udah lama.”

“Oo, iya? Baguslah, jadi gak kalah Kakak samamu!”

“Aku pun gak nya mau menyaingi Kakak.”

“Akhirnya setelah Kakak bujuk-bujuk Mamak, mau jugak dia belikan Kakak kalung emas ini!” ujarnya sambil menarik liontin kalung barunya.

“Oo iya?” Aku malas sekali meladeni orang ini.

“Kok punyamu warnanya putuih? Pasti itu perak, kan? Yang tiga puluh ribu segram?”

“Kok tau Kakak?” tanyaku seolah benar kalung ini memang perak.

“Tau, lah. Banyak kok dijual di pajak. Orang bawak-bawak steling isinya perak putih-putih kayak gitu.”

“Hahaha. Iya ini dikasi nya sama Mamakku. Kalok belik ya mana sanggup aku.”

“Alaah! Orang murah aja kok gak sanggup. Yang celit lah kau jadi orang!”

“Bukan gitu, Kak. Kemaren-kemaren kalok ada rejeki aku mikirkan beli perabotan rumah dulu.”

“Kakak aja rumah ngontrak perabotan banyak. Ini rumahmu kok masih gak punya apa-apa? Tipi pun kau punya yang kecil nya?”

“Aku mampunya beli yang kecil, Kak.”

“Alah, Kakak aja punya yang besar. Kredit aja ngapa! Gampang kok, tinggal bayar angsuran pertama, barang langsung diantar.”

“Gak, lah, Kak. Gak berani aku kredit. Takut gak kebayar.”

“Oo iya lupa Kakak. Kan jatahmu sebulan cuman sejuta. Hahahaha ….”

“Iya, itu lah makanya gak berani aku kredit.”

“Makanya, jadi binik itu yang betol! Pande-pande kau ngelola duet biar jadi orang kaya!”

‘Bah! Kayak yang ngomong udah kaya aja!’ batinku gemas.

“Mau minum apa Kakak? Makan la, yok!”

“Gak pala lah! Udah kenyang Kakak. Lagian kata Mamak kau gak pande masak. Sok-sok nawari makan pulak kau sama tamu jauh! Hahahaha ….” Benar-benar tawanya berhasil membuatku mual.

“Oo, ya udah kalok gak mau. Yang penting udah ku tawari.”

“Cemana caranya ini bikin pesbuk?” ujarnya sambil mendekat ke arahku.

“Untuk apa pesbuk sama Kakak?”

“Ya untuk biar gaul, lah! Kau ini pun cemana nya? Masak gitu aja gak tau?”

“Sini kubuatkan!”

“Nah!” Kak Ruli menyerahkan hape barunya untuk aku setelkan facebook baru.

“Udah ini, Kak! Gini caranya update status. Gini caranya upload foto. Gini caranya nambahkan teman.” Aku tunjukkan semua yang berkaitan dengan aplikasi medsos tersohor itu.

Aku sengaja menambahkan akun si pelakor dan suamiku ke facebook baru Kak Ruli. Biar Kak Ruli terkejut saat melihat tingkah adiknya itu.

“Loh, Na! ini bukannya si Bondan? Kok namanya lain? Sama siapa ini?” Kak Ruli benar-benar terkejut melihat foto profil si pelakor bersama Bang Bondan. Hahaha. Biar saja kau tahu juga, Kak!

“Masak iya, Kak?”

“Iya! Cobak kau tengok!”

“Kok iya, ya? Apa Bang Bondan selingkuh?” tanyaku pura-pura cemas.

“Hah! Pulang dulu Kakak ke rumah Mamak. Biar Kakak  laporkan dulu kelakuan si Bondan ini.” Kak Ruli buru-buru pergi. Aku malah tertawa sambil menutup mulutku saat Kak Ruli keluar dari rumahku. Kalian akan sama-sama merasakan sakitnya hatiku ini. Tunggu saja waktunya nanti!



profile-picture
profile-picture
profile-picture
khuman dan 7 lainnya memberi reputasi
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di