KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Aku Lebih Cantik dari Gundik Suamiku
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/61944eb0ea95e55dcd4cbddb/aku-lebih-cantik-dari-gundik-suamiku

Aku Lebih Cantik dari Gundik Suamiku



AKU LEBIH CANTIK DARI GUNDIK SUAMIKU

#Part 1
 

“Jadi ini alasanmu dulu begitu kekeuh menyuruhku untuk tak lagi membantu pekerjaanmu di kantor, Mas? wanita ini yang kau pilih jadi sekretaris sekaligus istri kedua?” kutunjuk wanita perebut suamiku yang kini tertunduk sambil memegangi perutnya yang membuncit.

“Maaf, Wid. Mas akui, Mas dan Frisca khilaf. Tapi, semua ini sudah terjadi. Lagipula, bukan cuma kamu di dunia ini yang dimadu. Jadi, terima sajalah! Kalau secara ekonomi, Mas pastikan akan bersikap adil pada kalian berdua.” Mas Khalid dengan entengnya berbicara tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Adil? Mas yakin bisa bersikap adil? Aku ini kurang apa, Mas? dari awal kita mulai semuanya, dari nol! Sekarang kamu seenaknya menikah lagi tanpa seizinku, dengan wanita yang sudah kita angkat dari lembah nista ini? Frisca! Dimana letak hati nuranimu?” Meski dengan suara bergetar, tetap kutahan air mata ini agar jangan sampai tumpah.

“Maaf, Mbak Widya. Aku terlanjur mencintai Mas Khalid.” Frisca masih sanggup menjawab meskipun ia tahu emosiku sedang memuncak.

“Cinta kau bilang? Dan kau, Mas? kau juga mencintai dia?” hardikku tanpa ampun.

“I-iya. Kalau gak cinta tak mungkin Mas menikahi dia.”

“Jadi, sudah sejak kapan kalian menikah?” tanyaku, masih dengan emosi membuncah yang terpaksa kutahan. Aku tak sudi menangis di hadapan wanita ini.

“Sejak dua bulan yang lalu, Mbak!” Frisca menjawab ragu.

“Dua bulan? Dan perutmu sudah buncit sebesar ini? Artinya jauh sebelumnya kau adalah gundik suamiku?” ujarku sinis sambil melipat tanganku di dada.

“Widya! Kamu jangan menghina Frisca! Memang kami menikah baru dua bulan.” Mas Khalid terlihat emosi dengan tampang sinisku.

“Artinya apa, Mas? kalian sudah lebih dulu berzina, to?”

“Mas, aku mundur saja. Mbak Widya gak akan bisa terima aku sebagai madu.” Frisca berlagak bicara merengek sambil menggoyangkan tangan Mas Khalid, menjijikkan!

“Jangan, Fris! Kamu sah istriku. Kamu juga sebentar lagi akan melahirkan anakku. Anak yang sejak lama kutunggu kehadirannya, dan Widya tak bisa memberikannya. Sekarang terserah kamu, Wid! Kalau kamu gak suka ada Frisca di rumah ini, kamu boleh pergi!”

“Pergi? kamu gak salah, Mas? rumah ini milik siapa? Kok aku yang harus pergi?” Aku terkekeh meski batinku sakit.

“Mas, emangnya rumah besar ini punya siapa? Bukan milik kamu?” Kali ini Frisca bertanya sambil berkerut dahi.

“Rumah ini peninggalan orang tua Widya,” sahut Mas Khalid, lemah!

“Bukannya kamu bilang semua harta kamu itu milikmu, Mas?” Frisca masih saja merengek. Jelas sekali, wanita ini hais akan harta.

“Emm … tidak semuanya!”

“Frisca, gimana rasanya dengar kenyataan pahit? Laki-laki yang kamu goda ini awalnya gak punya apa-apa. Dia miskin, dan aku rela ikut hidup miskin dan membangun usaha dari bawah. Sekarang kamu mau ambil semuanya setelah Mas Khalid punya harta? Cih! Perempuan rendahan!”

“Widya!” Mas Khlaid berteriak kasar, telapak tangannya mengepal bersiap melayang ke arah wajahku. Hal yang tak pernah sekalipun dia lakukan sejak kami berumah tangga.

“Apa, Mas? mau tampar? Sini! Tampar yang keras!” tantangku tanpa rasa gentar. Kisodorkan pipiku padanya.

“Jangan pancing emosiku, Widya! Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus terima kehadiran Frisca di rumah ini! Kalau kamu masih tetap ingin menyandang status sebagai istri, bukan janda!” bentaknya dengan rahang mengeras.

“Baik, kalau begitu sekarang statusnya kalian berdua menumpang di rumahku. Jadi kalian ikut aturanku! Jangan pikir aku akan mengalah pada perempuan gatal ini!”

“Widya, cukup!” bentak Mas Khalid sekali lagi.

“Oke! Selamat menikmati masa pengantin baru di rumah istri pertama yang megah ini. Tapi jangan harap kau akan bisa merebut hartaku!” Kujentikkan jari di depan muka Frisca, kemudian berlalu menuju kamar pribadiku.

Inilah aku, Widya Atmawinata. Sembilan tahun pernikahan, aku belum juga dikaruniai zuriat di dalam rahimku. Wanita yang dulu pernikahannya dengan Mas Khalid sempat ditentang oleh kedua orang tuaku. Ternyata ini jawabannya. Mas Khalid tega mendua.

Susah payah aku membantu usahanya, yang dulu hanya mampu berjualan perak di pasar-pasar tradisional, menyewa kios kecil untuk sekedar makan. Perlahan berkat kegigihanku, yang memang punya banyak teman dari kalangan berada, usaha Mas Khalid merambah jual beli emas, sampai akhirnya masuk ke bisnis berlian. Bukan setahun dua tahun, sembilan tahun aku berjuang membuktikan pada Papa dan Mama, kalau pilihanku tidaklah salah. Kami sudah meraih kesuksesan bersama. Hingga Papa Mama mempercayakan rumah mewah ini untuk kami tinggali.

Hanya satu kurangnya, dalam kurun waktu sembilan tahun, aku belum juga bisa hamil. Awalnya Mas Khalid tak mempermasalahkan. Dia percaya kalau nanti waktunya tiba, aku pasti akan mengandung anaknya.

Kini semua berubah, memasuki usia pernikahan ke-sepuluh, Mas Khalid memintaku untuk tak lagi perlu membantu bisnis kami di kantor. Alasannya agar aku bisa lebih fokus untuk menjalankan program hamil. Tapi ternyata diam-diam dia selingkuh dengan Frisca.

Aku menemukan Frisca di pinggir jalan di pagi hari sekitar satu tahun yang lalu. Entah siapa yang tega membuangnya, wajahnya lebam, pakaiannya robek. Dia menolak melapor ke polisi, tapi malah menangis dan memohon perlindungan padaku.

Aku membawanya pulang karena kulihat dia gadis yang baik, tak banyak bicara, dan menyimpan trauma. Ternyata ia wanita panggilan yang dibuang pacarnya sebab dia meminta bayaran setelah kencan. Baginya pacar ataupun pelanggan adalah sama, gak ada yang gratisan.

Aku bertanya dimana keluarganya, barangkali aku bisa mengantarnya pulang. Namun ia mengaku tak lagi punya keluarga, tangisnya membuatku iba. Janjinya untuk bertaubat membuat hatiku luluh. Kukontrakkan ia sepetak rumah untuk tempat tinggal, kuajari dia cara berbisnis. Memang prestasinya bagus. Dalam beberapa bulan ia berhasil menjual banyak perhiasan pada bos-bos kaya kenalannya. Bodohnya aku, menolong seekor ular yang justru sekarang menancapkan bisa paling mematikan dalam rumah tanggaku.

Wanita yang kuyakini telah berubah, aku berikan ia pekerjaan yang layak, kini menusukku dari belakang. Tapi aku sadar, ini semua bukan murni kesalahannya. Suamiku juga bersalah, tak bisa menjaga hatinya. Melihat tubuh molek Frisca, imannya goyah.

Kutatap wajahku di depan cermin besar di kamar ini. Wajahku ayu, kulitku putih bersih. Jika dibandingkan dengan Frisca, aku yakin Mas Khalid pun akan mengakui bahwa aku jauh lebih cantik. Tapi namanya setan sudah menguasai hati suamiku itu, ia akan mendekatkan yang haram, dan memisahkan yang halal. Itulah prestasi tertinggi para setan. Bergemeletuk rahangku menahan geram.

‘Widya, kamu jangan kalah! Kamu bukan wanita lemah!’ demikian bisik hati kecilku. Aku sadar, sebagian besar aset dalam bisnisku masih dikuasai Mas Khalid. Aku bisa kehilangan lebih dari separuh harta kekayaan kalau aku memilih cerai. Bagaimanapun, aku harus mendapatkan apa yang seharusnya jadi milikku, sebelum membalaskan rasa sakit hatiku. Aku cantik, aku kaya, hanya saja kurang beruntung belum mampu mengandung bayi untuk Mas Khalid.

Bukannya aku tak berusaha, aku sudah mengajak Mas Khalid untuk program bayi tabung, tapi ia selalu menolak dengan alasan dia sabar menanti hadirnya bayi secara alami. Bulshit! Kini ia menelan lidahnya sendiri. Kini dengan mudahnya ia berucap, aku yang dipersalahkan dan memaksaku menerima Frisca sebagai maduku. Dunia belum berakhir, Mas!



profile-picture
profile-picture
profile-picture
qoni77 dan 2 lainnya memberi reputasi


Part 5

 

Selanjutnya aku langsung mengatur rencana untuk malam nanti. Semuanya sudah aku jabarkan pada Mikha melalui pesan di aplikasi hijau. Mikha sudah mengerti apa yang harus ia lakukan jika nanti malam aku memberinya kode, maka ia harus meneleponku.

Selesai sholat isya, Mas Khalid dan juga Frisca belum juga kembali ke rumah. Entah kemana mereka. Jam sepuluh malam barulah kulihat sorot cahaya lampu mobil Mas Khalid memasuki halaman. Aku langsung mengirim chat pada Mikha.

“Mas Khalid sudah pulang. Standby!”

“Oke, Mbak!” balasnya tak lama kemudian.

Kulihat Frisca bergelayut manja di lengan Mas Khalid sambil menenteng begitu banyak belanjaan. Ooh, ternyata mereka habis pulang dari shopping. Bukan main, royal sekali Mas Khalid pada istri barunya itu.

“Baru pulang, Mas?” tanyaku.

“Iya, abis nemenin Frisca belanja kebutuhan bayi. Fris, kamu masuk ke kamar! Mas mau mandi!” perintahnya. Frisca mengibaskan rambut sengaja bertindak yang membuatku kesal. Kau belum tahu aja kalau kau sudah kehilangan benda berharga. Cih!

Aku mengikutinya masuk ke dalam kamar. Menunggu Frisca sadar kalau perhiasannya menghilang. Hahaha. Benar saja, tak menunggu lama, Frisca menerobos masuk ke dalam kamarku.

“Mas! perhiasan aku hilang! Ini pasti perbuatan Mbak Widya!” ujarnya dengan nafas tersengal menahan emosi.

“Eh, yang sopan, dong, kamu! Masuk kamar pribadiku gak minta izin!”

"Diam kamu, Mbak!"

“Perhiasan yang mana yang hilang? Kamu salah taroh kali!” ujar Mas Khalid sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.

“Yang satu set itu, Mas! yang kamu berikan sebagai hadiah waktu kamu menyatakan cinta padaku!”

“What?” Aku bertanya sambil menahan tawa, sengaja menunggu reaksi Mas Khalid. Menyatakan cinta saja pakai ngasih perhiasan? Dasar buaya ketemu bangkai kalian berdua, sama-sama menyebalkan!

Mas Khalid terlihat salah tingkah, aku hanya tersenyum sinis sambil masih tetap berusaha bersikap santai. Diam-diam jariku menekan tombol call, lalu memutuskannya kembali. Mikha sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

“Gimana, dong, Mas? itu perhiasanku yang paling mahal! Mbak, kamu ngaku aja, deh! Kamu yang ambil, kan? ngaku!” desaknya tak sabar.

“Tunggu, tunggu! Frisca, kamu tenang dulu. Cerita pelan-pelan. Kenapa bisa kamu kehilangan perhiasan? Emang kamu letakkan dimana?” ujar Mas Khalid. Aku hanya tersenyum sinis melihat Frisca panik. Rasakan!

“Di lemari aksesoris aku, Mas! tadi sebelum pergi ketemu temen-temen aku, aku lupa ngunci pintu kamar!”

“Ketemu temen-temen kamu? Tadi kamu bilang kamu ke dokter periksa kandungan!” ujar Mas Khalid. Hahaha, dasar pembohong tak profesional kamu, Fris! Frisca sontak menutup mulutnya. Belum sempat ia bicara, ponselku berdering. Nomor Ibu mertuaku yang muncul. Langsung saja aku terima.

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikum salam, Wid! Ibu mau bicara pada Khalid, dia sama kamu, kan? Tiba-tiba perasaan Ibu gak enak.”

“Ada, Bu. Mas, ini Ibu mau bicara!” ujarku sambil memberikan ponselku pada Mas Khalid. Mas Khalid terlihat panik, ia memberi kode pada Frisca supaya diam. Frisca langsung keluar kamar sambil berjalan menghentak-hentak.

“Assalamu’alaikum, Bu! Iya, Bu. Khalid sama Widya sehat, kami baik-baik aja. Iya maaf Khalid sibuk benget akhir-akhir ini.” Mas Khalid bicara sambil mengusap-usap lehernya. Pasti dia ketakutan setengah mati kalau sampai Ibu tahu semua ini.

“Iya, nanti kalau sudah gak sibuk Khalid jenguk Ibu, ya! Ibu perlu uang berapa?”

'Dia pikir uang bisa menyelesaikan semua masalahnya,' batinku.

“Mikha, kamu jagain Ibu, ya!” ujarnya lagi, Mikha sudah mengambil alih pembicaraan, pikirku.

“Oke, gak usah khawatir kalau soal uang. Kamu minta saja sama Mas atau Mbak Widya. Nanti hape Mas yang untuk kirim uang, biar Mbak Widya yang pegang.” Hmm, bagus. Ponselnya harus aku yang kuasai karena disana juga ada akses untuk mengirim uang. Jangan sampai Frisca yang menghabiskan isi rekening Mas Khalid.

“Ya sudah, iya iya, Mas janji besok akan jenguk Ibu.”

Akhirnya pembicaraan usai. Mikha sudah melakukan tugasnya dengan baik.

“Wid, kamu beneran gak ngadu apa-apa sama Ibu, kan?” Mas Khalid bertanya khawatir. Mas Khalid memang sangat patuh pada ibunya. Ini bisa jadi kelemahannya. Aku akan memanfaatkan ini untuk mencegah mereka berdua bertindak sewenang-wenang padaku.

“Enggak, aku merasa belum waktunya!” jawabku sambil memainkan kuku.

“Tolong, Wid! Kamu jangan kasih tahu Ibu. Mas takut Ibu jatuh sakit. Ibu itu sudah tua, dan sering kambuh penyakitnya.”

“Kenapa harus aku yang bersandiwara? Kan Mas sendiri yang sudah bikin alur ceritanya!”

“Please, Wid! Mas gak mau Ibu sakit kalau kamu ceritakan semuanya. Ibu gak akan mungkin bisa terima kenyataan ini.”

“Ya tergantung. Mas, aku ini istri sah. Aku kamu paksa terima si Frisca, oke! Tapi kalau dia mau merebut semua harta kita, aku tak akan tinggal diam! Kamu lihat, kamu jauh lebih royal pada Frisca. Nyatanya perhiasan mahal itu hanya untuk tanda cinta, kan? Bukan mas kimpoi! Kamu itu harusnya sadar, Mas! sekali berbohong, maka kamu akan terus menutupinya dengan banyak kebohongan lain! Mau sampai kapan?”

“Aaarrghh … kenapa semuanya jadi rumit begini, sih? Mas cuma ingin punya keturunan, Wid! Tolong kamu ngerti!”

“Itu bukan alasan, Mas! kalau memang kamu ingin kita punya keturunan, aku sudah pernah mengajakmu untuk program bayi tabung. Tapi kamu selalu punya alasan untuk menolak. Atau kalau memang aku harus dipoligami, harusnya kamu minta izin padaku. Aku mungkin bisa pertimbangkan, bahkan memilihkan wanita yang jauh lebih terhormat untukmu. Kamu itu terlalu mengikuti hawa nafsu!”

“Kenapa kamu gak bilang dari dulu?”

“Lho, bukannya Mas sendiri yang selalu bilang akan sabar menunggu hadirnya bayi dari rahimku secara alami? Kenapa malah selingkuh di belakangku, Mas? siapa sebenarnya yang salah? Aku?”

“Sudah, sudah! Semua sudah terlanjur terjadi! Aku ngaku, aku salah. Tapi aku harus tanggung jawab.” Mas Khalid melempar handuk ke atas kasur.

“Untung saja si Frisca hamil. Kalau tidak pastinya sekarang kalian masih berhubungan dalam ikatan yang haram. Bersyukurlah, Mas! Allah masih baik sama kamu. Dia dibikin hamil supaya kalian menikah dan tidak terus-terusan berbuat dosa! Sebaiknya selesaikan urusanmu dengan Frisca! Dasar sama-sama pembohong! Ngakunya ke dokter, ternyata pergi sama teman-temannya!” dengusku sambil menyambar handuk dan membawanya ke dalam kamar mandi.

Mas Khalid baru tersadar, ia harus menemui Frisca. Dasar lelaki egois. Dulu dia selalu bilang paling tidak suka dibohongi, tapi nyatanya dia sendiri jadi pembohong. Diam-diam aku membuntutinya, mendengarkan pembicaraan mereka di dalam kamar itu.

“Frisca! Kamu tadi sebelum nyamperin aku kemana dulu? Jawab jujur!”

“Mm … aku ketemu temen-temen aku dulu, baru ke dokter.”

“Kenapa kamu gak jujur? Ngapain ketemu temen? Kan aku udah gak izinin kamu ketemu temen-temen kamu itu lagi!” bentak Mas Khalid. Hahaha, bisa juga rupanya dia marah pada Frisca.

“Ya maaf, Mas! aku cuma ketemuan bentaran doang, kok. Terus aku ke dokter. Bener, serius!”

“Mana buktinya kamu abis dari dokter? Apa jenis kelamin anak kita?”

“A-anu, Mas. Aku lupa tanya!”

“Apa? kamu pasti bohong! Kamu bilang mau USG untuk mengetahui jenis kelamin anak kita, mana mungkin bisa lupa!”

“Tapi, Mas. Aku beneran lupa.” Frisca bicara memelas. Akting lagi kamu, Fris?

“Aaarghh … pasti kamu bohong!”

“I-iya, Mas. Aku ngaku aku salah, aku minta maaf, abisnya aku gabut. Mbak Wid ….”

“Aku kenapa?” ujarku sambil mendorong pintu kamar itu. Sengaja menatap Frisca dengan sorot mata mengancam. Frisca urung melanjutkan kata-katanya. Pastinya dia mash ingat fotonya sedang merokok masih aku simpan.

“Kamu ngapain, Wid?” tanya Mas Khalid.

“Mau ambil hape kamu, Mas!”

“Oh, iya! Fris, mana hape Mas yang putih?”

“Bentar!” Frisca merengut sambil berjalan menuju meja rias. Ia mengambil ponsel Mas Khalid dari dalam laci meja riasnya.

“Nih!” ujarnya seraya menyodorkan ponsel itu pada Mas Khalid. Mas Khalid langsung memberikannya padaku.

“Oke, makasih! Aku balik ke kamar dulu. Silahkan dilanjut!” ujarku sambil tersenyum penuh arti. Aku menutup pintu kamar, namun masih tetap menguping.

“Mas, perhiasan aku gimana? kamu ganti, ya! Dua kali lipat!” ujarnya dengan nada suara seperti biasanya, merengek manja. Geli aku mendengarnya.

“Aaarggh … kamu udah bikin aku kecewa. Malam ini aku mau tidur di kamar Widya!” ketus Mas Khalid, membuat aku yang mendengarnya jadi terkikik.

“Mas … tapi aku mau ditemenin kamu! Aku ikut, Mas! Aku mau cari perhiasan aku di kamar Mbak Widya!”

"Jangan ngawur kamu! Mana mungkin Widya yang mengambilnya!"

Aku cepat-cepat pergi ke kamarku sendiri saat kudengar langkah Mas Khalid, masuk ke dalam kamar dan langsung tarik selimut. Mas Khalid masuk, dia langsung merebahkan diri juga. Tak menunggu lama, dengkurannya sudah terdengar. Selalu begitu jika dia sedang kesal, tidur mendengkur sambil menutup wajahnya dengan bantal.

Makanya, kalau kamu gak suka dibohongi, jangan berbohong, Mas! sekarang tahu rasa kamu! Sakit hatimu dibohongi perempuan itu, kan? Aku, Mas! aku yang selalu jujur ini kurang apa?



profile-picture
profile-picture
profile-picture
mikegolf2009 dan 2 lainnya memberi reputasi
profile picture
seru nih....
berasa kyk terlibat langsung dlm alur ceritanya.
Nunggu lanjutannya dehh
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di