KOMUNITAS
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Aku Hanya Minta Semangkuk Mie Ayam, Mas!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/618db359dfed29571f135290/aku-hanya-minta-semangkuk-mie-ayam-mas

Aku Hanya Minta Semangkuk Mie Ayam, Mas!

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata, semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita ini. Semoga wanita-wanita lain yang punya nasib serupa dengn tokoh Arin, selalu diberikan kekuatan dan kesabaran. Jalan hidup setiap manusia berbeda-beda, dan ujian hidup kita juga berbeda. Kuatlah, karena setiap keputusan yang kalian ambil pasti dengan penuh pertimbangan.




Aku Hanya Minta Semangkuk Mie Ayam, Mas!

#Part 1

“Jangan mentang-mentang hamil muda kamu mau seenaknya saja minta apa-apa sama suamimu, Arin! Suami kamu itu kerjanya berat, panas-panasan, kamu seenaknya mau ngabisin duitnya!” ucap Ibu mertuaku panjang lebar. Aku mengusap perutku, aku hanya mengutarakan keinginanku untuk makan mie ayam di depan gang. Itu saja.

Sebelum seatap dengan mertua, kami pernah mengecap bahagia meski tinggal di kontrakan sederhana selepas kami menikah. Mas Wisnu – suamiku, selalu memberikan gajinya padaku untuk aku kelola. Semuanya tak ada masalah, sampai tiba-tiba saja rumah kontrakan di sebelah kami terbakar. Api merembet dengan cepat menghanguskan banyak bangunan di sekitarnya.

Aku dan Mas Wisnu beruntung tidak jadi korban keganasan api. Barang penting seperti sepeda motor, pakaian, dan dokumen penting masih sempat kami selamatkan. Tetapi perkakas lain harus kami relakan dilalap api. Kami terpaksa pindah ke pondok mertua indah. Maksudnya hanya menumpang sementara sampai kami bisa menemukan kontrakan yang baru dan harganya juga masih terjangkau.

Namun semua rencana mendadak berubah saat aku tahu kini ada janin di dalam rahimku. Mas Wisnu tentu saja bahagia, dan mengurungkan niat untuk pisah rumah dengan Ibu mertua. Namun keputusannya justru menjadi awal derita bagiku.

Hari itu, aku tahu Mas Wisnu baru saja gajian. Pekerjaannya sebagai mandor proyek tentu mendapatkan gaji yang lumayan. Aku mengutarakan keinginanku untuk dibelikan mie ayam, tetapi jawaban Mas Wisnu membuatku terhenyak.

“Kamu minta sama Ibu, ya! Uang gaji Mas sudah Mas titipkan pada Ibu, biar kamu gak pusing lagi ngelola uang. Kamu mau apa tinggal bilang sama Ibu, pasti dikasih.”

“Semua gaji kamu, Mas?” tanyaku tak percaya.

“Iya … pokoknya nanti kamu kalau mau beli apa-apa bilang saja sama Ibu. Mungkin kita bakalan tinggal di sini sampai kamu melahirkan. Mas sering pulang malam kalau lembur, kasihan kalau kamu di kontrakan sendirian gak ada yang nemenin. Di sini juga kan kamu gak terlalu capek ngurus kerjaan rumah, ada Ibu.”

“Mas … tapi kan aku juga punya kebutuhan pribadi, kalau semua uang dipegang Ibu, aku gak enak mintanya, Mas.”

“Mas capek, Mas mandi dulu, ya!” ucapnya tanpa memedulikan perasaanku.

Awalnya kupikir keputusan ini akan baik, tapi ternyata inilah aslinya ibu mertuaku. Setelah uang diberikan, sangat sulit bagiku untuk meminta darinya. Seringkali di masa ngidam ini aku terpaksa menahan keinginan makan sesuatu. Kata-kata mertuaku membuatku merasa takut meminta pada Mas Wisnu.

“Ngidam sih ngidam, tapi jangan kebiasaan! Jangan pernah minta apa-apa sama Wisnu, apalagi malam hari! Kamu mau suamimu celaka? Kecelakaan di jalan cuma gara-gara nurutin ngidammu itu? Kamu mau anakmu lahir tapi bapaknya mati gara-gara nurutin kemauannya ibunya? Ngidam itu gak ada! Kamunya aja yang manja!”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 9 lainnya memberi reputasi


Aku Hanya Minta Semangkuk Mie Ayam, Mas!

#Part 3

“Masa iya, Rin?” tanya Mas Wisnu.

“Uangnya biar Ibu saja yang simpan, Ibu belikan emas. Nanti kalau kalian butuh tinggal dijual. Harga emas itu semakin naik, kan lumayan. Daripada dipegang dalam bentuk uang, bisa-bisa dititil, habis!” sahut Ibu tiba-tiba. Melihat sorot matanya yang judes, aku jadi semakin takut.

Mas Wisnu menghela napas, dia pun pasti tak ingin menganggap Ibu akan berbuat yang tidak-tidak dengan uang yang diberikan olehnya.

“Ya sudah, bagus juga dibelikan emas dulu. Itung-itung menabung.”

“Kalau kamu takut emasnya Ibu hilangkan atau Ibu jual, ini, kamu saja yang pakai!” Ibu melepaskan cincin di jarinya dengan kasar.

“Ibu jangan begitu, Arin gak mungkin mikir jelek sama Ibu,” ucap Mas Wisnu. Sekuat tenaga aku tahan air mataku. Jangan lemah, Arin!

“Iya abisnya istrimu ini yang dibahas duit-duit terus! Udah bagus dikasih tempat tinggal, makan tinggal makan!” Ibu masih saja ngedumel.

“Sudahlah, Bu, Rin. Wisnu berangkat kerja dulu. Kamu baik-baik di rumah. Ibu itu baik, memang pembawaannya saja yang rada ketus. Kamu pinter-pinter ambil hatinya Ibu, lah!”

“Iya, Mas.” Kucium punggung tangan Mas Wisnu, lalu ia pun berlalu. Setelah Mas Wisnu pergi, sikap Ibu semakin kecut padaku. Pandangannya selalu sinis.

Siang itu, aku mendengar suara Ibu samar-samar. Ibu sepertinya sedang menelepon seseorang.

“Iya, antar saja si Bima ke sini. Kamu gak usah khawatir. Ibu yang urus dia!”

Bima? Bukannya itu nama anak dari Mbak Fitri, kakak dari Mas Wisnu?

Benar saja, beberapa hari kemudian Mbak Fitri datang ke rumah Ibu. Membawa serta anak lelakinya yang berusia sekitar enam tahun, badannya gemuk dan lucu. Aku senang karena aku tak hanya berdua dengan Ibu saja jika Mas Wisnu kerja. Mbak Fitri dan suaminya sudah berpisah, dan Mbak Fitri harus bekerja di luar kota, jadi putranya dititipkan pada Ibu. Rencananya juga akan disekolahkan di daerah dekat sini.

Sebelum Mbak Fitri pergi kembali ke luar kota, di depan mata aku melihat Ibu melepaskan cincin emas di jarinya dan diberikan pada Mbak Fitri.

“Ini kamu pakai saja, bulan depan Ibu beli lagi,” ucap Ibu sambil melirik ke arahku. Bukankah Ibu bilang cincin itu adalah tabungan melahirkan untukku? Meskipun aku tahu harganya lebih dari lima ratus ribu, jatah yang seharusnya diberikan padaku.

“Waah … makasih, Bu.” Mbak Fitri memakai cincin itu dengan girang.

“Jangan lupa, setiap kamu gajian, kirim ke Ibu, untuk beli keperluannya si Bima.”

“Iya, Bu! Kalau itu jangan takut. Nanti juga bapaknya si Bima aku suruh nambahin uang jajan setiap bulan. Enak-enakan dia sama bini barunya, mau lupain anak!” gerutu Mbak Fitri.

“Pokoknya kamu harus kejar terus nafkah untuk anakmu! Jangan mau rugi! Mana di rumah ini bakalan nambah lagi mulut yang harus dikasih makan!”

“Yeee … kalau itu jangan pake duit dari aku, dong, Bu!”

“Emang!” sahut Ibu. Aku beringsut, menumpahkan tangis di dalam kamar. Keluarga ini benar-benar tidak menganggapku.

Kubuka ponselku, ingin rasanya aku mengadu pada Mbak Dini, kakakku, tapi aku takut akan semakin menjadi beban pikiran baginya. Ia bekerja di negeri orang demi melunasi hutang almarhumah nenek. Sebelum meninggal nenek sempat sakit keras selama beberapa tahun. Utang kami menumpuk demi bisa membayar biaya rumah sakit dan pengobatan alternatif. Setelah nenek tiada, rumah satu-satunya peninggalan beliau kami jual untuk mencicil hutang. Itupun hasil dari penjualan rumah masih harus dibagi dua dengan Bi Halimah, satu-satunya anak nenek yang masih hidup.

Bi Halimah juga bukan panutan yang baik, ia sama sekali tak mau tahu urusan biaya pengobatan nenek. Kami mengalah, akhirnya Kak Dini berjuang sendiri untuk bisa melunasi hutang. Jika kini aku mengadu tentang keadaanku, pasti Kak Dini akan semakin sedih. Aku meminta izin dinikahi oleh Mas Wisnu karena aku ingin mengurangi sebagian beban yang ditanggung Kak Dini. Tapi kini aku pun masuk dalam perangkap keluarga yang membuatku tekanan batin. Ya Allah … kuatkan hamba ….

***

[Rin, kamu sehat, Dek?] Tiba-tiba malam itu Kak Dini mengirim pesan padaku. Cepat-cepat aku membalasnya.

[Alhamdulillah aku sehat, Mbak. Mbak juga sehat, kan?] balasku.

[Mbak kemarin mimpiin kamu, gak tau, jadi kepikiran. Syukurlah kalau kamu sehat.]

[Iya, aku sehat, Mbak. Kandungan aku sudah masuk usia tiga bulan, Mbak.]

[Waah … bakalan jadi bude, aku, Rin! Hehehe ….]

[Iya, Mbak. Mbak kapan balik?] tanyaku, pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya namun masih selalu aku tanyakan padanya.

[Sabar, ya, Rin. Kontrak Mbak tahun ini selesai. Tapi Mbak harus nyambung kontrak baru, deh, kayaknya. Alhamdulillah, Rin, utang kita ke keluarganya Pak Herman sudah lunas, kemarin Mbak dapat hong pao lumayan banyak dari majikan, majikan Mbak baiik banget. Uangnya langsung Mbak kirim ke Pak Herman.]

[Ya Allah … yang bener, Mbak? Maafin aku, Mbak. Aku gak bisa bantu beberapa bulan kemarin, Mbak.]

[Udah, kamu tenang aja. Kalau kamu punya uang kamu simpan buat tabungan saja. Nanti kalau Mbak gajian, Mbak titip uangnya sama kamu lagi, ya, ditabung untuk beli sawah atau tanah.]

[Iya, Mbak. Mbak di sana sehat-sehat terus, ya.]

[Iya, kamu juga, ya, jaga kandungan kamu. Semoga nanti Mbak punya kesempatan buat pulang sebelum nyambung kontrak lagi.]

[Aamiin ….]

Mendengar kabar dari kakakku itu membuat hatiku sedikit tenang. Mbak Dini sudah terlalu lama menanggung beban, ia juga harus bahagia dan menikmati hasil jerih payahnya selama bekerja di luar negeri. Usianya saat ini sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga, namun tampaknya ia masih belum ada niatan untuk menikah. Aku selalu merasa bersalah padanya.

***

Hari ini, setelah selesai membereskan pekerjaan rumah, lagi-lagi perutku terasa kram. Semenjak ada Bima, rumah ini sama sekali tak pernah bisa rapi. Mainan dan kemasan bekas makanan ringan berserakan di mana-mana. Bima selalu berteriak kencang jika aku memintanya mengumpulkan sampah bekas jajanan yang ia makan. Lalu Ibu akan datang dan marah-marah padaku, seolah-olah aku sudah menyakiti Bima.

Aku duduk di sebuah kursi kecil di dapur. Rasanya sakit sekali, ingin aku meminta tolong pada Ibu, tadi aku sempat melihat  Ibu sedang tertawa dengan Bima di depan TV sambil menikmati cemilan. Belum sempat aku memanggil Ibu, otakku berpikir ulang. Jangan sampai aku dimarahi lagi seperti waktu itu. Aku hanya bisa menahan sakit sambil mengatur napas. Tiba-tiba Ibu masuk ke dapur, melihatku kesakitan pun Ibu masih tetap tak peduli.

“Bereskan bekas makanan di depan TV, Rin!”

“Iya, Bu, bentar lagi Arin bereskan. Perut Arin kram,” jawabku.

“Alaaah … alasanmu, Rin! Tau aja bentar lagi Wisnu pulang bawa gajinya, biar kamu dapat jatah, iya, to?”

“Astaghfirullah … Arin beneran sakit ini, Bu.”

“Ngejawab kamu?” bentak Ibu.

Aku tak mau berdebat, sudah cukup selama tinggal di sini aku diperlakukan sewenang-wenang. Aku berjalan masuk ke dalam kamar, kukunci pintu dari dalam. Aku kesal, aku muak! Tak kuhiraukan suara Ibu di luar kamar, memaki dan mengatai aku perempuan tak tahu diri, tak tahu diuntung.

Menjelang maghrib akhirnya Mas Wisnu pulang. Ia langsung mencariku ke dalam kamar. Melihat wajahku yang sembab, ia pun bertanya.

“Kamu kenapa, Rin? Berantem sama Ibu?”

“Perutku kram lagi, Mas. Aku capek.”

“Kamu kalau capek ya jangan dipaksa, Rin! Kamu istirahat aja!”

“Maunya begitu, Mas. Tapi mana mungkin.”

“Maksud kamu apa?” tanya Mas Wisnu dengan nada tak senang.

“Mas, aku yang mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini.”

“Bukannya Ibu bilang Ibu melarang kamu?”

“Mas … huhuhuuuu ….” Aku sama sekali tak bisa melanjutkan kalimatku. Aku capek, Mas Wisnu gak ngerti sama sekali dengan perasaanku ini. Cukup lama Mas Wisnu membiarkan aku terisak sendiri.

“Kamu ini malah nangis, sih? Suami pulang kerja tuh capek, Rin! Kamu jangan begini, lah!” ujarnya setelah suara tangisku mulai mereda.

“Iya, Mas. Maaf, aku sudah menjadi beban bagimu.”

“Udahlah, Rin! Kamu belajar bersikap dewasa. Mas belikan mie ayam yang kamu pengen. Lekas cuci muka, mie ayamnya di atas meja makan. Ada tiga bungkus, untuk kamu, Ibu, sama Bima. Kamu makan, gih!”

Aku terpaksa mengangguk. Sedikit kecewaku terobati, ternyata Mas Wisnu masih ingat pada keinginanku. Aku pun keluar kamar, berjalan menuju dapur. Tapi lagi-lagi kekecewaan yang aku terima. Kulihat Ibu dan Bima tengah asyik makan, Ibu menuangkan sebungkus mie ayam lagi ke dalam mangkok milik Bima. Bocah itu memang punya selera makan yang tidak biasa. Kupegang kantong plastik di atas meja, kosong.

“Kenapa baru keluar? Kirain udah gak butuh sama kami! Mie ayamnya habis dimakan Bima! Abisnya kamu lama, keburu dingin!” ucap Ibu. Akhirnya luruh lagi air mataku. Tega sekali Ibu padaku.

“Cengeng! Salah sendiri!” gumam Ibu lagi sebelum aku masuk kembali ke dalam kamar.

Mas Wisnu yang baru selesai mandi langsung melihat ke arahku yang menangis sesengukan.

“Kok masih di situ?” tanyanya kesal.

“Mie ayamnya habis, Ibu berikan pada Bima. Aku capek kayak gini, Mas. Aku capek!”

“Masa, sih?” Mas Wisnu buru-buru keluar dari kamar.

Entah apa yang mereka bicarakan di dapur, tiba-tiba saja aku mendengar suara Ibu berteriak.

“Arin! Sini kamu! Apa perlu Bima muntahkan lagi mie ayamnya biar kamu puas, hah?”

Jantungku langsung berdebar kencang mendengar teriakan Ibu.

 


profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
profile picture
Ceritanya bagus...
sayang link lanjutannya gabisa diklik.
Jadinya Tanggung
profile picture
Lnjutt gaann
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di