CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
HIKING (Based on True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/616adb460163356200605d21/hiking-based-on-true-story

HIKING (Based on True Story)

HIKING


Cerita ini adalah sebuah pengalaman yang cukup unik untuk saya pribadi, dimana hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu, sebelum covid melanda Indonesia.

Dan untuk beberapa hal, saya sudah meminta ijin kepada pihak-pihak yang terkait dengan jalan cerita disini secara langsung. Terutama kepada "Sang Dewi", sayangnya saya belum menemuinya untuk kedua kalinya, tapi rasanya kedatangan salah satu kakak saya sudah mewakilinya.

Karena ini cerita pribadi, untuk tempat dan lain-lain saya samarkan karena permintaan beberapa pihak, dan salah satu foto akan saya edit blur, karena ada wajah disana, walau untuk penampakannya tidak bisa saya tutupi, tapi karena kesalahan saya, foto aslinya hilang dan narasumber juga belum menemukan filenya, karena foto yang saya punya sempat di edit oleh kakak saya karena satu dan lain hal, jadi mohon dimaklumi ya gan emoticon-Big Grin

Bagi yang mengenal saya ataupun tahu siapa saja yang terlibat, please keep quiet emoticon-Smilie

Catatan : sebisa mungkin saya selesaikan secepatnya, tapi kalau banyak kesibukan, saya minta maaf kalau agak lama, terima kasih, selamat menikmati.

***

Catatan Awal


Sore itu dibawah pohon belimbing wuluh yang tengah berbunga, kami duduk di sebuah bangku kayu, menatapnya dengan penuh perhatian. Wajah tegasnya mengukir pikiran kami saat itu, rokok masih mengepul dari pinggiran mulutnya.

"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, kan ?", Matanya menatap tajam kepadaku. Aku hanya tersenyum kecil.

"Makanya aku datang kesini, Om. Meminta ijinmu sebelum kesana. Setidaknya kan aku persiapan".

Dia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memandang jauh. Kulihat adikku gelisah memainkan smartphonenya, dan aku hanya bernafas, mengosongkan pikiranku.

"Ya sudah, semua akan beres kok, yang terpenting kamu tahu 'tugas' mu. Mau sampai kapan disini ?"

Kali ini aku nyengir, "Tugas disini sudah kelar kok, Om, kita langsung balik ke Jogja".

"Kebiasaan kamu, kapan waktumu ?". Matanya menatap tajam.

"Next time lah, Om, kayak ga tahu aja. Kalau lowong aku juga pasti kesini, lagian disini ga bisa hanya satu dua jam, kan ?", Aku mengedipkan mataku kepadanya. Dia hanya tergelak.

"Yowes, hati-hati di jalan, ra sah ngebut-ngebut. Nyawamu mung siji thok kuwi", selorohnya.

"Ne iso koyo kucing, jane rapopo tho, yo", sanggahku sambil tertawa.

"Yowes ngono dadi kucing sik".

"Hahaha ampun, Om. Esih pengen kadonyan".

Kami tertawa berbarengan.

Akhirnya kami pamit, adikku melajukan Honda nya menuju kota Jogja.

***

Pertemuan


Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya, kabut masih turun, dan bunga morning gloryku masih kuncup.

Aku memandangi pelataran rumah dan jalanan yang masih lenggang. Mendekap hoodieku kuat-kuat menahan dingin, mengecek kembali pesan yang masuk sambil melihat "location" nya yang bergerak maju.

Tak berapa lama sebuah mobil jazz terbaru masuk ke pelataran, pintunya terbuka.

"Sorry, Yu, tadi aku ketiduran." 

Aku tersenyum, "Gapapa, Tyas. Santai, baru jam berapa ini ?"

Aku masuk ke dalam mobil dan melemparkan tas ranselku ke bangku belakang. Tyas menyetel akun spotify di smartphonenya. Dan mulai menyalakan mobil kembali. Mobil kembali melaju ke jalanan di depan rumahku.

"Yang lain udah ada kabar ?" Tyas memulai pembicaraan setelah beberapa lama kami terdiam.

"Mas Arif katanya bentar lagi nyampe, Om Putra lagi nyamperin si Bayu, yang lain sih sudah bilang otewe," Aku membacakan ringkasan percakapan di grup whatsapp kami. Tyas mengucek matanya sejenak, matanya awas melihat ke jalanan di depan.

"Syukur deh kita nggak telat banget, sumpah aku ga enak sama kamu, aku udah bangun tadi jam empat, eh malah ketiduran, untung sempat setel alarm."

"Iya gapapa, udah kamu fokus aja nyetir. Eh, Yas, kamu tahu tempatnya dimana, kan ?" aku bertanya sambil mengecek kembali bawaanku di tas kecil.

"Santai, aku tahu, kemarin aku udah kesana bareng Didi".

"Ohh... oke, sip. Eh, nanti mampir bentar ya ke Alfa atau Indomart, aku mau beli aqua sama roti. Btw, kamu punya jas hujan yang sekali pakai nggak ?"

Tyas memandangku, "Nggak, aku juga lupa, tapi kayaknya disana ada, entar sekalian aja kita beli."

"Oke".

Lima menit kemudian kami mampir sebentar di Indomart terdekat dan membeli yang kami perlukan, tak berapa lama kami meneruskan perjalanan. Menyusuri jalanan desa yang lengang dengan hamparan sawah dimana-mana kemudian Jalanan bukit yang naik turun dengan ekstrim, cukup membuat kami jantungan, takut mobilnya tidak kuat.

Akhirnya kami sampai di pelataran balai desa, tampak terparkir satu mobil dan beberapa motor, di ujung bangunan, sekelompok orang tengah mengecek tas ransel masing-masing. Kami keluar mobil dan menghampiri mereka.

"Wah, akhirnya cewek-cewek datang juga," sapa Mas Arif sambil tersenyum.

"Cuma kita doang nih ceweknya ?" pandangku heran.

"Yah, cuma kalian berdua nih." Bayu menimpali.

"Oke, semua sudah berkumpul, Mbah Wijoyo udah nunggu di ujung jalan tuh," ujar Mas Arif sambil menunjuk ke utara, tempat pertigaan jalan desa yang tadi kami lewati untuk menuju kesini. "Ayo jalan, keburu siang nih".

Kami berjalan di belakang mereka, melewati lapangan yang cukup luas, berbelok di pertigaan, dan bertemu dengan Mbah Wijoyo. Perawakannya yang kecil dan tubuhnya yang liat, menunjukkan bahwa panggilan "Mbah" hanya sekedar panggilan belaka. Raut mukanya yang ramah menyapa kami.

(***lanjut besok, ada yang harus saya lakukan emoticon-Smilie c u~)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 10 lainnya memberi reputasi
POS PERTEMUAN


Aku kini memandanginya, memastikan perawakannya. Dia bertubuh kecil, tak ada jenggot, tapi kumisnya yang panjang hampir menutupi seluruh mulutnya. Ikat kepala hitam menutupi seluruh rambutnya, tidak ada ekspresi apapun diwajahnya, hanya bola matanya bergerak setiap saat. Dan aku pun kembali menunduk, berkonsentrasi kepada langkahku.

Kali ini tanjakannya sudah kulewati, walau hanya sepanjang tiga meter, tapi itu sudah mulai membuat sendiku mati rasa.

"Yu, mau istirahat dulu ?", Bayu sudah terduduk di batu bulat di sebuah gundukan tanah.

Aku mengangguk pelan, perlahan merebahkan tubuhku dan mulai meminum air yang tersisa setengah botol.

"Om Putra mana ?", aku memandang berkeliling, mencarinya.

"Udah duluan di depan, ninggalin dia mah," rajuk Bayu. Aku hanya tertawa kecil.

"Masih jauh nggak, Bay ?", aku kembali menyeka peluh.

"Tenang, itu nanti kita tinggal turun kebawah, trus naik dikit, udah deh kita di pos terakhir, pemandangannya ajib banget deh, Yu. Gak bakal nyesel kamu disitu".

"Huwee Syukur deh, aku udah laper," cetusku.

"lah tadi kamu berangkat nggak sarapan ?" tanya Bayu.

Aku menggeleng.

"Nggak sempet, ini juga baru minum air doang,"

"Lah, tadi aku tawarin gorengan, kamu ambil, nggak ?" Bayu memainkan sepatunya, berniat melanjutkan lagi.

"Nggak, aku takut mual di jalan, kan masih pagi", cengirku.

"Jah... ", Bayu menekuk mukanya, pura-pura bete.

"Yowes yuk, jalan", ajakku.

Kami kembali berjalan beriringan, di belokan sempat ada batang pohon yang patah, terpaksa kami menggesernya. Ketika mulai menuruni jalan kecil, akhirnya kami sampai di sebuah daerah yang agak landai. Di tengah-tengahnya, ada sebuah aliran air kecil.



Ketika berada di aliran airnya, aku duduk sejenak, meraup airnya dalam genggaman dan membaca Al Fatihah serta mulai berdoa, 'semoga air yang diberikan Gusti Allah memberi keberkahan untuk daerah ini'. Kemudian meraupkannya ke wajahku.

Terasa segar..
Tapi aku juga menyadari, ada kilatan warna pink lewat di sudut mataku. Bau bunga kenanga memenuhi hidungku.

"Yu, cepetan, bentar lagi sampai !" Teriakan Bayu menyadarkanku.

Aku memandangi sejenak seluruh pemandangan ini, dan kemudian mengikuti Bayu mendaki lagi, yang kali ini seperti sebuah lorong panjang, dan akhirnya sampai di ujung bukit.

Pemandangan kota terhampar di depanku. Rasanya puas setelah mendaki berjam-jam, setara dengan pemandangan yang dihadiahkannya.

Disana ada beberapa orang yang sudah duluan sampai, sedang menjerang air panas, membuat kopi. Aku mulai makan roti yang kubawa dan meminta sedikit air panas untuk menghangatkan air botol.

"Yu, kamu jatuh apa kena lintah ?", Pertanyaan Mas Arif yang baru sampai mengagetkanku.

"Maksudnya ?", Tatapku heran.

"Itu, kaki kirimu, ada darahnya di sepatu", tunjuknya.

Aku menunduk memandangi kakiku, ternyata ada rembesan darah dibelakang tumit, aku mencari-cari asal darahnya, hanya lubang kecil, sepertinya lintah. Tapi aku tidak mendapatinya di manapun.

Aku hanya tersenyum kali ini, dan meminta air sedikit untuk membasuh darah.

"Selalu ada 'bayaran' jika aku melakukan hal yang 'lebih'"... Pikirku.

-------------------------------

Hari beranjak mulai sore, aku dan yang lain mulai menuruni bukit dan kembali ke desa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiayu
×
© 2022 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di