CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 154 lainnya memberi reputasi

Part 32 : Pertarungan Di Lereng Lawu 2

"Hyang Candra!" Wulan merintih lirih, sambil merenggut bandana putih yang melingkar di lehernya hingga terlepas, hingga gurat gurat aneh di leher putih jenjang itu kini jelas terlihat.

"Wulan..., ja...ngan...!" Lintang yang menyadari bahwa Wulan benar benar telah kehilangan kendali berusaha untuk mencegah tindakan nekat gadis itu. Tapi ia tak berdaya. Jangankan untuk mencegah, untuk sekedar bergerak saja ia sudah tak mampu. Hanya sebelah tangannya yang mampu ia angkat, untuk memberi isyarat kepada Wulan untuk menahan diri. Isyarat yang sia sia, karena kini Wulan telah menggigit ujung ibu jari tangan kirinya, lalu mengoleskan darah yang keluar dari luka bekas gigitan itu ke guraran guraran aneh yang berada di lehernya.

"Hyang Candra! Bantu aku melepaskan segel terkutuk ini!" Wulan mendesis tajam, seirng dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Selarik sinar kekuningan tiba tiba terpancar dari atas langit, menyinari gurat gurat aneh di leher Wulan yang kini mulai berpendar memancarkan cahaya yang juga berwarna kekuningan.

"Wulaaannn....!!! Arrgghhhh...!!! Sial! Andai saja kalungku tak kutinggalkan di desa!" Lintang mengerang lirih, tanpa bisa berbuat banyak. Sudah terlambat untuk mencegah malaperaka yang mungkin saja akan segera terjadi.

Sementara si kakek misterius yang menjadi lawan mereka, justru tertawa terkekeh melihat keganjilan yang terjadi dengan tubuh Wulan. "Hehehe...! Rajah itu, sepertinya aku mengenalinya! Siapa yang membuat rajah itu di tubuhmu hah?! Berantakan sekali! Amatiran!"

Wulan yang pelan pelan mulai bangkit, kali ini sama sekali tak terpengaruh oleh ucapan si kakek. Gadis itu berdiri dengan kepala menunduk. Rambutnya yang panjang meriap riap tertiup angin kencang berhawa panas yang tiba tiba berhembus, sebagian menurupi wajah cantiknya yang kini terlihat begitu bengis. Pelan pelan gadis itu merentangkan kedua tangannya kesamping, seiring dengan tubuhnya yang juga pelan pelan terangkat, melayang beberapa meter diatas tanah.

"Hihihihi...!!!" Wulan tertawa mengikik, seiring dengan wajahnya yang mendongak keatas, memperlihatkan wajah bengisnya dengan kedua mata yang kini membeliak lebar memancarkan cahaya kekuningan, serta bibir yang terkatup rapat. "Tua bangka keparat! Hari ini, akan kutentukan takdirmu! Kau, yang telah berani mengusikku, akan kuhukum dengan caraku! Kau, akan kuhabisi kau hari ini juga!"

Pelan pelan tubuh Wulan berputar di udara, dengan kedua tangan masih terentang ke samping. Semakin lama putaran itu ssmakin cepat, seiring dengan api yang mulai berkobar dan membesar menyelimuti tubuh gadis itu.

"Hahaha...! Ini saat yang kutunggu tunggu! Ayo gadis manis, majulah! Kita lihat, seberapa besar kekuatan yang kau miliki itu!" si kakek yang sepertinya sama sekali tak gentar dengan perubahan wujud Wulan, justru duduk bersila diatas tanah, dengan kedua telapak tangan ia tangkupkan di depan dada. Kedua matanya ia pejamkan, sementara bibir keriputnya berkomat kamit merapalkan mantra.

Wulan yang semakin cepat berputar di udara, kini sudah tak terlihat lagi sosok tubuhnya. Hanya kobaran api berwujud manusia yang terlihat. Lalu dengan diiringi jeritan yang melengking tinggi, kobaran api itu melesat cepat, tepat mengarah ke arah si kakek yang masih duduk bersila.

"Sudah dimulai ya," si kakek mendesis, sambil membuka kedua kelopak matanya. Sebelah tangannya ia rentangkan kedepan, dengan telapak terbuka, siap menyambut serangan Wulan. Sementara tangan yang satunya tetap berada di depan dada.

"Matilah kau keparaaatttt...!!!" jeritan Wulan menggema, seiring dengan tubuh berkobarnya yang semakin cepat melesat, lalu...

"DHUAAAAARRRRR....!!!" benturan keras antara dua kekuatan besar yang beradu menimbulkan ledakan keras, hingga bumi terasa berguncang hebat. Kobaran api Wulan langsung terpental begitu berbenturan dengan telapak tangan si kakek, sementara si tubuh si kakek yang masih dalam posisi duduk bersila terdorong beberapa jengkal kebelakang.

"LEMAH...!!!" si kakek menggeram keras, sementara kobaran api Wulan yang telah berhasil menguasai keseimbangan kembali meluruk kedepan.

"Whuuuussss...!!!"

"Blegaaaarrrr...!!!"

Kembali benturan keras terjadi, disusul dengan ledakan yang lebih dahsyat lagi. Dan lagi lagi kobaran apu Wulan terpental, menghantam sebatang pohon besar yang langsung berderak patah, tumbang, dan terbakar.

"PAYAAAHHH...!!!" si kakek yang juga terjengkang kebelakang akibat benturan itu kembali berseru sambil berusaha kembali duduk bersila. Namun kobaran api Wulan sepertinya tak ingin memberinya kesempatan. Gadis yang sudah benar benar kehilangan kendali itu kembali meluruk kedepan sambil kedua tangannya melemparkan bola bola api yang dengan bertubi tubi menghujani tubuh si kakek.

Si kakek yang menyadari bahwa Wulan semakin meningkatkan serangannya, tak punya pilihan lain. Laki laki tua itu lalu memasang kuda kuda, berdiri dengan kaki terentang. Tangan kanannya ia kibaskan kesamping. Sebentuk tongkat cahaya panjang berwarna putih keperakan dengan ujung runcing kini tergenggam di tangan keriput itu.

"MENYEDIHKAANNN...!" si kakek kembali berseru sambil menyabetkan tongkatnya kedepan, menghantam bola bola api yang mengarah ke arahnya, hingga bola bola api itu terpental kesegala arah, membakar apapun yang ditimpanya.

"Whuusss...!!!"
"Dhuaaarrr...!!!"
"Blegaaarrr...!!!"

Ledakan ledakan keras kembali terdengar, disusul dengan deru kobaran api yang mulai merambat dan membakar apapun yang berada di arena pertarungan itu. Lintang yang menyaksikan pertarungan itu dari jarak jauh mencoba beringsut, menghindari hujan api yang semakin deras menghujani area lembah itu.

"MATILAH KAUUUU...!!!" suara Wulan menggelegar, seiring dengan tubuhnya yang melesat semakin mendekat ke arah tubuh si kakek. Hingga saat tinggal beberapa jengkal lagi, si kakek menghentakkan kakinya ketanah, lalu tubuhnya melesat keatas, menghindari benturan dengan tubuh Wulan. Alhasil, serangan Wulan hanya mengenai tempat kosong, menghantam tanah hingga melesak dan berhamburan kesegala arah.

"Blegaaarrr...!!!"

"Pengecuuutttt...!!!" Wulan yang semakin meradang mengejar sosok di kakek ke atas. Si kakek yang juga tak mau tinggal diam, menyambut serangan itu. Terlihat kini tubuh si kakek juga diselimuti oleh cahaya terang keperakan, pertanda bahwa laki laki tua itu juga telah meningkatkan serangannya

Lintang memandang takjub pada pertarungan itu. Sesosok kobaran api dan sesosok cahaya putih keperakan kini saling bersambaran di udara, melesat kesana kemari dengan sesekali saling berbenturan untuk kemudian saling terpental dan kembali saling menyerang.

"Lemah...!!!! Payah...!!!! Tak berguna...!!!" seruan si kakek terus terdengar disela sela pertarungan, seolah berusaha untuk terus memancing emosi Wulan. Sementara Wulan yang memang telah kehilangan kesadarannya terus menyerang si kakek dengan bertubi tubi.

"Ayo! Tunjukkan kehebatanmu! Kerahkan semua kemampuanmu! Atau memang cuma segini kemampuan yang kau miliki hah?!" si kakek terus menceracau.

"Grooaaaarrrr....!!!" Wulan menggeram semakin marah.

"Benar benar payah! Sepertinya memang harus dipancing ya! Baiklah kalau begitu, terima ini, HIYAAAAAA....!!!"

Cahaya putih keperakan milik si kakek menerjang kobaran api di tubuh Wulan. Kali ini sepertinya dengan kekuatan yang sedikit ditambah, sehingga kibaran api Wulan terpental dan kembali menghantam sebatang pohon besar. Tak cukup sampai disitu, sebelum Wulan berhasil kembali menguasai keseimbangannya, dari gumpalan cahaya keperakan milik si kakek meluncur deras sebatang tongkat cahaya berujung runcing yang dengan telak menghunjam ke tubuh Wulan.

"Whuuusss...!!!"

"Jreepppp...!!!"

"Heeegghhh...!!!"

"Wulaaaaannnn....!!!"

Lintang menjerit parau, manakala mendengar lenguh kematian yang keluar dari mulut Wulan. Matanya nanar menatap kobaran api yang semakin lama semakin memudar itu, hingga akhirnya padam dan memperlihatkan tubuh Wulan yang tekulai lemah, dengan tongkat cahaya milik si kakek yang menancap di dadanya, memaku tubuh gadis itu ke batang pohon besar.

"Wu...la...n...!!!" Lintang terperangah. Tubuhnya bergetar hebat. Terhuyung pemuda itu bangkit, sambil matanya tetap menatap tubuh yang terkulai diam di batang pohon itu.

"Manusia biadab! Beraninya kau...!!!" Lintang lalu mengalihkan tatapannya ke arah si kakek yang kini telah melayang turun mendarat diatas tanah. Pemuda itu merasakan ada sesuatu yang mengalir di dalam tubuhnya. Sesuatu yang aneh, yang baru kali ini ia rasakan. Rasa sakit yang tadi ia rasakan, kini tak ia rasakan lagi. Yang ada hanya rasa amarah. Amarah yang sulit untuk ia kendalikan. Matanya berkilat tajam, seiring dengan bangkitnya sebuah kekuatan yang selama ini terpendam dalam tubuhnya.

"Kau....," tubuh Lintang menggigil. Hawa dingin jelas terpancar dari sekujur tubuhnya. "Kau harus membayar mahal untuk semua ini!" Lintang mendesis tajam, lalu mengibaskan kedua lengannya kesamping. Deru angin berkesiut. Udara disekitar tempat itu seolah tersedot kearah Lintang, berkumpul dan menyelimuti sekujur tubuh pemuda itu, lalu berputar membentuk pusaran badai dahsyat yang mengangkat tubuh Lintang keatas dan semakin memporak porandakan tempat itu.

Pohon pohon besar tercabut dari akarnya. Bebatuan terangkat dan tersedot kedalam pusaran badai itu dan ikut berputar dengan cepat, menimbulkan suara gemuruh yang maha dahsyat.

"Aku...., aku akan membalas semua ini kakek tua! Akan kulumatkan tubuh cebolmu itu!" suara Lintang terdengar menggelegar. Kedua tangannya ia sentakkan kedepan, menimbulkan kesiuran angin topan yang membawa serta batang batang pohon dan bebatuan besar yang meluncur deras ke arah si kakek tua misterius.

"Cih!" terdengar suara mendecih dari sebelah kiri. Wulan yang semula terkulai terpaku pada batang pohon, kini menggeliat. Tangannya terangkat pelan, mencabut tongkat cahaya yang memaku tubuhnya ke batang pohon itu, lalu melemparnya keatas tanah.

"A..ku," tubuh Wulan kembali melayang.

"Aku ju..ga be...lum kalah," api pelan pelan kembali berkobar menyelimuti tubuh gadis itu. Kali ini lebih besar, dan terus membesar dan membesar. Suara bergeretak terdengar keras, saat sebentuk sayap api tumbuh di punggung gadis itu. Sayap mirip sayap garuda yang membentang sepanjang hampir empat meter itu mengepak perlahan, menyapukan hawa panas kesegala arah.

"I..ni, ini barulah sebuah awal kakek tua! Awal dari pertarungan yang sesungguhnya!" tangan Wulan menyentak kesamping. Sebentuk cambuk api kini tergenggam di tangan gadis itu, berkobar kobar seolah siap untuk mecabik cabik apapun yang diterpanya.

Si kakek yang masih berdiri di hadapan kedua sosok aneh itu hanya tersenyum tipis. "Sepertinya aku berhasil! Kedua bocah ingusan itu, aku berhasil membangkitkan kekuatan tertinggi mereka. Kini saatnya aku mengakhiri tugasku!"

Kakek cebol itu melangkah maju beberapa tindak, lalu berseru lantang, "Anak anak ingusan! Jika ini mau kalian, ayo, majulah! Dan kita mulai pertarungan yang sebenarnya!"

"Whuuuussss....!!! Cetaaaarrrrr...!!!" kobaran api Wulan mengepakkan sayapnya, terbang melesat ke arah si kakek sambil melecutkan cambuk apinya. Sementara badai dan topan ciptaan Lintang yang membawa serta benda apapun yang diterjangnya, semakin dahsyat mengurung si kakek dari segala arah.

Si kakek kembali duduk bersila diatas tanah, memejamkan mata menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dengan mulut komat kamit membaca mantera.

"Sekarang saatnya!" gumam si kakek saat badai topan Lintang dan kobaran api Wulan semakin mendekat ke arahnya, lalu....

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 60 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
heiji000
kaskus addict
Cendol Kahiji?
profile picture
keknya emg beneran Mbah Kendhil. dan jika benar, pasti mbah Kendhil akan mengakhiri hidupnya di tangan Wulan, yg mgkn secara ajaib kekuatan dan ilmu2 yg dikuasainya akan berpindah ke Wulan utk mengalahkan musuh utamanya nanti.

ato bisa saja emg adik seperguruannya yg menerima titipan kalo cucunya datang utk dilakukan pendadaran yg habis2an.

demikianlah prediksi ane hari ini. semoga ada sanggahan emoticon-Hammer2
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@heiji000 mangstab dahemoticon-Jempol
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin agak sulit kalau harus mengakhirkan hidup mbah Kendhil disini gan, selama ilmu ilmunya belum dimusnahkan (atau diwariskan mungkin bisa yak?)

Adik seperguruan Mbah Kendhil, yang tak lain adalah kakeknya Bu Ratih, masih misterius juga, apakah sudah meninggal atau kemana, secara setelah dihemput paksa saat tragedi '65 dulu, udah nggak ketahuan lagi keberadaannya.

Ini menarik, dan kedua kemungkinan bisa saja terjadi, antara Mbah Kendhil atau adik seperguruannya
profile picture
1980decade
kaskus maniac
Di hatiku hanya Bu Guru Ratih emoticon-rose
profile picture
@indrag057 agak sulit, tp bukan berarti gak bisa hehehe.
nah itu (adik seperguruannya mbah Kendhil yg notabene kakeknya buguru Ratih) yg menurut ane bakalan turut andil dalam pendadaran keduanya. apalagi jika dilihat responnya si kakek ketika melihat lintang dan wulan mulai terpancing dan mengeluarkan ajian pamungkasnya, itu terasa bgt kalo si kakek memang ada niat terselubung dibalik bangkitnya kekuatan keduanya.
wah, ini bakalan tambah menarik kalo sampe dua tokoh legend masih mendiami Lawu setelah peristiwa 65, dan masih sehat wal afiat.
keknya ke belakang bakalan ada kilas balik dua tokoh legend ini.

btw, ane menduga yg bisa menjinakkan kekuatan keduanya cuma mbah Kendhil nih. kalo sang adik seperguruannya mgkn "hanya" bisa memancingnya bangkit.
emoticon-Malu
profile picture
rijalbegundal
kaskus addict
@ayambucin dawa bin panjang cuy
profile picture
Goreng kentang.. Goreng kentang... Silahkan dimamam.. emoticon-Ngakak
profile picture
@rijalbegundal sengaja dibuat panjang gan. biar menjadi pengobat kekentangan yg memabukkan emoticon-Hammer2
profile picture
yunie617
kaskus maniac
wahhh mantap pertarungan yg seru.
kenapa klo Wulan dan Lintang marah energinya malah bertambah.
profile picture
@yunie617 karena lintang abis maem sist. entah kalo wulan ya emoticon-Leh Uga
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@ayambucin udah laper lagi lintang gan.. energinya habis buat bertarung🤣🤣
profile picture
@yunie617 lintang kan nyangu bekal sist. cuma ndak diceritain detail ama om @indrag057 emoticon-Malu (S)
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@ayambucin @indrag057 woo kok tau dia nyangu🤭🤭
profile picture
@yunie617 @indrag057 anak kesayangan emak kan sist si lintang. emoticon-Big Grin
profile picture
duke46
kaskus holic
Fixed mbah Sadiyo...sugeng rawuh mbaheee (e nya tiga)
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin ane malah masih buntu gan, belom ada kepikiran ke arah sana. Tapi ada kemungkinan sih begitu. Lihat nanti dah, ane tak nyari wangsit dulu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@rijalbegundal @ayambucin panjang tapi rada nyeleneh kalau menurut ane, kurang sreg ama cerita di part ini
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@shamdani996 euhm, cucok tuh gan, buat temen ngopi
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 lebih ke emosi yang tak terkendali sih kalau menurut ane, hingga tanpa sadar mengusik alam bawah sadar mereka
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 76 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di