CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 153 lainnya memberi reputasi

Part 28b (Lanjutan) : Rencana (Bag. 2)

"Ya. Kita harus segera mengakhiri semua ini Lan! Banyak nyawa yang harus kita lindungi dan selamatkan! Karena itu, tunggu apa lagi! Ayo kita beraksi!" Lintang mendesis tajam, lalu menyalami dan mencium tangan Wak Karni. "Lintang mohon pamit dan doa restunya ya Wak!"

"Wulan juga Wak, mohon doa restunya juga!" Wulan tak mau ketinggalan.

"Yah, kalian anak anak muda harapan desa. Uwak merestui kalian Nduk! Le! Berhati hatilah, dan semoga kalian berhasil mengatasi semua pageblug ini!"

Kedua muda mudi itu lalu beranjak keluar dari kamar itu. Mata Lintang kembali dihadapkan pada wajah wajah penuh pengharapan dari para warga yang diarahkan kepadanya, membuat Lintang sadar bahwa tugas yang harus ia emban kini sangatlah berat, tanpa adanya Pak Dul Modin yang selama ini menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah. Dan melihat wajah wajah penuh pengharapan itu, kembali mengingatkannya kepada sang emak, yang kini entah dimana dan seperti apa nasibnya. Lintang gelisah!

"Jangan terlalu lama berpikir Tang! Aku sudah tak sabar...!"

"Ya. Aku mengerti!" pelan Lintang menukas ucapan Wulan yang diucapkan dengan setengah berbisik itu. Ia lalu mendekati Bu Ratih dan Ramadhan, dan mengajak mereka ke ruang belakang yang sepi. Tepatnya ke ruangan dapur yang berada di bagian kiri bangunan rumah itu

"Mohon maaf Bu Ratih, kalau tak keberatan mulai sekarang biar Lintang yang mengambil alih masalah ini! Sedikit banyak Lintang sudah bisa meraba masalah apa yang sedang kita hadapi ini, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengatasinya. Tapi Lintang perlu cerita yang lebih mendetail lagi dari Bu Ratih yang melihat dan mengalami kejadian ini dari awal!" tegas Lintang tanpa berbasa basi lagi.

"Ah, iya. Ibu mengerti Tang. Dan kau juga Wulan. Kalian murid murid ibu, sekarang sudah dewasa. Kemampuan kalian juga sudah meningkat dengan pesat. Sudah saatnya bagi kalian untuk menjadi penerus Ibu dalam mengurus desa ini. Akan ibu ceritakan awal mulanya sampai pageblug ini bisa terjadi," Bu Ratih lalu menceritakan semua kejadian yang menjadi awal dari malapetaka yang kini melanda desa mereka itu.

"Jadi seperti itu ya," Lintang mengangguk anggukkan kepalanya, mencoba mencerna semua ucapan sang guru yang baru saja didengarnya itu. "Dhemit dhemit itu awalnya dikurung di dalam kendi dan ditanam jauh dibawah tanah. Yang jadi pertanyaan, kenapa sampai dhemit dhemit itu dikurung? Dan siapa yang mengurung mereka?"

Wulan dan Bu Ratih nampak saling pandang sejenak. "Karena dhemit dhemit itu sangat berbahaya?" tebak Wulan.

"Ya, bisa jadi. Tapi, kalau berbahaya, kenapa tidak dilenyapkan saja? Kenapa hanya dikurung yang bisa beresiko untuk bisa lepas kembali?" tanya Lintang lagi.

"Ada dua kemungkinan," kini Bu Ratih yang menyahut. "Antara si pengurung dhemit ini memang tak bisa melenyapkannya, atau tak mau melenyapkannya."

"Tepat sekali Bu," sahut Lintang. "Lalu siapa kira kira si pengurung dhemit itu?"

"Sebelumnya Wak Dul sempat menyinggung soal Mbah Kendhil, kakeknya Wulan," lagi lagi Bu Ratih yang menjawab. "Dan ibu juga punya dugaan yang sama. Wak Dul pernah cerita, dulu, di desa ini sudah pernah terjadi pageblug yang tak kalah mengerikan dibandingkan dengan yang sekarang ini. Waktu itu kakeknya Wulan masih ada. Dan beliau yang akhirnya bisa mengatasi pageblug itu. Wak Dul juga terlibat waktu itu. Bahkan sempat ikut kakeknya Wulan ke tempat para lelembut itu bersarang. Sayangnya, Wak Dul tak sempat mendengar pembicaraan antara Mbah Kendhil dan ratu dari para dhemit itu. Yang Wak Dul tau, pageblug itu bisa terselesaikan tanpa harus ada pertarungan ataupun pertumpahan darah. Kuat dugaan Mbah Kendhil melakukan negoisasi atau semacam kesepakatan kepada para dhemit itu, demi menghindari pertumpahan darah. Karena tak lama setelah pageblug itu terjadi, kakeknya Wulan tiba tiba menghilang secara musterius."

"Sebuah kesepakatan ya," Lintang nampak berpikir serius. "Apakah Mbah Kendhil meminta ratu dhemit itu untuk menyerahkan anak buahnya yang mengacau desa di waktu itu, dengan imbalan dia harus meninggalkan desa ini dan tak ikut campur urusan mereka lagi? Atau, lebih parahnya, mbah Kendhil menukar jiwanya dengan keselamatan warga desa?"

"Kukira dugaan pertamamu itu yang lebih tepat Tang. Mengingat sosok Mbah Kendhil ini bukanlah sosok yang bisa dianggap remeh. Mbah Kendhil menawan dhemit dhemit yang mengacau desa waktu itu, dengan syarat dia harus pergi dan tak ikut campur dengan urusan para dhemit itu lagi. Namun sepertinya perjanjian itu batal, karena saat kelahiran Wulan dulu, Mbah Kendhil sempat kembali dan menggagalkan aksi iblis yang mencoba menculik bayi Wulan."

"Hmmm, ini sangat menarik! Kesepakatan yang diingkari, membuat para dhemit itu geram dan marah! Namun mereka tak berdaya untuk membalas, karena selain Mbah Kendhil sempat menitipkan ilmunya kepada Wulan, sebagian dari mereka juga telah ditawan oleh Mbah Kendhil. Dan lepasnya dhemit dhemit yang sekarang ini, itu menjadi kesempatan bagi mereka untuk menuntut balas kepada Mbah Kendhil, atau penerus Mbah Kendhil, yang berarti itu adalah kamu Lan!"

Wulan tercekat mendengar ucapan Lintang barusan. Bukan karena takut, tapi dendam lama yang sudah berakar dalam dirinya, yang sekian lama telah ia kubur dalam dalam, kini seolah terbangkitkan kembali. Dhemit dhemit itu, bahkan dari semenjak ia baru lahir sudah mencoba untuk mencelakainya. Dan ia tak mau kalau kejadian buruk itu kini harus terulang kembali.

"Kukira masalah itu sudah selesai saat dulu aku melenyapkan Mbah Boghing di alas Tawengan. Ternyata tidak ya! Sampai sekarang mereka ternyata masih mengincarku. Kalau sudah begini, apa boleh buat, tantangan dari mereka itu, dengan senang hati akan aku terima!' desis Wulan tajam.

" jangan terburu buru Lan," Lintang menyela. "Masih ada satu soal yang belum terjawab. Kenapa kakekmu hanya mengurung dhemit dhemit itu didalam tanah? Kenapa tak melenyapkannya?"

"Mungkin karena mereka memang tak bisa dilenyapkan," tebak Wulan. "Kau lihat sendiri kan tadi saat aku dan Bu Ratih bertarung dengan mereka? Serangan serangan kami dengan mudah mereka patahkan. Bahkan mereka justru menyerapnya, dan itu membuat mereka justru semakin kuat."

"Kukira tidak," bantah Lintang. "Tidak seperti itu Lan. Kuat dugaanku, kakekmu hanya mengurung mereka, karena kakekmu memang tak ingin membunuh! Aku masih ingat kisah kelahiranmu dulu. Waktu itu kakekmu juga hanya menghajar Mbah Boghing itu sebelum melemparnya jauh ke alas Tawengan. Padahal kalau mau, bisa saja waktu itu kakekmu melenyapkannya. Sedikit banyak aku tau cerita tentang kakekmu Lan! Beliau bukanlah orang sembarangan! Bahkan ratu dhemit Tegal Salahanpun dengan mudah bisa ia takhlukkan. Satu hal yang membuat kakekmu tak mau melenyapkan mereka, karena kakekmu sadar bahwa melenyapkan lawan bukanlah satu satunya cara untuk menang. Beliau sudah banyak makan asam garam kehidupan. Dari kecil beliau hidup dalam bayang bayang dendam yang tak berkesudahan. Dan beliau pernah, bahkan sering melenyapkan lawan demi untuk menuntaskan dendamnya. Tapi yang ia dapat akhirnya bukanlah sebuah rasa kemenangan. Tapi rasa penyesalan yang tak berkesudahan, penyesalan yang menyiksa dan menghantui kehidupan di hari tuanya. Karena itulah dia akhirnya memilih untuk tinggal menyendiri di Tegal Salahan, demi merenungi segala rasa penyesalannya."

"Hmmm, bisa jadi," Wulan mengangguk angguk. "Lalu?"

"Yach, sepertinya kita juga harus mengikuti kebijaksanaan kakekmu itu. Kembali mengurung dan mengubur dhemit dhemit itu untuk mengakhiri pageblug ini, sepertinya suatu tindakan yang cukup bijaksana. Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana caranya?"

"Mengurung mereka dalam kendi kembali dan menguburnya dalam dalam?" kembali Wulan menebak.

"Kita tak punya kemampuan untuk itu Lan, lagipula kata Bu Ratih kendi itu sudah pecah dan dibawa polisi untuk barang bukti."

"Kita bisa mencari kendi yang baru. Soal kemampuan untuk mengurung mereka kedalam kendi, serahkan saja padaku."

"Kemana kita akan mencari? Kau pikir bisa sembarang kendi bisa dipakai?"

"Wak Dul sempat berpesan kemarin," Bu Ratih menyela. "Beliau berpesan, agar kalau kalian berdua telah kembali, kalian harus secepatnya pergi ke lereng Lawu."

"Lereng Lawu? Untuk apa Bu?" hampir serempak Lintang dan Wulan bertanya.

"Entahlah, ibu juga kurang mengerti," jawab Bu Ratih. "Tapi menurut dugaan ibu, ini juga masih ada hubungannya dengan kakekmu Lan, karena ibu dengar dulu semasa mudanya kakekmu itu berguru dan menyepi ke lerang Lawu sebelum akhirnya mendapatka kekuatan yang sangat luar biasa itu."

"Lereng Lawu ya," Lintang menggumam. "Itu bukan tempat yang dekat. Dan kita tak punya waktu banyak. Apalagi dhemit dhemit itu juga tak akan membiarkan kita bebas bergerak. Ditambah dengan masih samarnya apa yang harus kita cari disana, aku rasa ...."

"Lintang, tak ada yang sulit di dunia ini untuk kita lakukan, selama kita mau berusaha. Soal hasilnya nanti bagaimana, serahkan kepada yang diatas sana. Kalau niat kita baik, insya Allah pasti Dia akan memberi jalan." ujar Bu Ratih.

"Ya. Benar apa kata Bu Ratih," sambung Wulan. "Soal waktu dan jauhnya lereng Lawu, bukan masalah buatku Mbul. Aku punya ajian baru yang bisa menjangkau lereng Lawu hanya dengan sekejap mata. Juga ajian yang bisa mengecoh dhemit dhemit itu agar tak bisa melacak pergerakan kita kesana! Apa yang kita cari disana, itu urusan nanti kalau kita sudah sampai disana. Kalau perlu kita obrak abrik istana Lawu, agar penguasa disana bersedia menunjukkan apa yang kita inginkan darinya."

"Sompral kamu!" dengus Lintang yang mulai menyadari kekonyolan Wulan. "Eh, tapi bener kamu sudah mengusai dua ajian yang kau sebutkan tadi? Sejak kapan?"

"Huh! Memangnya kamu saja yang punya ilmu baru! Aku juga punya Mbul. Bahkan kalau dulu ari ariku tidak dimakan oleh Mbah Bhoging sialan itu, aku juga bisa memanggil saudara saudaraku seperti yang kaulakukan tadi. Jadi jangan sok jumawa. Mentang mentang punya ilmu baru!"

"Eh, bukannya kamu yang sok jumawa?!"

"Hmmm, mulai deh," Bu Ratih menyela perdebatan tak berguna itu. "Jadi, sejak kapan kalian bisa menguasai ajian ajian itu? Ajian barumu itu Lan, apakah yang kau maksud adalah s*p* angin dan p*ngl*m*nan? Itu ajian langka yang sulit didapat lho, dan perlu tirakat dan lelaku yang sangat berat! Kamu juga Lintang, sejak kapan kamu bisa memanggil keempat saudaramu hingga mewujud nyata begitu?"

"Biasa Bu, Gembul itu suka ikut perguruan perguruan ga jelas gitu, yang suka aneh aneh dan sok jago, padahal ilmunya nggak seberapa!" Wulan menyahut cepat.

"Enak saja!" Lintang tak kalah cepat menukas. "Aku kan hanya ikut perguruan bela diri, mana ada mempelajari yang aneh aneh. Aku bisa memanggil keempat saudaraku karena dulu pernah diajari sama Pak Modin, lalu aku terus mengasah dan memperdalamnya sampai seperti sekarang ini. Memangnya kamu Lan, berlatih saja ndak pernah! Heran saja kalau kamu bisa dapat ilmu yang sehebat itu!"

"Yeee, kamu yang ngawur Mbul. Siapa bilang aku ndak pernah berlatih! Aku rutin berlatih kok, punya guru juga, dan aku juga rutin tirakat!" Wulan menjawab tak kalah sengit.

"Mana ada! Aku ndak pernah tuh lihat kamu berlatih atau tirakat!"

"Ya jelas saja kamu ndak pernah lihat, wong aku melakukannya dalam mimpi!"

"Dalam mimpi? Hahaha...!!! Ada ada saja kamu Lan! Mana ada orang latihan dan tirakat didalam mimpi!"

"Kamu ndak percaya?! Mau nyoba ilmu baruku?! Guruku selalu rutin datang dan melatihku dalam mimpi! Makanya..."

"Sudah sudah!" Bu Ratih kembali menyela perdebatan kedua muridnya itu. "Kalian ini, dari dulu tak pernah berubah! Selalu saja ribut kalau ketemu. Ingat! Sekarang kita sedang menghadapi masalah serius! Ibu harap kalian bisa bekerja sama untuk menyelesaikannya. Jadi, kapan kalian mau berangkat ke lereng Lawu?"

"Mungkin..."

"Secepatnya Bu. Detik ini juga Wulan siap!" dengan cepat Wulan memotong ucapan Lintang.

"Ngawur!" sungut Lintang. "Masih ada satu hal yang harus kita pikirkan. Keselamatan warga desa lain yang juga terkena dampak pageblug ini, sepertinya tak bisa kita kesampingkan. Andai mereka semua bisa kita bawa ke desa ini..."

"Soal itu, serahkan pada Ibu. Biar nanti ibu yang keluar desa dan menjemput mereka. Kalian fokus saja pada rencana kalian untuk pergi ke lereng Lawu." usul Bu Ratih.

"Lalu tugas untuk aku apa?" Ramadhan yang sejak tadi diam, menyela. Sungguh, ia merasa menjadi seorang pecundang saat berada diantara ketiga orang itu. Dari mereka berempat, hanya dia yang tak memiliki kemampuan istimewa. Tapi ia tak mau dikesampingkan begitu saja. Sedikit banyak ia juga ingin punya andil dalam aksi menyelamatkan desa ini.

"Tenang Mas, aku punya tugas khusus buatmu," Lintang melepaskan kalung benang lawe berbandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya, lalu mengalungkannya pada leher Ramadhan. "Aku ingin, selama aku pergi, Mas Ramadhan menggantikan posisiku untuk sementara."

"Eh?!" Ramadahan tak mengerti dengan maksud Lintang.

"Keempat saudaraku yang diluar sana itu," kata Lintang lagi sambil membuat sebuah lingkaran diatas lantai dengan menggunakan sepotong kunyit yang ia ambil dari tempat bumbu bumbu dapur yang ada di dekatnya. "Mereka tak bisa jauh jauh dariku, emmm, maksudku tak bisa jauh jauh dari kalung yang sekarang Mas Rom pakai itu. Jadi selama aku pergi, Mas Rom jangan kemana mana, tetap berada didalam lingkaran yang aku buat ini, jangan keluar apapun yang terjadi."

"Hanya itu? Tugasku hanya duduk saja disini tanpa melakukan apa apa?" protes Ramadhan.

"Ini tugas penting juga Mas. Karena kalau sampai Mas Rom gagal, maka keempat saudaraku yang sedang membentengi desa di luar sana itu akan pergi menyusulku ke lereng Lawu, yang berarti dhemit dhemit yang diluar sana itu bisa dengan leluasa kembai masuk ke desa ini!"

"Ah, seperti itu ya?" Ramadhan meraba kalung aneh yang kini melingkar di lehernya itu.

"Jadi," Wulan menyela. "Semua sudah jelas kan? Lalu tunggu apa lagi? Ayo kita berangkat Mbul!"

"Tunggu Lan, kaubilang tadi dengan ajian barumu itu kau bisa pergi kemana saja hanya dalam sekejap mata dan tanpa terendus oleh para dhemit itu?" tanya Lintang.

"Ya. Betul!"

"Kalau begitu, bisa kan kita mampir sebentar ke Kedhungsono?"

"Untuk apa?"

"Aku ingin bertemu emakku dulu."

"Aish, dasar anak emak!"

"Ayolah Lan. Kau sudah bertemu dengan keluargamu. Sedangkan aku? Paling tidak aku juga ingin tau keadaan emakku Lan!"

"Huh! Merepotkan saja! Ya sudah, ayo! Bu Ratih, Mas Ramadhan! Kami pamit ya! Kamu Mbul, pejamkan matamu dan jangan pernah lepaskan pegangan tanganku dari tanganmu!" Wulan dengan cepat menyambar tangan Lintang dan menggenggamnya dengan erat, lalu mulai merapal ajiannya. Namun Lintang lagi lagi menyela.

"Tunggu Lan!" sela Lintang cepat.

"Haduh! Apa lagi sih Mbul?"

"Emmm, aku..., aku lapar. Semenjak pagi sebelum berangkat kesini, aku belum makan apa apa sama sekali! Apakah Bu Ratih masih punya makanan?"

"Arrggghhhhhh...!!! DASAR GEMBUUULLLL...!!!"

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 61 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
bonita71
kaskus addict
Lapaaaaaarrrrr emoticon-Leh Uga
profile picture
yunie617
kaskus maniac
wuu masih sempet2nya Lintang ingat makan ya disaat genting begini..
Tapi makan perlu juga sih buat isi.tenaga🤣🤣
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 dari pagi baru bangun tidur udah dijemput Wulan, sampai ga sempet sarapan sist @yunie617 namanya juga Gembul, ga bisa jauh jauh dari makananemoticon-Smilie
profile picture
kkjavu
kaskus addict
Namanya juga gembul
profile picture
prabuuya
aktivis kaskus
Dasar Lintang...emoticon-Cape d...
profile picture
Hahaha.. bener2 deh lintang. masih belum lupa ama kewajiban jasmaninya. paling ntar si wulan sama yg lain ikutan makan2 tuh emoticon-Ngakak
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@kkjavu namanya Lintang gan, bukan gembulemoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prabuuya Lintang Gembulemoticon-Ngakak
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin ya kalau ada yang bisa dimakanemoticon-Smilie
profile picture
onliner
kaskus addict
Ilmunya mantab² itu ya gan.. @indrag057

Sedulur papat, saipi angin, panglimunan sepertinya..., yang pertama itu yg luar biasa. emoticon-thumbsup emoticon-Angkat Beer
profile picture
@indrag057 loh bukannya wak dul Modin buka warung depan rumahnya gan?
kalo pagi kan rame biasanya orang beli2 gan emoticon-Malu (S)
ya kan mak @makgendhis emoticon-Big Grin
profile picture
@onliner @indrag057 wah kalo saipi angin ane pernah denger tuh gan. tp dimana ya. kalo panglimunan ane dengernya di serial kolosal angling drama tuh emoticon-Malu
profile picture
btw gan @indrag057 pas sampe lawu nanti, bakal ketemu ama kilas baliknya mbah kendhil gak gan? secara kan si wulan ama lintang udh nguasai ajian2 mitos itu. harusnya bisa dong gan dimunculin kilas balik mbah kendhil emoticon-Malu
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 @bonita71 segembul apakah Lintang🤣🤣
apa kaya kentung🤭🤭
profile picture
@yunie617 kalo ane ngebayangin lintang ini segede bombom sist 😅
profile picture
@ayambucin @indrag057 ahaha belum baca trit ka indra.. Emak msh dijalan nih 😁. Ntr yaaakk
profile picture
onliner
kaskus addict
@ayambucin dikatakan mitos bisa iya bisa bukan gan..hehe, tapi kalo di dunia supranatural pasti pada tahu, tingkat tinggi itu, apalagi bisa munculin sedulur papat, kalo dasarnya ga punya kelebihan/berkah dari lahir ga bakal bisa, hanya sedikiiiit sekali orang yg menguasai, kalo agan suka liat film naruto..gambarannya ya mirip² seperti itu.. emoticon-Peace
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@ayambucin bombom mah masih wajar itu gan gemuknya🤣🤣
profile picture
@makgendhis @indrag057 iya mak, ati2 ya dijalan. gak usa kepikiran ama tritnya om @indrag057 emoticon-Blue Guy Smile (S)
profile picture
@onliner iya tuh gan. makanya ane bilang bisa saja serial naruto emg ada sedikit inspirasi dari ajian2 nusantara yg saat ini udh jarang sekali ditemukan.
btw, ajaran leluhur yg tersisa sampe saat ini kira2 apa aja ya gan emoticon-Blue Guy Cendol (L) kasi tau ane gan kalo ente apal kek om TS emoticon-Malu (S)
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 93 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di