CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 153 lainnya memberi reputasi

Part 26 : Strategi Lintang

"Pak Modin...!!!" Lintang mendesah pelan, seiring dengan tubuhnya yang kembali jatuh terduduk. Ramadhan yang sedang merangkul tubuh Lintang dari belakangpun ikut terjatuh. Namun pemuda itu sama sekali tak melepaskan rangkulannya. Justru ia semakin mempererat pelukannya, sambil terus membisikkan kata kata yang dilambari dengan energi penyejuk ke telinga Lintang.

"Sadar Tang! Eling! Kendalikan dirimu! Jangan terbawa emosi! Kita semua sangat berharap kepadamu! Kau satu satunya harapan kami sekarang Tang! Kami semua bergantung kepadamu! Aku tau apa yang kau rasakan Tang! Kita sama sama murid Wak Dul! Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan! Aku juga sangat ingin membalas kematian Wak Dul! Tapi tidak begini caranya Tang! Kita..."

"Ya," Lintang mendesis pelan. "Aku..., aku sadar Mas! Aku eling! Terimakasih karena sudah menahanku! Sekarang ....." Suara Lintang tersendat, di sela nafasnya yang memburu. Pemuda itu lalu berusaha untuk bangkit kembali. Tubuhnya terhuyung. Nyaris saja tersungkur kalau saja Ramadhan tidak buru buru menahannya.

"Mereka itu...," Lintang kembali mendesis sambil menatap ke arah Wulan dan Bu Ratih yang masih mengamuk membabi buta di kejauhan sana. "Mereka berdua, merepotkan saja ya! Kita harus menghentikan mereka Mas, agar masalah ini bisa segera diselesaikan."

"Ya. Seharusnya begitu Tang," Ramadhan ikut menatap ke arah Wulan dan Bu Ratih. "Tapi itu bukan hal yang mudah Tang. Tadi, menghadapi Mbak Ratih seorang saja aku sudah babak belur. Apalagi sekarang ada Wulan."

"Jangan khawatir Mas! Biar aku yang mengurusnya. Sekarang, lebih baik Mas Ramadhan mundur dulu. Menjauhlah dariku." ujar Lintang. Suaranya mulai terdengar tenang kini.

Meski tak begitu mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Lintang, toh akhirnya Ramadhan menuruti semua kata kata Lintang. Ia mundur, sambil terus mengamati Lintang yang kini telah berdiri dengan gagahnya. Kepalanya sedikit menunduk, dengan kedua mata terpejam dan tangan terkepal rapat disamping tubuhnya. Sejenak kemudian kemudian, terlihat Lintang mengangkat wajahnya. Kedua matanya nyalang menatap ke depan. Pelan pelan juga ia lalu merentangkan kedua tangannya kesamping dengan telapak tangan tetap terkepal.

Ramadhan merasakan ada perubahan dengan suasana di sekelilingnya. Udara mulai bergerak. Dari arah utara, selatan, timur, dan barat, angin sepoi sepoi berhembus menuju ke satu titik. Tubuh Lintang. Disertai dengan suhu udara yang semakin menurun drastis. Dingin, terasa menusuk sampai ke tulang. Membuat tubuh Ramadhan menggigil hebat.

Angin sepoi sepoi itu bertiup semakin kencang, menerbangkan debu debu dan dedaunan kering yang berserakan, berkumpul membentuk semacam perisai yang menyelubungi tubuh Lintang, lalu menjalar dan berkumpul di kedua lengan pemuda itu, berputar membentuh semacam tornado kecil yang berputar menyelubungi kedua lengan Lintang.

Suara angin berkesiur berubah menjadi suara menderu, seiring dengan semakin membesarnya pusaran tornado yang menyelubungi kedua lengan Lintang. Lalu, dengan diiringi dengan suara teriakan keras, Lintang menyentakkan kedua tangannya kedepan.

"BAYU SEGOROOOOO...!!!"

"HEAAAAAA....!!!"

"WHUSSSSSSSS....!!!"

Kedua pusaran angin tornado yang bergulung di kedua lengan Lintang terus membesar dan membesar, memanjang ke depan, mengarah tepat ke arah Bu Ratih dan Wulan yang berada di kejauhan sana. Angin berhawa sangat dingin itu lalu menggulung kedua tubuh perempuan itu.

"Grrrrrrrr....!!! Biadab! Siapa yang telah berani ...."

"Bu Ratih! Wulan! Tolong dengarkan aku!" Lintang berteriak lantang ditengah suara deru angin yang ssmakin dahsyat itu.

"Lintang! Gembul! Kau..." Wulan dan Bu Ratih berusaha membebaskan diri dari gulungan angin tornado berhawa dingin itu. Lintangpun tak mau menyerah. Ia terus menambah dan menambah energi dingin yang ia salurkan melalui angin tornado yang ia ciptakan. Terjadilah adegan tarik menarik antara Lintang yang berusaha menarik kedua perempuan itu dengan Wulan dan Bu Ratih yang berusaha membebaskan diri dari gulungan angin tornado ciptaan Lintang.

"Bu Ratih! Wulan! Tolong sekai ini saja kalian dengarkan aku! Mundurlah sebentar! Kita perlu bicara! Masalah ini tak akan pernah selesai dengan tindakan kalian itu! Kumohon! Andaipun kalian tak mau menganggapku, paling tidak tolong hormati Pak Modin! Jangan nodai pengorbanan beliau dengan tindakan konyol kalian ini!"

Kata kata Lintang sepertinya sedikit banyak mempengaruhi kedua perempuan yang tengah dibakar emosi itu. Lintang bisa merasakan, energi kedua perempuan itu berangsur angsur melemah, seiring dengan pendar cahaya kuning keemasan dan kobaran api yang menyelubungi tubuh kedua perempuan itu yang juga berangsur angsur meredup. Kesempatan itu tak disia siakan oleh Lintang. Dengan satu sentakan keras Lintang lalu menyentakkan kedua lengannya kebelakang, membuat angin tornado ciptaannya seolah menarik dan mencampakkan tubuh Bu Ratih dan Wulan mundur dan mendarat di belakang tubuh Lintang.

Lintang lalu berbalik, sambil kedua lengannya terus terarah ke tubuh Bu Ratih dan Wulan yang kini telah berdiri di hadapannya. Angin tornado ciptaannya, meski mulai melemah, namun Lintang tak serta merta melepaskannya dari kedua tubuh perempuan itu.

"Apa yang kau lakukan Mbul? Beraninya kau menghalangiku untuk menghancurkan iblis iblis itu,?" Wulan menggeram marah. Kobaran api, meski sudah tak terlalu besar namun masih berkobar menyelimuti tubuh gadis itu. Sementara Bu Ratih, sepertinya emosinya benar benar sudah mereda. Pendaran cahaya kuning keemasan yang menyelimuti tubuhnya benar benar telah lenyap kini.

"Wulan! Bu Ratih! tolong dengarkan aku! Lihat dan perhatikan! Tindakan yang barusan kalian lakukan itu, itu semua sia sia! Bukan para iblis yang telah kalian lenyapkan! Tapi justru para warga yang kesurupan yang telah kalian bantai! Sadarlah! Sadar Bu Ratih, Wulan! Iblis iblis itu hanya memanfaatkan kalian! Kalian diperdaya dan dimanfaatkan untuk membunuh teman teman kita sendiri. Sadar! SADAR...!!!"

Wulan dan Bu Ratih saling pandang sesaat. Lalu seperti dikomando, keduanya menatap ke depan, dimana nampak beberapa warga yang telah terkapar kehilangan nyawa. Sementara para iblis justru semakin banyak berterbangan, seolah tengah berpesta pora dan mentertawakan kebodohan mereka.

"Sial! Apa yang telah kulakukan?!" hampir bersamaan Wulan dan Bu Ratih mendesah, lalu jatuh terduduk dengan bertumpu pada kedua lutut mereka.

"Sekarang, tolong dengarkan aku," Lintang yang menyadari bahwa Bu Ratih dan Wulan telah sadar sepenuhnya, lalu melepaskan pusaran angin tornado ciptaannya dari tubuh kedua perempuan itu. "Ini semua, harus kita selesaikan dengan kepala dingin. Dan untuk sementara, biar aku yang mengambil kendali. Aku punya rencana, tapi aku butuh bantuan kalian semua."

"Apa yang kau rencanakan Mbul?" Wulan kembali bangkit. Matanya yang masih memancarkan kemarahan menatap tajam ke arah iblis iblis yang masih berterbangan itu.

"Jadi begini! Melihat pertarungan kalian tadi, aku jadi tau bahwa iblis iblis itu tak bisa dianggap enteng. Serangan serangan yang kalian lancarkan, justru mereka serap, dan itu membuat mereka semakin kuat. Jadi untuk sementara, kita jauhkan dulu mereka dari desa, agar kita punya kesempatan menyusun rencana untuk melenyapkan mereka." ujar Lintang.

"Rencana?" Bu Ratih ikut bangkit. "Rencana yang seperti apa?"

"Kita bagi tugas. Bu Ratih, bisa sampeyan keluarkan iblis iblis yang merasuki para warga itu?" tanya Lintang.

"Sepertinya bisa, meski agak sulit. Gerakan mereka begitu cepat Tang! Begitu berhasil kukeluarkan dari raga salah satu warga, mereka akan segera melesat cepat dan masuk ke raga warga yang lain," jawab Bu Ratih.

"Itu bukan masalah Bu! Kita eksekusi mereka satu persatu. Aku akan berusaha menyapu setiap iblis yang telah ibu keluarkan dari raga para warga agar menjauh dari desa dan tak punya kesempatan untuk merasuk ke raga warga yang lain. Tapi sebelumnya Bu Ratih bisa kan memasang pagar di sekeliling rumah ini?" kata Lintang lagi.

"Hmmm, pagar ya? Sepertinya bisa Tang! Tapi aku tak yakin pagar yang kubuat bisa banyak membantu. Sebelumnya sudah kucoba, tapi makhluk makhluk itu tak perlu waktu lama untuk bisa menembusnya. Apalagi dengan keadaanku yang sekarang, energiku sudah banyak terpakai, jadi pagar yang akan kubuat juga sepertinya tak akan sekuat yang sebelumnya." jawab Bu Ratih.

"Kira kira berapa lama pagar yang Bu Ratih buat bisa bertahan dengan kondisi Bu Ratih yang sekarang ini?"

"Yach, mungkin hanya dalam hitungan jam. Dua atau tiga jam tepatnya."

"Itu sudah lebih dari cukup Bu. Dua atau tiga jam kurasa cukup untuk menahan para iblis itu untuk sementara. Soal bagaimana nanti setelahnya, itu akan kupikirkan nanti. Jadi, sekarang tolong ibu buat saja pagarnya. Kau bisa membantu kan Lan?"

Wulan hanya mengangguk. Kedua perempuan itu lalu bahu membahu memasang pagar di sekeliling rumah itu.

"Jangan habiskan energi kalian untuk membangun terlalu banyak pagar. Cukup dua atau tiga lapis saja. Ingat, setelah ini kita masih harus bertempur lagi." Lintang mengingatkan.

"Ya. Tiga lapis sepertinya cukup," ujar Bu Ratih dengan nafas sedikit terengah. Membangun pagar gaib setelah tadi sempat bertarung habis habisan benar bemar telah menguras tenaganya.

"Bagus! Selanjutnya, mari kita beraksi. Lakukan yang kuminta tadi Bu, keluarkan iblis yang merasuki para warga itu satu per satu. Aku akan menyapu mereka keluar dari desa begitu mereka keluar dari raga para warga itu, agar tak punya kesempatan untuk merasuki raga warga yang lain. Mas Ramadhan, nanti begitu ada warga yang sudah berhasil disadarkan oleh Bu Ratih, cepat bawa masuk kedalam rumah, agar tak menjadi incaran para iblis itu."

"Baik. Akan kulakukan tugasku sebaik mungkin Tang," jawab Ramadhan tegas. Ada rasa bangga yang ia rasakan melihat kemampuan Lintang dalam mengendalikan situasi. Benar benar mirip dengan kebijaksanaan yang selama ini dimiliki oleh Pak Modin. Lintang memang benar benar sangat pantas menjadi murid Pak Modin.

"Lalu apa tugas untukku?" Wulan yang sejak tadi diam bertanya.

"Kamu...., ah, dari matamu aku tau, amarahmu belum benar benar mereda Lan. Jadi sebaiknya kamu...., emmm..., ah, iya. Aku punya tugas yang pantas untukmu. Tugas yang sangat menyenangkan.Kau lihat mayat mayat yang dirasuki oleh para iblis itu?"

"Ya. Aku tau."

"Bagus! Lampiaskan amarahmu kepada mereka! Habisi mayat mayat hidup itu."

"Dengan senang hati Mbul!"

"Baiklah kalau begitu. Jangan buang buang waktu. Mari kita beraksi. SERAAAAANNGGGG....!!!."

Keempat sosok itu lalu melesat ke depan. Dibawah komando Lintang, mereka kembali berjibaku melawan iblis iblis yang sepertinya semakin banyak itu.

Pertarungan sengit kembali terjadi. Namun dibawah kendali Lintang, kini pihak dari Kedung Jati sepertinya sedikit diatas angin. Rencana yang telah disusun Lintang, sedikit banyak mulai menampakkan hasilnya.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 65 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
pertamax.
iye kan gan?
ane kuatir masih mau dilanjut nih trit emoticon-Malu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin done ya gan, udah ane tambahin dikit tuh. Lanjutannya mungkin besok lagi
profile picture
@indrag057 mantapp.. serasa marathon lago kalo gitu gan emoticon-Toast
profile picture
Go go go bang drag...di tunggu lanjutanya ya
profile picture
yunie617
kaskus maniac
Cakep stategi Lintangemoticon-Toast
Disaat yg lain esmosi Lintang yg bisa mendinginkan"y
profile picture
prabuuya
aktivis kaskus
Lan.....juuuuuttttt......
Sikat abis para iblis yg merajalela...emoticon-Cendol Ganemoticon-Rate 5 Star
#ngopipait nek prapatan mbi ndodok soale bangkune entek 🤣🤣🤣
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nur403 siiippp!! Lanjut besok lagi gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 hu-um sist, semakin matang cara berpikir Lintang
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prabuuya wakaka, kesian amat sampe ndhodhok gitu. Napa ga bawa bangku dari rumah aja coba?
profile picture
Gas pooolll...
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@shamdani996 alon alon bae gan, di gas mulu tar malah dol
profile picture
prabuuya
aktivis kaskus
@indrag057 bangku ne abot gan emoticon-Leh Uga
profile picture
searcher13
kaskus holic
SUMUR PATI dan ALAM LELEMBUT. Trit yang tiap hari ane cek updatenya....
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@searcher13 padahal updatenya nggak setiap hari yaemoticon-Malu
profile picture
sukhhoi
kaskus addict
Ramadhan meluk Lintang jangan-jangan sambil gesek-gesek, Gan @indrag057
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@sukhhoi hu-um gan, gesek gesek kantong nyari rokokemoticon-Leh Uga
profile picture
Mantap betul emoticon-Cendol Gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@kustiwan makasih ganemoticon-terimakasih
profile picture
iorme 
KASKUS Plus
mantab memang strategi kentang ini
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Gsssssssss @bonita71
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 31 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di