CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Healthy Lifestyle /
Mitos Atau Fakta: Makanan Kita Semakin Kurang Bergizi? Penting Untuk Diketahui
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/6149a0cf8dbeba3a492e9521/mitos-atau-fakta-makanan-kita-semakin-kurang-bergizi-penting-untuk-diketahui

Mitos Atau Fakta: Makanan Kita Semakin Kurang Bergizi? Penting Untuk Diketahui

.
Hal menarik di dalam trit ini adalah membahas keterkaitan antara peningkatan kadar CO2 di udara/atmosfir dengan penurunan kandungan gizi makanan kita.


Tampaknya adalah fakta bahwa makanan yang kita konsumsi sehari-hari saat ini dibandingkan puluhan tahun yang lalu mengalami penurunan kandungan gizi/nutrisinya jika kita dapat menerima sejumlah penelitian yang telah dilakukan dalam dua puluh tahun terakhir. 

Sejumlah penelitian dilakukan dengan membandingkan kandungan gizi sejumlah bahan makanan yang ada pada tahun-tahun penelitian dilakukan terhadap catatan-catatan kandungan gizi untuk bahan makanan yang sama di sekian puluh tahun sebelumnya atau sepenuhnya melakukan perbandingan data-data sekunder yang ada dalam selang waktu puluhan tahun.

Sebagai orang awam, yang terpenting dari itu adalah memahami persoalannya secara garis besar dan menyadari apa yang harus dilakukan selanjutnya.



Bahan makanan kita saat ini semakin kurang bergizi dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Sumber


Bebarapa penelitian yang bisa penulis sajikan adalah sebagai berikut.

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:

Quote:


Mengapa bisa terjadi penurunan kandungan gizi pada makanan kita? Sejumlah faktor dapat dijelaskan dengan baik, kecuali faktor terakhir yang masih dalam perdebatan atau penelitian mendalam.


Penggunaan varietas baru yang menghasilkan kandungan gizi yang lebih rendah daripada varietas lama

Contoh kasus adalah pada biji gandum yang dihasikan di Inggris oleh varietas terbaru, yaitu semi-kerdil,  kultivar gandum yang menghasilkan panen tinggi.


‎Gandum adalah sumber mineral penting seperti zat besi, seng, tembaga dan magnesium dalam makanan Inggris.

Sesuai dengan grafik di atas, kadar zat-zat tsb pada biji gandum yang ditanam di Inggris tetap stabil antara tahun 1845 dan pertengahan 1960-an, tetapi di tahun-tahun berikutnya terjadi penurunan berarti - yang bertepatan dengan pengenalan varietas semi-kerdil. Penurunan keseluruhan kandungan mineral antara 20 dan 30% dan itu merupakan angka yang cukup besar.‎


Menurunnya kadar unsur-unsur hara tanah dan mikroba pengurai

Faktor ini telah cukup diketahui oleh para petani dan seharusnya tidak menjadi persoalan selama para petani bisa mengendalikan penggunaan dan perawatan lahannya.

Meningkatnya kadar CO2 di udara

Faktor ini menarik perhatian para ahli dalam tahun-tahun terakhir. Bermula dari penelitian oleh Irakli Loladze, seorang matematikawan yang bekerja di laboratorium biologi untuk program doktoralnya di Arizona State University pada Tahun 1998.


Mathematikawan, Irakli Loladze, ‎menghamburkan gula di atas sayuran di luar rumahnya di Lincoln Nebraska, untuk menggambarkan bagaimana kandungan gula dari tanaman yang kita makan meningkat sebagai akibat dari meningkatnya kadar karbon dioksida. Loladze adalah ilmuwan pertama yang menerbitkan penelitian yang menghubungkan peningkatan CO2 dan perubahan mutu tanaman dan kecukupan nutrisi manusia.Sumber


Pada satu penelitian di lab biologi mengenai hubungan zooplankton dan ganggang (algae), makanan bagi zooplankton, Loladze mencurigai faktor pertambahan kadar CO2 di udara menyebabkan zooplankton kesulitan bertahap hidup di saat ganggang, sumber makanannya, tetap melimpah. Ini adalah paradoks: lebih banyak makanan seharusnya membuat zooplankton berkembang lebih banyak.

Penelitian didisain dengan meningkatkan pemberian sinar bagi ganggang sehingga ganggang tumbuh lebih cepat, tetapi tumbuhan kecil tsb akhirnya mengandung lebih banyak gula dan lebih sedikit nutrisi penting yang dibutuhkan zooplankton untuk berkembang. Ganggang menjadi makanan sampah (junk food) bagi zooplankton. Zooplankton memiliki banyak makanan, tetapi kurang bergizi, sehingga mereka tetap kelaparan.‎

Kenyataan tersebut membuatnya penasaran dengan pola hubungan sejenis di dunia luar, misalnya: ternak dengan rumput dan manusia dengan beras.

Di dunia luar, tanaman tidak hanya mendapatkan lebih banyak sinar matahari, tetapi juga selama bertahun-tahun mendapatkan karbon dioksida (CO2) yang lebih banyak. Tumbuhan memerlukan sinar matahari dan CO2 dalam proses fotosintesisnya yang selanjutnya menghasilkan gula. Maka tampaknya logis untuk mengasumsikan bahwa meningkatnya karbon dioksida mungkin menjadi penyebabnya.

Peningkatan CO2 di udara telah didokumentasi dengan baik oleh para ahli iklim. Sebelum Revolusi Industri, atmosfir bumi mengandung 280 parts per million (ppm) CO2. Tahun 2016, kadar CO2 di atmosfir telah melewati ambang 400 ppm. Para ahli memperkirakan pada 2050 kadarnya meningkat hingga 550 ppm atau dua kali kadar CO2 di atmosfir pada saat Amerika Serikat pertama kali menggunakan traktor pertanian.

Memperkuat asumsinya, selama 17 tahun berikutnya Loladze melakukan studi literatur pada setiap peneltian dan data yang bisa dia peroleh. ‎ Hasilnya, semua studinya  tampaknya menunjuk ke arah yang sama: Efek junk-food yang dia pelajari di laboratorium Arizona itu juga tampaknya terjadi di ladang dan hutan di seluruh dunia.

"Setiap helai daun dan rumput di bumi membuat lebih banyak gula karena kadar CO2 terus meningkat," kata Loladze. "Kami menyaksikan suntikan karbohidrat terbesar ke dalam biosfer dalam sejarah manusia - suntikan yang menyingkirkan nutrisi lain dalam pasokan makanan kita."‎


Penelitian lain yang sangat penting dan lebih dapat diandalkan mengenai hubungan CO2 dan nutrisi tanaman datang dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat yang dilakukan oleh Lewis Ziska dkk dan dipublikasikan pada 2016.

Lewis Ziska, seorang ahli fisiologi tanaman di kantor pusat Agricultural Research Service di Beltsville, Maryland, menjadi tokoh penting menjawab pertanyaan yang pertama kali diajukan oleh Loladze 15 tahun yang lalu dengan sejumlah studi baru yang berfokus pada nutrisi.‎



Lewis Ziska (atas), seorang ahli fisiologi tanaman, berhasil mengungkap hubungan meningkatnya kadar CO2 di atmosfir dengan menurunnya kadar protein pada goldenrod, rumput liar yang secara genetis sama dari masa Revolusi Industri 1.0 hingga saat ini. Sumber


Ziska merancang sebuah eksperimen yang menghilangkan variabel pemuliaan tanaman atau keragaman varietas. Dia memutuskan untuk menggunakan goldenrod, bunga liar yang belum dikembangbiakkan manusia sehingga secara genetis tidak berubah dari waktu ke waktu, sebaliknya untuk jagung atau gandum.

‎Goldenrod, bunga liar yang umumnya dianggap sebagai gulma, tapi sangat penting bagi lebah. Serbuk sari bunganya menyediakan sumber protein penting bagi lebah menjelang musim dingin. 

Kebetulan Smithsonian Institution memiliki ratusan sampel goldenrod, yang berasal dari tahun 1842 (empat puluh tahun dari awal Revolusi Industri 1.0), dalam arsip sejarahnya yang besar, yang memberi Ziska dkk kesempatan untuk mencari tahu bagaimana satu tanaman telah berubah dari waktu ke waktu.‎

‎Ziska dkk  menemukan bahwa kandungan protein serbuk sari goldenrod telah menurun sepertiga dibandingkan kandungannya pada masa revolusi industri dimulai- dan perubahan ini sangat terkait dengan kenaikan kadar CO2 di udara.(Selain itu, makalah Ziska menunjukkan bahwa penurunan kadar protein pada tubuh lebah menjelang musim dingin akibat menurunnya kadar protein pada goldenrod, sumber makanannya, bisa menjadi faktor tambahan yang menyulitkan lebah bertahan hidup.‎)

Lebih lanjut mengenai penelitian Ziska dapat dibaca di Royalsocietypublishing.


‎Berdasarkan kedua penelitian penting di atas kita sekarang dapat melihat adanya hubungan (correlation) antara peningkatan kadar CO2 di atmosfir/udara dengan kandungan gizi/nutrisi pada makanan kita. 

Semakin meningkat kadar CO2 di udara, semakin tinggi kadar gula sekaligus semakin rendah kadar nutrisi lainnya pada makanan manusia. 


Meski kedua penelitian tsb belum dapat mengungkap cara kerja atau prosesnya secara biologis atau kimiawi, khususnya pada tanaman. Para ahli masih terus melakukan penelitian untuk itu.


Apa yang bisa kita lakukan selaku konsumen?

Dibanding para kakek-nenek kita, tentu kita harus memakan lebih banyak agar kita bisa mendapatkan gizi atau nutrisi (mineral, vitamin, enzim) secara lengkap dan cukup bagi pertumbuhan tubuh dan jiwa kita. Contohnya seperti yang sudah disebutkan di atas: Agan harus makan 10 tomat pada Tahun 1991 untuk memperoleh asupan mineral tembaga yang sama dari 1 tomat pada Tahun 1940.

Namun, resikonya adalah kita bisa kelebihan nutrisi tertentu, terutama gula, yang menyebabkan kegemukan (obesitas) dan diabetes. Ini yang mungkin menjadi satu alasan mengapa kegemukan dan diabetes saat ini mewabah di mana-mana. 

Untuk itu, kita dianjurkan agar mengkonsumsi makanan lebih beragam, selain melakukan penyimpanan dan pengolahan bahan makanan yang lebih baik agar nutrisi makanan tidak banyak yang hilang atau rusak.

Selain berolah raga tentunya dan perubahan gaya hidup lainnya menjadi lebih baik.

emoticon-Ultah


Semoga tulisan ini bisa mencerahkan kita dan membangun rasa penasaran kita tentang lingkungan hidup kita, khususnya yang terkait dengan bahan makanan dan proses panjang dan kompleks yang terkait dengannya.


emoticon-Shakehand2



Opini dengan sumber tulisan:


Spoiler for spoiler:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
koi7 dan 24 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh gagal.jadi.nabi
Nah... Dengan kadar CO2 yang semakin meningkat, nutrisi di makanan yang semakin menurun, kalau masak makanan tuh jangan terlalu banyak prosesnya/overcooked.
profile-picture
gagal.jadi.nabi memberi reputasi
profile picture
TS gagal.jadi.nabi
kaskus maniac
Termasuk mengurangi konsumsi makanan yang digoreng karena itu sudah pasti overheat yang merusak banyak nutrisi makanan, selain kandungan minyak gorengnya yang menjadi kurang bagus bagi tubuh (rantai carbonnya terlalu panjang sehingga sulit dicerna tubuh).

Overheat adalah satu dari sejumlah bentuk overcook pada makanan.

Terima kasih atas penekanannya, Gan.

emoticon-Toast emoticon-Toast emoticon-Toast
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di