CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chaoshary20 dan 130 lainnya memberi reputasi

Part 23 : Kembalinya Sang Jagoan

Hari masih pagi, saat jeep tua berwarna hitam itu keluar dari halaman rumah kost yang lumayan besar, lalu merayap pelan menyusuri jalanan kota Atlas yang mulai ramai dengan segala aktifitas warga. Pengemudinya, seorang gadis berwajah tegas dengan rambut hitam panjang terikat ke belakang dan bandana warna putih yang melingkar di lehernya, nampak mengangguk angguk mengikuti alunan musik cadas yang mengalun dari radio tape yang terpasang di dashboard mobil tua itu.

Sesekali gadis itu bersenandung pelan mengikuti alunan suara dari vokalis band rock favoritnya. Wajahnya yang berbinar jelas menampakkan keceriaan. Hari ini hari terakhir dari ujian tengah semester yang harus dijalaninya. Dan ia sangat yakin, ia akan mendapatkan nilai yang cukup memuaskan.

Namun bukan itu yang membuat si gadis terlihat sangat bersemangat. Tapi rasa rindu terhadap keluarganya di desa yang telah sekian lama ia pendam, sebentar lagi akan segera tertuntaskan. Selepas ujian akan ada libur panjang, yang berarti ia bisa pulang dan berkumpul kembali dengan kedua orang tua serta adik semata wayangnya di desa.

Mobil itu terus melaju pelan, membiarkan kendaraan kendaraan lain mendahuluinya. Tak perlu terburu buru, pikir gadis itu. Toh hari masih sangat pagi. Jarak dari tempat kostnya ke kampus memang tak terlalu jauh, dan ujian baru akan dimulai sekitar satu jam lagi.

"Asem!" tiba tiba gadis itu merutuk, saat musik kesukaan yang ia dengar belum sampai tuntas tiba tiba dipotong dengan siaran berita pagi. Sebelah tangan gadis itu lalu bergerak untuk mengganti saluran gelombang radio. Namun niatnya itu segera ia urungkan, begitu telinganya mendengar si pembawa berita mewartakan sebuah kabar yang membuatnya tersentak kaget.

"Para pendengar yang budiman, sejenak kita ikuti berita pagi bersama saya Bambang Hermawan. Berita penting! Sebuah musibah telah melanda kota kecamatan S di kabupaten W beberapa hari belakangan ini. Wabah yang belum diketahui secara pasti apa penyebabnya itu dengan cepat menyebar hingga hampir ke seluruh wilayah di kecamatan S. Menurut beberapa narasumber yang berhasil kami wawancarai, wabah ini berawal dari sebuah desa yang bernama Kedhung Jati. Dan karena wabah ini dianggap sangat berbahaya, maka pihak yang berwajib terpaksa menutup kota ini sampai waktu yang belum ditentukan. Belum diketahui secara pasti tentang adanya korban, namun..."

"As*!" bagai tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, gadis itu tersentak, lalu menginjak pedal gas dalam dalam, hingga jeep tua yang awalnya berjalan pelan itu melesat cepat menerabas ramainya arus lalu lintas.

Sumpah serapah dan suara klakson dari pengendara lain sudah tak dihiraukan oleh gadis itu. Ia terus saja memacu mobilnya bagai orang kesetanan. Wajahnya yang semula cerah ceria berubah menjadi penuh ketegangan. Sebelah tangannya dengan lincah mengendalikan stir sambil sesekali mengoper gigi persnelling, sementara tangan yang satunya lagi dengan cepat menyambar ponsel yang tergeletak diatas dasboard dan menghubungi beberapa nomor yang sialnya tak satupun yang bisa dihubungi.

"Wedhus!" kembali gadis itu mengumpat, seolah menyahuti suara mbak mbak operator yang mengatakan bahwa nomor yang ia hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Hingga akhirnya, nomor terakhir yang dia hubungi bisa tersambung juga.

"Neng ngendi Mbul?" (dimana Mbul?) tanpa basa basi lagi gadis itu langsung berseru keras saat di seberang si pemilik nomor menerima panggilannya.

"Isih neng kost-an," (masih di kost-an) jawaban bernada malas terdengar dari seberang. Sepertinya si pemilik nomor baru saja terbangun dari tidurnya.

"Metuo! Enteni aku neng ngarep kost-anmu! Saiki!" (keluar! Tunggu aku di depan kost-anmu! Sekarang!)

"Lho, enek opo to? Kok tumben tumbenan..." (lho, ada apa to? Kok tumben tumbenan...)

"Ra sah nyoc*t! Metu wae! Cepet! Nganti telat tak antemi kowe!" (nggak usah banyak nanya! Keluar saja! Awas kalau sampai enggak! Kuhajar kamu!)

""Iyo iyo, iki lagi..." (iya iya, ini lagi...)

Tanpa menunggu si penerima telepon melanjutkan ucapannya, gadis itu lalu memutuskan sambungan. Matanya lalu sibuk mencari tempat memutar balik, karena tempat kost yang ingin ditujunya itu memang berada di trmpat yang berlawanan dengan arah laju mobilnya. Dan begitu ia mendapatkan tempat untuk memutar balik, tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan gadis itu membanting stir hingga jeep tua itu bermanuver tajam. Sebelah rodanya sampai sedikit terangakat. Moncong jeep itu juga nyaris menyambar gerobak tukang bubur yang sedang melintas di pinggir jalan.

"Wedhus! Kirik wedok tenan!" si pemilik gerobak mengumpat keras sambil mengacungkan tinjunya.

"Cuangkemmu!" tak kalah keras gadis itu membalas umpatan si tukang bubur sambil mengacungkan jari tengahnya keluar jendela.

Mobil itu terus melaju, membelah jalanan yang semakin ramai. Hingga saat tiba di sebuah persimpangan kembali bermanuver ke arah kiri, memasuki jalanan kampung yang tak seberapa lebar, lalu berhenti mendadak di hadapan seorang pemuda yang tengah berdiri di depan sebuah rumah kost.

"Mlebu!" (masuk!) sentak gadis itu sambil membuka pintu depan bagian kiri mobilnya.

"Sik to, enteni sedhelok, tak salin sik! Mosok mung nganggo kolor karo kaos ngene!" (sebentar to, tunggu sebentar, tak ganti baju dulu. Masa cuma pake kolor sama kaos begini.) si pemuda yang menyadari ada gelagat yang tak baik dari sorot mata si gadis, mulai bisa meraba apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Mlebu! Opo perlu tak seret?!" (masuk! Apa perlu kuseret?!)

"Iyo iyo," (iya iya) tanpa banyak cakap lagi si pemuda segera naik dan duduk disebelah sang gadis.

"As* kowe yo Mbul!" (anj*ng kamu ya Mbul!") dengan kasar tangan kiri si gadis merenggut kerah t-shirt yang dikebakan oleh pemuda itu, sementara kakinya kembali menginjak pedal gas.

"Sik to, ada apa ini? Kok pagi pagi begini kamu sudah kayak orang kebakaran jenggot gitu?" Lintang, si pemuda itu terlihat begitu tenang menghadapi keberingasan sikap si gadis.

"Jangan bilang kalau kamu ndak tau apa yang tengah terjadi di desa!" dengus Wulan, si gadis pengemudi jeep itu kasar.

"Jadi kamu juga sudah tau ya?"

"Kirik tenan kowe Mbul! apa maksudmu menyembunyikan semua ini dariku hah?!" Wulan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah t-shirt Lintang, lalu dengan cepat mengoper gigi dan menambah kecepatan.

"Lha kan kita sedang menghadapi ujian Lan. Lagipula sudah ada Bu Ratih dan Pak Modin di desa. Aku yakin mereka berdua mampu mengatasi masalah ini!"

"Bodoh!" kembali gadis itu mendengus. "Kalau mereka bisa mengatasi, masalah ini tak akan menyebar kemana mana. Barusan kudengar berita di radio, musibah ini sudah menyebar sampai satu kecamatan. Kau benar benar bodoh Mbul! Awas saja! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan keluargaku, aku tak akan mengampunimu!"

Lintang terdiam. Pemuda itu menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran jok. Sudah sejak lama ia mendapat firasat buruk, tapi ia tak menyangka kalau kejadiannya akan separah ini. Ia memang tak tau pasti, apa yang sebenarnya telah terjadi di desa. Tapi dari ucapan Wulan barusan, ia bisa menduga, musibah apa yang sedang melanda desa mereka.

Lintang lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana kolornya, mencoba menghubungi nomor emaknya di desa. Namun ternyata tak tersambung.

"Percuma Mbul! Komunikasi ke desa sepertinya juga terputus total! Entah apa sebenarnya yang telah terjadi! Aku cuma berharap, semoga kedatangan kita belum terlambat!"

Lintang kembali diam, sementara Wulan terus memacu jeep tuanya, melesat ke arah timur, membelah jalanan yang semakin ramai oleh hiruk pikuknya lalu lintas. Beruntung, Wulan adalah seorang pengemudi yang handal. Semenjak usia belasan tahun ia sudah diajari mengemudi oleh ayahnya. Hingga jarak dari kota Atlas ke Kedhung Jati yang biasanya memakan waktu tiga jam lebih itu bisa mereka tempuh hanya dalam waktu satu setengah jam saja.

Sampai di perbatasan kota kecamatan S, Wulan mengurangi laju kendaraannya. Dari kejauhan ia sudah melihat beberapa petugas kepolisian yang memblokade pintu masuk ke kota itu.

"Mohon maaf mbak, untuk sementara arus lalu lintas ke kota S ditutup, silahkan putar balik," seorang petugas polisi menghampiri mobil Wulan.

"Ini darurat Pak, tolong ijinkan kami lewat. Kami warga Kedhung Jati, dan ..."

"Sekali lagi maaf Mbak, jalan untuk sementara kami tutup. Jadi silahkan putar balik dan kembali di lain waktu." ujar petugas polisi itu lagi.

"Pak, ini..."

"Silahkan putar balik Mbak!"

"Wedhus!" habis sudah kesabaran Wulan. Gadis itu lalu kembali menginjak pedal gas dan kopling secara bersamaan, hingga suara mesin mobil itu menderu deru, menarik perhatian beberapa petugas yang sedang berjaga.

"Hei, ada apa ini?" seru salah seorang petugas.

"Ini komandan, ada orang yang mau nekat masuk ke kota S!" jawab petugas yang barusan berbicara dengan Wulan.

"Cepat buka portalnya! Atau aku akan nekat menerobosnya!" Wulan berteriak sambil mengeluarkan kepalanya dari kaca jendela samping.

"Hei! Tunggu! Jangan nekat!" beberapa petugas berusaha menghalangi jeep tua itu. Wulan sengaja menghentak hentakkan laju mobilnya, berusaha menggertak para petugas itu.

"Edan! Jangan nekat Lan! Kau mau menabrak petugas polisi heh?!" Lintang mulai cemas dengan ulah sahabatnya itu.

"Hmmm, sepertinya mereka perlu diberi sedikit pelajaran Mbul," Wulan lalu mematikan mesin mobilnya, membuka pintu dengan kasar, lalu keluar dan melangkah dengan bergegas menghampiri para petugas yang berusaha menghadangnya itu.

"Untuk terakhir kalinya, kuminta kalian untuk membuka portal ini, atau ..."

"Atau apa? Kamu anak kemarin sore mau mengancam kami hah?! Kami sedang bertugas disini, jadi mohon pengertiannya. Kalau kamu masih nekat juga, maka kami juga tak akan segan segan untuk mengambil tindakan tegas!"

"Oh, begitu ya? Coba saja kalau kalian bisa!" Wulan lalu bergegas menuju ke arah portal yang dipasang melintang di tengah jalan itu dan berusaha untuk membukanya.

"Benar benar nekat! Tahan gadis itu!" seorang petugas berseru. Petugas yang lain lalu berusaha mencegah tindakan nekat Wulan dengan menarik bahunya. Tindakan yang akhirnya berakibat sangat fatal, karena dalam waktu hanya sepersekian detik saja, nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, tubuh si petugas itu telah terbanting dan terkapar di hadapan Wulan.

"Jangan coba coba menyentuhku dengan tangan kotormu!" dengus Wulan.

"Klik!" sebuah suara terdengar dari arah belakang Wulan, disusul dengan sebuah benda dingin yang menempel di tengkuk gadis itu.

"Jangan bergerak! Kamu sudah sangat keterlaluan dengan menyerang petugas kami! Jadi jangan salahkan kami kalau kami juga bertindak tegas!"

Wulan dengan cepat berbalik, hingga moncong pistol yang awalnya menodong tengkuknya itu kini tepat berada di depan wajahnya. Gadis itu menatap sinis ke arah si petugas pemegang pistol, dan tanpa disangka sangka, Wulan menyambar tangan si petugas dan menempelkan ujung laras pistol itu di dahinya.

"Tembak!" sentak gadis itu keras. "Ayo tembak! Tapi kalau aku tak mati, kalian semua yang akan mati!"

Gemetar tangan si petugas pemegang pistol. Ketegangan jelas terasa, menghantui para petugas lain yang seolah dikomando segera meraba senjata yang terselip di pinggang mereka masing masing.

Lintang yang menyaksikan kejadian itu dari dalam mobil hanya bisa menggeleng gelengkan kepala. Tingkah konyol sahabatnya itu, sepertinya hanya akan menambah masalah saja. Pelan pelan pemuda itu lalu membuka pintu mobil, turun, lalu meliuk liukkan pinggangnya sebentar untuk mengurangi rasa pegal di punggungnya.

"Merepotkan saja," sungut pemuda itu pelan. "Kalau aku ndak turun tangan, ndak akan selesai ini masalahnya."

Lintang kembali menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat kuat, sebelum akhirnya berteriak lantang. "Bapak bapak petugas yang terhormat, kita semua punya urusan masing masing ya, jadi tolong, biarkan kami lewat dan menyelesaikan urusan kami, dan bapak bapak semua juga bisa kembali meneruskan tugas yang sedang bapak bapak semua emban!"

Getaran suara Lintang menelusup ke semua indera pendengaran para petugas itu, disertai dengan sebentuk hawa dingin yang menelusup sampai ke relung hati mereka. Dan, bagai kerbau yang dicocok hidungnya, para petugas itu segera menuruti apa yang telah dikatakan oleh Lintang barusan. Si petugas yang sedang menodongkan senjatanya ke arah Wulan mundur pelan pelan, lalu mengunci dan menyarungkan kembali senjatanya. Sementara beberapa petugas yang lain bergegas membuka portal yang melintang menghalangi jalan.

"Gampang kan? Gitu aja kok pake ngotot," Lintang mengerling ke arah Wulan, lalu berbalik dan kembali masuk kedalam mobil. Wulan yang nampak masih kesal mau tak mau ikut menyusul, lalu kembali menjalankan mobilnya melintasi portal yang kini telah terbuka lebar, meninggalkan para petugas yang masih terbengong memandingi kepergian mereka. Hingga saat jeep hitam itu menghilang di tikungan jalan, barulah para petugas itu tersadar.

"Hei, apa yang terjadi? Kenapa portalnya terbuka? Dan kenapa mobil jeep itu bisa lewat?"

Mau tak mau Wulan tertawa geli menyadari keisengan Lintang barusan. "Bisa bisanya kamu mengerjai para petugas itu Mbul."

"Itulah! Ndak semua masalah itu harus diselesaikan dengan kekerasan Lan. Kadang akal lebih diperlukan untuk menyelesaikan masalah," sahut Lintang santai, sambil bersandar pada sandaran tempat duduk.

Jeep hitam itu terus melaju, menyusuri jalanan kota S yang sunyi sepi. Tak ada satupun kendaraan yang melintas. Tak nampak seorangpun yang terlihat beraktivitas di sepanjang jalan yang mereka lalui. Kota ini benar benar telah berubah menjadi seperti kota mati.

"Gila! Apa yang sebenarnya telah terjadi Mbul? Kenapa kota ini menjadi seperti kota mati begini? Kemana semua orang?" Wulan mengedarkan pandangannya le segala penjuru, sambil terus melajukan kendaraannya melintas di depan pasar kota kecamatan.

"Benar benar gila! Bahkan di pasarpun sama sekali tak ada orang. Padahal hari masih pagi. Dan, barang barang yang berserakan di depan pasar itu..."

"Sudahlah, fokus saja menyetir, agar kita segera sampai di desa. Nanti juga kita akan segera tau apa yang sebenarnya telah terjadi." lagi lagi Lintang berujar santai.

"Kamu tuh menyebalkan Mbul! Sebenarnya kamu sudah tau kan apa yang terjadi? Kenapa kau tak memberitahuku Mbul?"

"Kau pikir aku paranormal yang bisa mengetahui segalanya Lan?"

"Ya siapa tau aja. Selama ini kan..., eh, apa apaan ini?" Wulan menghentikan laju kendaraannya saat mereka memasuki gerbang desa Kedhung Jati. Mata gadis itu nanar menatap keadaan desa yang benar benar telah porak poranda. Beberapa pohon besar tumbang menghalangi jalan. Jelas mereka tak akan bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan.

"Hmmm, sepertinya mulai dari sini kita harus berjalan kaki Lan," Lintang turun dari kendaraan, diikuti oleh Wulan. Keduanya lalu berjalan pelan menyusuri jalanan yang juga sunyi senyap itu.

"Perasaanku semakin tak enak Mbul," desis Wulan.

"Jaga emosimu Lan, apapun yang terjadi, tetaplah tenang. Ingat, emosi tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah." Lintang yang juga merasakan perasaan yang sama yang juga dirasakan oleh Wulan, mulai merasa was was. Pemuda yang memiliki insting tajam itu sedikit banyak mulai bisa meraba, masalah apa yang sedang menunggu mereka di desa.

Keduanya terus melangkah, semakin jauh memasuki desa. Angin mulai berhembus kencang, seolah menyambut kedatangan keduanya. Sebuah sambutan yang kurang ramah, karena Lintang mulai merasa beberapa makhluk tak kasat mata tengah memperhatikan mereka. Tanpa sepengetahuan Wulan, Lintang sedikit menekan energi didalam tubuhnya untuk menetralisir aura jahat yang sedang mengincar mereka itu.

"Ini benar benar diluar dugaanku," batin Lintang sambil terus memperhatikan suasana di sekelilingnya. "Makhluk makhluk ini, aura mereka terasa begitu kuat! Pantas saja kalau Bu Ratih dan Pak Modin belum bisa mengatasinya. Mudah mudahan saja...."

"Mbul, kamu dengar itu?" suara Wulan membuyarkan lamunan Lintang. Pemuda itu segera memasang telinganya baik baik. Benar saja, sayup sayup dari pertengahan desa terdengar suara ledakan ledakan kecil. Samar samar juga terlihat kilatan kilatan cahaya aneh di kejauhan sana. Jelas, ini adalah sebuah pertarungan.

"Mbul, itu...., astaga! Bu Ratih Mbul! Aku yakin..., sial! Ini tak bisa dibiarkan!" secepat kilat Wulan melesat ke arah asal suara itu. Sekilas Lintang melihat kilatan aneh di mata sang gadis yang kini telah menghilang dari pandangannya itu. Kilatan yang menjadi pertanda bahwa hal buruk akan segera terjadi.

"Ah, lagi lagi, sudah dibilangin kalau..., dasar keras kepala!" Lintang mendengus kesal, lalu mau tak mau pemuda itu ikut melesat menyusul si gadis keras kepala itu menuju ke pertengahan desa.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
1980decade dan 63 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
Fertamax ga nih gan?😎
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin pertamax dong, setelah TS tapiemoticon-Leh Uga
profile picture
@indrag057 rapopo gan, yg fenting di kalangan pemburu pertamax dan premium, ane kali ini masyuk gan emoticon-Malu (S)
profile picture
@indrag057 kapan lagi apdet ini gan emoticon-Malu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin mungkin besok lagi gan, malam nanti kalau sempet update trit sebelah
profile picture
@indrag057 trit sebelah ente ini yg turunannya tegal salahan 2 itu ye gan? lupa lupa inget ane emoticon-Hammer
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin hu-um gan, yang ceritanya Mas Drag ama Slamet Penceng
profile picture
@indrag057 Oalah, yg ada mas slametnya.. inget ane dah gan. ntar tak esplor lagi trit tua ente emoticon-Traveller
profile picture
iorme
kaskus holic
wah jagoannya dateng akhirnya, mantab
profile picture
mantap nihemoticon-Cendol Gan
profile picture
Suwun ya bang drag...untuk update anya
profile picture
Pendekar pun datang... selamat berjuang wulan...
profile picture
Ratakaaaaannn...
profile picture
iqiekantata
kaskus holic
Waaaaaaahhhh
Diangkat jadi filem bagus ini, tapi penggarapannya harus sama yg sudah profesional, jngn sampe kaya filem² in**s**r emoticon-Cendol Gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ayambucin hu-um gan, masih ongoing tuh, belom tamat tamat juga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iorme melar ya gan, sampai part 23 baru nongol jagoannya
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@unyien makasih ganemoticon-terimakasih
profile picture
@indrag057 wah, jadi kek Hitler aje ente gan bikin 2 trit yg sama2 on going emoticon-Genit
profile picture
iorme
kaskus holic
@indrag057 gak apa2 gan, kan nanti tamatnya part 100 emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nur403 sami sami ganemoticon-Salaman
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 56 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di