CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 153 lainnya memberi reputasi

Part 21 : Tewasnya Pak Dul Modin

Malam merambat menuju pagi. Suasana semakin hening dan sunyi. Angin seolah enggan berhembus, hingga bayangan dedaunan yang menghitampun seolah enggan untuk bergerak. Diam. Bagai bayangan tangan raksasa yang siap mencengkeram mangsa. Bias cahaya rembulan meredup, enggan menerangi bumi yang tengah berduka. Burung Beluk, jangkrik, belalang, dan binatang binatang malampun seolah enggan untuk bersenandung, seolah angkara murka yang sedang melanda desa ini, membuat binatang binatang itupun menghilang entah kemana.

Hanya suara ledakan ledakan yang terus terdengar dari arah desa, diiringi jerit kematian yang menggema Cumiakkan telinga. Namun suara suara itupun seolah tak mempengaruhi keempat orang yang tengah duduk di dekat batu besar berpermukaan datar itu.

Mas Joko, Mbak Romlah, Pak Slamet, dan Mas Toni, mereka juga diam terpaku, larut dalam kecemasan yang melanda perasaan masing masing. Pak Slamet resah, memikirkan keselamatan Ratri dan juga sang istri yang tengah berjuang seorang diri di desa. Mas Joko dan Mbak Romlah gelisah, menunggu hasil dari usaha Pak Dul Modin dan Ramadhan yang sedang berjibaku untuk menyelamatkan putra bungsu mereka. Dan Mas Toni, laki laki itupun tak kalah gundah, memikirkan kambing kambing ternaknya yang mungkin saja sudah menjadi korban dari huru hara yang tengah terjadi di desa. Kambing kambing yang sedianya hendak ia jadikan modal untuk menikah itu, entah bagaimana nasibnya sekarang. Lalu siapa yang memikirkan nasib Pak Dul Modin dan Ramadhan? Entahlah!

"Sampai kapan kita akan terus menunggu Mas?" bisik Mas Toni memecah keheningan.

"Entahlah! Mungkin sampai Pak Dul Modin dan Ramadhan kembali," desah Mas Joko, juga dengan berbisik.

"Andai Wulan disini Mas, mungkin pageblug ini tak akan separah ini."

Serempak Mas Joko dan Mbak Romlah menoleh dan menatap tajam ke arah Mas Toni, membuat laki laki itu sadar bahwa ia telah salah berucap.

"Sampeyan punya rokok Mas?" buru buru Mas Toni mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun kalimat yang ia pilih sepertinya juga salah, karena mata Mas Joko justru semakin mendelik lebar ke arahnya.

"Eh, ini lho, banyak nyamuk. Kalau sambil merokok kan lumayan, asapnya bisa buat mengusir nyamuk," ujar Mas Toni lagi sekenanya.

Meski sedikit kesal, toh akhirnya Mas Joko mengeluarkan juga sebungkus rokok dari dalam sakunya. Asap tipis seketika mengepul saat lintingan tembakau itu mereka nyalakan. Bahkan Pak Slamet yang selama ini dikenal sangat anti dengan rokok itu ikut ikutan menyulutkan batang bernikotin itu.

"Tadi sudah beberapa kali aku mencoba menghubungi Wulan. Tapi tak pernah nyambung. Ndak ada sinyal sama sekali," gumam Mas Joko, entah ditujukan kepada siapa.

"Memang, semenjak pageblug ini terjadi, sinyalpun seolah olah ikut menghilang. Sepertinya kita benar dikurung oleh makhluk makhluk itu, tanpa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar." Pak Slamet yang semenjak tadi diam ikut bicara.

"Ya. Kita jadi seperti ayam aduan sekarang. Dikurung ditengah arena agar saling membunuh satu sama lain," Mas Joko menghembuskan asap rokoknya kuat kuat.

"Apa salah dan dosa kita, sampai harus mengalami nasib yang seperti ini?" Mbak Romlahpun ikut bicara.

"Entahlah Mbak, yang jelas...., eh, tunggu, kalian merasa nggak?" Pak Slamet tak melanjutkan ucapannya.

"Ada apa Pak?" Mas Toni yang paling penakut diantara mereka terlihat sedikit panik mendengar pertanyaan Pak Slamet barusan.

"Ini seperti...., gempa!" jawab Pak Slamet.

"Eh, iya. Tanah yang kita pijak bergoyang"

"Astaga! Pertanda apa ini?"

Keempat orang itu saling pandang, saat sama sama merasakan bumi yang mereka pijak bergoyang. Semakin lama semakin terasa, hingga keempatnya mulai panik dan mencoba berpegangan pada apapun yang bisa mereka pegang.

"Gawat! Ini..."

"Dhuaaarrrr...!!!"

Ledakan keras terdengar, disusul dengan guncangan yang semakin keras, membuat keempat orang itu sedikit limbung. Dan sesuatu yang burukpun kembali terjadi. Tubuh Pak Dul Modin dan Ramadhan yang masih duduk bersila diatas batu besar itu tiba tiba terpental dan terlempar jauh ke arah yang berlawanan.

"Whuuuussss...!!!!"

"Gussrraaakkkk...!!!"

"Gedhabrruussshhhh...!!!"

"Keceprroooottttt...!!!"

Tubuh Pak Dul Modin terlempar dan jatuh diantara rumpun semak semak, hampir sepuluh meter jaraknya dari batu besar yang tadi didudukinya. Sedang Ramadhan, nasibnya lebih sial lagi. Pemuda itu terlempar ke tengah tengah sawah hingga hampir sekujur tubuhnya terbenam kedalam lumpur.

"Arrrgghhhhh....!!!"

"Huadhuuuuhhhh....!!!"

Keempat orang yang menjaga batu itu terkesiap. Bukan karena tubuh Pak Dul Modin dan Ramadhan yang terpental, tapi keempatnya justru terpaku pada dua tubuh mungil bersimbah darah yang tergeletak diatas batu besar itu.

"Ratriiiii...!!!"

"Ndaruuuu...!!!"

Pak Slamet dan Mas Joko serta Mbak Romlah segera memburu dan memeluk kedua tubuh mungil itu. Dan seolah baru tersadar dari mimpi buruk, kedua bocah itu hanya terbengong bengong, tak mengerti dengan semua yang telah terjadi.

"Bapaaakkkk...!!! Dimana ini? Kok gelap gulita begini?" jerit Ratri yang disusul dengan suara tangisannya.

"Emaakkk....!!! Bapaaakkk...!!! Kenapa badan Ndaru basah dan lengket begini? Mana bau amis lagi?! Kita dimana Maaakkk...?!"

"Sudah sudah! Kalian ndak papa! Tenang! Jangan ribut! Jangan berisik! Ayo kita...."

"Woooyyyy...!!! Ndak ada yang punya cita cita buat nolongin aku apa?" teriakan Ramadhan dari tengah tengah sawah menyadarkan keempat orang itu.

"Mas Joko, tolong lihat keadaan Wak Dul. Aku dan Toni akan menolong Ramadhan. Mbak Romlah tolong tetap disini ya, jaga anak anak ini," Pak Slamet membagi tugas.

Mas Joko segera bergegas menuju ke semak semak dimana tempat Pak Dul Modin tadi terlempar, sedang Pak Slamet dan Mas Toni dengan susah payah membantu Ramadhan keluar dari benaman lumpur ditengah sawah.

"Wedhus! Sampai njedhindhil begini aku!" gerutu Ramadhan. "Eh, gimana nasib Wak Dul Mas? Dan anak anak..."

"Sudah, itu lagi diurus sama Mas Joko dan Mbak Romlah," jawab Pak Slamet. "Sekarang lebih baik bersihkan dulu tubuhmu di kali itu, biar kita bisa cepat kembali ke desa. Ratri dan Ndaru juga selamat kok."

Ramadhanpun segera menceburkan sekujur tubuhnya pada aliran air kali yang berada tak jauh dari tempat itu, untuk membersihkan lumpur yang melekat di hampir sekujur tubuhnya. Lalu tak lama kemudian ketiganya kembali naik menuju ke batu besar berpermukaan datar itu.

Nampak Mbak Romlah masih sibuk menenangkan Ratri yang masih menangis histeris. Sementara Ndaru, anak laki laki itu sepertinya mewarisi sifat sang kakak. Ia begitu tenang dalam suasana yang kacau seperti ini. Bahkan sesekali anak itu membantu sang emak untuk menenangkan Ratri.

"Dimana Mas Joko?" tanya Mas Toni.

"Itu, masih disana," Ramadhan menunjuk ke arah semak semak.

"Lho, kok malah duduk mengelesot begitu? Bukannya membawa Wak Dul kesini?"

"Jangan jangan...?"

Firasat buruk menyergap ketiga laki laki itu. Ketiganya lalu setengah berlari menghampiri Mas Joko yang bampak terduduk lemas diatas hamparan rerumputan.

"Mas Joko, apa yang..."

"Pak Dul Modin....," suara Mas Joko tersendat. "Beliau..., sudah ndak ada!"

"Innalillahi...!!!"

"Uwaaaaaakkkkkk....!!!" jeritan Ramadhan menggema ditengah keheningan malam yang mencekam itu.

****

Jasad tak bernyawa itu mereka baringkan diatas batu. Jasad yang telah dingin dengan beberapa bagian tubuh yang membiru lebam, serta darah kental yang masih mengalir dari sudut bibir serta kedua lubang hidung dan telinganya. Anehnya, ada senyum yang tersungging di bibir jasad itu, seolah kematian yang menjemputnya bukanlah sesuatu yang menyakitkan.

Kesedihan jelas terpancar dari keempat orang yang mengelilingi jasad itu. Bahkan Ramadhan menangis histeris seperti anak kecil, mengalahkan suara tangis tangis Ratri yang sudah mulai mereda.

Pak Slamet beberapa kali menghela nafas panjang, mencoba menenangkan perasaannya yang terguncang. Demikian juga dengan Mas Joko dan Mbak Romlah. Sementara Mas Toni sengaja membawa Ratri dan Ndaru agak menjauh dari mayat Pak Dul Modin.

"Ini semua salahku! Aku benar benar anak tak berguna! Andai saja...., andai saja tadi tak kubiarkan Uwak bertarung sendirian, ini semua tak akan terjadi! Aku..., aku...., Uwaaaaakkkkk....!!! Bangun Wak! Jangan tinggalkan Ramadhan! Apa kata Mbak Ratih nanti kalau tau aku tak bisa menjaga Uwak?! Bisa bisa dia akan membunuhku kalau tau aku...."

"Rom! Sudah! Jangan seperti anak kecil begitu! Ini semua bukan salahmu, tapi salah kita semua. Kita semua merasa kehilangan Rom. Kita semua sedih dan berduka! Tapi, masih banyak hal yang harus segera kita selesaikan! Sekarang, lebih baik kita bawa jasad Uwak ke desa. Soal bagaimana reaksi Ratih nanti, biar kita tanggung bersama," Pak Slamet mencoba membujuk sang adik ipar yang masih histeris itu.

Bukan perkara mudah, karena Ramadhan selama ini memang dikenal paling dekat dengan Pak Dul Modin. Bisa dibilang, setelah sang ayah meninggal beberapa tahun yang lalu, Pak Dul Modinlah yang menjadi ayah kedua bagi Ramadhan. Dan sekarang, Ramadhan harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Bisa dibayangkan, seperti apa hancurnya hati Ramadhan saat ini.

Hingga sampai beberapa waktu kemudian, barulah Ramadhan bisa ditenangkan. Pemuda itu pelan pelan bangkit dan mengusap air matanya. Direngkuhnya tubuh sang Uwak yang telah dingin itu, lalu dinaikkannya ke punggungnya. Tanpa memperdulikan yang lainnya, pemuda itu lalu pelan pelan berjalan menuju ke arah desa sambil menggendong jasad sang Uwak. Samar samar, Pak Slamet masih bisa mendengar sang adik ipar itu bergumam lirih.

"Jangan khawatir Wak, akan kubalaskan kematian Uwak ini! Iblis iblis terkutuk itu, mereka akan merasakan kematian yang lebih menyakitkan lagi! Aku berjanji Wak, mereka, iblis iblis terkutuk yang telah membunuh Uwak, akan kuhabisi mereka dengan tanganku sendiri!"

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 63 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
yunie617
kaskus maniac
Innalilahi...semoga khusnul khotimah, meninggalnya dg senyum..
Romadhan2.. gimana mau balas dendam.. apa ga sama aja bunuh diri klo ngelawan iblis2 itu...
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617
Amiiinnn...!!!

Namanya juga lgi esmosi sist, ngomongnya sekate kate aja tuh Ramadhan
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 iyaa sih.. orang klo kebawa emosi ngomong kadang ga dipikir dulu.. udahnya ntar nyesel dibelakang
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 yang pasti nantinya Ramadhan bakal beraksi lagi, meski aksinya ga begitu banyak membantu
profile picture
prabuuya
aktivis kaskus
Turut berduka cita atas meninggalnya Wak Dul Modin...
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prabuuya makasih ganemoticon-terimakasih
Semoga beliau husnul khatimah
profile picture
prabuuya
aktivis kaskus
@indrag057 aamiin gan...
Monggo gan ngopi riyen...
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prabuuya siap, monggo dilanjut gan, ane juga udah abis dua cangkir nih
profile picture
prabuuya
aktivis kaskus
@indrag057 mantabzzzz....
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 Asal jangan malah merepotkan kakaknya saja atau malah setor nyawa..
profile picture
heiji000
kaskus addict
Semoga wak dul husnul khotimah...
Aaamiiinnn...

Fyi...

profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@heiji000 amiiinnn...!!!

Weh, jadi ane salah tulis dong, ane edit lagi dah. Maklum gan, ga gitu ngerti bahasa arab tapi sok sokan pake bahasa arabemoticon-Malu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 biasanya sih....., malah bikin repotemoticon-Ngakak
profile picture
Yah ilang satu tokohnyaemoticon-Turut Berduka
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@Rainbow555 hu-um sist, tokoh legend lagi, dari Tegal Salahan 1, akhirnya harus pensiun dimari
profile picture
pulaukapok
kaskus geek

"Jangan khawatir Wak, akan kubalaskan kematian Uwak ini! Iblis iblis terkutuk itu, mereka akan merasakan kematian yang lebih menyakitkan lagi! Aku berjanji Wak, mereka, iblis iblis terkutuk yang telah membunuh Uwak, akan kuhabisi mereka dengan tanganku sendiri!



Gaske le.... Ubek ubek ampe lesot.
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@pulaukapok wakaka, kek sayur diubek ubek
profile picture
Innalillahi. Mugia ditampi iman islamna.. Aminn..
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@shamdani996 amiiinnn...!!! Semoga aja gan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 35 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di