CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
1980decade dan 127 lainnya memberi reputasi

Part 20 : Pertarungan Di Alam Gaib

Jantung Ramadhan berdetak dua kali lebih cepat, seiring dengan kedua kakinya yang melangkah gemetar mengikuti langkah sang Uwak yang berjalan di depannya.

Ini bukan pertamakalinya ia diajak oleh sang Uwak untuk berkelana ke alam lelembut. Namun kali ini sensasinya terasa berbeda. Kalau sebelumnya ia ikut sang Uwak ke alam ini hanya untuk sekedar latihan dan sama sekali tak pernah bersinggungan dengan para penghuni alam ini, namun kali ini tujuan mereka justru hendak mengusik makhluk makhluk yang bersemayam di tempat ini. Bukan tak mungkin kalau perang besar akan terjadi. Mereka hanya berdua, dan Ramadhan belum tau pasti apa dan seberapa banyak makhluk makhluk alam gaib yang akan mereka temui.

"Kamu takut Ramadhan?" bisik Pak Dul Modin, seolah tau apa yang sedang dipikirkan oleh sang keponakan itu.

"Siapapun pasti takut kalau menghadapi situasi yang seperti ini Wak," jawab Ramadhan, juga sambil berbisik.

"Hehehe, Uwak suka dengan kejujuranmu!" Pak Dul Modin terkekeh. "Tapi jangan khawatir, selama masih ada Uwak, kamu akan baik baik saja."

"Seharusnya tadi kita mengajak Mbak Ratih Wak. Jujur, perasaanku benar benar tidak enak. Kita cuma berdua, dan ..."

"Kakakmu punya tugas sendiri Rom! Para warga di desa sana sangat membutuhkan Ratih. Lagipula, kita tak cukup punya banyak waktu. Coba kaulihat ke arah sana," Pak Dul Modin menunjuk ke arah cahaya temaram yang berpendar di kejauhan. Seperti nyala api unggun yang dikelilingi oleh puluhan (atau ratusan?) makhluk makhluk aneh berjubah hitam dengan tudung yang menutupi hampir seluruh kepala mereka. Ada tongkat panjang dengan ujung melengkung mirip sabit besar yang tergenggam di tangan makhluk makhluk itu. Samar samar terdengar gumaman gumaman aneh seperti sebuah nyanyian yang keluar dari mulut makhluk makhluk itu.

"Astaga! Sebanyak itu Wak?" Ramadhan bergidik ngeri. Belum pernah ia melihat makhluk gaib sampai sebanyak itu. Dan satu makhluk gaib saja sudah cukup membuat bulu kuduknya merinding, apalagi ini jumlahnya sangat banyak.

"Ya. Dan itu belum semuanya. Sepertinya hanya para pembesar yang ada disini, selebihnya sedang sibuk mengacau di desa." jelas Pak Dul Modin.

"Dhedemit sebanyak itu, apa yang sedang mereka lakukan? Dan dimana Ndaru dan Ratri?"

"Lihat baik baik ke arah batu besar ditengah kerumunan itu! Mereka sedang mengadakan ritual persembahan!"

"Astaga! Itu..." Ramadhan tak melanjutkan ucapannya. Matanya membeliak lebar saat menyaksikan dua tubuh mungil terbaring diam diatas sebuah batu besar berpermukaan rata. Mirip sebuah altar. Sesosok makhluk berjubah hitam menaburkan sesuatu mengelilingi tubuh kedua bocah itu. Sementara sosok lain nampak menyiramkan cairan kental berwarna merah gelap ke sekujur tubuh Ndaru dan Ratri.

"Wak, apakah mereka..."

"Tenang! Uwak yakin Ndaru dan Ratri masih hidup. Cuma mereka tak sadar karena berada dalam pengaruh makhluk makhluk itu."

"Apa yang dilakukan oleh makhluk makhluk itu terhadap Ndaru dan Ratri Wak?"

"Seperti yang Uwak bilang tadi, keduanya akan dijadikan korban persembahan untuk membangkitkan nenek moyang makhluk makhluk itu. Beruntung kita belum terlambat Rom! Sekarang kita bagi tugas Rom. Uwak akan mencoba mengalihkan perhatian makhluk makhluk itu. Sementara mereka Uwak bikin sibuk, gunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk membawa kabur Ndaru dan Ratri."

"Gila! Uwak mau melawan makhluk sebanyak itu sendirian? Tidak Wak! Aku tak akan..."

"Jangan membantah! Waktu kita tidak banyak! Kau lihat makhluk yang membawa sabit raksasa disana itu? Sebentar lagi sabit itu akan mencacah cacah tubuh Ndaru dan Ratri kalau kita tidak segera bertindak!"

"Tapi Wak...."

"Rom! Jangan sepelekan Uwakmu ini! Meski sudah tua, tapi menghadapi makhluk makhluk seperti mereka bukan hal yang sulit buat Uwak! Jadi fokus saja pada tugasmu!"

"Bohong! Uwak berbohong kan? Sejak kapan Uwak bisa berkata sombong dan meremehkan lawan seperti itu? Uwak hanya ..."

"Rom! Dengar baik baik! Ada banyak nyawa yang terancam malam ini. Ada banyak nyawa yang harus kita selamatkan. Dan akan banyak nyawa yang hilang sia sia kalau sampai kita terlambat. Jadi, cepat, lakukan tugasmu! Ingat! Begitu kau berhasil mendapatkan Ndaru dan Ratri, cepat bawa keluar dari alam ini, jangan cemaskan Uwak! Uwakmu ini bukan anak kecil yang patut untuk kau cemaskan!"

"Wak..."

"Hiaaatttt...!!!"

Tanpa menggubris protes dari Ramadhan, Pak Dul Modin segera berteriak dan melompat ke arah kerumunan makhluk makhluk berjubah hitam itu. Dengan gesitnya orang tua itu berloncatan kesana kemari, mengobrak abrik kerumunan yang mengitari batu besar tempat persembahan itu. Beberapa makhluk berjubah hitam bahkan langsung terkapar dan hancur lebur menjadi debu saat terkena serangan Pak Dul Modin.

"Waakkkk...!!! As*! Wong tuwek ra nggenah! sama saja setor nyawa kalau begini caranya!" Ramadhan mengumpat sejadi jadinya melihat kenekatan sang Uwak itu. Terbersit niat di hatinya untuk membantu sang Uwak. Tapi ia sadar, bantuannya tak akan banyak merubah keadaan. Makhluk makhluk itu terlalu banyak. Dan benar apa yang tadi dikatakan oleh sang Uwak. Kalau sampai mereka gagal mendapatkan kembali Ndaru dan Ratri, maka tidak saja nyawa mereka yang akan melayang, tapi juga nyawa semua warga desa akan hilang sia sia.

"Arrggghhh...!!! EDAN!" Kesal karena tak punya pilihan, Ramadhan hanya bisa pasrah, sambil berharap agar sang Uwak mampu meloloskan diri dari keroyokan makhluk makhluk itu dan kembali dengan selamat, anak itu mengendap endap mendekati batu besar tempat persembahan yang masih dijaga oleh salah satu sosok berjubah hitam yang membawa tongkat panjang berujung melengkung mirip sebuah sabit raksasa itu.

Ramadhan masih terus mengendap endap mendekat, sementara suasana di tengah pertarungan semakin seru. Sosok sang Uwak sudah tak terlihat lagi ditengah keroyokan makhluk makhluk berjubah hitam yang menjadi lawannya. Beberapa kali terdengar ledakan ledakan yang disusul dengan jerit kematian. Bau busuk bercampur sangit menguar kemana mana, membuat Ramadhan beberapa kali harus menahan nafas untuk mengusir rasa mual yang menusuk perutnya.

Semakin dekat ke arah batu besar tempat persembahan, jantung Ramadhan semakin berdebar hebat. Sosok berjubah hitam itu seolah tak terpengaruh oleh suasana pertempuran disekitarnya. Ia tetap berdiri mematung menjaga tubuh Ndaru dan Ratri yang masih tergolek diam diatas batu. Hingga saat terdengar suara serak melengking dari arena pertempuran, sosok berjubah hitam itu baru pelan pelan bergerak. Kedua tangannya mengangkat tinggi tinggi tongkat berujung melengkung tajam itu, dan siap menghunjamkannya ke tubuh kedua bocah yang tergolek tak berdaya itu.

Bias sinar rembulan memantul pada bilah sabit raksasa itu, berkilat kilat seolah hendak menunjukkan betapa tajamnya senjata pembunuh yang dipegang oleh makhluk itu. Dan sekejap kemudian, diiringi dengan suara gumaman gumaman aneh yang keluar dari mulut makhluk berjubah hitam itu, bilah sabit itupun berayun mengarah tepat ke leher Ndaru dan Ratri.

"Buwadj*ng*n!!!" Ramadhan yang sadar bahwa sudah waktunya ia bertindak, segera berteriak lantang sambil melompat dan menerjang ke arah sosok berjubah hitam itu dari arah samping, membuat sosok itu terjungkal ke arah kiri.

"Grrrrrrrhhhh...!!!" makhluk itu menggeram marah sambil melompat berdiri. Ramadhan tak mau membuang buang waktu. Ia sadar makhluk itu bukan lawan yang sepadan dengannya. Kalau ia nekat melawan, sudah dipastikan kalau ia akan kalah. Maka tanpa pikir panjang lagi, Ramadhan kembali menerjang makhluk itu sebelum berbalik menyerangnya.

"Grrrroooaakkkk...!!!" makhluk itu kembali menggeram marah. Tapi Ramadhan tak peduli. Secepat kilat ia melompat keatas batu besar tempat persembahan, menyambar tubuh Ndaru dan Ratri, lalu melesat ke arah darimana mereka tadi datang.

"Waaaakkkk....!!! Berhasil...!!!! Cepat tinggalkan tempat ini!" teriakan Ramadhan menggema, membuat makhluk makhluk yang tengah sibuk mengeroyok Pak Dul Modin itu menoleh ke arahnya.

"Bodoh! Kenapa malah teriak teriak begitu! Itu sama saja kau mengundang makhluk makhluk ini untuk mengejarmu!" gerutu Pak Dul Modin kesal, saat melihat makhluk makhluk yang semula mengeroyoknya itu kini mengabaikannya dan berbalik untuk mengejar Ramadhan.

"Sial! Tak ada pilihan lain!" dengus Pak Dul Modin lagi. "Hei! Makhluk makhluk jelek! Mau kemana kalian? Permainan kita belum selesai!" Pak Dul Modin melipat kedua tangannya di depan dada dengan mulut terpejam dan mulut berkomat kamit. Samar cahaya kuning kemerahan berpendar dari kedua telapak tangannya. Cahaya itu lalu menyebar menyelimuti sekujur tubuh laki laki tua itu.

Samar nampak bibir laki laki tua itu tersenyum. Ia tak yakin bisa selamat. Tapi Ramadhan harus berhasil membawa keluar Ndaru dan Ratri. Maka, apapun akan ia lakukan untuk mencegah makhluk makhluk itu mengejar Ramadhan.

"Hiaaaaatttt....!!!!" diiringi teriakan keras, tubuh Pak Dul Modin melesat kedepan. Sangat cepat, hingga yang nampak hanyalah sekelebatan bayangan kuning kemerahan yang menerjang kerumunan makhluk makhluk yang sedang berusaha mengejar Ramadhan itu, lalu....

"BLUUAAAARRRR....!!!"

Ledakan keras terdengar, menimbulkan guncangan dahsyat di seantero tempat itu. Makhluk makhluk yang sedang berusaha mengejar Ramadhan itupun terpental tercerai berai kesegala arah, diiringi dengan jerit kematian mereka yang menggema kesegala penjuru. Ramadhan sendiri tak luput dari efek serangan Pak Dul Modin itu. Tubuhnya terpental jauh. Sedang Pak Dul Modin sendiri, entah bagaimana nasib laki laki tua itu.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 55 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@onotpas5094 monggo ganemoticon-Monggo
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Gasssske
profile picture
iqiekantata
kaskus holic
Ngirit emoticon-Frown
profile picture
Issh.. ini sudah mengeluarkan jurus sakti... Yaaah ko bersambung si gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
Udah kedip kedip semalem layar ponselnya, takut keburu mati, jadi langsung ane cut dah
profile picture
bonita71
kaskus addict
Aduhhh pie to wak ponakan e koq malah di tabrak emoticon-Hammer2
Mawut kabeh to putu ne nyang ndi njuran emoticon-Bingung
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 bubar mawut wes pokok'e
profile picture
bonita71
kaskus addict
@indrag057 emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Yang penting jangan bubarkan cerita ini kalo belum tamat .....
PAMALI emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 haha, itu pasti lah, pokoknya nanti ada kata tamat yang ane bold pake tinta merah dibagian akhir
profile picture
djeanadorabel
kaskus addict
misuh ke uwak sendiri "Wong tuwek ra nggenah! " di alam lain adalah sebuah sensasi tersendiri emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@djeanadorabel haha, bukan bermaksud untuk kurang ajar sih sebenarnya, mungkin karena sangking khawatirnya ama keselamatan sang uwak gan
profile picture
nayanta
aktivis kaskus
Wah wong tuwo dipisuhi 🤣
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nayanta ga sengaja gan, keceplosan aja tu Ramadhan
profile picture
wulan ...lintang ,. kapan kah kau datang emoticon-No Hope
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 15 dari 15 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di