CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prabuuya dan 129 lainnya memberi reputasi

Part 19 : Menyelamatkan Tumbal

"RATRIIII...!!! KEMBALIKAN RATRI ANAKKUUU...!!!" suara jeritan melengking terdengar, mengiringi sekelebatan bayangan kuning keemasan yang melesat keluar dari rumah di pertengahan desa itu.

"Dorrr...!!! Dorrr...!!! Dorrr...!!!" suara tembakan terdengar beberapa kali dari arah rumah Pak Dul Modin, menghentikan sosok yang tengah melesat ke arah selatan itu. Samar masih terlihat wajah Bu Ratih yang kini terlihat bengis dan menyeramkan itu tersenyum sinis diantara cahaya kuning keemasan yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

"Hmmm...! Disana kalian rupanya! Bagus! Jangan lari kalau kalian memang bukan pengecut! Malam ini akan kuhabisi kalian semua!" Bu Ratih yang semakin terbakar oleh rasa amarah lalu melesat ke arah barat, tempat dimana rumah Pak Dul Modin berada, dan melupakan niatnya semula yang hendak menuju ke Tegal Salahan yang berada di selatan desa.

Perempuan itu tak sadar, bahwa ia sebenarnya telah termakan oleh pancingan makhluk makhluk jahat yang tengah mengacau di rumah Pak Dul Modin. Karena sesungguhnya, di Tegal Salahanlah sebenarnya akar dari semua permasalahan yang terjadi di desa itu.

Apa yang sebenarnya terjadi di rumah Pak Dul Modin sampai Pak Bambang dan anak buahnya harus melepaskan tembakan secara beruntun? Dan bagaimana nasib Pak Bambang dan para warga yang sedang dijaganya? Kita tahan dulu ceritanya gaess, karena sekarang kita akan mengikuti terlebih dahulu perjalanan Pak Dul Modin bersama Mas Toni yang sedang mencari Ndaru di Tegal Salahan.

****

Seperti diceritakan sebelumnya, bahwa di waktu yang bersamaan Pak Dul Modin dan Mas Toni sedang berusaha mencari Ndaru yang tiba tiba menghilang dari kamarnya. Kedua laki laki itu berjalan tersaruk saruk ditengah kegelapan, menyusuri jalanan menurun yang mengarah ke arah buk yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu.

"Sial! Kenapa kita sampai lupa meminjam senter tadi kepada Mas Joko," gerutu Mas Toni yang berjalan dibelakang Pak Dul Modin.

"Ndak usah ngomel! Bawa senterpun sepertinya ndak akan berguna, karena...."

"Eh, sebentar Pak," Mas Toni dengan setengah berbisik memotong ucapan Pak Dul Modin.

"Ada apa?" tanya Pak Dul Modin sambil ikut menghentikan langkahnya.

"Sepertinya ada yang mengikuti kita Pak," ujar Mas Toni sambil berbalik. Benar saja, dari arah belakang mereka nampak cahaya senter yang menari nari mendekat ke arah mereka.

"Ah, dasar ndableg! Sudah dibilang jangan keluar, kenapa malah mengikuti kami?" seru Pak Dul Modin yang sepertinya telah mengetahui siapa si pembawa senter yang mengikuti mereka itu.

"Maaf Pak, Ndaru anak kami, tak mungkin kami diam saja sementara Ndaru entah dimana sekarang sedang terancam bahaya," jelas itu suara Mas Joko.

"Huh! Merepotkan saja!" dengus Pak Dul Modin. "Tapi, ya sudahlah! Tak ada waktu untuk berdebat, tapi kuharap kalian berhati hati, karena...."

"Pak...," lagi lagi Mas Toni memotong ucapan Pak Dul Modin.

"Apa lagi?!"

"Itu, sepertinya juga ada yang datang dari arah desa," Mas Toni menunjuk ke arah utara, dimana nampak dua sosok bayangan melangkah bergegas ke arah mereka.

"Lho, mereka kan...,Slamet dan Ramadhan?! Ngapain mereka malah kemari?"

"Ah, syukurlah, kita bertemu disini Wak," Pak Slamet yang juga melihat kehadiran Pak Dul Modin cs segera berseru dengan nada cemas.

"Ngapain kalian kesini? Dan kenapa sampai babak belur begitu? Jangan bilang kalau..."

"Gawat Wak! Makhluk makhluk itu..., mereka membawa Ratri!"

"Sial!" Pak Dul Modin menggeram marah. "Makhluk makhluk itu, jadi ini yang sebenarnya mereka rencanakan. Kenapa aku sampai tak berpikir kesana!"

"Eh, apa maksudnya Wak?" hampir serempak mereka semua menatap ke arah Pak Dul Modin.

"Tak ada waktu untuk menjelaskan," tukas Pak Dul Modin, masih dengan nada kesal. Ratri sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri. Dan ia sangat menyayangi anak itu. Jadi wajar kalau laki laki tua itu terlihat sangat gusar. "Bagaimana dengan Ratih? Apa dia tau kalau makhluk makhluk itu telah membawa anaknya?"

"Tidak Wak, aku sengaja tak memberitahunya, takut kalau..."

"Baguslah," Pak Dul Modin menukas ucapan Pak Slamet. "Sekarang, aku tau kemana makhluk makhluk itu membawa Ratri dan Ndaru. Ayo, kita selamatkan mereka sebelum terlambat."

Pak Dul Modin melangkah bergegas, diikuti oleh yang lainnya. Sampai di pertengahan jalan tanjakan dan turunan itu, Pak Dul Modin membelokkan langkahnya ke arah timur, menyusuri tanggul kali kecil itu, menuju ke arah batu besar berpermukaan datar yang biasa disebut Watu Jaran oleh warga setempat.

"Disni kalian rupanya!" desis Pak Dul Modin sambil menghentikan langkahnya. Rombongan yang mengikutinya mau tak mau juga ikut berhenti. Sejenak mereka saling pandang, karena tak mendapati apapun disekitar batu besar itu. Tak ada Ratri. Tak ada Ndaru. Dan tak ada makhluk makhluk menyeramkan seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.

"Kita..."

"Dorrrr...!!! Dorrrr...!!! Dorrrr...!!!"

Baru saja Pak Dul Modin hendak bicara, dari arah desa terdengar suara tembakan berkali kali. Pak Dul Modin terdiam sesaat. Laki laki tua itu merasakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi di desa.

"Ratih," tanpa sadar laki laki tua itu mendesis.

"Apa yang terjadi di desa?" Mbak Romlah yng sejak tadi diam bertanya.

"Aku ndak tau pasti Mbak! Tapi yang aku tau tadi, banyak mayat hidup berkeliaran. Merekalah yang tadi menyerang kami dan membawa lari Ratri," jawab Ramadhan.

"Ma...yat hidup?!"

"Sudah! Jangan pikirkan apa yang terjadi di desa. Masih ada Ratih disana. Mudah mudahan dia bisa mengatasi semuanya. Sekarang, ada hal yang lebih penting yang harus segera kita lakukan." tegas Pak Dul Modin.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang Pak?" tanya Mas Toni.

"Apalagi?! Tentu saja menyelamatkan Ndaru dan Ratri. Makhluk makhluk itu, ternyata mereka sengaja mengalihkan perhatian kita dengan kerusuhan yang mereka buat, agar bisa menculik Ratri dan Ndaru untuk mereka jadikan tumbal!"

"Tumbal?!" hampir serempak mereka berseru.

"Ya. Aku baru sadar. Makhluk makhluk sialan itu, mereka akan menjadikan Ndaru dan Ratri, dua bocah yang masih suci dan memiliki garis keturunan dari lereng Lawu untuk mereka jadikan tumbal dan persembahan agar bisa membangkitkan nenek moyang mereka."

"Astaga! Jadi..."

"Ramadhan!"

"Iya Wak!"

"Kau masih sanggup untuk bertarung?"

"Tentu saja Wak!"

"Bagus! Kalau begitu kamu ikut aku. Yang lain, tolong jaga raga kami, selama kami berdua bermeditasi, jangan biarkan apapun atau siapapun mendekati raga kami."

"Baik Pak!"

Pak Dul Modin dan Ramadhan segera naik keatas batu besar berpermukaan rata itu, lalu keduanya duduk berhadapan dengan posisi bersila dan kedua tangan terentang kedepan dan telapak tangan saling menyatu. Mata keduanya terpejam rapat. Mulut mereka berkomat kamit seperti sedang membaca doa atau merapal mantera.

Tak lama, angin berkesiur lembut menerpa kedua laki laki yang sedang bermeditasi itu. Tak ada gerakan, tak ada suara, bahkan tak terlihat lagi hembusan nafas dari keduanya, seolah kedua laki laki uwak dan keponakan itu telah berubah menjadi patung batu.

"Apa yang mereka lakukan?" bisik Mas Toni.

"Mereka pergi ke alam gaib," desis Pak Slamet.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namakuve dan 58 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
brigadexiii
kaskus holic
Berkomat kamit, brojo mendhek cahyo manembah dudu wong" dudu macan, jalmo moro jalmo mati setan moro setan mati siirrr .... Gobang gosir sir gobang gosir 😁
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@brigadexiii wah, mantera warisan Mbah Kendhil nihemoticon-Leh Uga
profile picture
Nak ngenteni nganti lumuten kwkwkw...aq mas indrag057
profile picture
haduuh.... mulai rameeeeee
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nur403 haha, emang rada lambat ini updatnya gan, ga bisa tiap hari
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prawoko11 hu-um gan, usah mulai ada keributan
profile picture
biar dapet nopitikasi klo ad update d treat ini gmna gan @indrag057
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@onotpas5094 biasanya subscribe threadnya gan. Cuma kadang biar udah subscribe kalau banyak yang komen suka ketutup juga notifnya
profile picture
@indrag057 @onotpas5094 rajin buka aja gan, judul nya di inget2.. trus tiap pagi di search... kekekekek ga akan ketinggalan deh ... soal nya ane kaya gtu
profile picture
bonita71
kaskus addict
@brigadexiii ane suka yg sirr gobang gosir sir emoticon-Ngakakemoticon-Leh Uga
Peace ya gan emoticon-Nyepi
profile picture
iqiekantata
kaskus holic
Hadeeeeeuuhh udah pengen cepet tamat ane gan huhuhu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 @brigadexiii jadi inget film Kabayanemoticon-Smilie
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iqiekantata baru setengah perjalanan ini gan, masih ada beberapa tokoh penting lagi yang belum muncul
profile picture
brigadexiii
kaskus holic
@bonita71 aselinya mang pake siirr klo pake cara 'onoh' 🤭 plesetin aja k kabayan yg aselinya cir gobang gocir 🤣🤣
profile picture
brigadexiii
kaskus holic
@indrag057 iya gan, kelebihan orang lugu ,jujur kaya gitu tuh ada aja jalan 😁
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Gasssske
profile picture
1980decade
kaskus maniac
Joko & Slamet si lemah emoticon-No Hope
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 17 dari 17 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di