CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
1980decade dan 127 lainnya memberi reputasi

Part 18 : Pak Slamet Dan Ramadhan

"Astaghfirullah!" Ramadhan sampai terlonjak dari duduknya saat melihat beberapa mayat hidup yang sudah berkeliaran di teras. Bahkan beberapa diantara mereka mulai menggebrak gebrak kaca jendela, berusaha untuk menerobos masuk kedalam rumah.

"Cepat masuk ke kamar Ratri! Lindungi dia dan jangan biarkan makhluk makhluk itu sampai menyentuhnya!" tegas Pak Slamet sambil menyambar tongkat baseball yang tersandar di sudut ruangan.

"Baik Mas!" tak kalah tegas Ramadhan segera menghambur kedalam kamar Ratri. Namun baru beberapa saat anak itu kembali keluar.

"Rom! Apa yang...!"

"Sayang Mas, tinggal dikit lagi!" tukas Ramadhan sambil menyambar cangkir kopinya dan menenggak isinya sampai tandas, lalu kembali berlari masuk ke dalam kamar.

"Cah edan!" Pak Slamet mendengus melihat tingkah konyol adik iparnya itu. Tapi ia tak punya waktu banyak untuk mengomel. Mayat mayat hidup di luar itu semakin beringas menggebrak gebrak kaca jendela. Tak lama lagi mereka pasti akan berhasil menerobos masuk.

"Baiklah!" Pak Slamet menggenggam erat tongkat baseball di tangannya. Laki laki itu sepertinya sudah benar benar siap untuk berperang kini. "Berani kalian masuk ke rumah ini, itu berarti kalian sudah siap mati untuk keduakalinya!"

"Braakkk...!!! Braakkk...!!! Praaannggg...!!!"

Suara kaca jendela yang pecah yang disusul oleh derap langkah para mayat hidup yang merangsek masuk, terdengar bagai genderang perang yang mulai ditabuh. Pak Slamet tak mau ketinggalan start. Dengan berteriak lantang laki laki itu merangsek maju sambil mengayunkan tongkat baseballnya sekuat tenaga.

"IT'S TIME TO WAAARRRR...!!!"

"WHUUUSSS...!!!"

"BHUAAAGGHHH...!!!"

Sosok mayat hidup yang berada di barisan paling depan menjadi korban pertama tongkat Pak Slamet, yang dengan telak menghajar kepalanya hingga terlepas dan menggelinding di lantai.

"Hahaha...! Hanya segini kemampuan kalian hah?! Ayo, maju! Maju kalian semua! Biar kuhabisi satu persatu!" bagai orang kesurupan Pak Slamet mengayun ayunkan tongkatnya dengan membabi buta, menghajar apa saja yang berada di dekatnya. Bukan hanya para mayat hidup yang menjadi lawannya, tapi juga perabotan yang berada di ruang tamu itu kini telah hancur berkeping keping.

Entah sudah berapa banyak mayat hidup yang telah berhasil ditumbangkan oleh Pak Slamet. Laki laki itu tak sempat menghitungnya. Yang jelas, lantai ruang tamu itu kini telah dipenuhi oleh potongan potongan tubuh membusuk, yang baunya membuat kepala Pak Slamet menjadi pusing bukan kepalang. Meski begitu, gerombolan makhluk makhluk menjijikkan itu seolah tiada habisnya. Setiap ada yang tumbang, pasti ada sosok lain yang seolah datang untuk menggantikan mereka.

"Sial! Kalau begini caranya, lama lama aku bisa mati kecapekan!" gerutu Pak Slamet sambil mundur beberapa tindak untuk sekedar mengatur nafasnya yang sudah nyaris putus di tenggorokan. Sementara makhluk makhluk itu terus merangsek maju, mengepung Pak Slamet yang kini terpojok di sudut ruangan, seolah tak ingin memberi waktu kepada laki laki itu untuk sedikit memulihkan tenaganya.

Mau tak mau laki laki itu kembali harus mengerahkan sisa sisa tenaganya untuk melawan makhluk makhluk itu. Pertarungan mulai terlihat tak seimbang. Makhluk makhluk itu, meski gerakannya lamban namun akhirnya bisa juga mendaratkan serangan serangan mereka ke tubuh Pak Slamet.

"Arrrgghhhh...!!!" Pak Slamet mengerang keras, sambil terus berusaha untuk bertahan. Namun sekuat apapun ia melawan, sepertinya akan sia sia. Makhluk itu semakin banyak, sedang tenaga Pak Slamet mulai terkuras habis. Jelas, ia menjadi bulan bulanan kini. Mahluk makhluk itu dengan ganasnya memukul, menendang, mencakar, dan menginjak injak tubuh Pak Slamet yang sudah tak berdaya.

"Ramadhan! Kita tak mungkin menang! Cepat, bawa Ratri menyusul ibunya! Aku akan mencoba menahan makhluk makhluk terkutuk ini!" dengan sisa sisa tenaganya, Pak Slamet berteriak lantang. Ya, kalaupun ia harus mati malam ini, tak apa, asal Ratri bisa selamat. Dan Ramadhanlah satu satunya orang yang bisa ia harapkan saat ini.

"Ramadhaaannn...!!! Jawab aku kalau kau masih hidup! Jangan....! Jangan diam saja! Kau..., arrgghhhh...!!! Sial! Ramadhaannn...!!!" setengah putus asa Pak Slamet mencoba merangkak menuju ke kamar Ratri, sementara makhluk makhluk itu masih terus saja mengejarnya.

"Biadab! Aku tak akan memaafkanmu kalau sampai...."

"Krrooaaakkkk...!!!" alih alih mendengar jawaban dari Ramadhan, Pak Slamet justru mendengar suara aneh yang terdengar dari arah kamar putrinya. Suara serak dan berat mirip seperti kakek kakek yang sedang bersendawa.

"Sial! Jangan sampai...."

"Krooaaakkkk...!!!" kembali suara itu terdengar, namun tak sekeras suara yang pertama tadi, seolah apapun yang bersuara itu, kini mulai menjauh dari kamar Ratri.

"Tidak...!!! Jangan...!!!" Pak Slamet mencoba berdiri dan melangkah terhuyung, tanpa ada lagi makhluk makhluk menjijikkan yang menghalanginya. Seolah dikomando, begitu mendengar suara aneh itu, makhluk makhluk menjijikkan itu sontak berhamburan keluar dan meninggalkan Pak Slamet yang sudah babak belur itu.

"Ramadhan...!!! Ratri...!!!" dengan langkah terhuyung huyung Pak Slamet mencoba mencapai pintu kamar sang anak yang tinggal beberapa langkah lagi itu.

Namun begitu ia sampai diambang pintu kamar, langkahnya terhenti tiba tiba. Matanya nanar memperhatikan kondisi kamar yang tak kalah berantakan dengan kondisi di ruang tamu, dengan tubuh Ramadhan yang tergeletak bersimbah darah diatas lantai, serta ranjang sang anak yang kini telah kosong.

"Ratriii...!!!" Pak Slamet merintih.

"Mereka..., mem...bawa...nya Mas! Me...reka, mem...,bawa... Ratri...!!!"

"Bruukkk...!!!" Pak Slamet jatuh terduduk di ambang pintu kamar itu. Seluruh persendian tubuhnya serasa lunglai, tak ada tenaga lagi untuk menopang tubuh tuanya. Apa yang diucapkan oleh Ramadhan dengan terbata bata barusan, terdengar bagai sambaran petir yang menyambar tepat di telinganya.

"Mas...," Ramadhan beringsut, berusaha mendekat ke arah kakak iparnya itu. "Maafkan aku Mas, aku sudah berusaha, tapi...."

"Tidak Ramadhan!" desis Pak Slamet tajam. "Ini semua belum berakhir! Selama nyawaku ini belum lepas dari ragaku, tak akan kubiarkan siapapun menyakiti anakku! Tidak juga dengan makhluk terkutuk itu! Sekuat apapun mereka, sehebat apapun mereka, kalau berani mencolek Ratri, maka aku tak akan segan segan untuk mengadu jiwa dengan mereka. Sekarang katakan Rom, katakan! Kemana makhluk itu membawa anakku!"

"Ke arah selatan Mas, sepertinya..."

"Hmmm..., seperti itu ya," Pak Slamet kembali berdiri dengan bersusah payah, dengan kedua tangan berpegangan pada kusen pintu. "Sudah kuduga, pasti kisah lama akan terulang lagi."

"Apa maksudmu Mas?"

"Kau masih bisa bangkit Rom?"

"Ya."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Ayo kita kejar makhluk yang sudah berani kurang ajar membawa kabur keponakanmu itu!"

"Apa tidak sebaiknya kita beritahu Mbak Ratih dulu Mas?"

"Bodoh! Kau tau apa yang akan terjadi kalau sampai kakamu tau apa yang terjadi dengan Ratri?"

"Tapi, aku tak yakin kita bisa..."

"Tenang saja! Kudengar sore tadi Wak Dul ke rumah Mas Joko. Mudah mudahan kita masih sempat bertemu dengan beliau disana."

Ramadhan mulai mengerti dengan apa yang direncanakan oleh kakak iparnya itu. Mereka berduapun akhirnya bergegas meninggalkan rumah itu. Dengan langkah mengendap endap untuk menghidari pertemuan dengan mayat mayat hidup yang masih berkeliaran, keduanya menuju ke arah selatan, ke arah Tegal Salahan!

Sementara itu, tak lama setelah kepergian Pak Slamet dan Ramadhan, Bu guru Ratihpun tiba di rumah itu. Perasan tak enak mulai ia rasakan saat melihat kondisi rumah yang berantakan. Pintu dibiarkan terbuka lebar, kaca jendela yang pecah berantakan, potongan potongan tubuh membusuk yang memenuhi lantai ruang tamu, dan kamar Ratri....

"Gawat!!!" perempuan itu segera menghambur masuk kedalam kamar sang putri. Dan mata Bu Ratih terbeliak lebar saat mendapati kondisi kamar sang putri yang tak kalah berantakannya dengan kondisi di ruang tamu. Selintas pikiran buruk menyergap di hatinya. Sedikit banyak ia bisa menerka apa yang baru saja terjadi di rumah itu.

"Ratri anakku...!!!" Bu Ratih terhuyung mundur. Membayangkan apa yang telah terjadi dengan sang putri, membuat rasa pening yang teramat sangat mulai menyerang bagian belakang kepalanya.

"Arrgghhh...!!!" Bu Ratih jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa hendak meledak. Kesadaran perempuan itu perlahan mulai memudar. Kepalanya tertunduk, membuat sebagian rambut panjangnya menjuntai ke depan menutupi wajahnya.

Suasana menjadi hening sesaat. Hanya desah nafas perempuan itu yang terdengar memburu. Lalu sekejap kemudian, perempuan itu pelan pelan mengangkat wajahnya. Wajah yang sedikit berbeda dengan beberapa detik yang lalu.

Wajah cantik itu terkesan bengis kini. Nafsu membunuh jelas terpancar dari kedua matanya. Mata yang juga mulai berubah. Pupil mata yang biasanya hitam jernih itu pelan namun pasti berubah menjadi kekuningan. Senyum sinis pelan tersungging di bibir tipis itu.

"Hihihi...!!!" sambil tertawa lirih Bu Ratih bangkit berdiri. Samar samar cahaya tipis berwarna kuning keemasan berpendar dari tato rajah yang terukir di punggungnya, cahaya yang semakin berpendar itu pelan pelan melebar, menyelimuti tubuh guru perempuan itu. "Makhluk haram jadah mana yang telah berani mengusik keluargaku hah?! Kalian..., kalian semua, yang telah berani mengusik keluargaku! Kalian semua akan MATIIIIIIII....!!!"

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gundamzz dan 72 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
sirluciuzenze
aktivis kaskus
Jd kek resident evil feelnya gan hahaha..zombie"..
profile picture
bonita71
kaskus addict
Bu ratih keren emoticon-2 Jempol
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
@bonita71 keren p Slamet lah.... 😇😇😇
profile picture
iorme
kaskus holic
Wah ngamuk bu ratih, gas gas gas
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@sirluciuzenze zombie versi indo gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@pulaukapok @bonita71 ga ada yang bilang TS-nya keren yakemoticon-Ngakak
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iorme gass alon alon gan
profile picture
Iiih gemes neni aq...mas indrag057 karo kentang e...kwkwkw
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nur403 haha, masa gemesnya ama kentangnya sih
profile picture
@indrag057 beraaaat...
aku ketinggalan kereto..
profile picture
sirluciuzenze
aktivis kaskus
@indrag057 jdnya kek ada bumbu cerita luar negri gan.. Khas cerita indo nya yg lbih ke kesurupan jd bekurang.. Hahah
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@onotpas5094 belom jauh gan, masih bisa dikejar
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@sirluciuzenze tar abis ini ane banyakin adegan kesurupannya gan
profile picture
sirluciuzenze
aktivis kaskus
@indrag057 mantap gan.. Semua desa nih kesurupan bisa" lanjoot
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@sirluciuzenze rencana begitu gan, sedesa kesurupan dan saling bunuh, biar rameemoticon-Ngakak
profile picture
sirluciuzenze
aktivis kaskus
@indrag057 nah mantap gan... Klo dr awal udh pke kesurupan kga zombie"n jd lebih endonesah banget dh... emoticon-Ngakak
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@sirluciuzenze sebenarnya zombie tuh cuma buat pengalih perhatian gan, untuk memuluskan rencana para dhedemit yang sebenarnya
profile picture
sirluciuzenze
aktivis kaskus
@indrag057 mantap gan lanjut
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 24 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di