CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prabuuya dan 129 lainnya memberi reputasi

Part 15 : Rencana Perlawanan

Sepeninggal para warga, Pak Dul Modin termenung sendirian. Nampak beberapa kali laki laki tua itu menghela nafas panjang, mencoba mengurangi beban yang menghimpit didadanya. Tugas berat yang ia emban di usianya yang sudah uzur ini, ia tak yakin akan sanggup untuk menuntaskannya. Tapi meski begitu, demi desa, apapun akan ia lakukan, meski harus mempertaruhkan selembar nyawa yang dimilikinya.

Seulas senyum samar nampak merekah di bibir laki laki tua itu. Ia lalu bangkit dari duduknya, lalu dengan langkah sedikit tertataih, dibantu dengan tongkat kayu di tangannya, laki laki tua itu masuk kedalam sebuah kamar yang ada di rumahnya itu. Senthong tengah, ruangan khusus yang selama ini ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Cukup lama Pak Dul Modin berada didalam kamar itu. Hingga sore menjelang, barulah ia keluar, dengan raut wajah yang telah berubah menjadi cerah. Senyum di bibirnya semakin merekah lebar. Mata tuanya berbinar. Dan samar terdengar mulut laki laki tua itu berbisik, "jika perang yang kalian inginkan, maka akan kutunjukkan seperti apa perang yang sesungguhnya!"

****

Sore hari, beberapa punggawa desa kembali berkumpul di rumah Pak Dul Modin. Pak jagabaya, perangkat desa yang bertanggung jawab terhadap keamanan desa, Mas Yudi ketua pemuda desa, Bu Ratih, Ramadhan, dan bahkan Pak Bambang juga telah kembali dari kabupaten, dengan membawa beberapa petugas polisi tambahan dari kabupaten yang diperbantukan untuk menangani kasus di desa ini.

"Saya mendapat perintah untuk sementara menutup desa ini, juga desa desa lain yang terdampak masalah ini. Mungkin satu kecamatan akan kami isolasi untuk sementara. Warga dari desa desa yang terdampak, untuk sementara dilarang keluar dari desa. Demikian juga sebaliknya, warga dari desa lain untuk sementara dilarang masuk ke desa desa yang terdampak, agar bencana ini tak meluas ke desa desa yang lain. Setiap perbatasan akan dijaga ketat, saya juga membawa beberapa petugas tambahan dari kabupaten untuk membantu menangani masalah ini," lapor Pak Bambang.

"Usaha yang bagus Pak Komandan," ujar Pak Dul Modin, menanggapi laporan komandan polisi itu. "Kalau begitu, Jagabaya!"

"Iya Pak," Pak Jagabaya mendekat.

"Tolong umumkan kepada warga, juga warga desa tetangga, tentang keputusan yang dibuat oleh Pak Komandan barusan," perintah Pak Dul Modin tegas.

"Siap Pak. Akan segera saya laksanakan!" sahut Pak Jagabaya.

"Sebentar," Pak Bambang menyela, lalu memanggil salah seorang anak buahnya. "Tolong bantu Pak Jagabaya melaksanakan tugasnya, biar cepat selesai."

"Siap Pak!" petugas itu memberi hormat, lalu segera berlalu bersama Pak Jagabaya.

"Terimakasih atas bantuannya Pak Komandan, dan saya mohon, malam ini kita bisa bekerjasama untuk melakukan ronda besar besaran. Dugaan saya, malam ini akan ada serangan lagi. Jadi saya mohon semua tetap waspada. Apa yang harus dilakukan, nanti biar dijelaskan sama Yudi. Kamu sudah mempersiapkan semua pemuda desa kan Yud?"

"Sudah Pak, malam nanti, mereka semua sudah siap untuk beraksi," sahut Mas Yudi mantab.

"Bagus!" Pak Dul Modin lalu beralih ke arah Bu Ratih. "Ratih, aku punya tugas khusus untukmu."

"Iya Wak?" Bu Ratih menyahut.

"Lacak, cari, dan temukan jasad Ki Suryo dan Kang Mitro yang makamnya semalam dibongkar oleh Darmaji! Temukan secepatnya, karena aku yakin, kedua jasad dukun itu akan mereka jadikan pion penting dalam permainan ini!"

"Akan saya usahakan Wak!" ujar Bu Ratih.

"Dan satu lagi Tih, jika Wulan datang nanti, dan aku tak sempat bertemu dengannya, katakan pada anak itu untuk segera pergi ke lereng gunung Lawu."

"Lereng Lawu?"

"Ya. Aku yakin, iblis iblis yang sekarang menyerang desa ini, adalah iblis iblis yang menaruh dendam kepada kakeknya Wulan. Dan kakeknya Wulan itu, dulu sempat berguru ke lereng Lawu. Mungkin Wulan harus mengikuti jejak sang kakek, agar bisa menuntaskan masalah ini. Karena dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak itu sekarang, aku masih belum yakin itu cukup untuk memgalahlan para iblis itu." jelas Pak Dul Modin.

"Apakah itu tidak terlalu memakan waktu Wak? Mengingat...."

"Kerjakan saja apa yang aku perintahkan. Sisanya, biarkan takdir yang akan menentukan!" tegas Pak Dul Modin.

"Baiklah Wak, saya mengerti."

"Ramadhan!" Pak Dul Modin memanggil sang keponakan.

"Iya Wak!" Ramadhan mendekat.

"Bagaimana tugas yang kuberikan padamu tadi pagi?"

"Beres Wak! Semua sudah saya laksanakan." jawab Ramadhan.

"Bagus! Malam ini aku juga punya tugas khusus untukmu Rom!"

"Apa itu Wak?"

"Pergilah ke rumah kakakmu! Temani Slamet dan jaga baik baik cucu kesayanganku! Aku tak ingin makhluk makhluk terkutuk itu sampai menyentuh Ratri!"

"Baik Wak. Saya segera kesana sekarang!"

"Toni," suara Pak Dul Modin mengejutkan Mas Toni yang duduk terkantuk kantuk bersandar pada tembok.

"I..., iya Pak!" sahut Mas Toni tergagap.

"Antar aku kerumah Mas Joko."

"Baik Pak."

"Sekarang, semua boleh bubar. Persiapkan diri kalian! Malam ini kita akan sedikit sibuk!"

Wargapun bubar. Pulang ke rumah masing masing untuk mempersiapkan diri menhadapi apapun yang akan terjadi malam ini. Pak Modin sendiri, dengan diantar oleh Mas Toni dengan sepeda motor bututnya, segera meluncur ke Tegal Salahan, menuju ke pondok kayu di tengah ladang milik Mas Joko, diiringi suara sayup sayup adzan maghrib yang berkumandang dari kejauhan.

****

"Tidak Pak!" tegas jawaban Mbak Romlah, begitu Pak Dul Modin mengutarakan maksud kedatangannya ke pondok itu. "Saya tidak akan pernah mengijinkan Wulan dilibatkan dalam masalah ini!"

Pak Dul Modin yang sudah menduga akan mendapat jawaban seperti itu, hanya tersenyum.

"Lah, aku tau ini berat buatmu. Tapi semua ini demi kepentingan desa. Dan masalah ini, sepertinya cuma anakmu yang bisa menyelesaikannya," ujar Pak Dul Modin pelan.

"Saya tau Pak, tapi...., Wulan, sudah berapa kali ia nyaris kehilangan nyawa setiap menghadapi masalah masalah seperti ini. Saya..., saya sebagai ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya...., jujur Pak, saya takut. Saya sangat takut kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap Wulan. Lagipula, Wulan masih anak anak Pak! Tidak bisakan sampeyan atau Bu Ratih saja yang menyelesaikan masalah ini, tanpa harus melibatkan Wulan?!" ujar Mbak Romlah dengan suara gemetar.

"Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan Lah," kata Pak Dul Modin lagi. "Andai aku atau Ratih bisa mengatasi masalah ini, tentu malam ini aku tak akan datang kemari."

"Ah, kalau Pak Modin dan Bu Ratih saja merasa tak yakin bisa menyelesaikan, apalagi seorang anak seperti Wulan?"

"Romlah, kita semua tau siapa Wulan. Dan anakmu itu sekarang sudah bukan anak anak lagi," ujar Pak Dul Modin lagi. "Tapi aku juga tak akan memaksa. Biar bagaimanapun, kalian sebagai orang tuanya yang paling berhak untuk menetukan."

"Hufh!" Romlah menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu menatap ke arah Mas Joko, sang suami, yang juga tengah menatap ke arahnya. Laki laki itu sebenarnya tak terlalu keberatan dengan keinginan Pak Dul Modin. Ia tau desa memang sedang membutuhkan sang anak. Tapi Romlah, naluri keibuan perempuan itu sepertinya berkata lain.

"Lagipula, aku juga tak akan membiarkan Wulan menghadapi semua ini seorang diri. Aku hanya butuh sedikit bantuannya. Bantuan yang hanya bisa diberikan oleh anakmu." ujar Pak Dul Modin lagi.

"Beri saya waktu untuk...." ucapan Mbak Romlah tertahan saat terdengar rengekan Ndaru dari dalam kamar.

"Astaga!" Romlah segera berjingkat bangkit dari duduknya. "Aku lupa menutup jendela kamar. Sebentar ya Pak!"

Tanpa menunggu jawaban dari sang tamu, Mbak Romlah bergegas masuk kedalam kamar. Namun baru saja perempuan itu menginjakkan kaki di ambang pintu kamar, langkahnya terhenti. Wajahnya menegang dengan mata membeliak lebar, disusul dengan mulutnya yang segera menjerit lantang.

"Maaaassss...!!! Ndaru...!!! Setaaaannnn....!!!"

"Gubraaakkkk...!!!"

Jeritan Mbak Romlah yang disusul dengan suara berderak dari pintu yang dihempaskan dengan keras mengejutkan Mas Joko dan Pak Dul Modin.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
v3ah1307 dan 52 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
heiji000
kaskus addict
Mbak Romlah pengsan?
profile picture
Hadiiiir....
Terimakasih update an nya suhu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@heiji000 ga tau deh gan, pingsan apa ngamuk
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@batuguling sama sama gan, terimakasih juga telah hadir
profile picture
sirluciuzenze
aktivis kaskus
Sepeetinya dculik..
profile picture
Maaaas ...setan..gubrak eealllah setane kesandung kentang kwkwkw
profile picture
yunie617
kaskus maniac
nah klo udah kaya gini pasti Wulan ntar dijinkan turun membantu
profile picture
kkjavu
kaskus addict
@yunie617 pasti, secara ndaru adeknya ditahan atau diculik ama tuh setan
profile picture
Fulbahrian
kaskus holic
@yunie617 kita tunggu wulan dateng mba
Mumpung ppkm udah turun 🤣🤣
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Emmmmmm
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@sirluciuzenze tebakan yang jitu ganemoticon-Jempol
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nur403 wakaka, tengsin abis tuh setan kesandung kentang
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 hu-um sist, bisa merubah pendirian Mbak Romlah yak
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@kkjavu iya donk gan..
kaka mana yg mau lihat adiknya disakiti
demit.
@Fulbahrian iya klo gak d perpanjang lagi PPKM nya🤣🤣🤣
profile picture
Akan kah Mbak Romlah mengambil jalan ninja...
Atau Mbak Romlah digigit cicak hasil penelitian radioaktif sehingga berubah jadi Cicak Women...

Ah, kentang krispy ini membuat imajinasi ku offside
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@batuguling Mbak Romlah berubah jadi kang jualan kentangemoticon-Ngakak
profile picture
iorme
kaskus holic
Seru nih, kalau sampai ada apa2 sama anggota keluarga nya bisa ngamuk wulan.
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iorme hu-um gan, belom rau tuh para iblis kalau sudah mengusik macan tidur
profile picture
pancen pinter og tukang tulis gan @indrag057 ngolor-olor cerito. wis gemes iki wulan ora mulih-mulih...hmmm....
profile picture
@indrag057 Kentang geprek & kentang krispy rica-rica
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 28 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di