CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
prabuuya dan 129 lainnya memberi reputasi

Part 12 : Tewasnya Pak Bayan Mangun

Mbak Yuni meringkuk dengan tubuh gemetar di sudut kamar. Duduk memeluk lutut sambil membenamkan wajahnya dalam dalam di sela sela kedua pahanya. Sedikitpun ia tak berani untuk sekedar mengangkat wajah dan menatap sosok yang berdiri sangat dekat di hadapannya itu.

Sosok hantu Pak Jarwo. Hantu leher buntung yang meneteng kepalanya sendiri itu menyodorkan kepala yang ditentengnya tepat didepan wajahnya, sambil berkali kali menawarkan kepala busuk itu kepadanya.

"Yu, gelem ndhas ora?" (Yu, mau kepala nggak?) begitu ucapan yang keluar dari bibir berlumuran darah busuk itu berkali kali.

Mbak Yuni mengumpat dalam hati. Bisa bisanya Mas Danang, sang suami, kabur meninggalkannya sendirian bersama makhluk sialan ini. Benar benar laki laki pengecut! Dalam hati Mbak Yuni bersumpah, jika ia berhasil selamat dari hantu leher buntung ini, akan ia paksa Mas Danang keliling kampung sambil mengenakan daster warna pink.

"Yu, gelem ndhas ora?" kembali makhluk itu bersuara. Kali ini tidak hanya sekedar menyodorkan potongan kepala yang ditentengnya, tapi sudah mulai berani menempel nempelkan benda berbau busuk itu ke lengan tangannya, membuat Mbak Yuni semakin gemetar ketakutan.

"Emoh! Aku ra butuh ndhas bosok! Kono, minggato kono! Ojo meden medeni aku! Aku ra duwe urusan karo sampeyan!" (Nggak! Aku nggak butuk kepala busuk! Sana, pergi sana! Jangan nakut nakuti aku! Aku nggak punya urusan sama kamu!) Mbak Yuni memberanikan diri untuk menggertak, meski belum berani mengangkat wajahnya.

"Hehehe...!!! Ayu ayu kok galak! Bojomu nangdi Yu?" (Hehehe...!!! Cantik cantik kok galak! Suamimu kemana Yu?)

Sial! Hantu leher buntung itu semakin kurang ajar sepertinya, karena kini mulai berani menyentuh dan mencolek colek tubuh Mbak Yuni yang semakin mengigil ketakutan.

"Lunga! Minggato! Ojo kurang ajar sampeyan!" (Pergi! Pergi sana! Jangan kurang ajar sampeyan!)

"Haha, aku gelem lunga nek karo sampeyan Yu! Ayo, timbang sampeyan karo Danang sing jirih kae, mending karo aku wae Yu." (Haha, aku mau pergi kalau sama sampeyan Yu! Ayo, daripada sampeyan sama Danang yang penakut itu, mending sama aku saja Yu.)

"Ra sudi! Minggato! Nek ra gelem minggat,..." (Nggak sudi! Pergi! Kalau nggak mau pergi...)

"Bruaakkkk...!!!" belum selesai Mbak Yuni meratap, pintu kamar tiba tiba terdobrak dari luar, disusul dengan sekelebatan bayangan putih yang menerjang sosok hantu Pak Jarwo hingga sosok itu terpental menghantam dinding kamar. Sialnya, kepala yang ditenteng oleh sosok itu terlepas dan jatuh menggelinding tepat di dekat kaki Mbak Yuni, membuat perempuan itu menjerit sekencang kencangnya.

"KYAAAAAA....!!!"

"Keluarlah Yun, biar kuurus makhluk mesum ini!"

"Eh, Bu guru?!" lega hati Mbak Yuni mendengar suara perempuan itu. Pelan ia mengangkat wajahnya, lalu berdiri dan berjingkat menjauh dari potongan kepala yang busuk menjijikkan itu.

"Terimakasih Bu," ujar Mbak Yuni sambil melipir keluar kamar, lalu berlari sekencang kencangnya keluar rumah, mencari sang suami yang kini entah berada dimana.

Sementara sosok hantu Pak Jarwo itu kini meraba raba permukaan lantai, mencari kepalanya yang tadi terlepas dari genggamannya. Bu Ratih memungut kepala itu, lalu menyodorkannya pada sosok yang kebingungan itu.

"Nyari ini Pak?" ujar Bu Ratih.

Hantu Pak Jarwo mengangkat kedua tangannya, meraba raba kepala yang ditenteng oleh guru perempuan itu.

"Dhemit ra nggenah!" (Hantu ndak jelas!) Bu Ratih mendengus keras, lalu sebelah tangannya bergerak cepat menghantam makhluk di hadapannya itu, tepat di bagian ulu hatinya.

Pukulan yang dilambari dengan sedikit kekuatan batin itu rupanya sudah cukup untuk memusnahkan hantu yang merasuki jasad Pak Jarwo. Jasad tanpa kepala itupun jatuh tersungkur dan tak bergerak gerak lagi.

"Cih! Ternyata yang ini juga cuma amatiran!" Bu Ratih melemparkan kepala yang ditentengnya iru ke arah sosok yang kini tergeletak tak berdaya di depannya. "Kemana biang mereka? Auranya kurasakan semakin menjauh!"

Pelan Bu Ratih keluar, lalu memerintahkan beberapa warga untuk membereskan mayat Pak Jarwo dan membawanya kembali ke pemakaman, menyusul para peronda yang tadi sudah terlebih dahulu kesana dengan membawa mayat Lik Diman.

"Bu Guru! Gawat Bu Guru!" sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan Bu Ratih yang baru saja keluar dari rumah Mas Danang.

"Ada apa? Bukankah tadi saya minta kalian untuk membawa mayat Lik Diman ke kuburan?" tanya Bu Ratih saat mengenali si pengendara motor itu adalah salah satu peronda yang tadi ia temui di Tegal Salahan.

"Saya sudah kesana tadi Bu! Tapi di kuburan....., ah, pokoknya Bu Guru harus kesana sekarang! Pak Modin butuh bantuan sampeyan!" seru si pengendara motor dengan nafas ngos ngosan. Gurat ketakuran terpancar jelas dari wajah laki laki itu, membuat Bu Ratih paham bahwa terjadi sesuatu yang buruk di pemakaman.

"Baiklah! Aku akan segera kesana!"

****

Sementara itu sebelumnya, para peronda dengan dipimpin oleh Pak Modin dan Pak Bambang yang mendapat tugas mengembalikan mayat Lik Diman ke pemakaman telah sampai. Namun langkah mereka terhenti di gerbang pemakaman desa itu, saat menyaksikan pemandangan ganjil di area pemakaman itu. Sosok laki laki bertelanjang dada nampak tengah sibuk membongkar salah satu makam yang masih baru.

"Darmaji?! Wedhus! Apa yang dia lakukan?!" Pak Bayan yang mengenali laki laki itu sebagai Darmaji, si penjaga makam, bergegas mendekat ke arah laki laki itu yang bagai orang kesetanan terus saja mengayunkan cangkulnya dengan cepat, menggali sebuah makam di salah satu sudut pemakaman itu.

"Darmaji! Apa apaan ini?! Sudah gila kamu ya?!" bentak Pak Bayan keras. Namun suara Pak Bayan yang menggelegar itu sama sekali tak dihiraukan oleh laki laki bertubuh kekar itu. Ia terus menggali dan menggali. Jelas terlihat tubuh laki laki itu telah bermandi keringat. Entah sudah berapa makam yang ia gali, karena selain makam yang tengah digali itu, masih ada lagi makam makam yang lain yang telah menganga terbuka dengan bekas tanah galian yang menggunung di sebelahnya.

"Edan!" kesal, Pak Bayan setengah berlari menghampiri laki laki itu.

"Hati hati Pak," Pak Bambang yang melihat gelagat tak baik meperingatkan. Namun terlambat. Begitu Pak Bayan telah sampai le trmpat laki laki itu, Darmaji tiba tiba berbalik dan mengayunkan cangkulnya ke arah Pak Bayan.

"Awas Pak!"

"Dhuagkkk...!" lagi lagi terlambat. Tak sempat menghindar, ujung cangkul yang tajam itu mendarat tepat di kepala Pak Bayan dan menancap sangat dalam.

Tak ada jeritan! Tak ada teriak kesakitan! Tubuh Bayan tua itu limbung, lalu roboh dengan cangkul yang masih menancap di kepalanya.

"Huahahaha...!!!" Darmaji tertawa keras, lalu dengan kasar menginjak kepala Pak Bayan yang kini sudah tak bernyawa itu dan mencabut cangkul yang menancap disana dengan sangat kasar. Darah segar seketika muncrat membasahi tanah kuburan yang lembab oleh embun itu

"Sial!" Pak Bambang yang menyadari bahwa kondisi sudah diluar kendali segera mencabut pistolnya dan berlari memasuki area pemakaman, diikuti oleh para peronda di belakangnya.

"Jangan bergerak! Atau kutembak!" tegas Pak Bambang keras.

"Jangan ditembak Pak," bisik salah satu peronda. "Kasihan anak dan istrinya nanti kalau dia mati. Anaknya masih kecil kecil Pak, dan istrinya...."

"Iya. Aku tau!" sungut Pak Bambang. "Kita lumpuhkan saja! Sepertinya dia juga sedang kesurupan!"

"Bagaimana caranya Pak?"

"Bodoh! Dia cuma sendirian, dan kita bertujuh! Kita ringkus saja! Masa kalah sih sama satu orang!"

"Iya juga ya. Tapi kalau dia benar kesurupan, berarti dia dibantu sama setan dong Pak! Sampeyan berani melawan setan?"

"Halah! Setan atau bukan, harus kita lawan! Daripada kita bernasib seperti Pak Bayan!"

"Hahahaha...!!!" sosok Darmaji tertawa, lalu mendekat ke arah kerumunan peronda itu sambil mengayun ayunkan cangkul di tangannya.

"Mundur!" teriak Pak Bambang. "Jangan sampai jatuh korban lagi! Salah satu dari kalian, tolong kembali ke desa dan jemput Bu Guru Ratih! Aku akan mencoba menahan orang ini!"

Kerumunan itupun bubar seketika, menyisakan Pak Bambang seorang yang kini telah menyarungkan pistolnya kembali. Komandan polisi itu bersiaga, sementara Darmaji semakin mendekat ke arahnya. Dan begitu keduanya telah berhadapan, tanpa basa basi lagi Darmaji segera mengayunkan cangkulnya ke arah Pak Bambang.

"Whuusss...!!!"

"Praakkkk...!!!"

Cepat Pak Bambang melompat mundur, hingga serangan Darmaji meleset. Ujung cangkulnya mengayun deras dan menghantam batu nisan hingga bilah cangkul itu terlepas dari gagangnya.

Kesempatan itu tak disia siakan oleh Pak Bambang. Dengan cepat ia menyerbu ke depan, menubruk tubuh Darmaji hingga keduanya jatuh bergulingan diantara batu nisan. Pergumulan serupun terjadi. Ternyata Darmaji yang telah dirasuki setan itu bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Pak Bambang yang sudah kenyang akan pengalaman dibuat kerepotan oleh laki laki itu.

Para peronda yang menyaksikan kejadian itu tak ada yang berani mendekat. Mereka hanya bisa melihat kedua orang itu bergelut diantara onggokan onggokan batu nisan ditengah kegelapan. Saling tindih, saling pukul, saling jambak, sampai akhirnya, pada satu kesempatan, Darmaji berhasil mengunci leher Pak Bambang.

"Hahaha...!!! Mati...!!! Mati...!!! MATIIIIIII...!!!" Sambil tertawa keras Darmaji mencekik leher Pak Bambang, membuat komandan polisi itu tak punya pilihan. Tangannya meraba pistol yang terselip di pinggang. Namun sebelum senjata itu menyalak, sesosok bayangan berkelebat menerjang tubuh Darmaji yang tengah menindih tubuh Pak Bambang hingga terpental menghantam batu nisan!

"Whuussss...!!!"

"Bhuaghhhh...!!!"

"Hegghhh...!!!"

"Ramadhan!" seru para peronda yang mengenali sosok pemuda yang kini berdiri dengan gagahnya diantara Pak Bambang dan Darmaji yang kembali merangkak berdiri itu.

(hayooo, masih pada inget nggak nih sama tokoh Ramadhan?)

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
v3ah1307 dan 58 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
jenggalasunyi
kaskus addict
Pagi buta jualan kenthaannggss
Wedhuss
Neh gw tambahin kol..tahu..pare..ndog ama sambel kacang....saos sekalian
10rb/porsi
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@jenggalasunyi wakaka, jadi jualan somay tuh
profile picture
winterstrom22
kaskus addict
@jenggalasunyi @indrag057 ramadhan anak pesantren om? Lupa ane
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@winterstrom22 @jenggalasunyi anak desa biasa gan, adiknya Bu Ratih. Masih satu genk lah ama duo toni yudi
profile picture
yunie617
kaskus maniac
Makin serem aja,, korban berjatuhan nambaj lagi...
Ehh itu ga ada nama lain apa,, namanya Yuni emoticon-Hammer2
profile picture
Ada tokoh baru ...dari namanya keliatan alim
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 ups, sorry sist, asal nyomot aja tuh nama semalememoticon-Malu
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@mmuji1575 tokoh lama sih sebenarnya gan, cuma di cerita Wulan sebelumnya ga terlalu diekspose
profile picture
somatt
kaskus addict
Horor, jd ky cerita zombie, tp yg ni ngga doya makan daging orang..Btw ini masih satu universe sama cerita kedhung jati yg lain ngga gan?
profile picture
jenggalasunyi
kaskus addict
@yunie617 buabahahaha....agan ts sprtinya sikrit admirer lu tu nengs..wkwkwkwk
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@jenggalasunyi Waduhh... atut ahh ama mba Ndutemoticon-Takut

@indrag057 ahh muosok sih asal nyomot kenapa sama 🙄🙄
profile picture
nayanta
aktivis kaskus
Ramadhan temennya Syawal ini emoticon-Leh Uga
profile picture
bonita71
kaskus addict
Ketemu orang kesurupan gitu bawa cangkul lagi serasa nyangkul di sawah kali ya emoticon-Takut
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@somatt sebagian besar iya gan, masih nyambunglah ama Kedhung Jati
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 @jenggalasunyi haha, inget ponakan yang dikampung pas ngetik, kebetulan namanya juga Wahyuni
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nayanta tetangganya Jumadi



Jumadilawalemoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 ga taunya nyangkul kepala orang
profile picture
bonita71
kaskus addict
@indrag057 Lha itu tau² ada korban

Makin sip nih story nya ngeri² nagih emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 salah Pak Bayan juga sih, tau orang begitu malah dideketin. Pak Bambang juga tuh, kurang sigap
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 53 balasan
×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di