CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 153 lainnya memberi reputasi

Part 10b : Teror Mayat Hidup 2 (Lanjutan)

"Kamu serius Dik?" Pak Slamet menatap sang istri yang masih berdiri terpaku menatap kepergian para warga yang membawa mayat Lik Diman ke pemakaman. "Wak Dul sudah terlalu sepuh lho. Tugas seperti ini sepertinya terlalu berat buat beliau. Apa tidak sebaiknya ...."

"Aku paham Mas. Tapi aku tak punya pilihan. Lagipula masih ada Ramadhan. Aku yakin anak itu tak akan tinggal diam kalau tau Wak Dul akan 'bekerja'," sela Bu Ratih sambil berbalik dan mendekat ke arah sang Suami yang tengah menggendong Ratri sang anak. Dibelainya lembut rambut gadis kecil itu, lalu dengan lembut pula dikecupnya dahi sang anak dengan penuh kasih.

"Ratri, malam ini sama bapak dulu ya, ibu masih ada kerjaan yang harus diselesaikan," bisik perempuan itu pelan.

"Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan Dik?" lagi lagi Pak Slamet menatap sang istri.

"Makhluk itu Mas," desah Bu Ratih. "Makhluk yang tadi merasuki mayat Lik Diman, berhasil kabur. Aku takut ia mengusik ketenteraman warga desa malam ini. Karena itulah aku menyerahkan urusan di pemakaman kepada Wak Dul, karena aku berencana untuk mengejar makhluk itu."

"Makhluk? Makhluk apa maksudmu?" tanya Pak Slamet tak mengerti.

"Apa Mas pikir mayat Lik Diman bisa sampai kesini dengan sendirinya? Ada yang membawanya Mas. Dan bahkan tadi sempat hampir mencelakai Pak Bambang kalau saja kita tidak kebetulan datang. Dan yang aku rasakan saat bentrok dengannya tadi, aku yakin makhluk itu sangat berbahaya."

"Jadi?"

Bu Ratih menghela nafas sejenak. Berat rasanya kalau ia harus membiarkan sang suami beserta sang anak sendirian, sementara suasana desa sedang tidak aman. Tapi desa ini lebih membutuhkan dirinya. Mau tidak mau, siap atau tidak, ia harus bertindak, sebelum keadaan semakin memburuk.

"Tolong malam ini sampeyan jaga Ratri ya Mas. Aku akan mencoba menghentikan makhluk makhluk itu. Dan kalau terjadi sesuatu, sampeyan tau kan apa yang harus dilakukan?" ujar Bu Ratih akhirnya, dengan suara pelan.

Kini giliran Pak Slamet yang menghela nafas panjang. Ia sadar, besar resikonya memiliki istri seperti Ratih. Dan meski sedikit banyak ia tau akan kemampuan sang istri, tetap saja rasa khawatir selalu ada setiap sang istri menghadapi masalah masalah yang seperti ini.

"Kamu yakin ndak mau Mas temani?"

"Bukan tak mau Mas. Tapi siapa yang akan menjaga Ratri Mas?"

"Kita bisa titipkan kepada Wak Karni atau bapak. Jujur, Mas ndak tega kalau kamu pergi sendirian."

"Ratri anak kita Mas. Kita yang berkewajiban untuk menjaganya. Lagipula, percayalah, aku bisa menjaga diri kok. Mas ndak perlu khawatir."

"Ya sudah kalau begitu," ujar Pak Slamet akhirnya. "Tapi janji ya, jaga diri baik baik. Jangan nekat, dan pastikan kamu pulang dengan selamat."

"Ya. Aku berjanji Mas," perempuan itu tersenyum lembut ke arah sang suami yang kini telah naik kembali keatas jok motornya. "Ingat, lakukan yang perlu dilakukan jika terjadi sesuatu hal yang buruk Mas."

Pak Slamet mengangguk pelan, lalu pelan pelan juga laki laki itu menjalankan motornya menaiki jalan tanjakan yang menuju ke arah desa, meninggalkan Bu Ratih yang masih berdiri menatapnya sampai bayangannya menghilang diatas tanjakan.

Perempuan itu kembali menghela nafas, lalu memejamkan kedua mata beningnya. Selintas angin sepoi berhembus menerpa wajahnya, menggoyangkan anak rambutnya yang menjuntai di dahi. Tarikan nafasnya terdengar teratur, seiring dengan kedua bahunya yang turun naik berirama. Indera pendengarannya menyaring kesunyian yang menyelimuti suasana di sekitarnya. Hingga beberapa detik kemudian, kedua mara itu kembali terbuka. Tak ada lagi sinar kelembutan. Sepasang bola mata itu kini berubah menjadi berkilat tajam. Dan seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Ketemu!" desis perempuan itu sambil melompat keatas sepeda motor Pak Bambang yang masih ditinggalkan di tempat itu. Mesin motor yang tadinya mogok itu menyala dengan sangat mudah, hanya dengan sekali selah. Dan dengan sekali sentak, kendaraan itu lalu melesat ke arah utara, meraung menaiki tanjakan terjal menuju ke arah desa.

****

Sementara itu di waktu yang sama namun tempat yang berbeda.

Kang Mardi terlihat resah di kamarnya. Malam telah larut. Namun rasa kantuk yang ditunggunya tak kunjung tiba. Rasa perih di lambungnya akibat sore tadi tak sempat diisi membuatnya tak kunjung bisa tidur. Diliriknya sang istri yang semenjak tadi telah mendengkur disisinya. Segan rasanya untuk membangunkan perempuan itu sekedar untuk minta tolong menyeduhkan kopi. Tentu ia juga lelah setelah seharian bekerja di ladang.

"Ah, gara gara kucing sialan! Aku jadi kelaparan seperti ini," gerutu laki laki itu sambil beranjak dari atas ranjang dan keluar dari dalam bilik kamarnya. Ya. Gara gara ikan asin jatah makan malamnya digondol kucing, sore tadi ia tak jadi makan. Dan itu juga akibat dari keteledorannya sendiri. Menaruh makanan sembarangan di atas meja tanpa penutup, hanya untuk mengambil minum yang lupa disiapkan oleh sang istri yang sibuk menyuapi anak semata wayang mereka.

"Sial! Ini kopi kenapa pake acara habis segala sih?!" gerutu laki laki itu saat geratakan mengacak acak lemari dapur.

"Ah, mending aku ke poskamling aja. Siapa tau masih ada sisa kopi dari para peronda. Syukur syukur bisa dapat singkong bakar buat pengganjal perut," gumam laki laki itu sambil beranjak keluar dari dapur.

Namun langkah laki laki itu terhenti saat sampai di depan pintu ruang tamu. Ia teringat kejadian kemarin malam, saat pulang dari poskamling dan bertemu dengan hantu Lik Diman di tengah jalan. Bagaimana kalau ternyata hantu itu masih berkeliaran?

Berpikir begitu, Kang Mardi lalu mengambil golok yang tersimpan di sudut ruangan, lalu menyelipkan di pinggangnya. Tak lupa juga lampu senter yang batteraynya telah ia ganti dengan yang baru.

"Setan atau bukan, kalau berani macam macam, akan kutebas batang lehernya," gumam laki laki itu sambil membuka pintu dan melangkah keluar.

Hawa dingin segera menyambutnya, membuat bulu kuduknya tanpa sadar berdiri meremang. Tak seperti biasanya, angin bertiup sedikit lebih kencang malam ini. Langit juga nampak gelap, tanpa seekor bintangpun yang tampak. Sepertinya mau hujan. Tapi tak apalah. Toh poskamling tak begitu jauh juga dari rumahnya. Andaipun hujan ia bisa tidur disana nanti. Berdesak desakan dengan para peronda tentu lebih hangat daripada tidur di rumah memeluk sang istri yang kurus kerempeng itu.

Berpikir begitu, Kang Mardi lalu mengunci pintu dan melangkah pelan menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Cahaya senter di tangannya menerangi langkahnya. Juga sebatang rokok tingwe yang terselip di sela jemarinya, bisa sedikit mengurangi rasa dingin yang menggigit sampai ke tulang.

"Dor!" suara letusan terdengar dari kejauhan, mengagetkan laki laki itu.

"Wedhus! siapa yang malam malam begini main petasan?!" gerutu laki laki itu sambil kembali berjalan.

"Dor!" kembali suara letusan itu terdengar. Kang Mardi menghentikan langkahnya, lalu memasang telinga baik baik.

"Sepertinya bukan petasan, tapi..., seperti suara tembakan," gumam laki laki itu. "Dan asalnya, seperti dari Tegal Salahan. Apa jangan jangan ...., hiiiiiii...!!!" Kang Mardi semakin mempercepat langkahnya. Sesekali ia mengusap tengkuknya yang semakin merinding.

Ingin cepat cepat sampai di poskamling, membuat laki laki itu tak memperhatikan lagi suasana di sekelilingnya. Ia berjalan sambil menunduk, memperhatikan setiap jengkal jalanan yang dilaluinya. Hingga tanpa sadar saat melewati sebuah tikungan jalan, nyaris saja ia bertubrukan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.

"Wedhus! jalan ndak pake mata! Ngaget ngagetin saja kam..." Kang Mardi tercekat, tak sanggup melanjutkan omelannya, saat sorot senter yang dibawanya menyorot sesuatu yang ditenteng oleh orang itu. Sebuah kepala bersimbah darah dengan mata melotot dan mulut meringis yang menampakkan gigi geliginya yang juga memerah oleh darah. Kang Mardi terpaku dengan tubuh gemetar. Jelas ia mengenali wajah dari kepala yang ditenteng itu. Wajah Pak Jarwo yang kemarin mati bunuh diri dengan cara menggorok lehernya sendiri.

Pelan pelan senter di tangan Kang Mardi terangkat, menyinari bagian atas dari tubuh yang berdiri di hadapannya itu. Benar saja. Tak ada kepala yang bertengger di bagian atas tubuh itu. Hanya sepotong leher buntung yang terus mengucurkan darah dan membasahi kain kafan yang membungkus tubuhnya.

"A...., ar..., ap...?!" Kang Mardi tergagap. Kedua lututnya bergetar hebat, saat sosok itu mengangkat kepala yang ditentengnya dan mendekatkannya ke wajah Kang Mardi. Bau amis bercampur busuk menyeruak, mengaduk aduk isi perutnya yang sebenarnya kosong tak berisi.

"Gelem ndhas ora Lik?" (mau kepala nggak Lik) mulut di kepala yang ditenteng itu bergerak gerak, menggumamkan kata kata bernada serak.

"Whuaaaa...!!! Setaaannnn...!!!" sontak Kang Mardi lari tunggang langgang, menerjang sosok hantu Pak Jarwo yang berdiri di hadapannya itu hingga jatuh terhumbalang.

Kang Mardi terus berlari, sambil berteriak teriak bagai orang kesetanan. Sialnya, tak ada seorangpun yang keluar untuk menolongnya. Bahkan saat sampai di poskamlingpun, tempat itu terlihat sepi. Hanya ada satu orang yang nampak duduk ongkang ongkang diatas lincak.

"Hossshhh...!!! Hossshhh...!!! As*! Kenapa malah Klanthung yang ada disini? Kemana para peronda?" sungut Kang Mardi saat mengetahui bahwa orang yang duduk di poskamling itu adalah Si Klanthung.

"Ngopo e Kang, bengi bengi kok playon koyo tas digacar dhemit ngono?" (kenapa Kang? Malam malam kok lari larian kayak habis dikejar setan gitu?") tegur laki laki setengah sinting itu sambil terkekeh.

"Dhemit dhengkulmu itu!" sentak Kang Mardi sambil menyambar teko diatas lincak dan menenggak isinya. Peduli setan kalau teko itu bekas minum si Klanthung. Ia sudah kehausan setengah mati akibat berlari tadi. "Kemana yang pada ronda he?"

"Lagi ngejar dhemit ke Tegal Salahan Kang, hehehe..." jawab Klanthung sekenanya, sambil masih terkekeh.

"Dhemit! Dhemit! Sekali lagi ngomong dhemit tak tonyo gundhulmu!" sungut Kang Mardi kesal.

"Lha memang lagi musim dhemit lho Kang," ujar Klanthung lagi. "Coba sampeyan lihat ke atas sana, tuh, di langit banyak dhemit berterbangan kayak laron. Dan, kalau aku jadi sampeyan Kang, aku bakalan lari lagi dari sini."

"Lha ngapain harus lari?"

"Lha coba saja sampeyan lihat, siapa yang berdiri di belakang sampeyan itu."

Kang Mardi yang penasaran beneran menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya laki laki itu saat mendapati hantu Pak Jarwo ternyata telah berdiri di belakangnya, sambil menyorongkan kepala yang ditentengnya tepat ke arah mukannya.

"Gelem ndhas ora Lik?" (mau kepala ndak Lik?) mulut meringis bersimbah darah itu bergerak gerak menggumamkan kata kata bernada serak, membuat Kang Mardi kembali melompat dan berlari secepat maling dikejar anjing.

"Whuaaaa...!!!"

"Syiuuuuttt...!!!"

"Bhuuggghhh...!!!"

Namun kali ini pelarian Kang Mardi tak berjalan mulus. Sosok hantu Pak Jarwo itu melemparkan kepala yang ditentengnya hingga mendarat tepat di kepala Kang Mardi.

"Praakkk...!!!" Dua kepala beradu dengan sangat keras, membuat Kang Mardi jatuh tersungkur dan...Pingsan!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 57 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Semaput mugo ora semaut
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@pulaukapok baru setengah maut gan
profile picture
yunie617
kaskus maniac
mending pingsan aja klo kaya gini mah..
nyari aman ajaemoticon-Ngakak
profile picture
bonita71
kaskus addict
@yunie617 berharap pingsan adalah solusi terbaik emoticon-Ngakak
profile picture
kkjavu
kaskus addict
Pingsan opo tidur??
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 iya kalau aman, kalau pas pingsan digituin gimana?
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 @yunie617 harapannya terkabul tuh
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@kkjavu antara pingsan dan tidur ganemoticon-Smilie
profile picture
bonita71
kaskus addict
@yunie617 @indrag057 di "gituin" ini mksd nya piye bang ?
Lebih spesifik emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 @yunie617 dileletin lidah sambil tarik kupingemoticon-Ngakak
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 ga doyan mau gituin Kang Mardi🤣🤣🤣 @bonita71 betul sist..
profile picture
meqiba
kaskuser
Lah, si Klantung ga di apa-apain itu? Anteng bae...emoticon-Big Grin
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 @bonita71 ha doyan kalau lagi ga kepepet, kalau udah kepepet ya.....emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@meqiba haha, bisa malu sendiri tuh dhemit kalau berani godain Klanthung gan
profile picture
klanthung itu siapa gan? knp gak ikut yg pada ronda ke tegal salahan?
profile picture
iorme 
KASKUS Plus
@kerenz.banged ada di part 2 gan
Quote:
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@kerenz.banged klanthung, dia orang gila yang suka keluyuran di sekitaran desa gan
profile picture
iorme 
KASKUS Plus
ini jangan2 malah jadi main char nya ini klantung emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iorme haha, bisa jadi gan. Di saat situasi sedang tidak terkendali begitu, segala kemungkinan bisa saja terjadi
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 28 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di