CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
unyien dan 154 lainnya memberi reputasi

Part 10a : Teror Mayat Hidup 1

"Eh, sampeyan..." Pak Bambang memicingkan matanya, saat sosok berbaju putih didepannya berbalik dan menurunkan tangannya. Meski samar, ia bisa mengenali sosok itu. Perempuan berkacamata dengan rambut panjang yang terikat rapi ke belakang. Bu Ratih.

"Sampeyan ndak papa Pak?" perempuan itu melangkah mendekat ke arah Pak Bambang yang masih mengacungkan senjatanya dengan tangan gemetar. "Tolong, turunkan senjata sampeyan."

"Stop! Jangan mendekat!" seru Pak Bambang sambil mundur perlahan. Matanya memang mengenali sosok itu. Tapi setengah kesadarannya mengatakan, sosok di depannya itu bukanlah Bu Ratih. Perempuan mana yang malam malam keluyuran di tempat seperti ini? Sangat mustahil! Bisa saja sosok itu adalah jelmaan pocong yang tadi nyaris mencelakainya.

"Pak, ini saya, Ratih! Apa sampeyan..."

"Cih! Kaupikir bisa semudah itu menipuku hah?! Dasar setan jelek! Diam disitu dan angkat tanganmu! Atau kutembak!" desis Pak Bambang sambil terus melangkah mundur. Bu Ratih diam dan kembali mengangkat kedua tangannya.

"Dasar hantu pembohong! Kau pikir mudah untuk menipuku?! Perempuan mana yang keluyuran di tempat seperti ini malam malam!" dengus Pak Bambang lagi.

"Saya kebetulan lewat Pak, tadi habis menghadiri acara pengajian di rumah Pak Jarwo bersama suami saya."

"Bohong lagi! Mana suamimu?!"

"Ada di..., awaasss Pak...!"

Terlambat! Seruan Bu Ratih yang mencoba memperingatkan Pak Bambang yang terus melangkah mundur itu terlambat. Laki laki yang terlalu fokus pada sosok Bu Ratih itu, sampai tak sempat memperhatikan suasana di sekelilingnya. Alhasil, saat ia melangkah mundur, kakinya melanggar sesuatu yang tergeletak di tengah jalan. Tak ayal, laki laki itu kehilangan keseimbangannya dan kembali jatuh terjengkang kebelakang. Beruntung, kali ini pantat laki laki itu mendarat diatas benda yang lunak dan empuk.

"Pak, jangan dilihat," Bu Ratih kembali mengingatkan. Namun perempuan itu belum berani mendekat, karena pistol Pak Bambang masih teracung ke arahnya.

"Diam! Tetap disitu dan jangan bergerak!" seru Pak Bambang sambil berusaha mengenali benda lunak yang didudukinya itu. Sebelah tangannya meraba raba benda itu. Sementara sebwlah tangannya lagi tetap menodongkan pistol ke arah Bu Ratih. Ini seperti...,seperti sesuatu yang terbungkus kain, dengan ikatan di salah satu ujungnya, batin Pak Bambang sambil terus meraba raba.

Tangan Pak Bambang terus meraba, sementara kedua matanya tetap mengawasi Bu Ratih. "Ini, seperti..., wajah manusia. Sepasang mata, lalu hidung, mulut, dan, eh...."

Pak Bambang mengalihkan pandangannya pada benda yang dirabanya itu, bersamaan dengan datangnya sebuah sepeda motor dari arah selatan yang menuruni jalanan menuju ke arahnya. Sorot lampu motor itu menyorot tepat ke arah Pak Bambang, memperjelas pengelihatan laki laki itu akan benda apa sebenarnya yang telah ia diduduki.

Pak Bambang tercekat. Wajahnya memucat. Sejenak ia terpaku tak bergerak menatap sosok yang tengah ia duduki itu, yang ternyata adalah sosok pocong Lik Diman.

"Huaaaa...!!! Pocooonngggg...!!!" sedetik kemudian laki laki itu berteriak lantang, lalu melompat berdiri dan berlari kearah Bu Ratih yang masih berdiri di tepi jalan. Tanpa malu malu lagi laki laki itu berlindung dibelakang tubuh perempuan itu. Bahkan tanpa sadar ia mencengkeram lengan Bu Ratih, sambil mengintip sosok pocong yang tergeletak di tengah jalan itu dari sela bahu Bu Ratih.

"Itu hanya mayat Pak! Kenapa harus takut?" ujar Bu Ratih sambil berusaha menahan tawanya.

"Ma..., ma..yat?" desis Pak Bambang dengan suara gemetar.

"Iya, mayat," Bu Ratih mendekat ke arah sosok mayat yang terbungkus kain kafan kumal berlepotan tanah itu. Pak Bambang mengikutinya dari belakang. Sementara sepeda motor yang barusan datang itu kini berhenti tepat di dekat sosok mayat itu, hingga mereka bisa melihat dengan jelas mayat siapa sebenarnya yang terlantar di jalanan sepi itu dengan bantuan lampu sepeda motor.

"Lho, ini kan mayat Lik Diman?" si pengendara motor, seorang laki laki setengah baya, turun dari atas jok motornya sambil menggendong seorang anak perempuan yang tertidur pulas dalam dekapannya.

"Benar Mas, ini mayat Lik Diman," ujar Bu Ratih sambil berjongkok dan mengamati mayat itu. "Tapi kenapa bisa berada disini? Bukankah kemarin lusa sudah dikuburkan?"

"Benarkah itu hanya sesosok mayat?" suara Pak Bambang masih terdengar gemetar.

"Seperti yang sampeyan lihat Pak, ini beneran mayat," jawab Bu Ratih tanpa menoleh.

"Bukan hantu pocong atau mayat hidup?"

"Mayat hidup?" laki laki pengendara motor itu tertawa tertahan, hingga membuat anak yang tertidur dalam gendongannya itu menggeliat. Cepat cepat laki laki itu menghentikan tawanya dan menepuk nepuk pantat sang anak hingga kembali terlelap.

"Kenapa tertawa?!" Pak Bambang menatap tak senang pada laki laki setengah baya itu.

"Gimana ndak tertawa. Sampeyan ini seorang komandan polisi, tapi masih takut sama segala macam hantu pocong dan mayat hidup segala," ujar laki laki setengah baya itu.

"Sampeyan ndak ngerasain sih gimana tadi saya nyaris celaka gara gara hantu pocong ini. Lagian sampeyan ini siapa to? Berani beraninya meledek saya!" dengus Pak Bambang.

"Ah, iya, kita belum berkenalan. Saya Slamet, suami Ratih."

"Hah?!" kini Pak Bambang yang nyaris tak bisa menahan tawa. Laki laki bernama Slamet ini, lebih pantas kalau mengaku sebagai bapaknya Bu Ratih daripada mengaku sebagai suaminya.

"Coba hubungi Pak Bayan Mas," Bu Ratih menyela. Pak Slamet segera mengeluarkan ponselnya. Namun niat itu segera ia urungkan, saat dari utara nampak beberapa warga yang berbondong bondong menuju ke arah mereka. Sepertinya para petugas ronda.

"Lho, ada apa ini? Kenapa..." Pak Bayan yang ternyata ikut dalam rombongan itu tak melanjutkan kata katanya, saat melihat sosok mayat Lik Diman yang tergeletak di tengah jalan. "Apa apaan ini?! Kenapa mayat Diman bisa berada disini?!"

"Ah, syukurlah sampeyan datang Pak," Bu Ratih berdiri dan mendekati Bayan tua itu.

"Tadi kudengar letusan senjata, makanya saya langsung mengajak para peronda kesini. Ada apa sebenarnya ini Bu? Kenapa mayat Diman bisa berada disini?" tanya Pak Bayan lagi heran.

"Saya juga belum begitu mengerti Pak. Tapi ada baiknya Pak Bayan segera mengecek ke pemakaman sana. Saya yakin, mayat ini tidak bisa dengan sendirinya keluar dari lubang kubur dan keluyuran sampai kemari. Dan tolong juga, sekalian ini mayat Lik Diman dibawa juga untuk dimakamkan kembali."

Ucapan Bu Ratih langsung disambut dengan bisik bisik para peronda yang sepertinya enggan untuk melaksanakan perintah guru perempuan itu. Siapa juga yang mau mengangkut mayat yang sudah setengah membusuk dan keluar dari kuburnya secara misterius begitu.

Bu Ratih yang tanggap dengan keengganan para petugas ronda itu lalu menoleh ke arah Pak Bambang. "Pak komandan ndak keberaran kan kalau membantu membawa mayat ini ke pemakaman?"

"Eh, saya Bu?" wajah Pak Bambang kembali memucat.

"Jangan bilang kalau sampeyan masih takut sama mayat!" sindir Pak Slamet setengah meledek.

"Bukannya saya takut, tapi motor saya mogok, dan..."

"Ya sudah, Min," Pak Bayan memanggil salah satu peronda. "Kau ajak salah satu temanmu untuk meminjam gerobak di rumah Kang Bejo! Kita angkut saja mayat ini pakai gerobak. Ndak sempet kalau harus nyari peti mati lagi."

Si Min yang mendapat perintah tak kuasa menolak perintah Pak Bayan yang terkenal galak itu. Ia segera kembali ke desa untuk meminjam gerobak.

"Sampeyan juga ikut kan Bu?" tanya Pak Bayan kepada Bu Ratih. "Saya takut nanti di pemakaman..."

"Maaf Pak Bayan. Saya ini perempuan, dan saya punya anak dan suami yang harus saya urus. Tapi jangan khawatir. Biar saya hubungi Wak Dul, biar nanti beliau yang menyusul ke pemakaman," jawab Bu Ratih.

Sebuah jawaban yang nantinya akan disesali oleh guru perempuan itu. Karena kemunculan mayat Lik Diman yang menggegerkan warga itu ternyata hanyalah awal. Awal dari teror yang akan melanda desa Kedhung Jati malam ini.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 56 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Gassssssss
profile picture
bonita71
kaskus addict
Meloooonnnn
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
@bonita71 bisa bisa...
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di