CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 153 lainnya memberi reputasi

Part 6 : Pak Jarwo

"Lho, mau kemana kamu Di?" seru Mbah Atmo yang melihat Kang Mardi ngeloyor pergi.

"Pulang!" sahut Kang Mardi tanpa menoleh.

"Kok pulang gimana to? Kita sedang tugas ronda ini lho!"

"Kalau ngerondain maling aku masih berani Mbah! Tapi ngerondain dhemit, apa sampeyan berani ngadepin kalau para dhemit itu beneran nongol di depan sampeyan?!"

"Wooo...!!! As* tenan kowe Di!"

Kang Mardi tak memperdulikan seruan Mbah Atmo lagi. Ia terus melangkah menyusuri jalanan desa yang gelap dan sepi sambil sesekali menggerutu. Senter kecil di tangannya yang mulai meredup karena kehabosan daya batteray tak cukup mampu untuk menerangi jalanan yang dilaluinya, tapi cukup mampu untuk menangkap sosok yang berjalan terseok seok agak jauh di depannya.

"Eh, siapa itu?" Kang Mardi mencoba memfokuskan sorot senternya ke arah sosok itu. Namun sialnya, benda itu justru meredup dan akhirnya mati. Berkali kali ia menghentak hentakkan senter itu ke telapak tangannya, namun tetap saja tak mau menyala.

"Wedhus! Kenapa disaat seperti ini...," Kang Mardi mempercepat langkahnya, menyusul sosok yang berjalan terseok seok seperti orang mabuk itu.

"Cih! Anak muda zaman sekarang! Hobynya nggak jauh jauh dari mabuk dan minum minum! Ujung ujungnya nanti teler dan bikin onar," sungut Kang Mardi.

Sosok yang diikutinya itu kini menepi ke pinggir jalan, lalu duduk mengelesot di tanggul yang ada di sisi jalan. Sepertinya orang itu memang sudah teler berat, hingga saat Kang Mardi menghampirinyapun sosok itu seolah tak memperdulikan lagi.

"Hey! Siapa ya?! Kalau udah teler pulang saja sana! Jangan keluyuran dan bikin onar!" seru Kang Mardi sambil terus berusaha menyalakan senternya yang ngadat.

"Marrrrddiiiiii...!"

"Eh?" Kang Mardi tercekat. Ia seperti mengenali suara itu. Tapi siapa ya?

"Siapa to?! Jangan nakut nakutin gitu to! Tak antemi sampeyan kalau berani macem macem!"

"Diiiii...!!! Tulungono aku Diiiii....!!! (Diiii...!!! Tolong aku Diiii...!!!"

"Wedhus! Mendem (mabuk) ga ngajak ngajak, giliran udah teler minta tolong!" Kang Mardi semakin mendekat kearah sosok itu. "Ya sudah, ayo tak antar pulang!"

"Aku nggak minta diantar pulang Diiiii...!!!"

"Sudah! Ndak usah ngoceh! Udah teler masih saja...!!!"

"Tolong betulkan posisi kepalaku Diii...!!! Kepalaku kok muntir kebelakang begini ya Di, leherku jadi pegel Diii...!!!"

"Eh, sampeyan...!!!" Kang Mardi melangkah mundur, sambil terus mencoba mengetuk ngetukkan senternya ke telapak tangannya.

"Byaaarrr...!!!" senter akhirnya menyala. Sorotnya tepat mengarah ke sosok yang tengah duduk di tanggul pinggir jalan itu. Sosok yang sangat dikenal oleh Kang Mardi. Sosok Lik Diman dengan kepala terpuntir kebelakang, dengan wajah pucat bagai mayat dan mata melotot yang nyaris copot dari rongganya, serta lidah panjang yang menjulur keluar.

"Se..., Set..., Setaaaaannn...!!!" sontak Kang Mardi menjerit setinggi langit, lalu lari terbirit birit menuju ke rumahnya yang memang sudah tak jauh lagi dari tempat itu.

****

Siang itu, Mas Yudi tengah asyik mengasah arit di teras rumahnya, saat Mas Toni datang dengan motor bututnya.

"Siang siang sudah ngasah arit mau kemana Yud?" sapa Mas Toni setelah duduk diatas lincak tak jauh dari posisi Mas Yudi duduk.

"Biasalah, ngarit, nyari rumput buat pakan kambing kambingku," sahut Mas Yudi tanpa menoleh.

"Masih panas gini lho, mbok nanti saja. Sini, ada yang mau tak omongin," ujar Mas Toni lagi.

"Halah, mau ngomong apa to? Gayamu kayak orang penting saja. Kalau mau minjem duit, jujur, aku juga lagi bokek Ton!"

"Minjem duit dhengkulmu itu! Aku serius ini Yud! Sudah to, sudah tajem aritmu itu, ndak usah diasah lagi. Nanti malah cepet habis lagi!"

"Ini arit bukan sembarang arit Ton," Mas Yudi akhirnya menyudahi juga kesibukannya, lalu ikut duduk diatas lincak. "Tau nggak, ini arit aku bikin sendiri, dari besi bekas per, tajamnya Ton, jangan ditanya, kalau cuma besi ukuran lima mili aja sekali tebas langsung putus."

"Halah, malah pamer arit lho! Aku kesini bukan mau ngomongin soal arit Yud, tapi soal peristiwa kemarin itu lho. Soal Lik Diman. Apa benar dia mati karena bunuh diri?" sungut Mas Toni.

"Kenapa kamu tiba tiba nanya soal itu Ton?" Mas Yudi menatap sahabat kentalnya itu. "Kamu pasti juga sudah dengar sendiri kan dari Pak Bayan, kalau polisi juga ..."

"Kamu nggak ngerasain hal hal yang aneh gitu saat ikut menggali sumur itu Yud?"

"Aneh gimana maksudmu Ton?"

"Ya hal hal yang aneh, yang nggak masuk akal gitu. Secara, aneh aja sih kalau Lik Diman bisa tiba tiba mengakhiri hidupnya dengan cara setragis itu."

Mas Yudi terdiam sesaat. Ia kembali teringat saat tiba tiba Lik Diman keluar dari dalam lubang yang digalinya dengan terburu buru, lalu begitu sampai diatas memelintir kepalanya sendiri sampai nyaris putus.

"Memang agak aneh sih Ton, tapi ..."

"Nah, itu dia yang kumaksud Yud. Dan tau ndak Yud, semalam, pas aku ikut ronda, Kang Mardi sempat menduga kalau..." Mas Toni lalu menceritakan perihal dugaan dugaan yang diutarakan oleh Kang Mardi semalam di pos ronda.

"Kang Mardi? Maksudmu Kang Mardi Kampret mantunya Mbah Suro itu?"

"Lha iyalah, siapa lagi kalau bukan dia."

"Oalah Ton Ton, lha wong Mardi Kampret kok dipercaya. Kaya kamu baru kenal dia sehari dua hari saja. Dia itu kan mitro nggedebus, tukang ngibul. Penyebar hoaks kalau istilah anak jaman sekarang. Kok masih dipercaya."

"Tapi kalau dipikir pikir, apa yang dibilang sama Kang Mardi itu ada benarnya juga lho Yud. Antara kematian Lik Diman, kendi aneh yang ditemukan di dalam sumur, sama sikap Pak Bayan dan Pak Modin serta Bu Guru Ratih yang sepertinya sedang menutup nutupi sesuatu dari kita itu, aku yakin, pasti ada sesuatu Yud. Sesuatu yang disembunyikan dari kita. Dan kalau benar apa yang dibilang oleh Kang Mardi semalam, itu berarti desa kita dalam bahaya Yud."

"Hmmm, iya juga ya," Mas Yudi termenung sejenak. "Ya mudah mudahan sih nggak sampai terjadi sesuatu yang buruk Ton. Lagipula, kalaupun sampai terjadi sesuatu, kita masih punya Pak Modin dan Bu Ratih. Kita yang cuma orang biasa ini bisa apa Ton? Paling ya cuma bisa berharap sama beliau beliau yang lebih tau dan paham to."

Keduanya lalu terdiam. Sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa ini, mereka sudah sangat paham dengan situasi dan gejala alam yang terjadi di desa kelahiran mereka. Dan tak dipungkiri, dalam hati kecil mereka, mereka telah merasakan suatu firasat, bahwa sesuatu akan segera terjadi di desa ini. Sesuatu yang mungkin kurang baik, atau justru sangat tidak baik.

****

Matahari telah condong ke arah barat, saat kedua sahabat itu bekerja keras untuk memenuhi keranjang mereka dengan rumput segar yang tumbuh subur disela sela tanaman jagung di ladang milik Mas Joko. Sementara kedua motor butut mereka, mereka titipkan di pondok si pemilik ladang itu.

Mereka memang terbiasa mencari rumput untuk pakan ternak di ladang itu. Karena hanya di ladang Mas Jokolah yang masih banyak tumbuh rumput yang subur dan menghijau. Si empunya ladang memang sangat rajin menyirami tanaman di ladangnya dengan air yang disedot dengan mesin pompa dari kali Rampeng yang berada dibawah sana. Jadi tak heran, meski musim kemarau, tapi tanaman jagung di ladang itu tumbuh subur. Juga rumput rumput liar yang tumbuh disela selanya.

Mas Joko sendiri tak pernah merasa keberatan kalau ada orang yang mau mencari rumput di ladangnya, selama itu tidak merusak tanaman jagungnya. Malah bagus katanya, karena ia jadi tak perlu repot repot membersihkan rumput rumput liar yang mengganggu pertumbuhan tanaman jagung miliknya.

Sementara tak jauh dari mereka, tepatnya di kebun belakang rumah Pak Jarwo, tempat dimana sumur pembawa petaka itu kemarin digali, nampak si empunya rumah tengah berdiri tertegun disisi lubang galian itu.

Laki laki itu melipat kedua tangannya kebelakang, sambil berkali kali melongok kedalam lubang galian. Garis polisi yang masih terpasang tak menghalangi niat Pak Jarwo untuk mendekat ke sisi lubang itu.

"Eh, coba lihat Yud, itu Pak Jarwo ngapain ya melongok longok kedalam sumur gitu? Bukankah polisi masih melarang warga untuk mendekat ke lubang galian itu?" Mas Toni bertanya sambil tangannya terus sibuk membabat rumput rumput segar dengan aritnya.

"Ndak tau Ton. Mungkin dia kecewa karena rencananya untuk membuat sumur gagal. Kemarin sih sempat memintaku untuk meneruskan galian itu. Tapi setelah ada kejadian itu, aku mana berani. Apalagi Pak Bayan dan Polisi juga masih melarang siapapun untuk mendekat kesana." jawab Mas Yudi, juga sambil sibuk memasukkan rumput yang sudah berhasil ia kumpulkan kedalam keranjang bambunya yang sudah nyaris penuh.

"Kasihan juga ya Pak Jarwo. Lagian, kenapa juga harus repot repot bikin sumur segala. Padahal air di kali Rampeng itu sudah lebih dari cukup untuk sekedar keperluan mandi dan mencuci. Mas Joko saja, yang sudah bertahun tahun tinggal disini kayaknya nggak pernah kepikiran tuh buat bikin sumur."

"Beda lah Ton. Pak Jarwo kan orang kaya. Lihat saja rumah yang dibangunnya, sudah mirip keraton gitu. Gengsilah kalau orang kayak mereka masih harus mandi dan mencuci di kali."

"Iya juga ya. Jalan pikiran orang kaya memang beda ya Yud sama orang kampung kayak kita."

Kedua laki laki itu masih terus asyik mengobrol sambil bekerja, hingga tanpa mereka sadari, matahari telah bertengger di puncak bukit Asem di sebelah barat sana. Keranjang keranjang mereka juga sudah penuh dengan rumput hijau nan segar. Keduanya lalu memutuskan untuk pulang.

Saat melintasi area belakang rumah Pak Jarwo, ternyata laki laki pemilik rumah itu masih berada disana. Mas Toni dan Mas Yudipun mengangguk dan menyapa ramah laki laki setengah baya itu.

"Monggo Pak Jarwo," seru keduanya hampir serempak.

"Eh, Mas Toni, Mas Yudi, habis nyari rumput ya?" balas laki laki itu, juga dengan nada ramah.

Nggih Pak," lagi lagi hampir serempak keduanya menyahut.

"Kebetulan kalau begitu, saya boleh pinjam aritnya sebentar nggak Mas?" ujar Pak Jarwo lagi.

"Oh, boleh Pak," Mas Yudi menurunkan keranjang penuh rumput yang dupanggulnya, lalu memberikan arit yang dibawanya kepada Pak Jarwo.

"Tajam banget ya arit sampeyan Mas," Pak Jarwo mengamat amati arit milik Mas Yudi itu.

"Eh, iya Pak, itu saya tempa sendiri di tempat pandai besi sana, bahannya dari bekas per mobil Pak. Jadi pasti dijamin tajam," ujar Mas Yudi bangga.

"Oh, pantes," Pak Jarwo manggut manggut.

"Memangnya minjem arit mau buat apa to Pak?" tanya Mas Toni, juga sambil menurunkan keranjang penuh rumput segar dari pundaknya yang mulai terasa pegal.

"Ah, enggak kok. Cuma mau buat motong ini," Pak Jarwo mengalungkan arit yang melengkung tajam itu pada lehernya sendiri, lalu menariknya sekuat tenaga sambil tertawa terbahak bahak.

"HAHAHA...!!! Mati...!!! Mati...!!! MATIIIIIIII...!!!"

"Astagfirullah...!!! Pak Jarwo! Apa yang sampeyan..., argh...!!! Gedabrruuugggg...!!!" Mas Yudi yang menyadari bahwa ada yang janggal dengan apa yang dilakukan oleh Pak Jarwo itu, berusaha untuk mencegah tindakan aneh yang dilakukan oleh laki laki itu. Namun Pak Jarwo justru menendangnya dengan keras hingga tubuh Mas Yudi terpental dan jatuh bergulingan menimpa tanaman jagung yang tumbuh subur itu.

"HAHAHAHA...!!! MATIII...!!! MATIIIIIIIIII...!!!" Pak Jarwo seperti kerasukan. Ia terus tertawa tawa sambil meneriakkan kata kata mati. Sementara kedua tangannya semakin kuat menarik dan menyayat nyayat lehernya sendiri dengan arit yang sangat tajam itu.

Darah mengalir deras dari luka di leher Pak Jarwo, membasahi pakaian putihnya. Mas Toni yang berusaha ikut mencegah perbuatan nekat laki laki itu, bernasib sama dengan Mas Yudi. Terpental dan jatuh bergulingan di ladang jagung setelah Pak Jarwo menendanganya dengan sangat keras.

"HAHAHAHA...!!! MATIII...!!! MATIIII...!!! MATIIIIIIIIII...!!!"

Mas Toni dan Mas Yudi tak mau menyerah. Mereka berusaha merebut arit yang tajam itu dari tangan Pak Jarwo. Tapi laki laki setengah baya itu seolah telah dikuasai oleh sesuatu yang membuatnya menjadi sangat kuat, hingga dengan sangat mudahnya kembali menghempaskan tubuh kedua laki laki warga desa Kedhung Jati itu.

"HAHAHAHA....!!! MATIIIIIIIIIIIIII...!!! CHRAAAASSSS....!!!

" Astaghfirullaaahhh...!!! Bu Jarwoooo...!!! Mas Jokooooo...!!! Tolooooooonnggggg...!!!"

Terlambat! Teriakan minta tolong dari kedua laki laki warga Kedhung Jati itu sudah terlambat, karena dengan sangat buasnya Pak Jarwo telah menggorok lehernya sendiri dengan arit yang dipinjamnya dari Mas Yudi. Tubuh laki laki setengan baya itu lalu ambruk bersimbah darah, sementara kepalanya yang kini telah terpisah dari badannya itu, jatuh menggelinding dan berhenti tepat didepan wajah Mas Yudi yang baru saja berusaha untuk bangkit setelah tadi terhempas jatuh oleh tendangan Pak Jarwo.

"WHUAAAAAAAAAA....!!!" sontak Mas Yudi menjerit setinggi langit sebelum akhirnya jatuh pingsan.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 56 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
Wahh, makin serem nih...si demit nyari tumbal keknyaemoticon-Takut
profile picture
ngeri ngebayangin arit yg melingkar di leher pak jarwo, emoticon-Takut
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@69banditos nyari tumbal atau balas dendam gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@rinandya ga usah dibayangin gan, biar ga ngeriemoticon-Smilie
profile picture
yunie617
kaskus maniac
Wahhh ngeri.. makin bertambah korban yg berjatuhan..
Kang Mardi kena tulahnya sendiri, ngerondain demit...🤣🤣
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 dan bakalan trus nambah dan nambah lagi tuh korban berguguran
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 wahh..serem euy..
Wulan belum pulang2 buat nolongin warga sih
profile picture
iorme 
KASKUS Plus
waduh tambah serem aja ini emoticon-Takut
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Glundung p
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 kayaknya di story ini Wulan cuma nongol sebentar dah, nanti di akhir akhir cerita
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iorme ini baru awal gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@pulaukapok haha, kepala Pak Jarwo tuh gan
profile picture
iorme 
KASKUS Plus
@indrag057 ditunggu yang lebih seremnya gan emoticon-Big Grin
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 Peran utama selalu muncul diakhir mengalahkan demitnya..
Berarti yg byk ngurusin masalah gaib d desa bu Ratih donk
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@iorme siap gan, nanti begitu sempet ane update lagi
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 betul banget sist, Bu Ratih yang punya banyak peran di story ini
profile picture
bonita71
kaskus addict
Si demit pinter akting sampai² duo DiTo ga bisa bedain emoticon-Cendol Gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 dhemit kelas kakap sist, duo DiTo mah bukan lawannya
profile picture
nayanta
kaskus holic
Mantab om, terbaik ceritanya emoticon-Toast
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nayanta thank's ganemoticon-terimakasih
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 23 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di