CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
unyien dan 154 lainnya memberi reputasi

Part 5 : Obrolan Di Pos Ronda

Malam telah larut, saat penyelidikan para polisi itu selesai. Mayat Lik Diman mereka bawa ke rumah sakit yang ada di kota kabupaten. Beberapa barang bukti yang mereka temukan juga mereka bawa untuk penyelidikan lebih lanjut. Warga tak peduli dengan semua itu. Yang mereka pedulikan saat ini adalah apa yang menyebabkan Lik Diman sampai mengakhiri hidup dengan cara yang cukup mengerikan itu.

Sumur setengah jadi di kebun belakang rumah Pak Jarwo telah sepi kini. Namun tidak dengan pondok kayu di sebelahnya. Suasana di pondok milik Mas Joko yang biasanya sepi dan jarang dikunjungi orang itu, kini tak ubahnya seperti pasar dadakan. Warga yang masih penasaran berharap bisa mendapat jawaban dari Pak Komandan polisi, Pak Bayan, Pak Modin, dan Bu guru Ratih yang masih nampak berbincang dengan serius di dalam pondok kayu itu.

Mas Joko sendiri, selaku pemilik pondok itu, setelah selesai mandi dan membersihkan diri, lebih memilih untuk duduk di lincak yang ada di teras pondoknya bersama Pak Slamet, suami Bu Ratih, sambil mengawasi anak anak mereka, Ndaru dan Ratri, yang masih asyik bermain di sudut teras.

Sebuah pilihan yang salah dari Mas Joko. Karena bak gula yang mengundang gerombolan semut, kehadiran Mas Joko di teras itu juga mengundang kerumunan warga. Dan mau tak mau, Mas Joko harus kembali mengulang dan mengulang kembali cerita saat kejadian di sumur tadi siang, tanpa bisa memberi keterangan apa sebenarnya yang menjadi penyebab Lik Diman mati dengan cara yang mengenaskan.

Hingga saat hari hampir merangkak ke tengah malam, orang orang yang sedang 'rapat' didalam pondok Mas Joko membubarkan diri. Pak Komandan polisi segera pamit, tanpa sedikitpun memberi keterangan kepada para warga. Hanya Bu Ratih yang memberi sedikit pesan sebelum akhirnya juga pulang bersama Pak Slamet dan Pak Modin.

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita tunggu saja hasil penyelidikan para polisi," ujar guru cantik itu pelan namun tegas. "Tapi ada baiknya untuk beberapa hari ke depan, kegiatan ronda malam lebih ditingkatkan lagi ya. Dan saya harap, untuk beberapa hari ke depan juga, jangan ada yang berani mendekat ke sumur itu."

"Dan satu lagi," Pak Bayan menambahkan. "Daripada kalian kumpul kumpul ndak jelas disini, apa ndak lebih baik kalian ikut saya kerumah Lik Diman? Dia memang bukan warga desa sini, tapi tetap saja dia adalah tetangga kita!"

Tak ada lagi yang berani membantah kata kata Bayan tua yang terkenal galak itu. Wargapun bubar. Dan pondok kayu milik Mas Joko kembali sepi, memberi kesempatan kepada penghuninya untuk beristirahat setelah seharian dilanda ketegangan.

****

Tiga hari semenjak kejadian di sumur Pak Jarwo, akhirnya rasa penasaran para wargapun sedikit terjawab. Lik Diman dinyatakan meninggal murni karena bunuh diri. Apa sebabnya, polisi tak memberi keterangan lebih lanjut. Jenazah Lik Dimanpun telah dimakamkan. Dan kasus itu lambat laun mulai terlupakan.

Bukan hal yang aneh sebenarnya. Untuk ukuran desa Kedhung Jati, orang mati sudah biasa. Bahkan dengan cara yang seaneh apapun. Tapi berbeda dengan kasus kematian Lik Diman ini. Sudah sekian tahun tak ada hal hal aneh terjadi di desa yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dhedemit ini. Sudah sekian tahun juga mereka merasakan hidup tenang dan damai tanpa ada gangguan. Dan kematian Lik Diman yang tak biasa, seolah olah kembali membuka luka lama dan menyulut berbagai opini dari para warga.

Seperti malam itu di pos ronda. Beberapa laki laki yang mendapat giliran ronda masih juga membahas soal kematian Lik Diman.

"Kalian percaya kalau Lik Diman itu mati bunuh diri?" Kang Mardi membuka percakapan setelah meneguk sedikit kopi di cangkir kalengnya.

"Percaya nggak percaya sih," Lik Sukri menimpali sambil membolak balik singkong di dalam perapian yang mereka buat di depan bangunan poskamling itu. "Polisi kan sudah mengeluarkan pengumuman resmi."

"Kalau aku sih ndak percaya," Kang Mardi menyalakan rokok tingwe yang baru saja selesai ia racik. "Mana ada orang bunuh diri dengan memelintir kepalanya sendiri sampe muter seratus delapan puluh derajat gitu?"

"Jadi menurut sampeyan para polisi itu bohong?" Mas Toni yang sejak tadi diam ikut bicara.

"Aku ndak bilang kalau para polisi itu bohong lho ya," ralat Kang Mardi. "Tapi aku menduga, polisi polisi itu sengaja menyembunyilan sesuatu dari kita."

"Menyembunyikan sesuatu? Maksudmu gimana to Di?" Mbah Atmo, yang paling tua diantara mereka bertanya.

"Ya bisa saja to ada informasi yang kalau sampai ke telinga warga membuat warga jadi resah, jadi sengaja ndak dikasih taukan ke kita," jawab Kang Mardi.

"Ada benarnya juga sih," gumam Mas Toni. "Tapi kalau menurut pendapat sampeyan, apa yang membuat Lik Diman sampai mengakhiri hidupnya seperti itu Lik?"

"Aku sih ndak begitu yakin Ton, tapi kalau menurut perkiraanku, semua ini masih ada hubungannya dengan Mbah Kendhil!" jawaban Kang Mardi yang spontan itu membuat mereka yang mendengar jadi terperangah sesaat.

"Edan! Jangan bawa bawa orang yang sudah mati kamu Di! Pamali! Apalagi Mbah Kendhil kan...."

"Sampeyan yakin kalau Mbah Kendhil sudah mati?" cepat Kang Mardi menukas teguran Mbah Atmo.

"Lha kan dulu cucunya sendiri yang menemukan jasad Mbah Kendhil yang sudah jadi jenglot di kali Rampeng sana!" ujar Mbah Atmo.

"Aku sih ndak yakin kalau yang dulu ditemukan sama Wulan itu jasadnya Mbah Kendhil. Coba sampeyan pikir, semenjak awal Mbah Kendhil menghilang dari desa ini, hingga Wulan menemukan jenglot itu, hanya selang beberapa tahun saja. Ndak lebih dari duapuluh tahun kurasa. Sesakti apapun Mbah Kendhil, aku yakin tak akan bisa secepat itu bisa berubah menjadi jenglot. Karena setahuku butuh waktu ratusan tahun untuk seseorang dengan kesaktian tertentu bisa menjelma menjadi jenglot."

"Ada benarnya juga sih Kang," Mas Toni kembali bergumam. "Tapi kalau memang Mbah Kendhil belum mati, lalu dimana beliau sekarang?"

"Soal itu aku ndak tau Ton. Mungkin nyepi ke gunung Lawu sana, karena kudengar dulu pas mudanya beliau berguru kesana."

"Lalu, apa hubungannya peristiwa meninggalnya Lik Diman dengan Mbah Kendhil Di?" Lik Sukri melemparkan sepotong singkong bakar yang telah matang ke lantai poskamling, yang segera disambut oleh Kang Mardi.

"Kalian tau kan apa yang ditemukan Mas Joko didalam sumur itu?" ujar Kang Mardi sambil meniup niup singkong bakar yang sudah ia belah dan mengepulkan asap itu.

"Kendhi aneh itu maksudmu Kang?" tanya Mas Toni.

"Ya. Benar. Kendhi yang dibungkus dengan kain mori dan disumbat pakai galih kayu cendana, kalian pikir apa kalau bukan untuk menyegel makhluk makhluk jahat!" jelas Kang Mardi.

"Aku masih belum mengerti Di," Mbah Atmo mengecilkan volume radio transistor yang sedang menyiarkan acara wayang kulit itu. Sepertinya apa yang akan diceritakan oleh Kang Mardi ini lebih menarik daripada lakon wayang yang sudah ia hafal diluar kepala itu.

"Gini lho Mbah, dari semenjak dahulu kala, bahkan saat desa ini masih bewujud hutan belantara dan belum dirambah menjadi sebuah desa, area Tegal Salahan itu sudah dikenal sebagai sarangnya para dhedemit. Ibarat kata orang dulu, jalma mara jalma mati, siapa yang berani mendekat akan celaka. Hanya orang orang yang punya kesaktian tinggi saja yang akhirnya mampu merambah tempat ini dan menjadikannya sebuah pemukiman. Nah, Si Mbah Kendhil ini, mungkin salah satu dari orang orang itu. Sampeyan ingat to, cuma dia dulu yang berani membangun gubuk dan tinggal di area sana? Tentu sebelum memutuskan untuk tinggal disana, Mbah Kendhil pasti terlebih dahulu menyingkirkan penghuni sebelumnya agar tak mengganggunya. Nah,....."

"Maksudmu kendhi itu adalah benda yang digunakan oleh Mbah Kendhil untuk menangkap dan menyegel para penghuni Tegal Salahan, dan menguburnya di lokasi yang kini digali menjadi sumur itu Kang?" sela Mas Toni.

"Tepat sekali! Tumben otakmu encer Ton," Kang Mardi mengacungkan jempolnya ke arah Mas Toni.

"Masuk akal juga sih Kang, mengingat tanah yang sekarang dibangun dan dibikin sumur itu dulunya adalah tanah milik Mbah Kendhil, yang terpaksa dijual sama Mas Joko untuk biaya masuk kuliah Wulan." ujar Mas Toni lagi.

"Walah, kalau dugaanmu itu benar Di, berarti...."

"Berarti dhemit dhemit dalam kendhi itu sudah lepas, benar kan Mbah?" lagi lagi Kang Mardi menukas ucapan Mbah Atmo.

"Jangan nakut nakutin kamu Di!" Lik Sukri masuk kedalam piskamling sambil mengusap tengkuknya yang tiba tiba merinding.

"Bukan nakut nakutin Lik. Tapi cuma menduga duga, karena kemarin aku juga sempat mendengar ucapan Bu Guru Ratih saat memeriksa kendhi itu. Kalian tau apa yang dibilang Bu Ratih?"

"Apa Di?" Mbah Atmo, Lik Sukri, dan Mas Toni mendekatkan wajahnya kearah Kang Mardi agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan diucapkan oleh laki laki itu.

"Kendhi itu kosong! Tapi sebelumnya isi!" bisik Kang Mardi dengan nada yang dibuat buat seram, membuat ketiga teman rondanya itu terjingkat kaget.

"As*! ngaget ngagetin saja kamu Di!" sentak Lik Sukri sambil mengelus dadanya.

"Hahaha....!" Kang Mardi tertawa puas.

"Kalau benar seperti itu, berarti...."

"Berarti ada kemungkinan akan ada teror selanjutnya ya Kang?"

"Ya. Teror yang sebenarnya, karena apa yang menimpa Lik Diman kemaren barulah awal. Kalian bayangkan saja, kalau sampai makhluk makhluk itu dikurung dan ditanam sedemikian dalam di bawah tanah, bisa kalian bayangkan betapa berbahayanya makhluk makhluk itu. Lebih berbahaya daripada para dhedemit yang dulu dibatai Wulan di alas Tawengan! Apalagi mereka juga pasti merasa dendam setelah dikurung seperti itu. Begitu mereka bebas...., BOOOMMMM...!!! Mereka akan menumpahkan dendamnya kepada orang orang yang telah mengusik mereka!" Kang Mardi mengakhiri ucapannya dengan berdiri dan melangkah meninggalkan poskamling itu.

"Lho, mau kemana kamu Di?" seru Mbah Atmo.

"Pulang!" sahut Lik Mardi tanpa menoleh.

"Kok pulang gimana to? Kita lagi tugas ronda lho!"

"Kalau ngerondain maling sih aku sanggup Mbah! Tapi ngerondain dhemit yang baru saja lepas dari Tegal Salahan itu, memangnya kalau mereka muncul di hadapan sampeyan, sampeyan masih berani menghadapinya?!"

"Woooo....! " As* tenan kowe Di!"

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 59 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
ijobanter
kaskus addict
Rokok ngelinTing deWe..mantep..ditunggu kelanjutannya om indra
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@ijobanter ciri khas warga desa kedhung jati gan, rokoknya rokok tingweemoticon-Leh Uga

Insya Allah lanjut besok lagi gan
profile picture
yunie617
kaskus maniac
Enak tuh rokok tingwe, papirnya dari klobot jagung🤣🤣🤣

Eh tumben Kang Mardi cerdas, analis nya masuk...udah kay detektif Conan aja.
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 cerdas sih cerdas, tapi ujung ujungnya ngeselin, masa langsung kabur gitu abis nakut nakutin temennya
profile picture
winterstrom22
kaskus maniac
@ijobanter @indrag057 ditunggu besok ya om
profile picture
yunie617
kaskus maniac
@indrag057 wkwkw cari aman aja donk gan.. ntar nasibnya sama kaya lik diman
profile picture
searcher13
kaskus holic
Mantul ceritanya gan.
Bikin nagih....
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@winterstrom22 @ijobanter siap gan, seperti biasa ya, agak maleman
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@yunie617 wakaka, curang Kang Mardi
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@searcher13 makasih ganemoticon-terimakasih
profile picture
wazeenk... serem tenan iki.. gan tulisanmu ini klo di bukukan bagus bgt
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Gassssss
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prawoko11 haha, cuma cerita receh gan, belum pantas kalau dibikin buku
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@pulaukapok gas terus kapan ngopinya ganemoticon-Ngakak
profile picture
dajalbingung
kaskus addict
Bayan itu apaan sih om te es
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@dajalbingung Bayan itu kalau zaman sekarang mungkin setara ama kepala dusun gitu kali ya, perangkat desa dibawahnya kades/Lurah,
profile picture
dajalbingung
kaskus addict
@indrag057 jadi bayan kayak camat gitu ya
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@dajalbingung bukan camat sih, apa ya? Kalau di daerah perkotaan mungkin semacam ketua RW gitu lah, jabatannya masih dibawah lurah
profile picture
@dajalbingung @indrag057 bayan itu perangkat desa dia itu bahasa modern nya KAUR .. biasa nya.. bayan itu klo ga kaur kesra ya kaur informasi.
profile picture
@indrag057 waduh klo tulisan kaya gini masih receh.. lha yang 100rb an tulisan nya kaya apa gan kwkwkwkwk
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 27 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di