CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/610a1f9c1e718c3bc616bc06/sumur-pati-pageblug-di-desa-kedhung-jati-2

SUMUR PATI [Pageblug Di Desa Kedhung Jati 2]

Spoiler for :


Spoiler for :



gambar diambil dari berita.yahoo.com dengan sedikit perubahan



Sinopsis
Spoiler for :





Part 1 : Firasat

Spoiler for :


Sambil bersiul siul kecil Lintang menyusuri jalanan yang gelap dan sepi itu. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket yang ia kenakan dan kancingkan rapat rapat, untuk menahan hawa dingin khas pedesaan yang terasa menggigit sampai ke tulang.

Belum juga setahun ia tinggal di kota untuk menuntut ilmu, namun saat pulang untuk berlibur ke desa seperti sekarang ini, ia sudah merasa sedikit asing dengan suasana desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu.

Ya. Tegal Salahan yang sekarang sudah bukan Tegal Salahan yang dulu lagi. Tak ada lagi kesan angker maupun mistis yang dulu selalu meneror warganya disetiap waktu. Beberapa warga bahkan mulai berani mendirikan rumah di area yang dulu dikenal sebagai sarangnya para dedhemit itu. Jalanan yang dulu berbatu, kini juga sudah dicor beton, meski sekarang permukaan jalan itu mulai terlihat kusam dan berlumut karena jarang dilalui kendaraan. Hanya para petani yang setia melewati jalanan itu untuk pergi ke sawah atau ladang mereka.

Lampu lampu penerangan jalan juga sudah dipasang di beberapa titik, hingga jalanan itu tak segelap dulu. Hanya di area sekitar Buk (jembatan kecil) yang berada diantara tanjakan dan turunan jalan itu saja yang masih terlihat gelap dan suram. Entah mengapa, meski sudah beberapa kali dipasang lampu penerangan, selalu saja tak bisa bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari, lampu yang dipasang di sekitaran Buk itu akan rusak dan mati. Mungkin para 'penghuni' Buk itu memang tak suka dengan suasana yang terang, entahlah!

Lintang terus melangkah, sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan, sekedar menikmati suasana desa yang sudah sekian lama ia rindukan. Tegal Salahan, memang banyak menorehkan kenangan. Semenjak kecil, ia sering bermain main di tempat ini bersama Wulan, salah satu sahabat yang sampai saat ini masih setia berteman dengannya.

Dan karena Wulan juga, malam itu Lintang memaksakan diri untuk menembus gelapnya malam, menuju pondok kayu yang kini mulai nampak di kejauhan. Ia sudah berjanji untuk mengembalikan buku yang beberapa hari lalu ia pinjam dari gadis itu. Sialnya, ia nyaris lupa dengan janjinya, dan baru ingat saat tadi ia sudah bersiap untuk beranjak ke pembaringan. Janji tetaplah janji, ucapan yang harus ia tepati. Apalagi janji kepada gadis bernama Wulan itu. Jika sampai ia tak menepatinya, bisa fatal akibatnya. Lintang sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya yang satu itu.

"Tok...! Tok...! Tok...!"Assalamu alaikum!" Lintang mengetuk pintu dan mengucap salam begitu sampai di pondok kayu yang berada di tengah tengah ladang jagung itu. Pondok yang kondisinya masih sama dengan beberapa puluh yang lalu saat ia masih kanak kanak dan sering bermain kesini. Ah, Pakdhe Joko memang orang yang nyentrik. Ayahnya Wulan itu masih mempertahankan bentuk bangunan kayu peninggalan orang tuanya yang terkesan unik itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Lan, sudah tidur to?" kembali Lintang mengetuk, setelah beberapa saat menunggu namun tak ada jawaban. Sepi! Tak ada tanda tanda kalau ada orang didalam pondok itu.

"Tok...! Tok...! Tok...! Wulaaannnn...!" Lintang kembali mengetuk sambil memanggil nama sang sahabat dengan gaya yang khas seperti saat mereka masih kecil dulu. Sepi! Tak ada sahutan. Juga tak ada tanda tanda kalau ada orang yang bergerak dari arah dalam pondok untuk membuka pintu.

"Apakah mereka sedang pergi?" gumam Lintang sambil memperhatikan suasana di sekelilingnya. Lampu bohlam berkekuatan lima watt yang tergantung di teras pondok itu sudah cukup untuk menerangi suasana di sekitar pondok. Jeep tua berwarna hitam milik Pakdhe Joko yang kini telah diwariskan kepada Wulan nampak terparkir di halaman pondok.

"Ah, mungkin mereka sudah pada tidur, kalau pergi tentu mereka akan membawa mobil ini," gumam Lintang sambil beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Sudah tiga kali ia mengucap salam, dan tak ada jawaban. Itu berarti kehadirannya di tempat itu sedang tidak diinginkan, begitu kepercayaan orang orang di desa ini.

"Krrrooaakkkk...!!!"

"Eh, suara apa itu?" langkah Lintang terhenti saat sampai di halaman pondok. Suara serak bernada rendah itu terdengar samar dari arah kanannya. Suara mirip orang tercekik, atau seperti suara sendawa orang yang kekenyangan sehabis makan.

"Krrrooaakkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Lintang menoleh dan tanpa sadar melangkah ke arah kanan, arah darimana suara itu berasal. Arah dimana rumah gedhong milik Pak Jarwo berada. Warga baru yang membeli sebagian lahan milik Pakdhe Joko itu belum lama ini membangun rumah gedhong itu. Bahkan bangunannya belum sempurna, masih ada beberapa bagian yang harus diselesaikan.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Kembali suara itu terdengar. Dan kini semakin jelas. Benar! Arahnya dari bangunan rumah Pak Jarwo. Tapi suara apa? Perasaan Lintang mulai tak enak. Tanpa sadar, ia meraba kalung benang lawe dengan bandul bungkusan kain kumal yang melingkar di lehernya. Ada hawa hangat yang menjalar dari kalung warisan Pak Modin itu. Dan hawa hangat itu terasa semakin kuat, seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat ke rumah Pak Jarwo.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Lagi lagi suara itu terdengar. Lintang semakin mendekat ke arah rumah gedhong itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Arah belakang rumah, desis Lintang sambil melangkah memutar untuk menuju ke arah belakang rumah itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Sumur! Lintang yakin, suara itu berasal dari dalam sumur yang berada di kebun belakang rumah Pak Jarwo. Lintang tak sempat berpikir, semenjak kapan ada sumur di tempat itu, karena sorot lampu bohlam berkekuatan lima watt yang menerangi area sumur itu sudah memperlihatkan pemandangan yang membuat bulu kuduknya merinding tiba tiba.

Sepotong tangan berwarna hitam menggapai keluar dari dalam lubang sumur itu, lalu berpegangan erat pada tembok pembatas bibir sumur yang berbentuk bulat melingkat. Tangan kurus hitam dengan jari jemari panjang melebihi ukuran jari manusia normal pada umumnya, dengan kuku kuku yang juga tak kalah panjang dan berujung runcing.

"Astaghfirullah! Apa itu?" desis Lintang yang kini hanya bisa berdiri terpaku beberapa langkah dari sumur itu.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Belum habis rasa keterkejutan Lintang, suara aneh itu kembali terdengar, disusul dengan kemunculan sepotong kaki yang juga keluar dari dalam sumur. Kaki kurus panjang berwarna hitam itu menekuk membentuk huruf V terbalik dengan telapak menapak di atas tembok bibir sumur.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Bayangan bulat hitam menyusul kemudian, pelan pelan naik ke permukaan. Sosok kepala yang juga berwarna hitam dengan rambut panjang acak acakan, sebagian tergerai menutupi wajah sang sosok yang sangat menyeramkan. Wajah tirus kurus dengan tulang rahang yang bertonjolan, sepasang mata bolong menghitam, serta mulut yang menganga memanjang ke bawah hingga menampakkan rongga yang juga gelap menghitam, kini jelas terlihat oleh Lintang.

"Krrrooaakkkkk...!!!"

Makhluk aneh itu bergerak pelan dengan gerakan aneh, keluar dari dalam lubang sumur sambil mengeluarkan suara yang juga aneh. Gerakan yang sangat lambat, terkesan kaku dan patah patah. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, juga dengan gerakan yang patah patah.

Lintang bergidik ngeri, saat makhluk itu telah berhasil keluar dari dalam lubang sumur dan merangkak diatas tanah. Sosok yang sama lalu menyusul, merangkak keluar dari dalam lubang sumur. Lalu disusul dengan sosok yang ketiga, keempat, dan entah berapa banyak lagi, Lintang tak sempat menghitung, karena sosok sosok yang telah berhasil keluar dari dalam sumur langsung melesat terbang ke arah utara, menuju ke arah desa Kedhung Jati.

Suara aneh mereka yang kini terdengar melengking tinggi terdengar menusuk gendang telinga Lintang, membuat pemuda itu refleks menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meski begitu, suara suara itu masih tetap terdengar, disusul dengan jerit kematian yang terdengar susul menyusul dari arah desa Kedhung Jati.

"Gawat! Ini..." belum sempat Lintang menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu kembali dibuat tercekat oleh sosok terakhir yang keluar dari dalam sumur itu, yang menoleh dan menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Jangan...! Jangan...!" perlahan Lintang mundur, saat sosok itu mulai bergerak mendekat ke arahnya, lalu dengan sebuah sentakan yang tiba tiba melompat dan menerjang ke arahnya.

"Whuaaaa...!!!"

"Gubraaakkk...!!!"

Lintang menjerit seiring dengan tubuhnya yang terhempas keatas tanah berumput..., eh, bukan, ini...., bukan tanah berumput, tapi lantai keramik, lalu..., bantal, guling, dan selimut.

"Asem! Ternyata cuma mimpi," gerutu pemuda itu sambil berusaha bangkit dan menyalakan lampu kamar kostnya. Suasana kamar jadi terang benderang kini, memperlihatkan permukaan tempat tidur yang berantakan serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan jatuh ke lantai. Lintang meringis. Ia merasa malu sendiri. Sampai sebesar ini, kebiasaan buruk itu belum juga hilang dari dirinya. Selalu terjatuh dari atas tempat tidur saat bermimpi buruk.

Mimpi buruk! Lintang tertegun. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, terasa sangat begitu nyata, seolah memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desanya.

Ah, mudah mudahan ini hanya sekedar mimpi, gumam pemuda itu sambil membereskan kembali tempat tidurnya yang berantakan, lalu kembali meringkuk dibawah selimut.

"Tulalit...! Tulalit...!" dering ponsel mengejutkan Lintang yang hampir kembali terlelap. Dengan malas ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Dan begitu melihat nama Wulan terpampang di layar ponselnya, rasa kantuk pemuda itupun lenyap seketika. Buru buru digesernya tombol hijau ke arah kanan, dan suara cempreng khas milik Wulan segera menyapa telinganya.

"Mbul! Wis turu po?"

****

"Wulaaannn...! Pulang! Sudah mau Maghrib ini!" suara teriakan Mbak Romlah menggema di sore yang cerah itu, meneriaki sang anak yang masih asyik bermain gundhu bersama teman temannya di kebun samping rumahnya.

"Iya Maakkk...!!! Sebentar lagi! Lagi nanggung nih!" sahut sang anak, juga dengan berteriak.

"Sebentar! Sebentar! Kamu nggak denger apa, sudah adzan tuh!" seru Mbak Romlah lagi, sambil terus sibuk dengan sapu lidi di tangannya. Sampah sampah dedauanan kering yang tadi berserakan, kini telah terkumpul di sudut halaman.

"Iya Mak! Sebentar lagi!"

"Wooo...!!! Bocah ndableg!" habis kesabaran, Mbak Romlah lalu melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu menyincingkan daster yang dikenakannya, dan dengan langkah lebar menghampiri sang anak.

"Aduh! Sakit Mak!" sontak anak perempuan itu menjerit saat tiba tiba tangan sang emak telah menarik daun telinganya.

"Makanya kalau orang tua ngomong itu didengerin! Kamu nggak denger itu di Mushalla Kang Sholeh udah adzan? Itu tandanya udah Maghrib! Pamali kalau anak kecil masih keluyuran di waktu Maghrib! Digondhol wewe gombel (sejenis hantu yang suka menculik anak anak) baru tau rasa kamu!" Sambil terus mengomel Mbak Romlah menarik tangan sang anak dan mengajaknya pulang. Teman teman Wulan sendiri, yang sejak tadi ikut asyik main bersama, langsung berhamburan pulang begitu melihat kemunculan Mbak Romlah yang memang dikenal galak itu.

"Ah, emak ini, zaman udah maju gini kok masih takut sama wewe gombel. Wewe gombel itu kan makhluk halus Mak, mana bisa menyentuh kita. Paling bisanya cuma nakut nakutin doang!" gerutu sang anak sambil mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat jeweran sang emak tadi.

"Eh, kamu ini ya, kalau dibilangin orang tua kok sukanya membantah lho! Siapa yang ngajarin begitu hah?! Siapa?!" nada suara Mbak Romlah semakin meninggi, membuat Mas Joko, sang suami yang baru pulang dari ladang itu geleng geleng kepala.

"Ini ada apa to, maghrib maghrib kok pada ribut?" ujar laki laki itu sambil meletakkan cangkul yang disandangnya di sudut teras pondok.

"Nah, ini nih, akibatnya kalau sampeyan terlalu memanjakan anak Pak. Sampeyan lihat sendiri kan? Sekarang dia sudah berani membantah kalau dinasehati!" sungut Mbak Romlah, masih dengan nada kesal.

"Wulan, mbok jangan suka membantah kalau dibilangin sama emak, ndak baik lho," lembut Mas Joko mengusap kepala sang anak.

"Habisnya, emak itu lho, apa apa kok dikaitkan sama hantu. Main sore sore takut dighondhol wewe gombel, main ke kali juga katanya takut digondhol ilu ilu (ilu ilu=sejenis hantu air penghuni sungai) , padahal kan hantu itu makhluk halus ya Pak, mana bisa mereka menyentuh dan menyakiti kita, paling bisanya cuma nakut nakutin doang," ujar sang anak membela diri.

Mas Joko tersenyum mendengar penuturan sang anak itu. Ia memang sosok laki laki yang sangat penyabar dan bijaksana. Tak heran kalau semua warga Kedhung Jati sangat menghormatinya.

"Wulan, memang benar, makhkuk halus itu mungkin ndak bisa menyentuh dan menyakiti manusia. Dan kita memang ndak harus takut sama makhluk halus. Tapi, kita mesti waspada Ndhuk, karena meskipun mereka tak bisa menyentuh dan menyakiti kita, tapi mereka bisa mempengaruhi jalan pikiran kita. Ingat, segala macam makhluk halus, jin, setan, iblis, siluman, atau semacamnya, mereka paling suka menyesatkan manusia. Dan jika hati dan pikiran manusia sudah dipengaruhi dan dirasuki oleh mereka, maka manusia bisa melakukan apa saja, termasuk menyakiti atau bahkan membunuh sekalipun. Jadi ingat, meski kamu ndak takut sama setan, tapi kamu harus selalu waspada, paham to?" dengan sabar laki laki itu menasehati sang anak.

Wulan kecil mengangguk. Kata kata yang diucapkan oleh sang ayah itu, begitu membekas di dalam benaknya, bahkan sampai sekarang saat ia sudah dewasa. Tanpa sadar Wulan tersenyum. Rasa kangennya kepada sang ayah, juga sang emak, semakin menjadi jadi. Tapi apa daya, ujian tengah semester yang tengah ia hadapi saat ini, membuatnya harus menunda rencananya untuk pulang ke desa.

"Tak!" suara berdetak dari ujung runcing pensil yang digunakan oleh Wulan, menggema di seluruh penjuru kamar kost yang sepi itu, membuyarkan lamunan si gadis berwajah manis itu. Wulan melengak, lalu pelan pelan mendekatkan ujung pensil yang telah patah itu ke depan wajahnya dan mengamatinya dengan mata nanar.

"Aneh! Perasaan aku menggunakannya biasa biasa saja, kok bisa patah gini sih?" gumam gadis itu pelan, sepelan tangannya yang kembali bergerak turun dan meletakkan pensil itu diatas meja.

"Ah, kenapa perasaanku jadi tak enak begini ya? Bapak, emak, dan Ndaru, kenapa aku terus terusan teringat dengan mereka? Sekedar kangen, atau....?" gadis itu lalu membuka laci meja belajarnya, mengeluarkan smartpohne kesayangannya, lalu menscroll layar dari benda pipih itu, mencari sebuah nama dari kontak seseorang yang selama ini selalu setia menjadi sahabat setianya. Lintang 'Gembul'. Begitu nama itu terpampang di layar ponselnya, Wulan segera menekan tombol call.

"Yaaaa..., kenapa Lan?" terdengar suara bernada malas dari seberang sana. Sejenak Wulan melirik jam yang tergantung di dinding. Sudah lewat tengah malam. Wulan sedikit menyesal karena telah mengganggu istirahat sahabatnya itu.

"Wis turu po Mbul?" (sudah tidur ya Mbul?)

"Hu-um! Ngopo sih tilpun yahmene?" (Hu-um! Ngapain sih telpon jam segini?)

"Sesok balik yuk Mbul." (Besok pulang yuk Mbul.)

"Balik? Balik nang ngendi?" (Pulang? Pulang kemana?)

"Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak!" (Kedhung Jati lah! Aku kangen sama emak.)

"Ngawur! Sesok kan lagi lekas ujian semester! Edan po malah ngajak balik!" (Ngawur! Besok kan baru mulai ujian semester! Gila apa malah ngajak pulang!)

"Perasaanku nggak enak Mbul," nada bicara Wulan mulai serius. "Aku merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk di desa."

"Halah! Mungkin perasaanmu saja itu Lan, karena kamu sudah kangen sama emakmu. Lagipula kalau ada apa apa pasti Budhe Romlah juga sudah ngabarin to?"

"Tapi Mbul...!"

"Sudahlah Lan, kita fokus sama ujian kita aja dulu. Cuma seminggu ini. Habis itu nanti kita pulang, oke?"


"Ummm..., iya deh!" akhirnya Wulan menyerah. "Tapi, bener kamu nggak ada firasat apa apa kan Mbul?"

Lintang terdiam sejenak. Mimpi buruk yang baru saja ia alami, sepertinya memang tak bisa dikesampingkan begitu saja.

"Mbul?!" suara Wulan mengejutkan Lintang.

"Eh, iya..., emmm, kenapa kamu nanya seperti itu?"

"Ya kan selama ini instingmu lebih tajam daripada aku Mbul. Kalau ada apa apa pasti kamu sudah merasakannya kan?"

"Ah, enggak kok, aku nggak dapat firasat apa apa."

"Beneran?"

"Iya."

"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa apa cepat kabari aku ya Mbul."

"Iya bawel! Lagian kan besok juga kita ketemu di kampus. Sudah ah, aku mau tidur lagi. Masih ngantuk nih."

"Iya deh. Tidur lagi gih. Tapi ingat, kalau sampai kamu bohong kepadaku, dan ternyata terjadi sesuatu hal yang buruk di desa, itu berarti kamu jahat Mbul! Dan orang jahat pantas untuk dihukum! Ingat itu!"

Wulan mengakhiri panggilan, sementara Lintang mendesah panjang setelah meletakkan ponselnya. Wulan, maafkan aku kalau kali ini harus membohongimu!

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azznay dan 153 lainnya memberi reputasi

Part 3 : Penyelidikan

Kabar meninggalnya Lik Diman dengan cara yang sangat tidak wajar itu dengan cepat segera menyebar ke seantero desa Kedhung Jati. Suasana desa yang semula tenang dan damai berubah menjadi gaduh. Jeritan Bu Jarwo saat melihat jenazah Lik Diman yang terlihat menyeramkan itu sukses mengundang warga yang penasaran. Mereka segera berbondong bondong mendatangi lokasi tempat penggalian sumur itu, sekedar untuk mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya, meski setelah melihat kondisi mayat Lik Diman rata rata para warga langsung memalingkan muka dan bergegas menjauh dari lokasi itu.

Bagaimana tidak. Mayat dengan kepala yang terpuntir ke belakang jelas saja terlihat sangat menyeramkan. Ditambah dengan wajah si mayat yang terlihat menegang sengan urat bertonjolan, kedua mata melotot nyaris melompat keluar dari tempatnya, dan lidah yang menjulur panjang keluar, membuat bulu kuduk siapapun yang melihatnya menjadi meremang. Hanya beberapa warga yang memiliki mental baja saja yang sanggup bertahan mengelilingi mayat itu sambil kasak kusuk membisikkan dugaan dugaan mereka tentang penyebab Lik Diman sampai nekat mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis itu.

"Stress kali, karena keseringan ribut sama istrinya," bisik salah seorang warga.

"Bisa jadi. Atau stress karena menggali sumur sampai sedalam ini belum ketemu sumber juga. Nama baiknya sebagai seorang penggali sumur yang handal bisa tercoreng kalau sampai gagal menyelesaikan pekerjaannya ini."

"Kalau menurutku sih kesurupan. Hanya orang yang ketempelan setan saja yang mampu membunuh dirinya sendiri dengan cara seperti ini."

"Hufh," Mas Joko menghela nafas. Kedatangan para warga ini, bukannya membantu tapi malah memperkeruh suasana. "Bapak bapak, tolong sedikit menjauh dari jasadnya Lik Diman ya, biar nanti pihak yang berwajib saja yang mengurusnya. Dan jangan mendekat ke dalam lobang sumur itu. Kita belum tau apa yang ada di bawah sana. Yud!"

Mas Joko segera memanggil Mas Yudi yang nampak masih syok terduduk bersandar pada batang pohon Lamtoro yang tumbuh tak jauh dari tempat itu. "Masih sanggup mengendarai motor?"

"Emph, bisa Mas," sahut Mas Yudi dengan suara sedikit gemetar. "Biar aku saja yang melaporkan hal ini pada Pak Bayan. Lama lama disini melihat kondisi Lik Diman bikin kepalaku tambah pusing Mas."

"Baguslah kalau begitu. Segera laporkan kejadian ini pada Pak Bayan, lalu hubungi Pak Modin juga. Dan keluarga Lik Diman..."

"Eh, kalau untuk memberitahu keluarga Lik Diman, aku bingung Mas. Gimana nanti aku ngomongnya?"

"Bilang saja kalau Lik Diman kecelakaan, jatuh atau gimana gitu. Intinya jangan sampai membuat mereka kaget."

"Baiklah kalau begitu Mas. Aku jalan dulu ya," Mas Yudi lalu berjalan gontai menuju ke tempat motornya terparkir, lalu memacunya cepat menuju ke arah desa. Sementara Mas Joko kembali sibuk meperingatkan beberapa warga yang sepertinya masih penasaran untuk mendekat ke tempat mayat Lik Diman berada.

***

Hingga sore menjelang, suasana di rumah Pak Jarwo semakin ramai. Pihak kepolisian yang datang setelah mendapat laporan dari Pak Bayan sampai kerepotan menghalau warga yang terus berdatangan bak semut mencium aroma gula. Pita kuning segera dipasang disekeliling area penggalian sumur itu. Penyelidikan seriuspun dilakukan. Beberapa petugas mulai mengidentifikasi mayat Lik Diman. Sebagian lagi memeriksa tanah dan lobang galian. Pak dan Bu Jarwo, Mas Joko, serta Mas Yudi yang menjadi saksi kunci dalam kasus ini dicecar dengan puluhan (atau mungkin ratusan) pertanyaan yang diulang ulang. Bahkan Si Klanthung, orang gila yang biasanya keberadaannya tak diharapkan warga itu kini dicari cari. Pak Bayan, Pak RT, bahkan Pak Modin, sesepuh desa yang telah renta itu juga ikut hadir dengan ditemani oleh Bu Guru Ratih, sang keponakan.

"Ada yang berani turun kedalam lubang?" seru seorang petugas polisi sambil menatap bergantian kepada Mas Yudi dan Mas Joko. Seperti dikomando kedua laki laki itu serempak menggeleng.

"Kita harus tau apa yang berada di dasar sumur sana. Siapa tau ada petunjuk penting. Dan kalian kan yang ikut kerja menggali sumur ini, masa nggak ada yang berani turun sih?" sungut si petugas polisi itu.

"Saya ndak mau bernasib seperti korban Pak!" seru Mas Yudi tegas. Dalam hati laki laki itu menggerutu. Enak saja nyuruh nyuruh, itu kan tugasmu sebagai seorang polisi pak!

"Kalau sampeyan?" polisi itu menoleh ke arah Mas Joko.

Mas Joko diam. Ada rasa tak enak untuk menolak permintaan petugas itu. Tapi kalau menuruti permintaan mereka, ia juga tak mau ambil resiko.

"Masa sih ndak ada yang berani turun?" kata petugas itu lagi dengan nada sedikit keras. "Kalian kan..."

"Pak, kita bukannya tak berani. Tapi kita kan ndak tau apa yang ada dibawah sana! Bagaimana kalau ternyata ada sumber gas berbahaya, atau..."

"Hey, sampeyan jangan...!" belum selesai Mas Yudi memprotes kata kata si petugas, petugas itu berseru sambil bergegas mendekat ke sisi lobang, mencoba menahan langkah seorang perempuan berkacamata yang juga mendekat ke arah lobang itu.

"Tak apa Pak," Pak Bayan Mangun menahan langkah si polisi.

"Tapi Pak..."

"Percaya sama saya. Apapun yang dilakukan oleh ibu itu, itu bisa sangat membantu penyelidikan kita."

Petugas polisi itu terdiam. Matanya terus mengawasi si perempuan yang kini berjongkok di pinggir lobang sambil tangannya menekan nekan tumpukan tanah bekas galian.

Orang aneh! Batin si polisi. Orang orang desa Kedhung Jati memang terkenal aneh, seaneh desa yang mereka tempati. Jadi polisi itu sudah tak begitu heran lagi.

Si perempuan berkacamata itu lalu kembali berdiri dan melangkah menjauh dari bibir lubang, sambil tangannya meremas remas segenggam tanah di tangannya.

"Tak apa Mas," perempuan itu berkata lembut kepada Mas Joko. "Turunlah, sudah ndak ada apa apa di bawah sana, kecuali mungkin sampah."

"Tapi Bu..." Mas Joko tak melanjutkan kata katanya.

"Percayalah Mas. Andaipun ada sesuatu yang berbahaya di dalam sana, saya yakin sesuatu itu telah pergi kini. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," ujar si perempuan berkacamata lagi.

Mas Joko tak bisa mengelak lagi. Kata kata si perempuan berkacamata itu sangat pantas untuk dipercaya. Tanpa ragu lagi ia akhirnya menyanggupi perintah petugas polisi itu.

"Ambil apa saja yang ada dibawah sana, dan masukkan kesini. Jangan lupa kenakan dulu sarung tangan karet ini!" si petugas polisi yang tadi menyuruh Mas Joko turun memberikan sebuah kantong plastik dan sepasang sarung tangan karet kepada Mas Joko sebelum laki laki itu turun.

Sambil menunggu Mas Joko sampai di dasar lubang, mata petugas polisi itu kembali mengarah kepada si perempuan berkacamata yang kini telah pergi menjauh dan nampak berbicara dengan sangat serius dengan seorang laki laki tua bertongkat di teras rumah Mas Joko.

"Siapa sebenarnya perempuan itu Pak?" bisik si petugas kepada Pak Bayan Mangun yang berdiri disebelahnya.

"Bu Guru Ratih," jawab Pak Bayan Mangun pelan, sambil ikut memperhatikan si perempuan berkacamata itu.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anwaranwar93 dan 59 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Tareeeek kang....
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@pulaukapok tareekk tambangemoticon-Ngakak
profile picture
Nhaaa iki sing tak enteni ...@indrag057
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@nur403 makasih gan

Baru sempet ngepost nih setelah sekian lama mengendap di draf
profile picture
Laaaaa... Bersambung.. duuuh
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prawoko11 lanjut nanti malem lagi ya gan
profile picture
@indrag057 oke gan, d tunggu lanjutan nya.. wah serem ini...
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prawoko11 siap! Part 4 udah ane post ya gan. Maaf, rada telat
profile picture
@indrag057 joss gan.. asli mantep nan critane... Pokoke ora rewell.. losss wae bro kekek
profile picture
Lusi.perr
kaskus addict
emoticon-Marah

Crita macam apa ini...


Bikin gw ga brani kencing ke blakang.

Te es harus tanggung jawab kalo gw ampe ngompol nih

emoticon-Mewek
profile picture
rijalbegundal
kaskus addict
@Lusi.perr macam tutul
profile picture
bonita71
kaskus addict
Duh telat nih
emoticon-Om Telolet Om!
profile picture
rijalbegundal
kaskus addict
@bonita71 telat berapa taun sist
profile picture
bonita71
kaskus addict
@rijalbegundal
Telat 2 part tuh emoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@prawoko11 siippp dah, mudah mudahan lancar updatenya gan sampai kelar
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@Lusi.perr ha berani kencing kebelakang ya kencing kedepan dongemoticon-Leh Uga
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@rijalbegundal @Lusi.perr itu mah ponakan Mbah Jambrong gan
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@bonita71 @rijalbegundal naru dua part mah masih bisa dikebut sist
profile picture
1980decade
kaskus maniac
ane suka guru Ratih emoticon-rose
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 19 dari 19 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di