CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Si Anak yang Kebingungan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/60f98cdead8c697fee02d3e0/si-anak-yang-kebingungan

[TRUE STORY] Si Anak yang Kebingungan

Solo, April 2016

Aku adalah seorang mahasiswa, anak pertama dari dua bersaudara yang lahir dari keluarga sederhana. Bapak bekerja sebagai sopir, dan ibu adalah seorang sales. 

Hidup kami serba pas-pasan, untuk sekadar makan ayam saja bisa dihitung dengan jari dalam satu bulan. Lauk tempe dan tahu saja sudah terasa nikmat di lidah.

Meski begitu, aku tetap bersyukur dan menjalani hari-hari layaknya mahasiswa biasa. Kuliah, nugas, kuliah, nugas.. uang saku 200 ribu sebulan harus bisa diirit-irit untuk tugas, makan, dan kuota.

Sudah cukup cerita tentang aku, kali ini ada yang lebih menarik dan ingin aku ungkapkan.

Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi, namun nama pelaku tetap disamarkan.

Btw, maaf ya agan-agan semua, kalau threadnya berantakan. Ane lupa cara bikin thread hehe. 
Semoga agan semua menikmati cerita ini.
Disclaimer, ane ga mau menjelek2kan pihak yang ada di dalam cerita ini. Murni karena pengen cerita aja.
Jangan lupa cendolnya gan emoticon-Big Grin emoticon-Cendol Gan




Sejak itu, semua berubah..

Juni 2017

Suatu sore, telepon bapak berdering berulang kali, seolah ada seseorang ingin mengabarkan hal yang begitu penting.

"Halo, Assalamualaikum, ada apa?," ucap Bapak menjawab telepon.

Samar-samar terdengar suara kakak sepupuku bernama Amar yang menangis kebingungan.

"Om, mama serangan jantung, ini dalam perjalanan dirujuk ke rumah sakit di Solo," kata kakakku saat speaker telepon bapak diaktifkan.

Singkat cerita, bapak langsung menghubungi saudaranya yang lain untuk mengabarkan kondisi budeku.

Beberapa jam kemudian, kakak sepupuku telepon lagi dan mengabarkan bahwa kondisi ibunya semakin memburuk, dan semakin memburuk hingga akhirnya meninggal.

Budeku ini adalah single parent yang memiliki satu anak kandung, mas Amar, dan satu anak adopsi bernama Rani.

Amar berusia 23 tahun, 2 tahun di atasku. Sedangkan Rani masih berusia 7 tahun.

Setelah bude meninggal, Mas Amar dan Rani tinggal sementara di rumahku. Yah, berbeda dengan rumahnya di desa yang bebas dan bisa dibilang berkecukupan.

Saat itu, bapak dan saudara lainnya mulai merundingkan tentang dimana Mas Amar dan Rani akan tinggal. Sebagai keluarga, sudah sewajarnya kan saling bantu membantu.

Hingga muncul kesepakatan, kedua saudaraku ini tinggal di rumahku.

Baru beberapa hari tinggal, Mas Amar yang sudah terbiasa hidup bebas di rumahnya, merasa kurang sreg saat di rumahku. Ia akhirnya kembali ke desa dan memilih melanjutkan hidupnya di sana.

Sayangnya, ia seolah melupakan Rani, adik adopsinya dan membiarkan Rani tinggal di rumahku.

Sebagai informasi, Mas Amar memang tipe anak tunggal yang selalu bergelimang harta dan terbilang manja, ya karena didikan Alm bude yang terlalu memanjakan anak-anaknya.

Setelah Mas Amar pulang, Rani tinggal bersama kami. Bapak mulai mengurus surat pindah sekolah agar Rani bisa bersekolah di SD yang sama dengan adikku.

Hari demi hari berlalu, Rani mulai kehilangan sosok ibu (budeku). Ia tak henti menangis dan menangis. Ku coba untuk menuruti apa pun maunya. Termasuk makan makanan enak seperti yang biasa diberikan bude untuk Rani.

Tapi, orangtuaku mulai menyadari bahwa tak bisa terus menerus menyanggupi keinginannya untuk makan enak.

Akhirnya Rani mau tidak mau beradaptasi dengan makanan andalan keluargaku, tempe dan tahu.

Bersambung


Quote:



profile-picture
profile-picture
profile-picture
fksofa dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fe.gaws16
Bermuka Dua

Kejadian yang membuat keluargaku tak habis pikir adalah saat Rani bisa menjadi anak yang bermuka dua.

Di usianya yang baru genap 8 tahun, Rani sudah pandai mengarang cerita yang membuat Bude Kus seolah-olah menjadi orang paling jahat.


Suatu pagi, Bude Kus akan berangkat ke SD, ia menunggu Rani yang tak kunjung selesai berdandan. Ya, maklum anak umur 8 tahun biasa dibantu ibunya, tapi mendadak harus apa-apa sendiri, membuat Rani kesulitan.

Bude Kus yang harus piket pagi-pagi pun terpaksa meninggalkan Rani.

Keluarga Bude Kus ini memang terkenal tegas dan disiplin, jadi ya Rani dididik jadi anak yang harus disiplin.

Alhasil, Rani berangkat ke SD dengan berjalan kaki. Jarak rumah bude ke SD mungkin sekitar 800 meter.

Rani pun berjalan kaki sendirian menuju sekolahnya.

Di tengah jalan, Rani bertemu dengan seorang teman dan ayahnya (yang ternyata tetangga Bude Kus). Di situ, dia ditawari untuk berangkat bersama.

Kejadian Rani berangkat jalan kaki ini sudah berlangsung beberapa kali.

Ayah dari teman Rani yang sempat mengajaknya berangkat bersama pun akhirnya iba. Rani pun diajak untuk ke rumah temannya itu.

Di sana, Rani yang terbilang pendiam saat di rumah Bude Kus, berubah menjadi anak yang berani bicara.

Tapi sayangnya, ia justru mengungkapkan hal yang jauh dari kenyataan.

Rani mengaku ia tak dianggap di rumah Bude dan menyebut dirinya anak buangan. Padahal, keluarga Bude Kus sudah mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk Rani.


Bagi kita orang dewasa, mungkin tidak akan menelan mentah-mentah ucapan Rani.


Namun sayangnya, ayah dari teman Rani justru berbeda. Ia begitu iba mendengar cerita Rani yang seolah-olah disia-siakan oleh Bude Kus dan keluargaku.

Lucunya, ayah teman Rani ini justru menceritakan hal tersebut ke tetangganya, yang notabene masih sekampung dengan Bude Kus.

Apa boleh buat, Bude Kus akhirnya kesal dan mendatangi ayah temannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bonita71 dan 10 lainnya memberi reputasi
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di