LiongMelfinAvatar border
TS
LiongMelfin
Misteri Hotel 1888 (Horor, Misteri)
Design gambar oleh penulis


Judul: MISTERI HOTEL 1888 (Horror, Misteri)
Genre: Horor, Misteri
Penulis: Ayu Fameliya EL (LiongMelfin)


Quote:

"Makasih ya led, aku engga akan bernasib sebaik ini, jika aja aku gak dengarkan saran kamu kemarin-kemarin... bahkan, setelah aku membeli hotel ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kehidupan kita kelak." Ucap liam sembari tersenyum penuh haru.

"Iya li, sama-sama. Aku bergerak sesuai dengan komitmen kita dulu, sewaktu masih berada di sekolah menengah atas. Oh, ya! Rencana kamu untuk hotel ini bagaimana? Apa kamu mau ganti nama hotel tua ini?" Tanya aleda sambil menatap papan nama hotel ternama itu.

"Kayaknya sih, engga. Hotel ini pernah jaya pada zamannya, dan aku berharap kejayaan itu akan kembali bersinar setelah aku restorasi bangunan ini." Jawab liam santai.

"Kamu ada niat mau ubah semuanya? Terlalu di sayangkan lho," ujar aleda.

"Ya engga, dong! Aku cuma ingin perbaiki bagian yang hampir roboh, dan menambah sedikit fasilitas di hotel ini. Memperbarui serta memperbaiki tanpa mengubah sedikitpun keaslian bangunan ini." Kata liam sambil menunjuk beberapa bagian hotel yang sudah rapuh.

Aleda tampak tertegun. "Yaudah aku serahin semua nya sama kamu, yang penting semua lancar dan mudah-mudahan kali iniiii aja, usaha kita berhasil. Udah beberapa kali kita gagal, aku harap ini yang terakhir."

"Ini berkat doa kamu juga led, amin." Liam mengecup kening aleda dengan lembut. "Aku mau coba cek ke dalam. Kamu mau ikut?"

"Tapi, di dalam kan gelap li."

"Aku bawa senter, kok. Yuk!"

Aleda dan liam mulai memasuki hotel tua peninggalan konglomerat ternama pada masa lalu. Dinding yang terbuat dari batu marmer berwarna merah bergaris hitam di setiap sisinya, memberikan kesan penggah setiap mata yang melihat. Sorotan senter liam menyorot ke berbagai sisi dalam hotel.

"Waw, luas dan megah ya, li." Imbuh aleda sambil menggandeng tangan liam dengan erat. "Aku masih ngga nyangka kita bisa dapatkan hotel ini dengan harga yang ramah." Aleda melempar tatap ke segala arah, mencoba membiasakan pandangannya dalam gelap.

"Kita emang beruntung, led. Doa kita terjawab, tinggal sedikit lagi kita resmikan bangunan ini." Kata liam yang terus menggandeng tangan aleda, berjalan menyusuri bangunan hotel tua dalam gelap.

"Pemilik sebelumnya rutin kirim puluhan orang untuk membersihkan bangunan ini, jadi hotel ini cukup terjaga kebersihannya. Maksud aku, ngga ada barang-barang berserakan di hampir seluruh ruangan kaya gedung-gedung kosong di film." Terang liam dengan polosnya.

"Ya ampun, korban film ternyata. Hehe." Aleda tertawa mendengar penuturan liam. "Bersyukur, pemilik sebelumnya masih peduli sama bangunan leluhurnya. Jadi kita sebagai pemilik baru gak repot deh buat kirim orang lagi. Iya, kan?"

Kini mereka menyusuri lorong hotel lantai pertama. Terdapat puluhan ruangan yang terjajar rapi dengan pintu berukir yang terbuat dari kayu jati. Di masing-masing pintu terdapat lonceng berwarna emas yang tergantung.

"Iya deh. Terserah opini kamu aja. Oh ya, by the waykamu mau coba naik ke lantai dua?" Tawar liam sambil menyorot tiap-tiap nomor kamar yang tertempel di daun pintu.

"Ah, nanti aja deh, aku sedikit merinding." Kata aleda mengelus tengkuk nya.

"Hm, yaudah, kita puterin aja lantai satu ya. Di lantai satu ini ada lima lorong, yang masing-masing di isi sekitar 20 kamar. Kita coba masuk ke lorong kedua, yuk?" Ajak liam.

"Boleh deh, yaudah yuk kita puter balik."

Aleda dan liam berbalik menuju lorong kedua, di tengah-tengah lobbi hotel terdapat tangga putar bercabang tiga yang sangat besar. Aleda terus mendengarkan derap langkah kaki mereka yang menggema. Tetapi, di ujung lorong aleda merasa sedikit aneh.

"Li, ada orang lagi di sini selain kita?"

"Engga ada."

"Loh."

"Kenapa led?"

"Aku bingung aja, kok ada suara langkah kaki yang lain ya?"

"Ah, masa?"

Liam segera menghentikan langkahnya, ia terdiam. Lalu ia melangkah lagi, sembari menghafal suara yang sama ia lalu berhenti lagi.

"Ini langkah kaki kita, tau!" Kata liam mencubit hidung bangir aleda dengan gemas. "Ngga usah parno, deh."

"Bukan. Coba deh kamu perhatiin lagi. Suara nya ada di lantai dua."

Langkah liam lagi-lagi terhenti, sembari menajamkan pendengaran. Lalu menatap ke atas. Ia menurunkan sorot senternya ke lantai, lantas mematikannya.

"Kamu diam. Melangkah pelan-pelan. Aku khawatir kalau tempat ini jadi sarang bandit. Mengingat tempat ini terlalu lama kosong."

Keduanya melangkah dengan pelan, hingga suara alas kaki yang beradu dengan lantai marmer nyaris tidak terdengar. Mereka berjalan dalam gulita, berjalan menuju tangga putar.

Tetapi, sebelum mereka tiba di sana. Liam melihat siluet yang bergerak menuruni tangga dengan langkah cepat. Siluet itu berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga, liam dengan gesit berlari ke bawah tataran, mencoba memberi efek kejut pada siluet yang di taksirnya adalah seorang perempuan.

"Aku ke sana dulu led! Aku yakin dia perempuan, di lihat dari gaya berjalan dan bentuk bayangannya!"

"Kamu hati-hati." Pesan aleda kepada liam.

Liam berlari dengan langkah ringan. Melewati kolong jenjang kemudian berusaha menyentak sesiapapun sosok yang tengah berlari menuju bibir tangga.

"Berhenti!" Liam menangkap salah satu bagian tubuh sosok itu.

"Ah!" Pemilik suara itu berontak, berusaha melepaskan genggaman liam. Ia terus menarik tangannya dari kepalan liam, tapi tidak berhasil. Liam juga tak mau kalah, ia menginjak kain bagian bawah milik sosok itu, dengan tujuan agar dia diam dan tidak lagi memberontak.

"Lepas! Hey! Lepas! Dasar setan!"

Tapi liam salah, tubuh itu terus melawan agar bisa lepas.

"Diam!" Bentak liam dengan hentakan keras hingga terdapat buntalan kain menutupi permukaan kakinya.

"Brug! Ah!!"

Mata liam sudah mulai terbiasa dalam gelap, ia dapat melihat siapa wujud itu. Seorang wanita cantik berambut pirang di kepang, dengan kulit putih yang sedang menutupi sebagian tubuhnya yang loncos tersimpuh di kaki liam. Liam menyadari pemandangan apa yang tersaji di hadapannya, dengan cepat ia membuang muka.

"Angkat kaki anda, dan kembalikan jarik saya!" Ujar wanita itu dengan suara bergetar.

Liam segera menyingkir dari posisinya, membelakangi wanita itu dengan maksud memberinya kesempatan untuk mengenakan kembali busana nya.

"Sudah! Anda ini makhluk dari planet mana, mengapa bisa memperlakukan wanita dengan begitu kasar?" Tanya wanita itu tegas.

"Maafkan saya. Saya pikir anda bandit yang sedang memasuki properti milik saya." Ujar liam kaku.

"Bandit? Properti? Anda ini bicara apa? Mana mungkin ada bandit di tempat yang di awasi oleh penja.."

"Penjaga maksud anda? Maaf, tidak ada penjaga di sini. Bandit? Ya, biasanya tempat kosong dihuni oleh bandit sebagai sarang komplotan mereka. Dan bangunan ini sudah saya beli, tiga hari yang lalu."

Wanita itu terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan liam. "Anda beli bangunan ini? Dari siapa?"

"Apa hak kamu untuk tau?"

"Tentu saya berhak. Saya masih keturunan dari pemilik utama hotel ini."

Kini liam yang berusaha mencerna ucapan wanita tadi. "Masih keturunan?"

"Ya."

"Hm. Kalau begitu anda harusnya tahu, siapa pemilik bangunan ini yang menjual nya kepada saya tiga hari yang lalu."

"Respon anda kaku sekali. Hey, bisa saja saya ceritakan sejarah keluarga besar dan berdirinya hotel ini. Tetapi mengingat kamu masih baru dan saya lihat kamu masih senang-senangnya atas pencapaian kamu, lebih baik saya tutup mulut. Dan..." Belum sempat wanita itu bicara, aleda tiba dengan langkah cepat.

"Liam, sayang. Kamu ngga apa-apa, kan?" Liam menoleh, menyalakan senter sebagai sinyal keberadaannya kini.

"Aku ngga papa, sayang. Kamu ke sini."

Aleda melangkah mengikuti cahaya senter milik liam, ketika tiba ia memeluk liam dengan erat. "Aku pikir kamu kenapa-napa karena tadi aku dengar ada kegaduhan."

"Oh ngga, led. Ternyata wanita ini yang aku sergap. Dia mengklaim dirinya masih keturunan asli pemilik hotel ini." Tutur liam.

"Mengklaim anda bilang?"

"Ya, apa saya salah?"

"Terserah saja. Lebih baik saya pergi sekarang juga." Ia mendengus jengkel. Wanita berambut pirang itu berbalik arah, menuju ke pintu utama hotel dengan derap langkah yang cepat,

"Heh! Tunggu. Anda ini siapa, kok bisa-bisanya tanpa izin memasuki properti milik saya?" Tanya liam dengan nada tinggi.

"Saya melda. Memasuki properti tanpa izin? Sepertinya tudingan barusan akan kalian tarik lagi setelah mengetahui isi di dalam bangunan ini."

"Maksud anda?"

"Saya tekankan, jangan injakkan kaki di lantai tiga. Cukup kalian dengarkan. Kalau ingin selamat!"

"Anda ini, sudah menjadi penyusup, tadi berlaga seperti bintang porno, sekarang bertingkah seperti cenayang."

Aleda menatap liam dengan cermat.

"Tutup mulut anda!" Melda pergi, keluar bangunan meninggalkan keduanya dalam gelap.

Aleda mencubit pinggang liam dengan gemas. "Maksud kamu bintang porno itu apa? Kamu habis ngapain sama dia?"

"Aw.. ngga kok. Tadi dia pas aku sergap malah jatuh, pas jatuh mendesis gitu kaya di adegan-adegan nakal."

"Kamu pikir dia ular. Mendesis!"

Liam menatap aleda dengan nakal.

"Ngapain kamu lihatin aku kaya gitu?"

"Kenapa ngga kita cobain salah satu ruang di hotel ini? Main kaya adegan biru." Kerdip liam nakal.

"Ih, ngga mau ah. Gelap. Serem."

"Ayooo." Liam menyeret aleda.

"Ah, engga, engga. Ihh." Aleda mencoba menahan tarikan liam, dengan sigap kemudian ia menarik tangan nya. Dengan riang aleda berlari menaiki anak tangga dan liam mengejarnya.

"Aleda... pinter kamu ya, kok bisa lolos sih.. hahaha." Teriak liam. Layaknya anak kecil yang bermain dengan riang, keduanya lupa dimana mereka berada, di tempat gelap yang kosong puluhan tahun bahkan tidak layak dijadikan tempat untuk bergembira-ria.

Aleda berlari kecil, menaiki cabang tangga bagian kiri. Dengan niat jahil ia memasuki sebuah ruang kamar di barisan nomor tiga pada lorong tengah di lantai dua. Aleda menutup ruangan, tetapi tidak rapat. Sebelum memasuki ruangan, ia setengah berteriak sambil membunyikan lonceng di daun pintu agar liam mencari keberadaannya.

"Cari aku, sayang. Kalau bisa, aku turuti semua keinginan kamu deh. Aku janji."

Liam yang masih menaiki anak tangga, berjalan terengah-engah. Sambil menyeka peluh di dahi, ia terdiam di tengah lobby lantai dua. Cahaya matahari menembus masuk menyinari lantai dua hotel melalui jendela berkaca besar di sepanjang sisi bangunan. Terdapat sofa-sofa tua peninggalan asli pemilik hotel yang tertata rapih dan lukisan-lukisan besar di dinding. Liam mengamati tiga lorong besar yang terbentang di lantai tersebut.

"Ah, aku yakin kamu langsung masuk lorong tengah ini, led. Kamu kan tipe orang yang ngga mau cape."

Liam melangkah perlahan, mengira-ngira dimana aleda berada. "Kira-kira dia dimana ya. Hm." Liam melangkah perlahan, mencoba meraba pintu di sisi kanan dan kiri lorong. Melangkah menuju pintu nomor tiga, ia menatap pintu yang sedikit terbuka. "Oke, aku tau kamu ada di sana. Aku datang, sayang."

Liam dengan semangat menyambangi ruangan tersebut, membunyikan lonceng. Menyorot sinar senter ke penjuru kamar. Berharap mendapati keberadaan aleda yang hendak mengejutkannya dari balik pintu, atau bahkan dari balik tirai. Liam melangkah perlahan. Menyusuri ruang kamar yang luasnya lumayan. Tetapi, kosong.

Bunyi lonceng berbunyi dari kamar lain, liam menoleh, dan segera berjalan keluar menuju asal bunyi. "Oh, kamu di sana ternyata. Aku salah ruangan. Kamu jebak aku, ya! Pintar juga kamu." Liam melangkah dengan semangat.

Di luar, ia masih mendengar bunyi lonceng. Tetapi, dari ruang yang mana? Liam menghampiri satu persatu kamar hotel. Lonceng terus berbunyi. Tetapi, tidak ada satupun lonceng yang bergerak. Bahkan wujud yang menggerakkan!

Liam mulai bergidik, kini suara lonceng bergema dari seluruh lorong hotel.

"Aleda! Kamu dimana?" Dalam gelap dan langkah yang gemetar, liam mencoba melangkah kembali menyusuri koridor pertama yang dia masuki tadi, jauh, semakin jauh hingga tiba di ujung koridor.

"Liam. Aku di sini. Tolong aku!" Pekik aleda.

"Aleda! Aleda! Kamu di mana?" Firasat liam mengatakan aleda berada di kamar yang ia sambangi tadi. Liam masuk. Menerangi seisi ruangan dengan senter yang ia bawa. Nihil. Tidak ada siapapun di sana. Bahkan suara aleda kini lenyap. Bersamaan dengan bunyi lonceng yang gemerincing sejak tadi.

"Gak mungkin. Ini gak mungkin. Aleda kamu jangan main-main. Kamu jangan buat aku nangis karena takut kehilangan kamu. Aleda, cukup. Aku benci permainan bersembunyi. Aledaaa!!!"

Tetapi, hanya sunyi yang membalas jerit liam. Sepi. Bahkan suara angin berhembus pun bisa liam dengar melintas di telinga kanannya, membanting pintu kamar yang ia masuki tadi. Kamar yang mungkin membawa aleda pergi, bahkan melenyapkan aleda dalam sekejap waktu.


INDEX CERITA


BAB 1 SURAT MISTERIUS
BAB 2 DINDING DI PUKUL
BAB 3 PISAU DAN TULANG MANUSIA
BAB 4 KUNJUNGAN LIAM DAN ALEDA
BAB 5 BATU DAN KAIN MORI
BAB 6 ORANG LAIN?
BAB 7 SI SERAK DAN SI BERAT
BAB 8 MENGEJAR TARGET
BAB 9 TERJEBAK
BAB 10 SATU NASIB
BAB 11 PENCARIAN RUDI
BAB 12 PINTU RAHASIA
MULUSTRASI TOKOH
BAB 13 APA KABAR KAWAN?
BAB 14 SIAPA YA DIA?
BAB 15 MULJOKO SEMANGAT BARU
BAB 16 MELDA
BAB 17 MULJOKO PENASARAN
BAB 18 SOSOK DI SUDUT DINDING
BAB 19 SIAPA SEBENARNYA MELDA?
BAB 20 BABAK BARU
BAB 21 MENCARI MELDA
BAB 22 GERALD DAN LIENE
BAB 23 TERNYATA...
BAB 24 EMIL DAN KEN
EVENT MENULIS GRATIS CEK!!!
BAB 25 CERITA EMIL DAN KEN
BAB 26 MENCARI MELDA
BAB 27 HENDRA
Diubah oleh LiongMelfin 05-07-2021 04:09
itkgid
sukhhoi
namakuve
namakuve dan 39 lainnya memberi reputasi
40
24.9K
402
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
LiongMelfinAvatar border
TS
LiongMelfin
#54
BAB 13 APA KABAR KAWAN?
"Kita belum saling kenal, ngomong-ngomong nama mu siapa?" Tanya rudi pada wanita itu.

"Aku melda. Dan kau?"

"Panggil saja aku rudi."

Melda mengamati rudi dari belakang, tangannya yang dingin terasa hangat di genggam oleh pria yang baru saja ia kenal. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, antara rasa kagum dan juga rasa aman.

Tapi melda tak mau berpikir jauh, ia menganggap jika ini hanyalah sebuah kebetulan, kebetulan karena rudi sedang menjalankan tugas jadi rasa kepedulian tetap harus di genggam. Namun, di sisi lain melda juga tak menyangkal ia merasa senang di perlakukan lembut bahkan oleh pria yang baru saja ia ketahui namanya barusan.

Melda yang sedari awal sudah penasaran dengan kehadiran kelompok penyidik berusaha menggali informasi melalui rudi.

"Kau sedang apa memang? Kok bisa terjebak di dalam lemari?"

"Sama sepertimu, aku di kejutkan oleh suara binatang." Rudi terkekeh.

Melda tentu tau bahwa ini adalah sebuah sindiran balik. "Suara binatang yang mengetuk lemari, ya?"

"Iya, haha." Rudi tetap fokus pada gang kecil di depannya, tempat itu lembab dan dingin, tak jarang mereka menemukan beberapa binatang melata kecil yang merayap di dinding.

"Aku tanya serius." Jawab melda dengan nada datar.

"Iya. Kami sedang melakukan pencarian di hotel ini. Kalau tidak salah, empat atau lima hari yang lalu istri dari pemilik baru hotel ini hilang secara tiba-tiba di dalam hotel, aku menjelaskan ini menurut laporan pelapor."

"Pemilik?" Melda mengerutkan dahi, matanya fokus melihat ke bawah. Ia teringat tentang kejadian siang itu kala jarik nya di injak oleh seorang pria hingga dia tanpa busana, dan saat itu pria yang ia temui mengaku sebagai pemilik hotel yang baru.

"Iya pemilik yang baru, apa kau tahu?"

"Eh- tidak. Aku tidak tahu. Kau bilang tadi istri. Yang aku tahu soal hotel ini adalah jika pemiliknya seorang janda."

"Oh itu sebelumnya. Pemilik baru bernama liam. Dan istri nya bernama aleda. Aleda ini di nyatakan hilang setelah mereka memasuki hotel ini berdua."

"Apa wanita yang bersama pria itu yang hilang?" Gumam melda.

"Kau bicara apa barusan?" Tanya rudi.

"Ah tidak, aku hanya berpikir, hal apa yang menyebabkan wanita itu hilang."

"Entah, misterius. Sudah beberapa hari di lakukan pencarian tetapi tidak ada tanda-tanda atau petunjuk sama sekali. Seperti buta."

Melda terdiam. Ia semakin bersemangat untuk segera menemukan jalan keluar. Menurutnya ini merupakan informasi penting yang harus segera ia kabarkan.

"Rudi, coba kita ikuti jalan ini, aku khawatir kalau kita terlalu banyak memasuki banyak lorong, kita akan tersesat." Saran melda.

Rudi mengangguk. Ia berjalan dengan sedikit meredupkan cahaya senter dengan tujuan menghemat daya baterai.

"TAP... TAP... TAP..."

Melda dan rudi mendengar suara derap langkah. Mereka terdiam. Melda memegang lengan rudi semakin erat. Sedangkan rudi memerintahkan melda untuk diam.

"Suaranya dekat. Diam ya!"

Rudi mematikan cahaya senter di kepala. Mereka terdiam mematung. Suara langkah kaki semakin menggema. Tak menentu arahnya dari mana.

"Suara itu semakin dekat, rud." Ujar melda.

Rudi melihat sebuah kurungan yang terbuka pintunya. Ia menggandeng melda untuk segera masuk. Menutup pintu kurungan itu dengan perlahan. Mereka berjongkok di sudut kurungan dengan saling merapatkan diri. Suara langkah kaki itu semakin dekat, mereka reflek menahan nafas agar tak menimbulkan suara.

Bayang hitam dari sosok itu telah terlihat, melewati mereka begitu saja dalam gelap. Sosok itu seorang diri. Menggunakan baju serba hitam dengan penutup kepala. Rudi mengamati sosok itu dengan cermat. Ia tak bisa mencirikan siapa kiranya manusia yang berada di tempat yang di anggap rahasia.

"Ku lihat dari posturnya. Aku rasa dia seorang lelaki." Ujar melda.

"Belum tentu selama kau belum melihat kelaminnya." Jawab rudi terkekeh.

"Huss! Kau jangan sembarangan kalau bicara." Tegur melda.

Langkah kaki sosok hitam itu terhenti ketika mendengar sebuah hentakkan di langit-langit lorong. Rudi dan melda juga sama di kejutkan oleh suara seperti besi yang di hantam. Sosok itu berbalik dan lari meninggalkan lorong. Melda dan rudi kembali merapatkan diri supaya sosok tadi tak menyadari keberadaan mereka.

Suara berlari itu semakin jauh, bahkan tak terdengar lagi. Sedangkan suara hantaman itu semakin menjadi-jadi.

"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya rudi dan melda yang kini berlari keluar dari kurungan demi mengejar sumber suara. "Kita harus cepat, aku rasa ada sebuah celah agar kita bisa bebas!"

***

Sementara komandan niko masih resah menunggu kabar dari hasil pencarian rudi. Ia berjalan sambil terus sibuk dengan ponselnya untuk mendapatkan kabar dari hendra dan muljoko.

Dengan langkah yang kalut, niko terduduk di anak tangga putar. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan botol tinta yang di ambil oleh salah seorang anggotanya.

"Apa botol ini aku simpan saja untuk ku tunjukkan pada muljoko? Dia berpesan, sih. Benda apapun yang ku temukan harus ku serahkan." Niko memasukkan kembali botol itu ke dalam saku. "Walau aku tidak tahu fungsinya untuk apa jika di serahkan."

Niko mencoba menghubungi muljoko lagi, beberapa detik nada sambung terdengar hingga sebuah tolakan panggilan ia dapatkan.

"Sekalinya respon. Kau tolak panggilanku muljokooo!"

Niko tak menyerah. Ia hubungi lagi muljoko. Namun suara operator yang terdengar. Panggilan di tolak.

"Astaga!"

Lagi, dan lagi. Niko terus menghubungi muljoko. Sampai panggilan ke 8 kali. Telepon di jawab. "DIAM! NANTI KU TELPON BALIK. JANGAN COBA-COBA MENGGANGGU KU KALAU TAK MAU ADA URUSAN INTERNAL!" Jawab suara di seberang. Lalu panggilan terputus.

Niko terkejut bukan main. Gendang telinganya hampir lepas mendengar teriakan muljoko di ujung ponsel.

"Astaga! Hampir jantungan aku kau buat kaget, muljoko! Sial!"

Tetapi walau begitu niko merasa sedikit tenang, setidaknya muljoko sudah berhasil untuk di beri kabar. "Tapi, kenapa dia marah-marah? Apakah saat ini juga dia sedang di sibukkan oleh satu perkara?"

Niko hendak berjalan menuju teras hotel, ponselnya berdering dan bergetar yang menandakan ada sebuah pesan singkat masuk. Ia merogoh ponsel nya di saku celana. Terdapat sebuah pesan dan nama pengirim yang tertera. Niko semakin bungkam ketika membaca nama si pengirim sms.

"Rudi... Astaga. Aku tak bisa sembarangan menyebar anggota di bangunan ini."

***

Suara hantaman itu terus saja terdengar, bahkan semakin keras, muljoko dan hendra sama-sama mencongkel dan memukul bagian pinggir petak besi yang terselip banyak kerikil sehingga sulit untuk di angkat.

"Aku salah bawa perkakas. Mengapa alat pahat yang aku bawa, ya?" Ucap muljoko.

"Kalau kau tanya aku, aku tanya siapa!" Jawab hendra sambil terus memukulkan palu ke ujung gagang pisau pahat.

Sisa sedikit lagi kerikil yang terselip dapat di bersihkan dengan tuntas. Hendra terus memukul batu dengan antusias, tak ayal ia juga penasaran dengan pintu besi itu. Ke jalan mana pintu itu akan membawa si pemasuk pergi.

"KLAK!"

"Beres sudah! Sekarang kita angkat papan besi ini." Hendra menggenggam gagang berkarat petak besi tersebut.

Hendra dan muljoko sama-sama menarik pintu itu dengan mudahnya. Tidak ada hambatan seperti di awal tadi. Mereka melihat ruang yang gelap. Dan sebuah gundukan batu berbentuk tangga yang mengarah ke dalam ruang tersebut.

"Kau benar, di sana ada ruang. Kita turun sekarang?" Tanya hendra.

Muljoko terdiam. Matanya tampak menangkap suatu objek di bawah sana.

"Sssttt. Kau minggir. Tutup lagi pintu ini, perlahan! aku melihat ada cahaya berkelibat di sisi kiri."

Mereka sama-sama menyingkir dari sisi petak, bersembunyi tak jauh, tak sampai satu meter.

Muljoko mengeluarkan sebuah ketapel dari saku jaket bagian dalam lalu mengambil beberapa buah kerikil di sampingnya.

"Heh! Kau ini apa! Mengapa menggunakan ketapel? Haduuuuhhhh!" Keluh hendra menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Cara aman melumpuhkan target dalam waktu singkat. Karena aku tahu target kita bukan orang asing. Jangan apa-apa gunakan pistol! Boros peluru. Hahaha." Jawab muljoko yang kini tertelungkup di balik semak sambil mengacungkan ketapel andalannya.

Hendra bersembunyi di sebelah muljoko. Dengan menutupi diri di balik tumpukan papan kayu. Mereka kini sama-sama mendengar pintu besi di gedor dari dalam. Gedoran pertama terdengar sangat ringan. Gedoran kedua terdengar lumayan kuat. Hingga akhirnya...

"Kita bersiap kawan... target kita siap naik ke permukaan!"

"BRAKK!"

"CTUK!!!"

"ARGGHHHHH!!!!" Suara ringisan seorang pria menggema di hutan belakang hotel.

Muljoko dan hendra bangkit. Hendra menatap muljoko terheran-heran. Mereka berjalan menuju target yang baru saja membangunkan seisi hutan dengan teriakannya.

"Heran, mengapa muljoko selalu tepat sasaran?" Tanya hendra dalam hati.

Muljoko nyengir, ia merasa musibah pada pria itu adalah sebuah hal yang lucu. Dengan langkah santai. Ia menaikkan posisi hat bowl nya. Lalu tersenyum penuh ejekan.

"Nah kan... apa kabar kawan?" Tanya muljoko pada pria yang benjol dahinya.







sukhhoi
itkgid
namakuve
namakuve dan 8 lainnya memberi reputasi
9