CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jejak Kematian Di Pulau Serayan.
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/600d89dc0577a90e247128d6/jejak-kematian-di-pulau-serayan

Jejak Kematian Di Pulau Serayan.



"Mbak Mia,ada titipan surat buat mbak tadi siang dari pengacara paman mbak Mia katanya !".tegur petugas lobi ketika Mia berjalan menuju lift ke apartemennya.
Bergegas petugas tersebut menghampirinya dan menyerahkan titipan surat tersebut.
Setelah makan malam,Mia pun membuka surat tersebut dan isinya menyatakan bahwa dia mewarisi sebuah rumah dan sebidang tanah di kepulauan serayan dari pamannya yang tinggal disana.

Keesokan harinya,Mia pun mendatangi kantor pengacara tersebut tuk memeriksa kebenaran berita di dalam surat tersebut.

"Selamat siang,ini pasti mbak Mia keponakan dari almarhum bapak Aling,perkenalkan saya Angga yang di beri amanah almarhum bapak Aling".Pengacara muda tersebut langsung menyapa Mia.

Setelah mempersilahkan duduk,Angga langsung mengeluarkan beberapa dokumen tuk di tanda tangani oleh Mia.

"Mbak Mia sekarang sah menjadi pemilik warisan almarhum bapak Aling.
Sebuah rumah,sebidang tanah perkebunan dan sejumlah uang dari peninggalan Beliau,apabila mbak Mia ingin mengecek keberadaan rumah dan tanah tersebut.
Staff saya akan menjadi guide mbak Mia tuk berangkat kesana".

"Boleh dah mas,minggu depan saya akan ambil cuti dari kantor tuk melihat semua peninggalan om Aling buat saya.
Saya ucapkan terimakasih atas bantuan mas Angga".kata Mia sembari bangkit dan bersalaman dengan pengacara muda tersebut.

Seminggu kemudian,tibalah Mia di bandara Samsan kalimantan saat siang tiba.
Seorang pria menghampiri dan menyapanya setibanya dia keluar pintu kedatangan bandara tersebut.

"Mbak Mia dari Jakarta kan?".

"Benar,siapa yaa?".

"Perkenalkan saya Sorken anak buah dari mas Angga yang khusus membantu mbak Mia hingga sampai tujuan".

"Sebentar yaa,saya telpon mas Angga dulu tuk konfirmas!".

Setelah terkonfirmasi,maka mereka berdua masuk ke dalam sebuah mobil tuk meneruskan perjalanan
Butuh waktu tiga jam lebih hingga sampailah mereka ke sebuah dermaga kapal laut di sebuah kota kecil.
Tak berselang lama Mia dan Sorken pun berangkat dengan sebuah kapal kecil yang berisi hanya sepuluh penumpang saja.

"Butuh waktu sekitar empat puluh menitan hingga kita tiba di kepulauan Serayan mbak Mia".

"Apakah mereka semua juga akan kepulauan Serayan mas Sorken?".tanya Mia sembari memandang penumpang lainnya.

"Cuman kita yang kesana sedangkan mereka pergi ke kepulauan lainnya yang berdekatan dengan pulau serayan mbak Mia".

"Sudah berapa kali ke pulau Serayan mas Sorken ?".

"Baru dua kali Mbak dan ini yang ketiga kalinya bersama mbak Mia".

Mia hanya mengangguk kecil kemudian memandang lautan yang terhampar luas di hadapannya.
Akhirnya mereka tiba di dermaga kecil pulau Serayan.
Setelah menurunkan Mia dan Sorken.
Kapal tersebut pun melanjutkan perjalanannya ke pulau selanjutnya.

Tampak di dermaga kecil tersebut beberapa mobil yang cukup tua terlihat.
Sorken mendatangi sebuah pos yang ada di hadapan mereka.
Setelah bernegosiasi harga dengan salah satu orang disana maka seorang yang cukup berumur datang menghampiri Mia bersama Sorken.

"Selamat datang di pulau Serayan,perkenalkan nama saya Zaenur dan saya akan mengantar kalian berdua ke desa Serayan yang ada di tengah pulau Serayan ini".Orang tersebut memperkenalkan diri.

"Nama saya Mia dan saya keponakan Om Aling,Pak Zaenur !".kata Mia sambil mengulurkan tangan tuk berkenalan.

Kemudian Pak Zaenur mempersilahkan Mia dan Sorken masuk ke sebuah mobil tuk melanjutkan perjalanan ke desa Serayan.
Jalan yang di lalui oleh mobil tersebut jalanan beton semen dengan sisi kiri dan kanannya terlihat pepohonan yang rimbun.
Walaupun jalan menuju desa Serayan berliku-liku dan naik turun tanjakan.
Namun sepanjang perjalanan,Mia tampak terkagum-kagum dengan masih asrinya pulau Serayan tersebut.
Setengah jam kemudian tibalah mereka di desa Serayan.

"Selamat datang di kampung Serayan Mbak mia". Kata Pak Zaenur.

Tak sengaja melihat sebuah pagar kayu tinggi di atas bukit seperti menutupi sebuah gua di dalamnya.

"Itu apaan ya Pak yang ada di atas perbukitan kampung ini ?".Tanya Mia kepada Pak Zaenur.

"Yang saya dengar itu namanya Pagar Hala dan konon katanya itu tempat bersemayamnya para tetua terdahulu kampung Serayan ini mbak Mia!".

Next episode.....terbukanya Pagar Hala.

episode 2

episode 3

episode 4

side story


ane anggap ini sebuah penghargaan banget bagi ane emoticon-Mewek

profile-picture
profile-picture
profile-picture
aryanti.story dan 26 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh simsol...


Keadaan kampung Serayan malam ini terasa sangat mengerikan dan membuat perasaan merinding hebat jika menyaksikannya langsung.
Jeritan tangis dan kesakitan saling bersahutan.
Beberapa rumah tampak terlihat mulai di makan api entah bagaimana kejadiannya.
Orang-orang berlarian keluar rumah masing-masing tuk menyelamatkan diri.
Sedangkan sosok-sosok mengerikan makin banyak jumlahnya.
Mata mereka merah layaknya warna darah.
Seringai mengerikan tampak jelas di bibir mereka.
Setiap orang kampung yang termangsa oleh mereka akan menjadi kawanan mereka dan memangsa orang kampung lainnya.
Sosok anak kecil pun tampak lincah dan kuat menerkam mangsanya.
Pemandangan sangat mengerikan bak pembantaian massal membuat mata yang melihat akan dengan sekejab bisa pingsan ketakutan.
Kampung Serayan kini menjadi kampung banjir darah.

Mia,Sorken,pak Sarta dan bibi Enah trus berlari memasuki hutan yang gelap penuh dengan pohon-pohon besar dan semak belukar.
Pakaian mereka pun sudah banyak tercabik oleh rimbunnya semak belukar yang mereka terabas demi menyelamatkan diri.
Hanya cahaya senter saja yang mereka andalkan tuk trus masuk kedalam hutan.

Sementara itu jauh di belakang mereka sosok-sosok mengerikan dengan jumlah yang cukup banyak telah memasuki hutan yang telah di lewati oleh mia dan kelompoknya.
Lolongan anjing makin memilukan terdengar dari kejauhan.
Setelah cukup lama berlari,mereka memutuskan tuk beristirahat sejenak.

Wajah mereka semua pucat pasi disertai napas yang tersengal-sengal akibat berlarian tadi.
Kondisi bibi Enah tampak paling terlihat paling kelelahan.

"Enah....!"panggil pak Sarta yang cemas melihat kondisi istrinya.

Sang istri hanya menatapnya penuh kesedihan sambil sesekali meminum air kemasan yang sempat mereka bawa tadi.

"Apakah kau sanggup melanjutkan perjalanan ini?".Tanya sang suami.

"Sanggup Bang!"tegas sang sang istri.

Mia dan Sorken setelah beristirahat sebentar tuk minum,mereka langsung sibuk memilah-milah batang kayu yang terjatuh tuk di jadikan senjata pertahanan mereka.
Pak Sarta sendiri mempunyai golok yang panjang terselip di pinggangnya.

"Sssssttttt......!!".isyarat Mia agar semuanya tak bersuara.

Terdengar gerungan saling bersahutan di dalam hutan,tak jauh dari tempat mereka kini beristirahat.
Lampu senter mereka padamkan.
Suasana menjadi sunyi dan mencekam sangat terasa di tempat itu.
Suara-suara langkah kaki makin terdengar di sekitaran mereka.

Agak lama baru suara gerungan tersebut mereda di area Mia dan kawan-kawannya.
Sorken berjalan perlahan sekali mengitari tempat mereka beristirahat.
Setelah beberapa menit tak terlihat karena di selimuti gelapnya malam.
Sorken pun kembali sambil berseru"lariiiii....ikutin saya!!".
Senter Sorken menyorot mereka sebentar kemudian menyapu kedepan tuk menerangi jalan.

Mia,pak Sarta dan bibi Enah terkaget-kaget mendengar seruan Sorken,namun tubuh mereka refleks mengikuti arah dimana Sorken berlari dengan senter yang menyala.
Gerungan tersebut kini kembali riuh di hutan tersebut.
Mereka rata-rata melompat turun dari pepohonan dan mengejar kelompok Mia.

Dengan napas tersengal-sengal Mia dan yang lain mengikuti Sorken dari belakang.
Bibi Enah terlihat paling lambat berlari.
Maklum faktor usia membuatnya sudah tidak kuat lagi tuk berlari kencang.
Melihat sang Istri tampak kepayahan.
Pak Sarta pun mengimbangi kecepatan lari istrinya.
Sementara itu sosok-sosok seram tersebut semakin mendekat ke mereka.

Melihat kondisi bibi Enah yang semakin lambat Mia pun harus berpikir keras tuk menyelamatkan suami istri tersebut.
Senternya sesekali di arahkan mencari tempat yang sekiranya bisa bersembunyi sambil berlari.
Akhirnya di depan dia nampak celah batu bukit yang cukup besar tuk di masuki.

"Mas Sorken,berhenti !!".teriak Mia.

Mendengar teriakan itu,sorken menghentikan larinya dan melihat ke arah mia,pak Sarta dan bibi Enah berlari dan kemudian menyusulnya.
Sementara itu suara gerungan makin ramai terdengar di dalam hutan.
Membuat suasana hutan menjadi ramai kembali.

Lokasi di celah batu tersebut sangatlah sempit ruangnya namun cukup panjang sehingga mereka berempat mampu bersembunyi di dalamnya.
Mia,Sorken,pak Sarta dan bibi Enah hanya mampu berdiri di celah batu tersebut.
Mia berharap orang-orang haus darah tersebut mengira dia dan kawan-kawannya terus berlari kedepan.

Terdengar derak langkah kaki dan suara-suara tak jelas seliweran di dekat persembunyian mereka.
Semua tanpa sadar mencoba menahan napas sebisa mungkin agar tidak di ketahui gerombolan penghisap darah tersebut.

Hawa dingin makin mencengkram tubuh mereka.
Pakaian mereka mulai di basahi embun yang turun.
Semuanya mulai menggigil kedinginan.
Tak terdengar lagi suara gerungan ataupun bunyi langkah kaki.
Sorken pun perlahan keluar dari celah tersebut.
Tak berapa lama,dia menyuruh yang lain tuk keluar.

"Bisa mati kedinginan andai lebih lama lagi kita bersembunyi di dalam sana!"keluhnya dengan tubuh bergetar kedinginan.

"Orang-orang tersebut apakah sudah tidak ada di sekitaran kita mas Sorken?"tanya Mia yang kini duduk di atas batang pohon yang rebah ke tanah.

"Saya sudah cek tadi mbak Mia,mereka sepertinya tidak ada lagi di sekitaran sini,apakah kita akan melanjutkan perjalanan ke dermaga itu mbak Mia?".

"Hanya dermaga itu jalan satu-satunya kita keluar dari pulau ini,tidak ada pilihan lain,kita harus kesana walaupun mungkin mereka sudah menunggu kita disana mas Sorken!".

Tubuh mereka sebenarnya sudah lelah,namun semangat tuk bisa keluar dari pulau ini membuat mereka mendapat tenaga ekstra.
Kini mereka pun berjalan penuh waspada sementara itu pak Sarta menggantikan Sorken memimpin mereka berjalan menuju dermaga.

Jalan yang mereka lalui tidak mudah,terkadang mereka harus naik turun perbukitan dan menembus semak belukar yang masih rimbun.
Entah sudah berapa luka yang mereka dapat karena tergores duri dari semak belukar tersebut.

"Kita hampir sampai!"kata pak Sarta lirih.

Kini mereka memperlambat jalan mereka dan mulai berjalan mengendap diantara pepohonan dan rerumputan yang tumbuh tinggi.
Hari masih gelap namun dengan bantuan cahaya bulan maka nampaklah gerombolan penghisap darah tersebut hilir mudik di pinggiran dermaga.
Mia tampak menghela napas berat,bagaimana mereka bisa lolos melewati gerombolan orang tersebut.

"Jam berapa biasanya kapal datang pak Sarta?"Mia bertanya dengan suara berbisik.

"Jam enam pagi biasanya kapal datang tuk mengantar barang-barang yang sudah di pesan oleh warga yang kebetulan berdagang di kampung ini!"jawab pak Sarta pun dengan suara yg sangat pelan.

"Berarti kita harus menunggu kita pagi datang,lalu bagaimana kita akan mampu ke kapal tersebut dengan mereka berjaga disana?"tanya mia pelan kepada Sorken.

"Harus ada yang bisa mengalihkan mereka tuk menjauh dari dermaga tersebut dan pilihannya hanya saya atau pak Sarta karena salah satu dari kami harus ada yang mengawal kalian berdua hingga ke kapal!"jawab Sorken dengan suara lirih.

Mia tampak kebingungan tuk mengambil sikap.
Pak Sarta dan bibi Enah hanya termangu menunggu keputusan mereka berdua.

"Biar saya saja mbak Mia yang mengalihkan,secara saya masih muda dan punya kecepatan lari yang lumayan,saya akan mengalihkan perhatian mereka dengan berlari memutar di pinggiran hutan ini dan secepatnya menyusul kalian ke kapal!"Sorken mengambil keputusan.

Tampaknya saat ini memang tidak banyak pilihan yang ada,semuanya kini terdiam dan menunggu pagi datang.


Final episode......escape from island
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh simsol...
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di