CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Diduga Pemulung yang Ditemui Mensos, Nursaman: Saya Gak Tau Itu Bu Risma
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ff755fb0577a9022a7117f1/diduga-pemulung-yang-ditemui-mensos-nursaman-saya-gak-tau-itu-bu-risma

Diduga Pemulung yang Ditemui Mensos, Nursaman: Saya Gak Tau Itu Bu Risma


Nursaman, 60 tahun, pemulung yang ditemui Menteri Sosial Tri Rismaharini, saat ditemui di daerah Manggarai, Jakarta Selatan, pada Kamis, 7 Januari 2021. Tempo/Adam Prireza

******

Diduga Pemulung yang Ditemui Mensos, Nursaman: Saya Gak Tau Itu Bu Risma

TEMPO.CO, Jakarta - Nama Nursaman, 60 tahun, pemulung di Jalan Minangkabau Timur, Jakarta Selatan, mendadak ramai dibicarakan setelah diduga bertemu Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Risma.

Ditemui di Jalan Minangkabau Timur, kawasan Manggarai, pada Kamis 7 Januari 2021, Nursaman tengah melipat kardus bekas di samping toko penjual es kelapa muda. Sambil memegang rokok, Nursaman menumpukkan kardus bekas itu di samping toko tersebut.

Kepada Tempo, pria asal Kabupaten Indramayu itu membenarkan kalau sosok dalam foto yang viral di media sosial itu adalah dirinya. Nursaman saat itu tengah memulung dan tertidur di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, saat Risma mendatanginya.

“Itu saya baru bangun tidur. Kan ada alas kardusnya. Tapi saya gak tau itu Bu Risma,” ujarnya.

Nursaman sudah mengadu nasib ke Jakarta sejak 1964. Sempat luntang-lantung, ayah dari dua anak itu lantas membuka usaha tambal ban di Jalan Dr Wahidin Raya, Jakarta Pusat, dekat Taman Lapangan Banteng. Ia diajak oleh seorang bernama Jono, pria asal Semarang, untuk menjalani usaha tersebut.

Tak bertahan lama, Nursaman memutuskan untuk menarik becak setahun setelahnya. Saat itu dirinya tinggal di Gang Harlan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Nursaman kembali beralih mata pencaharian menjadi sopir bajaj merah beberapa tahun setelahnya. Ia menyewa bajaj tersebut kepada seseorang di daerah Mampang, Jakarta Selatan.

Setiap hari, Nursaman menyetorkan sejumlah uang kepada empunya bajaj. Saat itu dirinya tak lagi tinggal di Tanah Abang.

Nursaman memilih untuk tidur di bengkel bersama beberapa sopir bajaj lainnya. “Habis kalau narik bajaj itu kan biasanya sampai jam 10 malam. Nanti jam 5 pagi sudah mulai lagi. Teman-teman banyak yang tidur di bengkel juga,” tutur dia.

Kini Nursaman bermata pencaharian sebagai pemulung. Setiap hari ia keliling Ibu Kota untuk mencari barang bekas yang bisa dijual kembali. Sudah dua tahun ke belakang dirinya tinggal di trotoar yang menempel dengan Kali Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan.

Tempo melihat lokasi tempat Nursaman tinggal. Di sana terdapat sejumlah barang bekas yang ia kumpulkan. Tunawisma itu mengatakan biasa tidur beralaskan plastik dan kardus bekas di sana. Jika hujan turun, ia tidur di halaman toko penjual furnitur, sekitar 5 meter dari bibir kali.

Nursaman bercerita sudah 4 tahun ia tak pulang ke kampung halamannya di Desa Babadan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dua anaknya tinggal di sana.

Sebagai pemulung, Nursaman mengatakan kesulitan mencari uang untuk ongkos pulang kampung. “Kalau hasil dari mulung paling cukup buat makan sehari-hari aja,” kata dia.
sumber

******

Mumpung masih panas, gaspol terus.
Selama ini, mungkin kita terlalu banyak dijejali data tentang kemajuan tingkat hidup masyarakat. Kita dijelali statistik, angka-angka, grafik, yang pada kenyataannya berbanding terbalik dengan kenyataan.

Soal Bapak ini, sebenarnya kita bisa belajar banyak tentang pentingnya membela tokoh yang dipuja tanpa memgorbankan hidup orang lain dengan memfitnah, padahal dia tak pernah berbuat salah kepada mereka yang memfitnah. Kenal pun tidak.

Namun sayangnya terlalu banyak orang yang membutakan diri, seolah merasa paling benar setelah dengan bangganya menyebut orang lain sebagai buzzerp, dengan emot tertawa berjejer, sementara dia yang menulis itu tertawa senang dan bangga, padahal sebenarnya tanpa sadar dia tengah mempertontonkan kebodohannya.

Silakan membela tokoh pujaan. Itu hak. Dan mungkin bagi mereka, itu adalah kewajiban. Silakan. Tapi jangan sampai orang lain menjadi korban fitnah.

Kalaupun ingin mengetahui lebih dalam tentang orang yang jadi bahan berita, biarkan para wartawan dari surat kabar yang kredibel, yang jelas menjunjung etika jurnalistik sebagai wakil dari mata kita, agar semua tidak bias. Bukan mengambil dari sosial media, dari postingan orang yang belum tentu tahu benar siapa orang yang dimaksud.

Andaipun ada perbedaan atau pertentangan, muaranya pasti kebenaran itu sendiri. Fakta akan terungkap. Dan itulah berita sebenarnya tentang gelandangan yang kini jadi pembicaraan. Dia jadi pembicaraan karena seorang Risma. Jika bukan Risma yang berbicara dengannya, semua akan mengabaikannya. Bahkan meskipun, maaf, Anies Baswedan sekalipun yang jadi penguasa kota dimana gelandangan ini mencari sesuap nasi, mengais rejeki diantara belantara kota, semua akan melupakan begitu saja. Ada yang langsung percaya, ada yang gak peduli. Bahkan se tata surya akan bilang, "Bodo amat!".

Tapi ini Risma, bukan Anies Baswedan. Seorang Ibu, yang kadang dihina karena fisik, tapi bisa merubah kota besar sekelas Surabaya menjadi jauh lebih baik, tanpa ternoda oleh isu korupsi. Risma, yang dikeningnya kini melekat satu partai : PDIP. Itulah kenapa banyak yang antipati di Jakarta ini.

Dan orang yang sekarang diburu jatidirinya, nyatanya telah menginjakan kakinya di Jakarta tahun 1964, 5 tahun sebelum Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria lahir, dan 9 tahun sebelum Wakil Gubernur itu tahu tentang Jakarta dan menghirup udara Jakarta.

Benar apa kata orangtua dahulu. Kejamnya ibu tiri, tidak sekejam ibukota. Inilah Jakarta, dimana yang sanggup bertahan, bisa hidup, dan yang tak bisa bertahan, akan lenyap. Tapi cara bertahan itulah yang jadi kendala. Tak semua bertahan lalu berhasil. Ada yang bertahan karena terpaksa, lalu hidup menggelandang dan menjadi pemulung. Hal inipun tidak bisa dipersalahkan, karena barang bekas, sampah ibukota, ada pangsa pasarnya tersendiri. Ada permintaan, maka akan selalu ada penyediaan. Dan mereka yang mencari barang bekas untuk didaur ulang inipun pernah disanjung setinggi langit sebagai Laskar Mandiri, dan profesi ini dilegalkan dan diberi ruang sebagai ujung tombak pengelolaan sampah dan barang bekas.

Mungkin kita akan bertanya-tanya, apa benar mereka tak ingin hidup layak? Apa benar mereka tak punya keahlian? Apa mereka tak punya keluarga? Semua absurd. Dan hal itu akan selalu jadi pertanyaan. Tapi mereka jelas bukan sampah masyarakat, meskipun bagi para pembesar, mereka cuma membuat sepet mata, mengganggu pemandangan kota besar yang indah, dengan trotoar lebar, dengan JPU gemerlap,dengan taman kota yang asri, dengan gedung yang tinggi menjulang, dan sikap masyarakatnya yang masa bodo.

Kini, setelah dia berbicara, maka harus ada aksi dari para pemamgku kebijakan. Entah itu Risma melalui Depsosnya, atau Anies dengan Dinsosnya. Tak perlu bertikai mencari salah dan benar. Tak perlu memasang reaksi berlebihan. Tak perlu membabi buta membela diri dengan mengerahkan akun-akun siluman di berbagai sosial media.

Dia, yang namanya terkenal itu, hanya ingin pulang katanya. Dia punya anak di tempat asalnya, yang pastinya ada tempat tinggal. Pulangkan dia, beri modal untuk membuka usaha sesuai apa yang dia inginkan. Buat surat perjanjian. Dan lakukan hal yang sama dengan para gelandangan lainnya agar mereka bisa hidup layak.

Tak semua dari mereka suka ikut pelatihan. Karena toh setelahnya akan tetap perlu modal usaha. Itu jadi ganjalan utama. Seperti Jack Ma katakan, Bank itu berlaku sebagai Tempat Pegadaian, yang mau mengeluarkan uang asal ada jaminan barang. Bantu mereka.

Mereka bukan orang-orang malas, karena jauh sebelum para Bankir berangkat kerja, sebelum para pialang saham datang ke kantornya, sebelum para pejabat berangkat dikawal ajudan, mereka di pagi buta telah melangkahkan kaki mereka, menyusuri jalan ibukota, mengais rejeki dari sampah buangan orang kota.

Mereka bukan orang malas. Tapi cuma nasib yang tak berpihak pada mereka.

Risma, Anies....
Mereka ada, dan nyata dihadapan kita.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
phyu.03 dan 64 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh i.am.legend.
kadrun masih ngotot klo pemulung yg d temui risma adalah pendukung pdip alias setingan, karena buat kadrun goblok hoax adalah kenyataan....emoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Ugaemoticon-Leh Uga

contohnya walaupun ratna sarumpret udah ngaku kalo wajahnya bengkak karena oplas, tpi sampai sekarang kadrung haram anak dajal iblis neraka jahanam masih perxaya klo si srumpet d gebukin agen komunis suruhan jokowi.... wkwkwkwkwkwkw emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
viniest dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh HadesManes
profile picture
ulatbulu2
kaskus addict
Jadi kl agan yakin 100 persen ga settingan ya
Keren nih
Ad yg keyakinannya 100 persen sama satu kejadian
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di