CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Gatot Nurmantyo Bilang Dudung Abdurachman Tak Mewakili Semua TNI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5fc04b75facb952369729d01/gatot-nurmantyo-bilang-dudung-abdurachman-tak-mewakili-semua-tni

Gatot Nurmantyo Bilang Dudung Abdurachman Tak Mewakili Semua TNI



Gatot Nurmantyo Bilang Dudung Abdurachman Tak Mewakili Semua TNI

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, meminta masyarakat tak mengaitkan TNI dengan insiden penurunan baliho serta konvoi kendaraan taktis di Petamburan, Jakarta Pusat. Penurunan baliho itu dilakukan atas perintah Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman.

"Tolong pisahkan, yang dilakukan Pangdam Jaya tidak mewakili TNI seluruhnya. Termasuk yang dilakukan Koop (Koopsus TNI) di Petamburan yang menurunkan kendaraan taktis, itu sama. Tidak boleh keluarkan kendaraan taktis di masa damai ini," ujar Gatot pada Rabu, 26 November 2020.

Pangdam Jaya Mayor Jenderal Dudung Abdurrachman sebelumnya memerintahkan anggotanya untuk menurunkan spanduk dan baliho Rizieq Shihab. Penurunan itu dilakukan dengan koordinasi bersama pihak kepolisian dan Pemprov DKI Jakarta.

Gatot mengatakan, FPI menjadi musuh TNI jika organisasi tersebut dianggap sebagai ekstrem kanan yang dilarang di Indonesia. "Nah, itu baru musuhan. Tapi kalau tidak, tidak ada alasan," katanya.
sumber

********

Benar apa yang dikatakan mantan Panglima TNI itu. Dan ini juga bisa dipakai untuk menjelaskan juga bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh Gatot Nurmantyo bukanlah mewakili suara seluruh purnawirawan TNI. Banyak yang tidak setuju bahkan menolak langkah Gatot. Gatot hanya mewakili diri pribadi dan ambisi pribadi.

Ekstrim kanan maupun ekstrim kiri adalah musuh negara dan rakyat. Komunis dan agamis sama-sama musuh negara dan rakyat. Tak ada bedanya. Yang membedakan cuma, kalau Komunis jelas ideologinya, tak bersandar kepada kitab-kitab suci, sementara Agamis jelas bersandar kepada kitab suci, sehingga selalu ada pembenaran atas apa yang dilakukan oleh pengikutnya.

Jika seorang mantan PKI berkumpul dengan kaum nasionalis, maka ini ibarat setitik nila didalam secawan susu. Sementara seorang mantan HTI berkumpul dengan kaum agamis seperti FPI, GNPF, PA, akankah dianggap sama seperti nila? Nyatanya tidak. Padahal sama-sama terlarang dan sama-sama ekstrim dengan format yang berbeda dan tingkat kerusakan yang berbeda.

Jika dianalogikan seperti ganja dan rokok, maka PKI ini seperti ganja. Memabukan dan berefek langsung. Sementara HTI dan FPI seperti rokok, mengakibatkan ketergantungan dan berefek jangka panjang, mematikan secara perlahan.

Meskipun apa yang dikatakan oleh Gatot ini masih sesuai koridor, tapi sebenarnya Gatot menyuntikan racun ke tubuh TNI. Ucapan Gatot menjatuhkan moril para tentara yang sebenarnya sudah solid dan bertepuk tangan ketika Panglima Kodam Jaya mengatakan FPI seharusnya dibubarkan saja.

Ucapan Gatot pastinya punya alasan lain. Dia membutuhkan suara FPI untuk melangkah menuju RI 1. Jika Gatot selama ini selalu bersuara, maka berbeda dengan yang dilakukan Anies. Sama-sama bernafsu ingin menjadi RI1, sama-sama membutuhkan suara FPI, tetapi Anies lebih banyak diam dan bergerak dibelakang layar meskipun tetap ketahuan.

Gatot jelas mendapat momentum lagi setelah kasus Dubes Palestina. Peluang Gatot mungkin menjadi besar ketika Edhy Prabowo, tangan kanan Prabowo Subianto ditangkap KPK, yang membuat Prabowo Subianto sedikit kesulitan membela diri atas segala ucapannya terdahulu.

Dan Gatot serta Prabowo tak akan pernah berada dalam satu kubu. Sama-sama ingin dianggap sebagai TNI Hijau, sama-sama ingin dianggap sebagai kawan dekat FPI, meskipun Prabowo jelas telah bercerai dengan FPI. Merekapun akan tetap menjadi rival Anies Baswedan.

Ini menjadi lucu, ketika sebagian rakyat Indonesia menganggap bahwa FPI adalah sampah, sementara banyak orang besar memperebutkan sampah tersebut.

Padahal meskipun FPI bukan HTI, bukan ekstrim kanan, tetapi jejaknya sudah jelas, mereka pendukung ISIS, dan ISIS bukan cuma ekstrim kanan.

Ketika sebuah ormas mendukung komunisme, maka sepatutnya dia ditumpas. Dan seharusnya hal ini sama, ketika sebuah ormas mendukung terorisme, sepatutnya dan selayaknya ormas tersebut harus dilibas tanpa ampun.

Masa iya seorang Jenderal, mantan Panglima TNI, mendukung pergerakan ormas yang menyuruh pendukungnya potong kambing untuk menghormati kematian teroris? Ini benar-benar melukai hati para prajurit TNI yang berjibaku menumpas teroris di Indonesia ini.

Hadeeeh.... Kapan mau sadarnya Jenderal!

profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 42 lainnya memberi reputasi
lebih mewakili mana? TNI aktif apa TNI pensiunan?

Terus, kalo sudah pensiun, rapat strategi diajak nggak? minimal dikirimin notulen nya nggak?

Logika sederhana aja sih, buat yang masih mau pake logika aja. Sebagaimana diperintahkan : "... dan apakah kamu tidak berpikir?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kongloberat16 dan 10 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di