CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Cerita Warga Surabaya Dipersulit Urus Akta Kematian Hingga Nekat ke Kemendagri
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f96abba7e3a7270782a1368/cerita-warga-surabaya-dipersulit-urus-akta-kematian-hingga-nekat-ke-kemendagri

Cerita Warga Surabaya Dipersulit Urus Akta Kematian Hingga Nekat ke Kemendagri




Seorang warga Surabaya, Yaidah, terpaksa harus mengurus akta kematian anaknya ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Perempuan 51 tahun itu kecewa karena merasa dipersulit saat mengurus di Dispendukcapil.

"Iya, benar. Itu ngurusnya (Kemendagri). Itu ngurusnya tanggal 22 September. Sampainya (di Jakarta) tanggal 23, baru tanggal 24 saya pulang. Saya berangkat sendiri," ujar Yaidah kepada detikcom, Senin (26/10/2020).

Yaidah mengatakan awalnya ia mengurus akta kematian setelah anaknya yang kedua, Septian Nur Mu'aziz (23), meninggal pada Juli 2020. Ia kemudian berinisiasi mengurus ke kelurahan Lidah Wetan, Lakarsantri.

Sesampai di kelurahan, ia disuruh mengurus surat keterangan meninggal ke rumah sakit. Namun saat surat akan diserahkan, kelurahan di-lockdown sebab ada petugas di sana yang meninggal akibat COVID-19.

Meski begitu, Yaidah mengaku tanggal 25 Agustus, seluruh berkas persyaratan untuk pengajuan akta kematian telah diserahkan. Dari kelurahan, berkas tersebut kemudian dikirim ke Dispendukcapil.

"Berkas itu saya sampaikan. tanggal 25 agustus, berkas itu sudah di dispenduk sebenarnya, sudah terkirim ke Dispenduk, dikirim pihak kelurahan," tutur Yaidah.

Namun, sampai berhari-hari ditunggu, rupanya akta kematian itu tak kunjung datang. Bahkan ia mengaku sempat bolak-balik menanyakan ke pihak kelurahan. Adapun alasannya karena data untuk almarhum anaknya belum bisa diakses.

"Berhari-hari tak tunggu tak tengok ke kelurahan belum ada. Bolak balik belum bisa diakses. Lama-lama petugas kelurahan juga kasihan. saya dikasih nomor lah oleh petugas kelurahan nanti kalau sudah jadi dikabari biar gak riwa-riwi," tukas Yaidah.

Akhirnya, pada 21 September, Yaidah mendatangi Dispendukcapil Surabaya di Siola dengan membawa berkas yang diserahkan ke kelurahan. Tapi apa daya di sana ia juga menemui jawaban yang sama bahwa akta belum bisa diakses.

"Berkas itu saya sampaikan. tanggal 25 agustus, berkas itu sudah di dispenduk sebenarnya, sudah terkirim ke Dispenduk, dikirim pihak kelurahan," tutur Yaidah.

Namun, sampai berhari-hari ditunggu, rupanya akta kematian itu tak kunjung datang. Bahkan ia mengaku sempat bolak-balik menanyakan ke pihak kelurahan. Adapun alasannya karena data untuk almarhum anaknya belum bisa diakses.

"Berhari-hari tak tunggu tak tengok ke kelurahan belum ada. Bolak balik belum bisa diakses. Lama-lama petugas kelurahan juga kasihan. saya dikasih nomor lah oleh petugas kelurahan nanti kalau sudah jadi dikabari biar gak riwa-riwi," tukas Yaidah.

Akhirnya, pada 21 September, Yaidah mendatangi Dispendukcapil Surabaya di Siola dengan membawa berkas yang diserahkan ke kelurahan. Tapi apa daya di sana ia juga menemui jawaban yang sama bahwa akta belum bisa diakses.

"Mendengar itu mulai tersulut emosi saya. tak bilang gini. 'Eh kalau bisa diakses di kelurahan, gak mungkin saya sampai ke sini. Ini berkas dari kelurahan, berminggu-minggu di kelurahan lalu disuruh balik ke kelurahan, saya bilang gitu. Akhirnya saya disuruh naik ke lantai 3," ujarnya.

Di lantai 3, Yaidah justru disuruh oleh petugas yang memintanya untuk mengurus di lantai 1. Ia juga sama mendapat perlakuan yang kurang ramah.

Alhasil, Yaidah semakin emosi mendengar itu. Padahal ia sudah menunggu selama berjam-jam. Petugas itu kemudian menerangkan bahwa data kematian anaknya tak bisa diakses karena ada tanda petik atas di nama anaknya. Dan hal itu harus menunggu konsultasi dari Kemendagri terlebih dahulu.

"Dia bilang 'yo gak bisa, semua itu harus sesuai dengan data. Tanda petik itu harus nunggu dari Kemendagri pusat. lama dong? tanya saya. Yo lama wong yang dikirim bulan Juli aja baru jadi barusan, sambil ngeloyor masuk. bingung saya gak karu-karuan," tuturnya.

Merasa putus asa, Yaidah kemudian memutuskan untuk pergi ke Kemendagri di Jakarta. Ia kemudian pamit ke suaminya dan pergi dengan kereta seorang diri.

"Akhirnya saya izin suami mau nekat berangkat ke Jakarta. Saya dari Senen naik ojek online ke Kemendagri pusat, ternyata salah. bukan di situ, kalau masalah akta kematian, kelahiran dan lain-lain masalah catatan sipil itu itu di Dirjen Dukcapil di Jakarta Selatan," tukas Yaidah.


Sumber





Muka gile bray .... 


Ini giman sih Anies Baswedan
 emoticon-Wagelaseh emoticon-Wagelaseh emoticon-Wagelaseh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 5 lainnya memberi reputasi
Petugas itu kemudian menerangkan bahwa data kematian anaknya tak bisa diakses karena ada tanda petik atas di nama anaknya. 

Roaming gw.. Apaan maksudnya??
profile picture
hard_gay
kaskus maniac
mungkin kaya ditandain gitu gan. mbuh, ane juga ga pernah ngurus gituan
profile picture
.noiss.
Auto Banned
[MENTION]hard_gay[/MENTION] gan ntar dulu gan..

GW BACA AKUN LU HARD GAY..

ELU GAY GITU?? 😰😰😰
profile picture
kacangbutol
kaskus addict
@.noiss. situ minat ama dia emoticon-Big Grin
profile picture
.noiss.
Auto Banned
@kacangbutol

Minat gimana ??
profile picture


Ya kemungkinan memang sengaja ditandai tanda petik itu...

Ini publikasi resmi disduk surabaya nya

Terkait berita tentang Bu Yaidah warga surabaya yang mengurus akta kematian anaknya yang nama anaknya ada tanda petik menunggu lama, bahkan sampai ke kemendagri di Jakarta, setelah dicek ditemukan informasi antara lain :

1. Bu Yaidah mendapatkan informasi yang kurang tepat tentang penyelesaian permohonan akta kematian yang namanya ada tanda petiknya harus melalui Kemendagri di Jakarta, karena sebenarnya proses input nama yang bertanda petik ke SIAK proses nya diselesaikan oleh Dispenduk sendiri.

2. Bu Yaidah belum mendapat informasi terkait channel pengaduan resmi dispendukcapil yaitu telepon call center dispendukcapil di 031-99254200 atau menuliskan pengaduan di http://dukcapilsapawarga.disdukcapilsurabaya.id/, dan sampai kejadian laporan Bu Yaidah diteruskan kembali oleh kemendagri ke dispenduk Surabaya untuk di diproses, keluhan terkait permohonan nya belum pernah masuk ke Channel Channel pengaduan dimaksud.

3. Keluhan tersebut pada 23 September 2020 sudah tertangani dengan terbitnya akta kematian yang dimohonkan.

4. Jadi saat informasi / berita permasalahan permohonan akta kematian oleh Bu Yaidah muncul pada tanggal 22 Oktober 2020, akta kematian tersebut sebenarnya sudah selesai 1 bulan sebelumnya.

Terkait Bu Yaidah yang mendapatkan informasi tidak tepat terkait permohonan nya, yang mana kejadian nya sesuai informasi terjadi di area layanan Dispendukcapil, Dispendukcapil menyampaikan permohonan maaf. Disamping itu, agar tidak sampai kejadian seperti itu terulang kembali di masa akan datang, Dispendukcapil akan men-intens-kan penyampaian informasi tentang channel pengaduan resmi kepada masyarakat agar semakin banyak warga yang tahu kemana harus melangkah jika mengalami permasalahan dalam layanan kependudukan dan pencatatan sipil di Surabaya, sehingga warga tidak sampai mendapatkan informasi dari pihak / seseorang yang tidak dalam kapasitas dan tugas menjawab serta menindaklanjuti pengaduan / keluhan nya. Disamping itu Dispendukcapil juga menyempurnakan mekanisme keluhan dan proses pengaduan pada layanan pengaduan resmi yang ada agar respon penanganan nya bisa semakin cepat dan tepat serta dapat di tracking progress nya.
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di