CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Green Lifestyle /
Efek Sampah Organik terhadap Perubahan Iklim
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f8c1340eaab2516210cad4d/efek-sampah-organik-terhadap-perubahan-iklim

Efek Sampah Organik terhadap Perubahan Iklim



Perubahan iklim.
Mendengar frase itu pasti kalian sudah paham bahwa hal itu sedang menjadi ancaman lingkungan yang cukup serius. Nggak hanya Kementerian Lingkungan Hidup saja, lembaga-lembaga dan komunitas yang concern dibidang lingkungan sedang mencoba berbagai cara untuk mencegah hal tersebut.

Sebenarnya faktor utamanya apa sih?

Oke, kita perlu tau dulu definisi perubahan iklim. Menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), perubahan iklim adalah perubahan komposisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim secara alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan. Komposisi atmosfer bisa juga disebut sebagai Gas Rumah Kaca (GRK) yang terdiri dari karbon dioksida, nitrogen, metana, dll. Yang kita rasakan saat ini, perubahan komposisi atmosfer menyebabkan pemanasan global.

Nah, ngomongin soal GRK, kiat cenderung menganggap bahwa GRK sangat merugikan. Sebenarnya GRK ini berfungsi untuk menjaga suhu bumi agar tetap stabil. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata konsentrasi komponen penyusun GRK semakin meningkat. Penyebabnya bisa jadi proses alam secara alami dan juga kegiatan manusia.

Ternyata yang semakin mempertebal GRK tidak hanya aktivitas yang menghasilkan asap. Sampah organik yang kita buang setiap hari ternyata berpengaruh besar terhadap peningkatan efek rumah kaca.

Sampah organik secara alamiah terurai menjadi karbon dioksida. Namun mekanisme ini terjadi ketika kadar oksigen tersedia dalam jumlah cukup (aerob). Nah, karbon dioksida yang dihasilkan dari proses ini memang berpengaruh besar terhadap peningkatan efek rumah kaca. Namun gas ini masih bisa diserap kembali oleh tanaman untuk proses fotosintesis, sehingga pengaruhnya masih bisa dikurangi. Ceritanya akan berbeda jika proses penguraian sampah organik tidak diimbangi dengan ketersediaan oksigen yang cukup (anaerob). Gas yang dominan dihasilkan adalah gas metana. Gas inilah yang sebenarnya secara signifikan meningkatkan efek rumah kaca.

Kapan kondisi anaerob ini bisa terjadi?

Jawabannya adalah ketika jumlah sampah organik sangat menumpuk.

Kondisi tersebut utamanya terjadi di TPA. Dengan jumlah sampah yang demikian banyak kadar oksigen disana tidak seimbang. Untuk sampah yang berada di timbunan paling luar mungkin akan terurai secara aerobik. Namun bagaimana kabarnya sampah di timbunan paling bawah. Hampir dipastikan, mereka terurai secara anaerobik sehingga menghasilkan metana. Jika metana dihasilkan dalam jumlah besar dan terus menerus, tentu saja akan memperparah efek rumah kaca.

Lalu bagaimana solusinya?

Solusinya adalah mengolah sampah secara mandiri. Caranya dengan menyediakan area khusus untuk menampung sampah organik agar terurai secara alami. Jika masing-masing rumah dapat mengolah sampah organiknya sendiri, tentu tidak akan terjadi penumpukan sampah di TPA.

Bagi masyarakat perkotaan memang cukup sulit untuk melakukan ini karena keterbatasan lahan. Namun untuk kebanyakana masyarakat desa seperti saya, hal itu sudah menjadi tradisi. Masyarakat desa seringkali membuat lubang dangkal berukuran kira-kira 1x1,5 meter di belakang rumah bahkan di depan rumah khusus untuk menampung sampah organik. Jika jumlah sampahnya normal, tidak akan menimbulkan bau yang tidak sedap kok.

Nah Gan Sis, pengen nyoba juga nggak?

Yuk, rame-rame bantu mencegah perubahan iklim dari rumah.

Anw, terimakasih sudah mampir di thread ini.

Salam,,,
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 31 lainnya memberi reputasi
nyampah pada tempatnya ...
kalo organik msih bisa diolah jd msih bisa di kontrol ..,
yg perlu darurat tetap yg non-organik ,emang sih dah ada yg nemu istilah enzim klo g salah ,6x lebih cepat penguraian utk plastik ,moga di indonesia jg ada riset ttg ini ..,jd plastik benar2 jd solusi kaya tujuan utamanya jd recycle / digunakan kembali tanpa henti.
profile-picture
profile-picture
titisrahma dan nomorelies memberi reputasi
profile picture
Iya Gan, udah banyak kok riset2 kayak gitu. Tapi semoga aja semua pihak bisa merealisasikan secara luas. Doain aja Gan
profile picture
@gepyan Di BPPT dan LIPI sepertinya udah ada gan. Bahkan mungkin2 judul skripsi mahasiswa S1 udah banyak yg bahas juga. Tapi semua itu kan kalau tidak ada atau sedikit nilai ekonomisnya agak susah dikomersilkan dan bisa dirasakan masyarakat luas
profile picture
gepyan
kaskuser
@superduper88 super enzim ?...belum ada di bppt/lipi ,yg ada penggunaan plastik berbayar yg ramah lingkungan ,klo penguraianya metode mikroorganism masih terbilang lama untuk skala besar dan melihat jumlah plastik yg sudah diporduksi ...untuk sasaranya ,ke industri /pabrik yg menggunakan kemasan plastik ..,jd nilai ekonomis ada karena [recycling] mereka tak perlu bahan plastik untuk buat kemasan baru karena terurai dengan baik ,+tanpa limbah /polusi.
profile picture
Kalo super enzim ane blom tau. Koreksi kalo salah gan, sejauh ini yg ane tau, recycle plastik dgn membuatnya menjadi bijih plastik lagi dan siap untuk diolah ke produk yg sama atau sejenis. Secara kalo super enzim yg agan bilang ini apakah sama dengan bahan kimia lain karena plastik kan an-organik
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di