CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Memikirkan Diri Sendiri Adalah Pangkal Kesedihan Yang Berkepanjangan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f940b7e09b5ca7c084d5603/memikirkan-diri-sendiri-adalah-pangkal-kesedihan-yang-berkepanjangan

Memikirkan Diri Sendiri Adalah Pangkal Kesedihan Yang Berkepanjangan


Kesedihan bisa dialami oleh siapa saja. Tidak peduli usianya berapa. Tidak peduli sekolahnya setinggi apa. Juga tidak peduli hartanya sebanyak apa. Selama dia masih hidup, perasaan sedih juga pasti akan mewarnai hidupnya.

Wajar. Sebab manusia bukan robot. Manusia punya hati. Manusia punya perasaan. Yang tidak wajar adalah jika kesedihan yang dirasakan berlarut-larut, berkepanjangan dan terjadi berulang-ulang. Kesedihan semacam ini selain menyiksa juga akan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Biasanya orang lagi sedih malas untuk bekerja. Malas untuk beraktivitas. Kerjanya cuman rebahan, atau duduk sambil termenung dengan raut muka suram. Sangat tak enak dipandang.

Kesedihan bisa dikeranakan ditinggal orang yang disayangi. Bisa dikeranankan merasa diri jelek. Bisa dikarenakan dibuli orang lain. Bisa dikarenakan pelajaran. Bisa dikeranakan pekerjaan. Dan seterusnya.

Banyak penyebabnya, dan sekali lagi itu wajar. Dan sekali lagi yang tidak wajar adalah jika kesedihan yang dirasakan berlarut-larut dalam waktu yang lama, dan terjadi berulang-ulang.
Quote:

Sedih hanyalah salah satu dari sekian banyak perasaan yang ada di hati. Rasa sedih sesungguhnya berasal dari otak. Otaklah yang membuat kesedihan itu muncul. Otaklah yang berpikir, yang secara tidak sadar apa yang dipikirkan otak spontan memunculkan perasaan di hati.

Misalnya ketika mendapatkan hinaan dari orang lain. Secepat kilat otak berpikir mengenai hinaan itu. Apa yang dirasakan berikutnya tergantung apa yang dipikirkan otak. Bisa emosi lalu balas menghina. Bisa juga diam dan menerima dengan lapang dada.

Kesedihan yang berlarut-larut dan berulang-ulang juga sama. Otaklah yang membuat kesedihan berlarut-larut dan berulang-ulang itu. Otaklah yang berpikir dan terus memikirkan keadaan diri, nasib diri. Padahal, terus menerus memikirkan keadaan diri, nasib diri hanya memuculkan kesedihan.

Ya. Itulah pangkal dari kesedihan. Memikirkan keadaan diri akan memunculkan rasa iba pada diri sendiri. Rasa iba atau kasian pada diri sendiri akan memunculkan kesedihan. Jika terus menerus memikirkan diri, Kasian pada diri, maka kesedihan akan terus menerus dirasakan.

Kita bisa belajar dari binatang. Binatang juga punya hati. Binatang juga punya perasaan. Binatang juga punya otak. Sama seperti manusia.
Quote:

Apa yang dirasakan binatang juga berasal dari apa yang dipikirkan otak. Tapi jelas berbeda dengan otak manusia. Otak binatang hanya digunakan untuk melindungi anak dan untuk bertahan hidup.

Misalnya ayam, ketika anaknya yang baru netas diambil, induk ayam akan marah dan sedih. Tapi kesedihannya tidak lama. Dua atau tiga hari juga sudah lupa akan kesedihan atas kehilangan anaknya. Itu dikarenakan otaknya tidak terus menerus memikirkan anaknya yang hilang.

Otaknya tidak terus menerus memikirkan nasib diri karena kehilangan anak. Seperti fungsinya, otaknya hanya digunakan untuk bertahan hidup. Bukan untuk berpikir yang macam-macam.

Berhentilah memikirkan diri, nasib diri. Memikirkan nasib diri hanya memuncul rasa kasian pada diri. Dan itu pangkal dari kesedihan yang berlarut-larut, berkepanjang, dan berulang-ulang.



Sumber: Pengalaman dan opini pribaadi.

 


profile-picture
profile-picture
profile-picture
nohopemiracle dan 5 lainnya memberi reputasi
Waduu nais sher ni gan. Saya sangat terinspirasi sekali emoticon-Jempol emoticon-Nyepi
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
profile picture
TS kelayan00
kaskus maniac


Sekadar berbagi pengalaman.

Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di