CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Awakening (Supranatural & Romance)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f59f61509b5ca3feb6ac28e/awakening-supranatural-amp-romance

Awakening (Supranatural & Romance)

Awakening (Supranatural & Romance)



Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.


INTRO
Hitam dan putih adalah suatu simbol yang seringkali dijadikan sebagai penentu akan hal baik maupun yang buruk.
Baik itu 1000 tahun yang lalu maupun 1000 tahun yang akan datang, manusia masih akan tetap menggunakan konsep yang sama untuk membedakan mana yang benar dan salah. Yang berbeda adalah alasan dan kepentingan mereka.

Bagi segelintir manusia, kehidupan terasa sangat membosankan. Manusia selalu dituntut untuk hidup mengikuti arus dan suara mayoritas. Kehidupan yang harus sesuai dengan ekspektasi orang lain, bagaikan sebuah boneka yang tak bisa lepas dari kendali pemiliknya.

Ini adalah cerita kehidupan seseorang yang dulunya mengikuti arus tanpa mengerti apa tujuannya. Hingga suatu saat sebuah pertemuan dan mimpi berhasil mengubah jalan hidupnya. Kehidupan dirinya yang tenang mulai bersinggungan dengan dunia mereka, para makhluk yang tak kasat mata. Layaknya sebuah takdir, kisah cintapun mulai terbentuk dan tumbuh didalam dirinya.

Inilah kisah Rama yang akan menyadari kepingan yang hilang dari hidupnya.

INDEKS
1. Pertemuan Pertama
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut

Berhubung TS juga upload cerita ini di Wattpadd. Bagi yang berminat baca dan support TS bisa buka link dibawah ini.
https://my.w.tt/8GV5RUwaW9

Terimakasih emoticon-Big Grin

Chapter I Pertemuan Pertama

Perkenalkan nama lengkapku adalah Rama Wijaya, sering dipanggil Rama. Aku diberikan nama itu oleh ayahku karena sebuah alasan klasik. Seperti orangtua pada umumnya yang menggunakan nama idolanya sebagai nama anaknya. Ceritanya dulu, ayahku sangat menyukai kisah legenda wayang yang sangat populer pada masanya. Kisah legenda yang sangat sering dan telah banyak diadaptasi. Yaitu kisah legenda Rama dan Shinta.

Ayahku berasal dari desa yang masih sangat kental dengan adat istiadat Jawa. Sedangkan Ibuku sudah menetap di Jakarta sejak lama. Sebenarnya, background mereka sangat berbeda dan bertolak belakang. Begitu juga dengan sifat mereka, tapi anehnya mereka bisa berakhir hidup bersama, aneh bukan?.

Mereka berdua bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta yang berbeda. Secara finansial bisa dikatakan keluarga kami berkecukupan. Sejak kecil aku juga diajarkan untuk hidup sederhana oleh orangtuaku. Aku selalu diajarkan untuk hidup dengan prinsip yang baik.

Aku adalah anak semata wayang alias anak satu-satunya di keluargaku. Banyak orang mengatakan aku pasti sangat disayang dan dimanja kedua orangtuaku. Tapi pada kenyataannya, kedua orangtuaku sangat sering berselisih pendapat dan bertengkar. Itulah sebabnya aku menjadi orang yang kurang percaya diri dan pendiam. Dikarenakan aku sering memendam pikiran dan perasaanku sendiri.

Kehidupanku sejak kecil sampai aku menginjak bangku SMA bisa dikatakan biasa saja. Tiada kejadian unik ataupun menarik yang bisa kubanggakan. Aku hanya menjalani kehidupan yang membosankan. Layaknya seseorang yang berenang mengikuti arus sungai tanpa menyadari kemana arah tujuannya.

Selama hidupku aku hanya memiliki seorang sahabat yang bernama Steven. Dia termasuk salah satu siswa terpopuler di sekolahku. Alasannya karena wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi seperti model. Ditambah lagi dengan sifatnya yang ramah dan humoris, menjadikan dirinya pria yang selalu menjadi pusat perhatian bagi para wanita.

Berbanding terbalik denganku yang cuma berwajah biasa saja, pendiam dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Sebenarnya Steven seringkali mengatakan kalau aku memiliki wajah yang tampan. Tapi aku tidak percaya dan tak menggubris omongannya.

Kami berdua sudah kenal sejak kelas 1 SMP, disaat kami berada dikelas yang sama. Saat ini kami baru saja lulus dari jenjang pendidikan SMA. Kami berdua akan melanjutkan pendidikan ke universitas dan jurusan manajemen yang sama di Jakarta.

Berhubung jarak antara rumah dan kampus kami yang tergolong sangat jauh. Aku dan Steven berinisiatif untuk hidup ngekost di dekat daerah kampus. Untungnya kedua orangtua kami setuju dan memperbolehkannya. Hitung-hitung agar kami bisa hidup lebih mandiri kedepannya.

Setelah menjalani semua proses registrasi dan test. Akhirnya tibalah hari dimana kami akan mengikuti kegiatan ospek alias pengenalan kampus. Pada hari itu aku dan Steven berangkat ke kampus bersama. Sejak dulu kami sudah terbiasa untuk berangkat ke sekolah bersama. Disepanjang perjalanan, biasanya kami berbincang-bincang mengenai berbagai macam topik. Entah itu tentang cewek,game,politik dan berbagai macam jenis topik lainnya.

Tak terasa karena sedang asik ngobrol, ternyata posisi kami sudah berada tak jauh dari gerbang pintu masuk kampus. Disana terlihat banyak mahasiswa baru yang sedang berbondong-bondong dan bergegas memasuki gerbang.

"Ram, ternyata sesuai ekspektasi gw. Disini emang banyak banget cewek cantiknya. Ga nyesel dah gw masuk kampus ini." celetuk Steven sembari celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri.

"Masih sempet-sempetnya aja lo liatin cewek. Perhatiin panitia ospeknya tuh. Matanya udah melototin kita dari jauh noh." sindirku pada Steven sambil bergegas jalan menuju lapangan.

Setelah sampai di lapangan, kami langsung disuruh berbaris sesuai yang ditetapkan. Lalu kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Rektor dan para pejabat kampus. Pidatonya terasa sangat formal dan membosankan. Aku tak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan, sebab aku sedang asik melamun. Sesekali aku menoleh dan memperhatikan mahasiswa yang ada disekitarku.

Akhirnya setelah upacara penyambutan yang membosankan itu selesai. Tibalah saatnya panitia ospek melakukan tugasnya. Contoh tugas yang mereka lakukan adalah seperti berteriak sambil mencari kesalahan para peserta ospek. Selain itu mereka juga memberi tugas-tugas aneh yang aku tak mengerti apa tujuan dan manfaatnya.

"Waktunya pembagian kelompok." teriak salah satu panitia ospek

Pada saat pembagian kelompok, panitia ospek sengaja memisahkan peserta yang dulunya masuk di sekolah yang sama. Otomatis aku harus berada di kelompok yang berbeda dengan Steven. Aku terpaksa harus bersosialisasi dan bergaul dengan orang-orang baru.

Pada akhirnya aku ditempatkan di kelompok tiga belas yang berisikan empat orang anggota. Aku maupun mahasiswa lainnya langsung bergegas pergi mencari anggota kelompok kami masing-masing.

Setelah mencari dengan waktu yang cukup lama, akhirnya aku menemukan mereka yang sedang berteriak "kelompok tiga belas" sambil melambaikan tangannya. Tak memakan waktu yang lama, semua anggota kelompok kami akhirnya berkumpul. Kami langsung bersepakat untuk memperkenalkan diri masing-masing secara bergiliran.

Aku sengaja menunggu mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu. Agar bisa memperhatikan cara mereka memperkenalkan diri. Selain itu aku merasa lebih nyaman memperkenalkan diriku diakhir.

"Halo semuanya, nama gw Raka." ucap seorang laki-laki berkacamata.

Ku perhatikan tampak ukuran tubuhnya sedang, wajahnya terlihat cukup berkharisma. Penampilan dan gerak geriknya terasa terkesan seperti seorang akademisi bagiku. Aku merasa sedang melihat ketua OSIS waktu SMA dulu.

Dilanjutkan dengan seorang wanita dengan tubuh mungil, mata bulat dan wajah yang tampak polos. Panjang rambutnya sekitar sebahu membuatnya terkesan sangat imut.

"Hai, namaku Gayatri, biasanya dipanggil Tri"
ucapnya dengan suara yang manis.

"Salam kenal, namaku Adellia biasa dipanggil Adel." ucap wanita yang berdiri disebelah Gayatri.

Tubuhnya terlihat cukup tinggi dan proporsional seperti seorang model.
Wajahnya berbentuk oriental, saat tersenyum matanya tampak menyerupai bentuk bulan sabit. Senyumannya benar-benar terlihat sangat manis.

Rambutnya yang panjang terurai membuat penampilannya tampak elegan. Walau memakai pakaian yang sama dengan mahasiswi yang lain, dia tampak berbeda dan unik. Gayanya terlihat sangat modis dan memesona.

Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang unik dan menarik sejak pertama kali aku melihat dirinya.

Pada akhirnya, waktunya giliranku untuk memperkenalkan diri.

"Halo, nama gw Rama" ucapku singkat.

Seperti biasa, aku tidak pandai bersosialisasi dengan orang yang baru kutemui dan hanya bisa berkata dengan singkat jelas dan padat. Aku hanya berharap mereka tidak mendapat kesan yang jelek saat berkenalan denganku.

Setelah memperkenalkan diri masing-masing, kami langsung bergegas menemui kakak tingkat yang bertugas mengawasi dan memberikan tugas kelompok kami.

Kating yang mengawasi kelompok kami adalah seorang pria yang bernama Ansel. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah bahwa dia orang yang ramah dan santai. Sebab aku memperhatikan dia selalu memasang ekspresi wajah yang ceria, berbeda dengan kating yang lain.

Sambil memegang kertas ditangannya, dia mulai berkata "Untuk Kelompok tigabelas, ini list peralatan sama tugas yang harus kalian kumpulkan untuk ospek besok. Jadi, jangan sampai ada yang telat dan gak lengkap, OK?" ujar Ansel

Setelah menjelaskan semuanya, Ansel langsung pamit dan pergi. Dikarenakan jam sudah mengarah pada angka lima yang artinya sudah waktunya pulang.

Sementara itu, kelompok kami harus berdiskusi dan membagi tugas terlebih dahulu sebelum pergi pulang. Kami berinisiatif untuk membuat group LINE untuk mempermudah komunikasi.

Kebetulan diskusi kelompokku selesai lebih cepat daripada kelompok Steven. Oleh karena itu, aku masih harus menunggu Steven menyelesaikan diskusinya. Aku berdiri menunggunya didepan pintu gerbang.

Tak lama kemudian, setelah menunggunya sekitar lima menit akhirnya aku bertemu dengan Steven. Tanpa berpikir panjang, kami langsung memutuskan untuk pergi pulang. Seperti biasanya, kami hanya mengobrol dan bercanda santai disepanjang perjalanan pulang.

"Ram, gimana tadi kelompok lo? Ada yang cantik gak disana?" tanya Steven sambil cengar-cengir.

"Hadeh, kalo ada yang cantik juga gak akan gw kasih tau ke lo. Kasian tuh cewek, kalo cuma jadi korban selanjutnya." ucapku

"Yah gak asik lo ahh, coba kenalin ke gw dong. Soalnya dikelompok gw rata-rata cowok semua, kampret emang." keluh Steven

"Hahaha rasain, makan dah tuh batang." ejekku

Sembari diperjalanan, tak sengaja aku melihat Adellia yang sedang berjalan sendiri tidak jauh dari posisiku. Tapi anehnya aku melihat dia seperti sedang berbicara sendiri sambil menoleh ke arah kirinya yang kosong.

Beberapa saat kemudian, setelah aku memandanginya yang sedang berbicara sendiri cukup lama.

Tiba-tiba Adellia menoleh kebelakang dan memandang diriku.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahmoedz99 dan 55 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep

Chapter 35 Kopi Darat

Tak terasa, tiga hari sudah berlalu sejak Adel telah berangkat kembali ke Surabaya. Hari ini adalah hari dimana aku akan mengikuti kopi darat alias kopdar. Sebelumnya, kami sudah janjian akan bertemu pada jam tiga sore di suatu cafe yang jaraknya lumayan jauh dari posisi kostku. Jadi, kemarin aku berkomunikasi dengan salah satu penghuni kostku yang telah mudik untuk meminjam sepeda motornya.

Sebenarnya dari kemarin aku berencana untuk pulang ke rumah orangtuaku. Tapi aku menundanya, sebab aku ingin mengikuti kopdar terlebih dahulu. Saat aku sudah bersiap-siap untuk berangkat, tiba-tiba Steven muncul keluar dari kamarnya.

"Wih, mau kemana lu Ram?" tanya Steven

"Mau nongkrong di cafe doang." jawabku singkat

"Nongkrong? Sejak kapan lo punya temen nongkrong?" tanyanya kebingungan

"Banyak tanya lo ah, gw mau pergi dulu nih." ucapku

"Alah, paling lo mau nyari cewe kan disana hehehe." balas Steven sambil tersenyum nyengir.

"Sotoy lo, jangan lupa besok kita baliknya bareng." ucapku lalu keluar dari pintu kost.

Setelah percakapan singkat dengan Steven, aku langsung pergi menuju lokasi yang telah disepakati.

Perjalanan ke lokasi memakan waktu sekitar setengah jam. Sesampainya disana, aku melihat kondisi cafe yang tidak terlalu ramai pengunjung.

Hanya terisi kurang lebih lima dari belasan meja. Saat kuperhatikan satu-persatu, sepertinya orang yang paling mencolok adalah orang yang duduk diposisi sudut belakang.

Orang itu mengenakan setelan serba hitam, mulai dari kaos dan jacketnya hingga celana jeansnya. Dari wajahnya, dia terlihat seperti orang berumur kisaran dua sampai tiga puluh tahunan. Jika dilihat secara keseluruhan, dia masih tampak muda.

Aku mengatakan dia sangat mencolok, sebab saat aku mengaktifkan mata ketigaku. Aku melihat aura berwarna kuning yang dominan dan sangat mencolok dari dirinya.

Disana dia sedang berbicara dengan seorang pria yang masih tampak seumuran dengannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung pergi mendekati mereka berdua. Karena aku mempercayai instingku yang telah mengarah kepada mereka berdua.

"Permisi, ini Mas Putra ya?" tanyaku dengan sopan.

Dia menoleh dan memandangku dengan seksama lalu tersenyum kecil.

"Iya, kalo masnya? Maaf, soalnya saya ga hapal semuanya." balasnya dengan ramah.

"Nama saya Rama mas." ucapku sambil tersenyum lalu aku menjulurkan tanganku kearahnya.

"Salam kenal, silakan duduk mas." balasnya sambil tersenyum lalu menyalam tanganku.

"Oh iya, kalo masnya?" tanyaku kepada pria satunya lagi.

"Robby mas, salam kenal ya." jawabnya dengan tersenyum.

Sambil menunggu peserta yang lain datang, kami hanya berbincang-bincang santai. Tapi aku lebih banyak diam saja. Aku hanya mengamati dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

Dari pembicaraan mereka berdua, Robby lebih banyak menceritakan masalah asmara yang dialaminya. Mulai dari dia melakukan pendekatan alias PDKT. Lalu perjuangan yang dilakukannya agar bisa pacaran dengan wanita yang disukainya. Hingga pada akhirnya kisah perselingkuhan yang dilakukan kekasihnya.

Dia menceritakan hubungannya sudah berjalan sekitar tiga tahun. Sejak dari awal hubungannya, semua berjalan lancar tanpa ada permasalahan.

Tapi pacarnya tiba-tiba mulai berubah sejak saat bertemu dengan teman akrabnya sendiri. Kejadiannya saat sedang ada acara kumpul-kumpul dengan teman sebaya.

Beberapa minggu kemudian, sikap pacarnya mulai berubah. Dari yang dulunya manja dan butuh perhatian, berubah menjadi cuek dan kasar.

Robby merasa pacarnya seperti menjadi orang yang berbeda. Awalnya dia memaklumi dan mencoba untuk sabar akan sikap buruk dari pacarnya. Tapi lama-kelamaan dia tidak tahan lagi dan akhirnya mereka melakukan pertengkaran yang hebat.

Pada akhirnya mereka putus, karena selalu bertengkar saat berkomunikasi. Tak lama setelah putus, Robby melihat pacarnya sudah bergandengan tangan dengan teman akrabnya sendiri.

"Kira-kira ada solusi gak mas?" tanyanya kepada Putra

"Hmmm, coba tunjukin foto mantan kamu." jawabnya pelan

Lalu dia membuka handphonenya lalu menjulurkannya ke Putra "Ini mas fotonya." ucapnya dengan raut wajah berharap.

Dalam beberapa saat, Putra hanya memandangi foto yang ditunjukkan dengan serius. Setelah beberapa saat, perlahan dia mulai membuka suara.

"Mantan kamu diguna-guna." ucapnya pelan

"Sama temen saya itu mas?" tanya Robby dengan cepat dan gugup.

"Bisa jadi, soalnya yang saya lihat memang ada yang nempel sama mantan kamu. Tapi saya belum bisa pastiin siapa yang ngirim." jawabnya dengan perlahan

"Bisa minta tolong buat sembuhin mantan saya gak mas? Kalo bisa sampe kita balikan lagi." ucapnya dengan penuh harap.

"Boleh, bakal saya usahakan." ucapnya dengan senyum yang lebar.

"Makasih mas, kalo boleh tau prosesnya gimana dan berapa lama ya mas?" tanyanya dengan gembira.

"Nanti saya kabarin lagi mas, setelah kopdar ini kelar, kita komunikasinya secara private aja." jelasnya secara perlahan.

"Oke siap mas, makasih banyak dah mau bantuin." ucapnya dengan penuh gembira.

"Sama-sama mas." ucapnya sambil tersenyum lalu melirik kearahku.

Aku merasa lirikannya penuh dengan suatu arti. Entah kenapa aku merasa dia sedang menyembunyikan sifat aslinya. Sebab aku merasa cara berbicaranya berbeda dengan ekspektasiku setelah melihatnya secara ghoib.

Sebab selama mereka sibuk berkomunikasi, aku telah mengaktifkan mata ketigaku dan memperhatikannya dengan seksama.

Aku merasakan ada entitas yang sedang bersembunyi didekatnya. Walaupun mereka sedang tidak terlihat, aku bisa merasakan hawa keberadaan mereka.

Hingga pada akhirnya, semua peserta sudah datang dan berkumpul di cafe. Jika kupikir-pikir, kami memang tampak sangat aneh, sebab kami berkumpul dengan ramai untuk membahas tentang hal ghoib.

Satu persatu peserta mulai membuka pembicaraan dan membahas masalah yang mereka alami. Mulai dari masalah asmara,karir,supranatural dan masalah pribadi lainnya.

Sementara itu, aku hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan basa-basi dari peserta lainnya. Sejujurnya aku masih merasa canggung berada disana, sebab aku tak pandai berbicara dan juga aku tak mengenal siapa-siapa disana.

Sudah berjam-jam waktu telah berlalu, satu persatu peserta kopdar mulai berpamitan pulang. Hingga akhirnya hanya menyisakan lima orang saja disana.

Dari semua peserta, hanya aku yang paling sedikit berbicara dan lebih banyak mendengarkan saja. Hingga, beberapa saat kemudian, Putra tiba-tiba bertanya kepadaku.

"Masnya udah kebuka ya?" ucapnya dengan ambigu.

"Maksudnya mas?" tanyaku layaknya orang yang pura-pura tak mengerti.

"Yang ini mas." ucapnya sambil mengarahkan jarinya ke arah pertengahan alis wajahnya.

"Hehehe, iya mas." jawabku dengan canggung

"Kok bisa tau mas?" tanyaku bingung.

"Dari tadi masnya nengokin saya selama berjam-jam, aneh aja kalo saya ga sadar haha." ucapnya sambil tertawa

Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum dan tawa yang canggung. Ternyata dia sudah sadar akan diriku yang mencoba menerawangnya. Perlahan aku berkata "Akhirnya ketahuan deh" ucapku dalam hati.

Sementara itu, peserta lain juga mulai melihatku dengan tatapan yang berbeda. Sepertinya mereka tak menyangka diriku adalah orang yang melihat hal-hal ghoib. Mungkin karena penampilan dan gaya berbicaraku yang tak menonjol.

"Masnya ada yang mau ditanyakan kah?" ucapnya sambil tersenyum

"Hmmm, sebenarnya saya mau nanya tentang keilmuan sih mas." ucapku perlahan

"Keilmuan yang gimana maksudnya mas?" tanyanya dengan raut wajah penasaran

"Yang berhubungan dengan tenaga dalam dan semacamnya mas. Kira-kira masnya bisa bantu jelasin gak?" ucapku pelan

"Hmmm, sebenarnya saya bisa, tapi saya gak begitu ahli dibagian sana." jawabnya

"Bisa coba praktekin gak mas?" ucapku tiba-tiba.

"Sekarang? Praktekinnya ke siapa?" tanyanya dengan bingung.

"Ke dia mas." jawabku pelan sambil menengok ke arah Lala yang sudah berdiri dibelakangku.

Beberapa saat, Putra memandang kearah Lala dengan seksama. Perlahan-lahan dia mulai mengernyitkan dahinya lalu memandangku dengan heran.

"Masnya kenal dia darimana nih?" tanyanya dengan serius

"Dari mimpi mas." jawabku dengan singkat

"Ha? Ada perjanjian kah sama dia?" tanyanya lagi.

"Ga ada mas, dia yang mau ngikut sendiri. Emangnya kenapa mas?" balasku

"Hmmm, dia bukan makhluk astral tingkat biasa mas. Powernya kuat juga." ucapnya perlahan

Aku tak menyangka dia akan memuji Lala seperti itu. Sebab, aku tak terlalu paham akan tingkatan kekuatan makhluk astral. Aku masih golongan pemula yang baru belajar dan tak terlalu tahu banyak akan hal ghoib.

"Saya coba test ya mas." ucapnya

"Oke silakan mas." balasku

Perlahan aku memperhatikan Putra yang mulai mengepalkan tangan kanannya. Dengan serius, dia mulai mengatur keluar masuk nafasnya. Di tangan kanannya, aku melihat ada energi berwarna kuning yang perlahan-lahan mulai membesar.

Beberapa saat kemudian, dia mengarahkan kepalan tangannya seperti sedang meninju kepada Lala. Disisi lain, Lala menangkis energi yang dikeluarkan Putra dengan mengarahkan lengannya kedepan.

Saat kuperhatikan, serangan itu ternyata berhasil membuat Lala mundur satu langkah kebelakang. Jika kuperhatikan, serangan dari Putra juga memberikan efek seperti ledakan.

Aku mulai memahami, ternyata begitulah efek dari serangan dengan tenaga dalam. Melihat serangan Putra, membuatku semakin tertarik untuk mempelajari tentang tenaga dalam.

"Gimana? Udah liat dengan jelas?" tanya Putra dengan tersenyum.

"Udah mas, bisa ngaja..."

Sebelum aku sempat berbicara, tiba-tiba muncul teriakan dan suara keras yang mengarah kepada kami.

Saat aku menoleh, aku melihat sudah banyak makhluk astral dengan berbagai wujud yang bermunculan dan ingin menyerang kami secara langsung.

Tapi saat mereka mau menyerang, mereka langsung terpental dan tak bisa mendekati posisi kami. Saat kuperhatikan ternyata ada pagaran ghoib berwarna emas yang mengelilingi area kami.

"Haduh, padahal lagi pengen santai, tapi tetep aja ada yang mau nyari masalah." ucap Putra sambil menghela nafas.


Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahmoedz99 dan 36 lainnya memberi reputasi
profile picture
blckmmb7
kaskus addict
Wih mulai ada pertempuran lagi nih ...mantap updatenya bre
profile picture
sudah waktunya buat belajar tenaga dalam, kedepannya bakalan lebih seru lagi ini trit emoticon-Toast
profile picture
k8junai
kaskus addict
hem... begitu lanjut terus gan
profile picture
Abang lagi bang
profile picture
Sexbomb
kaskus addict
sepertinya petualangan baru akan dimulai... jangan ada kentang diantara kita gan...
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di