CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Awakening (Supranatural & Romance)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f59f61509b5ca3feb6ac28e/awakening-supranatural-amp-romance

Awakening (Supranatural & Romance)

Awakening (Supranatural & Romance)



Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.


INTRO
Hitam dan putih adalah suatu simbol yang seringkali dijadikan sebagai penentu akan hal baik maupun yang buruk.
Baik itu 1000 tahun yang lalu maupun 1000 tahun yang akan datang, manusia masih akan tetap menggunakan konsep yang sama untuk membedakan mana yang benar dan salah. Yang berbeda adalah alasan dan kepentingan mereka.

Bagi segelintir manusia, kehidupan terasa sangat membosankan. Manusia selalu dituntut untuk hidup mengikuti arus dan suara mayoritas. Kehidupan yang harus sesuai dengan ekspektasi orang lain, bagaikan sebuah boneka yang tak bisa lepas dari kendali pemiliknya.

Ini adalah cerita kehidupan seseorang yang dulunya mengikuti arus tanpa mengerti apa tujuannya. Hingga suatu saat sebuah pertemuan dan mimpi berhasil mengubah jalan hidupnya. Kehidupan dirinya yang tenang mulai bersinggungan dengan dunia mereka, para makhluk yang tak kasat mata. Layaknya sebuah takdir, kisah cintapun mulai terbentuk dan tumbuh didalam dirinya.

Inilah kisah Rama yang akan menyadari kepingan yang hilang dari hidupnya.

INDEKS
1. Pertemuan Pertama
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut

Berhubung TS juga upload cerita ini di Wattpadd. Bagi yang berminat baca dan support TS bisa buka link dibawah ini.
https://my.w.tt/8GV5RUwaW9

Terimakasih emoticon-Big Grin

Chapter I Pertemuan Pertama

Perkenalkan nama lengkapku adalah Rama Wijaya, sering dipanggil Rama. Aku diberikan nama itu oleh ayahku karena sebuah alasan klasik. Seperti orangtua pada umumnya yang menggunakan nama idolanya sebagai nama anaknya. Ceritanya dulu, ayahku sangat menyukai kisah legenda wayang yang sangat populer pada masanya. Kisah legenda yang sangat sering dan telah banyak diadaptasi. Yaitu kisah legenda Rama dan Shinta.

Ayahku berasal dari desa yang masih sangat kental dengan adat istiadat Jawa. Sedangkan Ibuku sudah menetap di Jakarta sejak lama. Sebenarnya, background mereka sangat berbeda dan bertolak belakang. Begitu juga dengan sifat mereka, tapi anehnya mereka bisa berakhir hidup bersama, aneh bukan?.

Mereka berdua bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta yang berbeda. Secara finansial bisa dikatakan keluarga kami berkecukupan. Sejak kecil aku juga diajarkan untuk hidup sederhana oleh orangtuaku. Aku selalu diajarkan untuk hidup dengan prinsip yang baik.

Aku adalah anak semata wayang alias anak satu-satunya di keluargaku. Banyak orang mengatakan aku pasti sangat disayang dan dimanja kedua orangtuaku. Tapi pada kenyataannya, kedua orangtuaku sangat sering berselisih pendapat dan bertengkar. Itulah sebabnya aku menjadi orang yang kurang percaya diri dan pendiam. Dikarenakan aku sering memendam pikiran dan perasaanku sendiri.

Kehidupanku sejak kecil sampai aku menginjak bangku SMA bisa dikatakan biasa saja. Tiada kejadian unik ataupun menarik yang bisa kubanggakan. Aku hanya menjalani kehidupan yang membosankan. Layaknya seseorang yang berenang mengikuti arus sungai tanpa menyadari kemana arah tujuannya.

Selama hidupku aku hanya memiliki seorang sahabat yang bernama Steven. Dia termasuk salah satu siswa terpopuler di sekolahku. Alasannya karena wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi seperti model. Ditambah lagi dengan sifatnya yang ramah dan humoris, menjadikan dirinya pria yang selalu menjadi pusat perhatian bagi para wanita.

Berbanding terbalik denganku yang cuma berwajah biasa saja, pendiam dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Sebenarnya Steven seringkali mengatakan kalau aku memiliki wajah yang tampan. Tapi aku tidak percaya dan tak menggubris omongannya.

Kami berdua sudah kenal sejak kelas 1 SMP, disaat kami berada dikelas yang sama. Saat ini kami baru saja lulus dari jenjang pendidikan SMA. Kami berdua akan melanjutkan pendidikan ke universitas dan jurusan manajemen yang sama di Jakarta.

Berhubung jarak antara rumah dan kampus kami yang tergolong sangat jauh. Aku dan Steven berinisiatif untuk hidup ngekost di dekat daerah kampus. Untungnya kedua orangtua kami setuju dan memperbolehkannya. Hitung-hitung agar kami bisa hidup lebih mandiri kedepannya.

Setelah menjalani semua proses registrasi dan test. Akhirnya tibalah hari dimana kami akan mengikuti kegiatan ospek alias pengenalan kampus. Pada hari itu aku dan Steven berangkat ke kampus bersama. Sejak dulu kami sudah terbiasa untuk berangkat ke sekolah bersama. Disepanjang perjalanan, biasanya kami berbincang-bincang mengenai berbagai macam topik. Entah itu tentang cewek,game,politik dan berbagai macam jenis topik lainnya.

Tak terasa karena sedang asik ngobrol, ternyata posisi kami sudah berada tak jauh dari gerbang pintu masuk kampus. Disana terlihat banyak mahasiswa baru yang sedang berbondong-bondong dan bergegas memasuki gerbang.

"Ram, ternyata sesuai ekspektasi gw. Disini emang banyak banget cewek cantiknya. Ga nyesel dah gw masuk kampus ini." celetuk Steven sembari celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri.

"Masih sempet-sempetnya aja lo liatin cewek. Perhatiin panitia ospeknya tuh. Matanya udah melototin kita dari jauh noh." sindirku pada Steven sambil bergegas jalan menuju lapangan.

Setelah sampai di lapangan, kami langsung disuruh berbaris sesuai yang ditetapkan. Lalu kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Rektor dan para pejabat kampus. Pidatonya terasa sangat formal dan membosankan. Aku tak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan, sebab aku sedang asik melamun. Sesekali aku menoleh dan memperhatikan mahasiswa yang ada disekitarku.

Akhirnya setelah upacara penyambutan yang membosankan itu selesai. Tibalah saatnya panitia ospek melakukan tugasnya. Contoh tugas yang mereka lakukan adalah seperti berteriak sambil mencari kesalahan para peserta ospek. Selain itu mereka juga memberi tugas-tugas aneh yang aku tak mengerti apa tujuan dan manfaatnya.

"Waktunya pembagian kelompok." teriak salah satu panitia ospek

Pada saat pembagian kelompok, panitia ospek sengaja memisahkan peserta yang dulunya masuk di sekolah yang sama. Otomatis aku harus berada di kelompok yang berbeda dengan Steven. Aku terpaksa harus bersosialisasi dan bergaul dengan orang-orang baru.

Pada akhirnya aku ditempatkan di kelompok tiga belas yang berisikan empat orang anggota. Aku maupun mahasiswa lainnya langsung bergegas pergi mencari anggota kelompok kami masing-masing.

Setelah mencari dengan waktu yang cukup lama, akhirnya aku menemukan mereka yang sedang berteriak "kelompok tiga belas" sambil melambaikan tangannya. Tak memakan waktu yang lama, semua anggota kelompok kami akhirnya berkumpul. Kami langsung bersepakat untuk memperkenalkan diri masing-masing secara bergiliran.

Aku sengaja menunggu mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu. Agar bisa memperhatikan cara mereka memperkenalkan diri. Selain itu aku merasa lebih nyaman memperkenalkan diriku diakhir.

"Halo semuanya, nama gw Raka." ucap seorang laki-laki berkacamata.

Ku perhatikan tampak ukuran tubuhnya sedang, wajahnya terlihat cukup berkharisma. Penampilan dan gerak geriknya terasa terkesan seperti seorang akademisi bagiku. Aku merasa sedang melihat ketua OSIS waktu SMA dulu.

Dilanjutkan dengan seorang wanita dengan tubuh mungil, mata bulat dan wajah yang tampak polos. Panjang rambutnya sekitar sebahu membuatnya terkesan sangat imut.

"Hai, namaku Gayatri, biasanya dipanggil Tri"
ucapnya dengan suara yang manis.

"Salam kenal, namaku Adellia biasa dipanggil Adel." ucap wanita yang berdiri disebelah Gayatri.

Tubuhnya terlihat cukup tinggi dan proporsional seperti seorang model.
Wajahnya berbentuk oriental, saat tersenyum matanya tampak menyerupai bentuk bulan sabit. Senyumannya benar-benar terlihat sangat manis.

Rambutnya yang panjang terurai membuat penampilannya tampak elegan. Walau memakai pakaian yang sama dengan mahasiswi yang lain, dia tampak berbeda dan unik. Gayanya terlihat sangat modis dan memesona.

Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang unik dan menarik sejak pertama kali aku melihat dirinya.

Pada akhirnya, waktunya giliranku untuk memperkenalkan diri.

"Halo, nama gw Rama" ucapku singkat.

Seperti biasa, aku tidak pandai bersosialisasi dengan orang yang baru kutemui dan hanya bisa berkata dengan singkat jelas dan padat. Aku hanya berharap mereka tidak mendapat kesan yang jelek saat berkenalan denganku.

Setelah memperkenalkan diri masing-masing, kami langsung bergegas menemui kakak tingkat yang bertugas mengawasi dan memberikan tugas kelompok kami.

Kating yang mengawasi kelompok kami adalah seorang pria yang bernama Ansel. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah bahwa dia orang yang ramah dan santai. Sebab aku memperhatikan dia selalu memasang ekspresi wajah yang ceria, berbeda dengan kating yang lain.

Sambil memegang kertas ditangannya, dia mulai berkata "Untuk Kelompok tigabelas, ini list peralatan sama tugas yang harus kalian kumpulkan untuk ospek besok. Jadi, jangan sampai ada yang telat dan gak lengkap, OK?" ujar Ansel

Setelah menjelaskan semuanya, Ansel langsung pamit dan pergi. Dikarenakan jam sudah mengarah pada angka lima yang artinya sudah waktunya pulang.

Sementara itu, kelompok kami harus berdiskusi dan membagi tugas terlebih dahulu sebelum pergi pulang. Kami berinisiatif untuk membuat group LINE untuk mempermudah komunikasi.

Kebetulan diskusi kelompokku selesai lebih cepat daripada kelompok Steven. Oleh karena itu, aku masih harus menunggu Steven menyelesaikan diskusinya. Aku berdiri menunggunya didepan pintu gerbang.

Tak lama kemudian, setelah menunggunya sekitar lima menit akhirnya aku bertemu dengan Steven. Tanpa berpikir panjang, kami langsung memutuskan untuk pergi pulang. Seperti biasanya, kami hanya mengobrol dan bercanda santai disepanjang perjalanan pulang.

"Ram, gimana tadi kelompok lo? Ada yang cantik gak disana?" tanya Steven sambil cengar-cengir.

"Hadeh, kalo ada yang cantik juga gak akan gw kasih tau ke lo. Kasian tuh cewek, kalo cuma jadi korban selanjutnya." ucapku

"Yah gak asik lo ahh, coba kenalin ke gw dong. Soalnya dikelompok gw rata-rata cowok semua, kampret emang." keluh Steven

"Hahaha rasain, makan dah tuh batang." ejekku

Sembari diperjalanan, tak sengaja aku melihat Adellia yang sedang berjalan sendiri tidak jauh dari posisiku. Tapi anehnya aku melihat dia seperti sedang berbicara sendiri sambil menoleh ke arah kirinya yang kosong.

Beberapa saat kemudian, setelah aku memandanginya yang sedang berbicara sendiri cukup lama.

Tiba-tiba Adellia menoleh kebelakang dan memandang diriku.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahmoedz99 dan 55 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep

Chapter 32 Mimpi Buruk

Tak tahu sudah berapa lama aku berdiri dalam diam disana. Aku hanya melamun dan menatap kedepan dengan tatapan kosong. Aku memutar ulang kejadian tadi dipikiranku, mulai dari ucapan hingga raut wajah Adel masih terekam dengan jelas dimemoriku.

Semakin larut aku mengingatnya, hatiku semakin sakit layaknya sedang ditusuk secara perlahan-lahan. Kejadian malam ini telah meninggalkan bekas luka yang tak akan pernah terlupakan dari memoriku.

Hingga pada akhirnya, tiba-tiba suara seseorang berhasil menyadarkanku.

"Gimana hasilnya? Sesuai yang gw omongin kan? haha." ucap Ilham

"..........." Aku hanya diam dan menatapnya dengan tajam.

"Jadi mulai sekarang lo gausah berharap buat deketin Adellia OK?" ucapnya dengan enteng

"..........." Aku tetap diam tak menjawab ucapannya.

"Kok lo diam doang? Ayo ngomong dong, katanya lo mau buktiin ke gw." ejeknya

Tanpa basa basi aku langsung meninju wajahnya. Sepertinya emosi dan amarah telah menguasai diriku sepenuhnya saat itu. Sementara itu, Ilham hanya memegangi pipinya sambil menatapku dengan penuh dendam.

Tiba-tiba aku melihat banyak makhluk halus bermunculan disekitar kami. Jumlahnya perlahan-lahan bertambah banyak hingga memenuhi seluruh halaman villa ini. Beberapa saat kemudian aku menyadari, bahwa mereka ini adalah makhluk yang muncul di malam barbeque hari pertama kami disini. Anehnya aku melihat mereka berada di sisi Ilham dan menatapku layaknya seorang musuh,

"Ohhh, mereka semua ini ternyata anak buah lo. Jadi niat lo kesini emang dasarnya mau ngerusuh ya?" ucapku perlahan

"Gw gausah turun tangan, cukup nyuruh demit yang disekitar sini buat ngehabisin lo, kayaknya udah lebih dari cukup." balasnya

"Kalo demit lo cuma segini doang, mending lo panggil lebih banyak lagi sebelum terlambat." ucapku

"Hahahaha, gausah banyak omong deh. Kita buktikan aja sekarang." balasnya

Aku langsung memanggil Lala dibatinku, dan dalam sekejap dia langsung muncul disampingku.

"Habisi semua demitnya." perintahku singkat

"Jika sudah selesai, habisi juga pemiliknya." ucapku dingin tanpa ekspresi.

Lala hanya memandangku sesaat layaknya memahami perintahku, lalu tanpa basa-basi dia langsung terbang menerjang para demit yang melindungi Ilham. Kali ini aku melihat Lala menggunakan sebuah selendang berwarna hitam pekat sebagai senjata untuk menyerang. Dengan elegan Lala memainkan selendangnya ditengah kerumunan para demit layaknya sedang menari.

Setiap serangan yang dilancarkan oleh Lala berhasil mengeksekusi beberapa demit sekaligus. Jika kuperhatikan, Lala memiliki dua jenis pola serangan. Pola yang pertama, setiap kali selendangnya menyentuh para demit, tubuh mereka akan terpotong-potong. Sedangkan pola yang kedua, selendangnya akan menyelimuti keseluruhan tubuh para demit. Tampaknya mereka perlahan-lahan dihisap hingga pada akhirnya hilang tidak meninggalkan sisa.

Serangan demi serangan dilancarkan oleh Lala, hingga akhirnya posisi Lala mulai mendekati Ilham. Tapi anehnya raut wajah Ilham masih terlihat tenang walau melihat pasukannya perlahan telah dipukul mundur. Hingga saat Lala sudah berhadap-hadapan dengannya, tiba-tiba muncul makhluk tinggi dan berbulu hitam lebat yang menyerupai kera.

Saat makhluk itu muncul, semua demit yang menyerang Lala berhenti seketika. Makhluk itu berdiri disamping Ilham dan menatap Lala dengan tajam. Sepertinya makhluk ini adalah atasan para demit ini, mungkin dia juga adalah penguasa daerah ini. Aura yang dikeluarkannya terasa sangat ganas dan mendominasi.

"Ingat dan tepati janjimu." ucapnya singkat kepada Ilham

Ilham tak membalas ucapannya, dia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Aku tak tahu perjanjian apa yang mereka berdua maksud, tapi yang pasti mereka sudah sepakat dan bersekongkol untuk menyerangku. Aku tak menyangka dibalik raut wajahnya yang ramah, dia menyembunyikan sifat aslinya yang licik.

Tanpa basa-basi makhluk yang menyerupai kera itu langsung bergerak menyerang Lala secepat kilat. Dia tidak menggunakan senjata apapun, dia hanya menggunakan kedua tangannya menyerang Lala. Sementara itu, Lala berhasil menghindari setiap serangannya dan melancarkan serangan balik berulang kali. Tapi anehnya serangannya tidak terlalu efektif, sebab tubuh kera itu tampaknya masih dalam keadaan yang utuh.

Lala dan kera itu tampak sibuk bertarung dengan serius. Jika kuperhatikan, sepertinya pertarungan mereka dalam keadaan yang seimbang. Sebab tak satupun dari mereka bisa saling melukai satu sama lainnya. Kera itu selalu mencoba meninju dan mencengkeram tubuh Lala, sedangkan di sisi lain Lala berhasil menghindarinya lalu menyerang balik menggunakan selendangnya.

"Kalian semua, cepat serang manusia itu sekarang juga!." teriak kera itu kepada para pasukan demitnya sambil menunjuk kearahku.

Seketika para dedemit yang tak bisa kuhitung jumlahnya langsung bergerak cepat menuju posisiku. Tapi aku tidak panik, karena pria berjubah merah sudah muncul tepat disampingku. Tanpa berbicara, dia langsung menyerang dedemit yang mendekatiku tanpa ampun. Dengan secepat kilat dia menghabisi demit yang mendekatiku. Demit-demit yang hanya fokus menargetku langsung terpental dengan sendirinya, layaknya ada perisai pembatas disekitarku.

Tampak para dedemit yang menyerangku satu-persatu mulai binasa. Mereka hanya bisa berteriak histeris tak berdaya saat sedang dicengkeram sampai terkoyak oleh penjagaku. Bagian-bagian tubuh mereka mulai hancur ataupun terpisah setiap kali penjagaku menyerang. Sungguh pemandangan yang brutal dan sadis, tapi itu tak terlalu mempengaruhiku sebab perasaanku masih dipenuhi dengan emosi dan amarah.

Melihat para pasukan dedemit yang mulai terpukul mundur, tiba-tiba Ilham berjalan mendekati posisiku. Di tangannya muncul sebuah keris yang memancarkan aura berwarna hijau. Aku merasakan keris itu memiliki kekuatan yang berbahaya dan mengancam kami. Perlahan-lahan dia mulai mengarahkan keris itu kepada penjagaku. Layaknya sebuah senapan, keris itu menembakkan energi berwarna hijau ke tubuh penjagaku.

Secara spontan penjagaku langsung memasang sikap posisi bertahan. Saat energi keris itu mengenai penjagaku, tak kusangka serangannya berhasil membuat penjagaku sampai mundur beberapa langkah. Pantas saja Ilham sangat percaya diri walau telah melihat kedua penjagaku menghabisi pasukan demitnya.

"Lo beraninya dibelakang anak buah lo doang ya?" ejek Ilham

"Kalo lo jantan, sini satu lawan satu sama gw haha." pancing Ilham sambil tertawa

Emosiku langsung tersulut saat mendengar ucapannya, saat aku ingin bergerak untuk menerjangnya.

"Mundur, kamu bukan tandingannya." ucap pria berjubah merah secara tiba-tiba.

Aku terhenyut sejenak, emosiku padam seketika sebab aku tak bisa membantah ucapannya. Apa yang dikatakannya sangatlah logis, sebab aku tak memiliki keilmuan apapun untuk menandingi Ilham yang memiliki keris sekuat itu. Aku mulai menyadari bahwa tanpa Lala dan pria berjubah merah, aku tak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan sama sekali. Tanpa sadar, ternyata selama ini aku hanya mengandalkan eksistensi mereka saja.

Wajar saja pria berjubah merah mengatakan bahwa aku belum pantas untuk mengetahui dirinya. Sebab aku tak memiliki kemampuan yang sepadan dengan mereka. Aku mulai menyadari betapa lucunya diriku, yang menganggap bahwa aku memiliki kemampuan yang sangat spesial. Walau kenyataannya aku masih bergantung pada mereka disaat aku membutuhkan mereka saja.

Disaat aku terhanyut dalam pemikiranku sendiri, pasukan demit mantan dukun yang menyerang rumah Riska muncul secara tiba-tiba. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerang pasukan Ilham, walaupun sebenarnya jumlah mereka kalah jauh. Sejujurnya aku tak menyangka konflik kami berdua akan menyebabkan peperangan secara ghoib seperti ini. Tapi karena semuanya sudah terlanjur, mau tak mau aku harus tetap melanjutkannya.

Sementara itu, Ilham masih sibuk berkonfrontasi dengan penjagaku. Ilham masih mengarahkan kerisnya kearah penjagaku dan sebaliknya penjagaku mengarahkan kedua telapak tangannya kepadanya. Mereka berdua diam diposisi seperti itu dalam waktu yang cukup lama, tampaknya mereka sedang beradu tenaga dalam.

Di sisi lain, pasukan demitku yang kalah jumlah perlahan-lahan dipukul mundur oleh pasukan Ilham. Aku menyadari bahwa semakin lama keadaanku terasa semakin terancam. Tapi sesaat kemudian aku tersadar, bahwa aku memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan. Aku memperhatikan Ilham yang sedang fokus bertarung dengan penjagaku.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari dengan bertujuan untuk menerjang tubuh Ilham. Saat aku sudah mendekat, dia tampak memandangku dengan sangat panik. Sebelum sempat dia memberi perlawanan, aku sudah terlebih dahulu menendang perutnya hingga dia terjatuh.

"Arghhhhhhhhhhh." jeritan keras dari Ilham yang kesakitan.

Tampaknya dia kesakitan bukan hanya karena tendangan fisik dariku, tetapi juga karena efek dari bentrokan energi dari penjagaku. Aku melihatnya meraung kesakitan sambil bergolek-golek diatas tanah seperti cacing kepanasan. Sebelum aku melanjutkan serangan dan melampiaskan amarah yang kupendam, tiba-tiba suara teriakan seseorang menghentikanku.

"Jangan Ram!!!." teriak Adellia

Spontan aku langsung menoleh dan memandang kearah suaranya. Disana tampak Adellia yang sedang memandangku tajam dengan tatapan penuh amarah. Setelah berteriak, Adellia langsung berlari menuju posisi kami berdua.

"Ini maksudnya apa Ram?" ucap Adellia dengan nada yang tinggi.

"......." aku hanya diam lalu menghela nafas dengan dalam-dalam. Saat itu pikiranku terlalu kacau untuk bisa menjelaskan situasi dan alasan mengapa kami berdua bentrok seperti itu.

"Kok diam doang Ram, kenapa kamu ga bisa jawab?" lanjut Adellia

Perlahan emosiku dan amarahku mulai muncul kembali, sebab aku merasa Adellia berada dipihak Ilham.

"Ram, ka..."

Sebelum Adellia berbicara, aku langsung memotong ucapannya dan berkata "Iya gw yang salah, gw mau bunuh dia." bentakku

Sejenak aku menyadari bahwa pasukan ghoib kami berdua sudah mulai menghilang. Hanya menyisakan Lala yang sedang berdiri menatapku dalam diam.

"Aku bener-bener kecewa Ram." ucap Adellia lalu pergi meninggalkanku sambil memapah Ilham yang sedang kesakitan.

Adellia bahkan tidak menatap dan memperdulikanku sama sekali. Saat itu aku merasa hancur dan tak berdaya, mulai dari tubuh,pikiran dan batinku terasa tidak sinkron sama sekali. Satu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan situasiku saat itu adalah "kacau".

"Hahaha... hahaha..." aku hanya memandang kedepan dengan tatapan kosong sambil tertawa layaknya orang gila.

Dalam ekspektasiku, malam ini akan menjadi suatu malam yang indah bagiku. Tapi secara kenyataan yang terjadi berbanding terbalik dari ekspektasiku. Dilubuk hatiku yang terdalam, aku berharap yang terjadi malam ini adalah hanyalah sebuah mimpi buruk belaka.

Bersambung.....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rahmat559 dan 27 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
profile picture
akhirnya
pria berjubah merah come back
emoticon-Ultah emoticon-Toast
profile picture
key.99
kaskus holic
lupakan Adel..... eh kok ane jadi ikut emosi....emoticon-Mad
profile picture
k8junai
kaskus addict
kalo ane mending ga usah deket2 lagi sama adel fokus aja ke melissa dan risa hahaha karena pada waktu itu aja dia bisa jauhin rama dalam seminggu dan pasti dah ketauan endingnya kaya gini mah dah ga kaget gua paling cerita selajutnya rama prustasi dan ga deket2 lagi .terus adel pindah kelas dan selama beberapa semester ga ketemu terus pasketemu mewek karena di anuin ilham dah.... (teori atom tingkat tinggi)
profile picture
dan di lubuk hatiku, aku berharap ini adalah kentang terakhir yg disebar.. emoticon-Leh Uga
profile picture
Ane jg ikut emosi sama si ilham hrsnya sampe babak belur tuh si ilhamemoticon-Ngamuk
profile picture
g3nk_24
aktivis kaskus
Stok masih ada 2. Tenang sj.. 🤭🤭🤭
profile picture
Sexbomb
kaskus addict
move on aja, udah ada yg siap menerima kok
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 7 dari 7 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di