CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Awakening (Supranatural & Romance)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f59f61509b5ca3feb6ac28e/awakening-supranatural-amp-romance

Awakening (Supranatural & Romance)

Awakening (Supranatural & Romance)



Ini merupakan thread pertama TS jadi mohon maaf kalau penulisannya masih agak berantakan dan kurang menarik.
Kalau ada kekurangan atau kesalahan kiranya bisa comment di thread ini buat pembelajaran sendiri bagi TS kedepannya.
Semoga ceritanya dapat dinikmati agan-agan sekalian, Thank you ^^.


INTRO
Hitam dan putih adalah suatu simbol yang seringkali dijadikan sebagai penentu akan hal baik maupun yang buruk.
Baik itu 1000 tahun yang lalu maupun 1000 tahun yang akan datang, manusia masih akan tetap menggunakan konsep yang sama untuk membedakan mana yang benar dan salah. Yang berbeda adalah alasan dan kepentingan mereka.

Bagi segelintir manusia, kehidupan terasa sangat membosankan. Manusia selalu dituntut untuk hidup mengikuti arus dan suara mayoritas. Kehidupan yang harus sesuai dengan ekspektasi orang lain, bagaikan sebuah boneka yang tak bisa lepas dari kendali pemiliknya.

Ini adalah cerita kehidupan seseorang yang dulunya mengikuti arus tanpa mengerti apa tujuannya. Hingga suatu saat sebuah pertemuan dan mimpi berhasil mengubah jalan hidupnya. Kehidupan dirinya yang tenang mulai bersinggungan dengan dunia mereka, para makhluk yang tak kasat mata. Layaknya sebuah takdir, kisah cintapun mulai terbentuk dan tumbuh didalam dirinya.

Inilah kisah Rama yang akan menyadari kepingan yang hilang dari hidupnya.

INDEKS
1. Pertemuan Pertama
2. Mimpi yang Aneh
3. Kesurupan Massal
4. Warna Merah
5. Hilang Kesadaran
6. Salah Tingkah
7. Wanita yang Berdiri di Sudut Kelas
8. Sebuah Awal
9. Pelet
10. Konfrontasi
11. Menjalani Kehidupan Kampus
12. Menikmati Momen yang Langka
13. Pilihan
14. Genderuwo
15. Film India
16. Teman Baru
17. Tengah Malam
18. Memori yang Indah
19. Cubitan Manja
20. Dominasi
21. Bukan Siapa-Siapa
22. Perasaan Kacau
23. Melissa
24. Maaf
25. Playboy
26. Tapi Bohong
27. Mobil yang Bergoyang
28. Truth or Dare
29. Tertawa Terbahak-bahak
30. Pembuktian
31. Pengakuan
32. Mimpi Buruk
33. Menikmati
34. Penyesalan
35. Kopi Darat
36. Terjatuh
37. Pulang
38. Makhluk yang Bersimbah Darah
39. Bungkusan Hitam
40. Pengalaman Putra
41. Firasat Buruk
42. Pulang ke Kost
43. Terkejut

Berhubung TS juga upload cerita ini di Wattpadd. Bagi yang berminat baca dan support TS bisa buka link dibawah ini.
https://my.w.tt/8GV5RUwaW9

Terimakasih emoticon-Big Grin

Chapter I Pertemuan Pertama

Perkenalkan nama lengkapku adalah Rama Wijaya, sering dipanggil Rama. Aku diberikan nama itu oleh ayahku karena sebuah alasan klasik. Seperti orangtua pada umumnya yang menggunakan nama idolanya sebagai nama anaknya. Ceritanya dulu, ayahku sangat menyukai kisah legenda wayang yang sangat populer pada masanya. Kisah legenda yang sangat sering dan telah banyak diadaptasi. Yaitu kisah legenda Rama dan Shinta.

Ayahku berasal dari desa yang masih sangat kental dengan adat istiadat Jawa. Sedangkan Ibuku sudah menetap di Jakarta sejak lama. Sebenarnya, background mereka sangat berbeda dan bertolak belakang. Begitu juga dengan sifat mereka, tapi anehnya mereka bisa berakhir hidup bersama, aneh bukan?.

Mereka berdua bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta yang berbeda. Secara finansial bisa dikatakan keluarga kami berkecukupan. Sejak kecil aku juga diajarkan untuk hidup sederhana oleh orangtuaku. Aku selalu diajarkan untuk hidup dengan prinsip yang baik.

Aku adalah anak semata wayang alias anak satu-satunya di keluargaku. Banyak orang mengatakan aku pasti sangat disayang dan dimanja kedua orangtuaku. Tapi pada kenyataannya, kedua orangtuaku sangat sering berselisih pendapat dan bertengkar. Itulah sebabnya aku menjadi orang yang kurang percaya diri dan pendiam. Dikarenakan aku sering memendam pikiran dan perasaanku sendiri.

Kehidupanku sejak kecil sampai aku menginjak bangku SMA bisa dikatakan biasa saja. Tiada kejadian unik ataupun menarik yang bisa kubanggakan. Aku hanya menjalani kehidupan yang membosankan. Layaknya seseorang yang berenang mengikuti arus sungai tanpa menyadari kemana arah tujuannya.

Selama hidupku aku hanya memiliki seorang sahabat yang bernama Steven. Dia termasuk salah satu siswa terpopuler di sekolahku. Alasannya karena wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi seperti model. Ditambah lagi dengan sifatnya yang ramah dan humoris, menjadikan dirinya pria yang selalu menjadi pusat perhatian bagi para wanita.

Berbanding terbalik denganku yang cuma berwajah biasa saja, pendiam dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Sebenarnya Steven seringkali mengatakan kalau aku memiliki wajah yang tampan. Tapi aku tidak percaya dan tak menggubris omongannya.

Kami berdua sudah kenal sejak kelas 1 SMP, disaat kami berada dikelas yang sama. Saat ini kami baru saja lulus dari jenjang pendidikan SMA. Kami berdua akan melanjutkan pendidikan ke universitas dan jurusan manajemen yang sama di Jakarta.

Berhubung jarak antara rumah dan kampus kami yang tergolong sangat jauh. Aku dan Steven berinisiatif untuk hidup ngekost di dekat daerah kampus. Untungnya kedua orangtua kami setuju dan memperbolehkannya. Hitung-hitung agar kami bisa hidup lebih mandiri kedepannya.

Setelah menjalani semua proses registrasi dan test. Akhirnya tibalah hari dimana kami akan mengikuti kegiatan ospek alias pengenalan kampus. Pada hari itu aku dan Steven berangkat ke kampus bersama. Sejak dulu kami sudah terbiasa untuk berangkat ke sekolah bersama. Disepanjang perjalanan, biasanya kami berbincang-bincang mengenai berbagai macam topik. Entah itu tentang cewek,game,politik dan berbagai macam jenis topik lainnya.

Tak terasa karena sedang asik ngobrol, ternyata posisi kami sudah berada tak jauh dari gerbang pintu masuk kampus. Disana terlihat banyak mahasiswa baru yang sedang berbondong-bondong dan bergegas memasuki gerbang.

"Ram, ternyata sesuai ekspektasi gw. Disini emang banyak banget cewek cantiknya. Ga nyesel dah gw masuk kampus ini." celetuk Steven sembari celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri.

"Masih sempet-sempetnya aja lo liatin cewek. Perhatiin panitia ospeknya tuh. Matanya udah melototin kita dari jauh noh." sindirku pada Steven sambil bergegas jalan menuju lapangan.

Setelah sampai di lapangan, kami langsung disuruh berbaris sesuai yang ditetapkan. Lalu kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Rektor dan para pejabat kampus. Pidatonya terasa sangat formal dan membosankan. Aku tak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan, sebab aku sedang asik melamun. Sesekali aku menoleh dan memperhatikan mahasiswa yang ada disekitarku.

Akhirnya setelah upacara penyambutan yang membosankan itu selesai. Tibalah saatnya panitia ospek melakukan tugasnya. Contoh tugas yang mereka lakukan adalah seperti berteriak sambil mencari kesalahan para peserta ospek. Selain itu mereka juga memberi tugas-tugas aneh yang aku tak mengerti apa tujuan dan manfaatnya.

"Waktunya pembagian kelompok." teriak salah satu panitia ospek

Pada saat pembagian kelompok, panitia ospek sengaja memisahkan peserta yang dulunya masuk di sekolah yang sama. Otomatis aku harus berada di kelompok yang berbeda dengan Steven. Aku terpaksa harus bersosialisasi dan bergaul dengan orang-orang baru.

Pada akhirnya aku ditempatkan di kelompok tiga belas yang berisikan empat orang anggota. Aku maupun mahasiswa lainnya langsung bergegas pergi mencari anggota kelompok kami masing-masing.

Setelah mencari dengan waktu yang cukup lama, akhirnya aku menemukan mereka yang sedang berteriak "kelompok tiga belas" sambil melambaikan tangannya. Tak memakan waktu yang lama, semua anggota kelompok kami akhirnya berkumpul. Kami langsung bersepakat untuk memperkenalkan diri masing-masing secara bergiliran.

Aku sengaja menunggu mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu. Agar bisa memperhatikan cara mereka memperkenalkan diri. Selain itu aku merasa lebih nyaman memperkenalkan diriku diakhir.

"Halo semuanya, nama gw Raka." ucap seorang laki-laki berkacamata.

Ku perhatikan tampak ukuran tubuhnya sedang, wajahnya terlihat cukup berkharisma. Penampilan dan gerak geriknya terasa terkesan seperti seorang akademisi bagiku. Aku merasa sedang melihat ketua OSIS waktu SMA dulu.

Dilanjutkan dengan seorang wanita dengan tubuh mungil, mata bulat dan wajah yang tampak polos. Panjang rambutnya sekitar sebahu membuatnya terkesan sangat imut.

"Hai, namaku Gayatri, biasanya dipanggil Tri"
ucapnya dengan suara yang manis.

"Salam kenal, namaku Adellia biasa dipanggil Adel." ucap wanita yang berdiri disebelah Gayatri.

Tubuhnya terlihat cukup tinggi dan proporsional seperti seorang model.
Wajahnya berbentuk oriental, saat tersenyum matanya tampak menyerupai bentuk bulan sabit. Senyumannya benar-benar terlihat sangat manis.

Rambutnya yang panjang terurai membuat penampilannya tampak elegan. Walau memakai pakaian yang sama dengan mahasiswi yang lain, dia tampak berbeda dan unik. Gayanya terlihat sangat modis dan memesona.

Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang unik dan menarik sejak pertama kali aku melihat dirinya.

Pada akhirnya, waktunya giliranku untuk memperkenalkan diri.

"Halo, nama gw Rama" ucapku singkat.

Seperti biasa, aku tidak pandai bersosialisasi dengan orang yang baru kutemui dan hanya bisa berkata dengan singkat jelas dan padat. Aku hanya berharap mereka tidak mendapat kesan yang jelek saat berkenalan denganku.

Setelah memperkenalkan diri masing-masing, kami langsung bergegas menemui kakak tingkat yang bertugas mengawasi dan memberikan tugas kelompok kami.

Kating yang mengawasi kelompok kami adalah seorang pria yang bernama Ansel. Kesan pertamaku saat melihatnya adalah bahwa dia orang yang ramah dan santai. Sebab aku memperhatikan dia selalu memasang ekspresi wajah yang ceria, berbeda dengan kating yang lain.

Sambil memegang kertas ditangannya, dia mulai berkata "Untuk Kelompok tigabelas, ini list peralatan sama tugas yang harus kalian kumpulkan untuk ospek besok. Jadi, jangan sampai ada yang telat dan gak lengkap, OK?" ujar Ansel

Setelah menjelaskan semuanya, Ansel langsung pamit dan pergi. Dikarenakan jam sudah mengarah pada angka lima yang artinya sudah waktunya pulang.

Sementara itu, kelompok kami harus berdiskusi dan membagi tugas terlebih dahulu sebelum pergi pulang. Kami berinisiatif untuk membuat group LINE untuk mempermudah komunikasi.

Kebetulan diskusi kelompokku selesai lebih cepat daripada kelompok Steven. Oleh karena itu, aku masih harus menunggu Steven menyelesaikan diskusinya. Aku berdiri menunggunya didepan pintu gerbang.

Tak lama kemudian, setelah menunggunya sekitar lima menit akhirnya aku bertemu dengan Steven. Tanpa berpikir panjang, kami langsung memutuskan untuk pergi pulang. Seperti biasanya, kami hanya mengobrol dan bercanda santai disepanjang perjalanan pulang.

"Ram, gimana tadi kelompok lo? Ada yang cantik gak disana?" tanya Steven sambil cengar-cengir.

"Hadeh, kalo ada yang cantik juga gak akan gw kasih tau ke lo. Kasian tuh cewek, kalo cuma jadi korban selanjutnya." ucapku

"Yah gak asik lo ahh, coba kenalin ke gw dong. Soalnya dikelompok gw rata-rata cowok semua, kampret emang." keluh Steven

"Hahaha rasain, makan dah tuh batang." ejekku

Sembari diperjalanan, tak sengaja aku melihat Adellia yang sedang berjalan sendiri tidak jauh dari posisiku. Tapi anehnya aku melihat dia seperti sedang berbicara sendiri sambil menoleh ke arah kirinya yang kosong.

Beberapa saat kemudian, setelah aku memandanginya yang sedang berbicara sendiri cukup lama.

Tiba-tiba Adellia menoleh kebelakang dan memandang diriku.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahmoedz99 dan 55 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep

Chapter 31 Pengakuan

Hari ini kami berencana pergi ke kota bandung. Karena hari ini adalah hari terakhir kami berlibur bersama, kami hanya berencana jalan-jalan di kota bandung sampai sore saja. Saat malam, kami sudah sepakat untuk melakukan acara barbeque seperti di hari pertama.

Tak berlama-lama, pagi jam sembilan kami sudah berangkat menuju kota bandung. Perjalanan memakan waktu kurang lebih sekitar satu jam.

Disepanjang perjalanan, anak-anak tampak sangat bersemangat. Mereka sibuk bercanda dan tertawa, raut wajah mereka terlihat sangat ceria.

Berbeda denganku, aku hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan mereka. Sebab aku masih sibuk memikirkan kejadian semalam. Aku masih berpikir keras bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan perasaanku kepada Adellia.

Hingga aku mendengar suara Lala yang muncul secara tiba-tiba.

"Jangan ragu, ungkapkan saja perasaanmu yang sebenarnya dengan tulus."

Aku terkejut, saat aku menoleh mencari asal suaranya. Wujud lala tetap tidak tampak juga.

"Kenapa kamu tiba-tiba muncul?" tanyaku dalam batin karena penasaran

"Aku merasakan perasaanmu yang sedang gelisah dan ragu." jawabnya

"Memangnya kamu tau alasannya?" tanyaku bingung.

"Karena perempuan yang bernama Adellia itu bukan?" ucapnya

"Hmmmm, bagaimana jika saat aku mengungkapkan perasaanku, tetapi aku ditolak?" tanyaku perlahan.

"Berarti itu sudah nasibmu." ucapnya singkat

Aku tak tahu harus tertawa atau sedih mendengar jawabannya. Sebab aku tak menyangka Lala akan menjawabku seperti itu.

Setelah percakapan itu, suara Lala menghilang dan saat kupanggil suaranya tak muncul lagi. Aku bersyukur, karena berkomunikasi dengannya aku menjadi merasa sedikit lebih tenang dan lega.

Dikarenakan sedang asik mengobrol dan bercanda, tak terasa kami sudah sampai di kota Bandung. Destinasi pertama kami adalah alun-alun kota Bandung.

Pertama-tama kami pergi menuju Museum Asia-Afrika yang berada didekat sana. Sejujurnya ini pertama kali aku memasuki museum bersejarah seperti ini.

Saat pertama kali masuk, museumnya ternyata tampak sangat terawat dan rapi. Ada juga tour guide yang membantu untuk menjelaskan sejarahnya dengan jelas.

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu sekitar satu jam disana. Setelah keluar darisana kami langsung pergi menuju jalan braga yang berada tak jauh dari posisi kami.

Perlahan kami mulai menyusuri jalanan, disana tampak banyak toko dan cafe yang bernuansa belanda ataupun western. Banyak toko yang tampak antik dan menjual karya-karya seni.

Bukan cuma toko saja, dipinggir jalanan juga banyak penjual yang menyajikan produknya masing-masing. Mulai dari makanan, lukisan, dan banyak lainnya.

Setelah menyusuri jalanan sambil berfoto-foto cukup lama. Akhirnya kami berhenti dan masuk ke suatu cafe yang bernuansa belanda. Untungnya didalam tampaknya tidak terlalu ramai pengunjung. Jadi kami bisa menikmati suasana yang lebih santai disana.

"Guys, mulai sekarang kita pisah dulu ya. Nanti jam empat sore kita kumpul di alun-alun lagi oke?" ucap Riska

"Emangnya pada mau ngapain sih, waktu cuma sisa dua jam lagi." ucapku bingung

"Ya mau jalan-jalan sambil shopping dong Ram." balas Riska

"Hmmm, yaudah deh. Gw disini aja nunggunya." ucapku

"Emang ga bosen lu disini Ram? Ikut kita aja, sekalian cuci mata." ucap Steven

Mendengar ucapan dari Steven, para wanita langsung menatapnya dengan sinis dan tajam.

"Mau cuci mata dimana hah?" bentak Jessica

"Hehehe, sorry keceplosan." ucap Steven lalu tersenyum nyengir.

"Ayo dong Ram, sini bareng aku perginya." ucap Melissa sambil mengedipkan matanya.

Tampaknya Riska dan Adellia juga berharap yang sama dengan Melissa. Mereka sengaja menatapku dengan dalam dan penuh harap.

Tapi aku tak mau termakan jebakan mereka, karena aku tau mereka bertiga akan memaksa menempel denganku. Jadi lebih baik aku tidak memilih salah satupun.

"Kalian duluan aja, gw mau nyantai disini aja." ucapku pelan lalu memberi kode kepada Steven agar pergi duluan.

"Yaudah Ram, ntar kalo dah kelar, gw langsung kesini deh." ucap Steven lalu pergi keluar.

Sedangkan Adellia, Riska, Melissa dan Ilham masih berada diposisi yang sama. Sepertinya mereka berniat memaksaku.

"Kak, mending pergi nyusul Thalia aja tuh sebelum kejauhan." ucapku untuk membujuknya

"Hmmmm, kamu serius gamau temenin kita Ram?" ucapnya dengan ragu.

"Bukannya gamau kak, lagi pengen nyantai aja karena malas gerak hehe. Mending kalian ber empat jalan bareng aja." ucapku perlahan

"Yaudah deh Ram, kita bakal cepet-cepet balik kesini lagi. Jangan kabur ya." ucap Riska lalu mengajak mereka bertiga pergi keluar.

Dengan berat hati, Adellia dan Melissa mengikuti Riska pergi keluar. Berbanding terbalik denganku yang merasa santai dan bebas saat sendiri.

Aku perlahan menikmati suasana disana, melihat kerumunan orang yang sedang sibuk berjalan dan berfoto-foto. Melihat interaksi dan kegiatan orang-orang disana membuatku perlahan-lahan melamun.

Sekitar dua jam disana kuhabiskan dengan melamun dan sesekali mengecek handphoneku. Hingga pada akhirnya mereka satu-persatu datang kembali menemuiku sambil memegang beberapa bungkusan.

"Yuk berangkat ke lokasi terakhir." ucap Riska

"Mau kemana nih kak?" tanyaku bingung

"Ci*****las w**k, sekalian buat beli oleh-oleh di sekitar sana." jawabnya

"Yaudah, ayuk berangkat." ucapku singkat

Tak memakan waktu yang lama, akhirnya kami sampai dilokasi tujuan. Aku tak menyangka ternyata lokasi ini juga sangat ramai pengunjung. Baik itu diluar ataupun didalam, banyak orang yang sedang berlalu-lalang.

Perlahan-lahan kami jalan mengelilingi lokasi ini sambil mencuci mata. Selain itu, kami hanya duduk nongkrong sebentar sambil menikmati cemilan. Setelah membeli oleh-oleh dari sekitar sana, kami langsung pergi pulang menuju villa.

Sepanjang hari ini aku tidak terlalu merasa kelelahan, walau selalu berada di tengah kerumunan orang-orang. Aku lebih bisa bersantai, berbeda dengan hari sebelumnya.

Sesampainya di Villa, tanpa banyak bicara kami langsung beres-beres untuk malam barbeque nanti.

Sama seperti kemarin, penjaga villa dan supir sudah membantu mempersiapkan peralatan dan bahan-bahannya. Walau sebenarnya aku merasa aneh, karena kami diperlakukan seperti tamu VIP disini. Dari situ aku bisa menyimpulkan background keluarga Riska mungkin termasuk konglomerat.

Langit tampak gelap, suara sunyi dan suasana hening terasa mulai menghampiri. Satu-persatu anggota telah selesai bersiap-siap dan sudah berkumpul di halaman villa.

"Gak kerasa ya, besok kita udah balik." ucap Riska pelan

"Iya nih, rasanya cepet banget." ucap Jessica

"Yaudah, kita tinggal berdua aja disini beb." ucap Steven dengan senyuman mesumnya.

"Itu mah kamu doang yang seneng, karena bisa macem-macem." balas Jessica dengan sinis.

"Hahahahaha." Kami hanya tertawa merespon percakapan mereka berdua.

"Habis liburan dari sini, kamu mau ngapain Del?" bisikku pelan.

"Kayaknya aku bakal pulang ke Surabaya dulu Ram." balasnya

"Ohhhh, kapan balik ke Jakarta lagi Del?" tanyaku penasaran

"Kurang tau juga sih Ram, mungkin seminggu sebelum masuk kampus. Emangnya kenapa Ram?" jawabnya bingung

"Gapapa kok Del, cuma nanya doang hehe." ucapku canggung

"Hmmm, kamu kangen ya?" ucapnya sambil tersenyum mengejekku.

Aku hanya memalingkan wajahku dan tak menjawab ucapannya.

"Kangen ya? ya? ya? Hmmm?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang mencoba terlihat imut.

Disisi lain Steven mulai memperhatikan dan menyindir kami berdua.

"Kayaknya ada yang lagi mesra-mesraan nih." ucap Steven.

"Iya nih, mumpung hari terakhir dipuas-puasin dulu." tambah Ivan

Mendengar ucapan Steven dan Ivan, Melissa tak mau melewatkan kesempatan untuk nimbrung.

"Ram, kamu pasti lagi pegel kan. Sini aku bantu pijitin." ucapnya sambil tersenyum nakal.

Belum sempat aku membalas ucapannya, dia sudah mendekat dan memegang kedua pundakku.

"Nanti gantian ya Ram." ucap Melissa

"Waduh, gw jadi pengen dipijitin juga nih." ucap Steven sambil melirik ke arah Jessica

"Ngapain liat-liat kesini, panggil tukang pijit sana." ucap Jessica

"Hahahahahaha." Kami tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

"Yuk gantian dulu Ram." ucap Melissa sambil tersenyum

"Sini aku aja yang pijitin." ucap Adellia

"Gamau, maunya dipijit sama Ra... ahhhh."

Belum sempat Melissa membalas, Adellia sudah terlebih dahulu memijit pundaknya dengan kuat. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.

Perlahan-lahan udara terasa makin dingin, begitu juga dengan suasananya yang tampak sunyi. Tak terasa malam sudah semakin larut, sepertinya anak-anak sudah merasa lelah dan ngantuk karena aktifitas tadi.

Satu persatu mereka pamit masuk ke dalam villa untuk beristirahat duluan. Sebenarnya aku merasa aneh, suasana malam ini terasa sangat hening ketimbang malam-malam sebelumnya.

Hingga pada akhirnya tersisa Aku,Adellia,Melissa, Riska dan Ilham dihalaman. Sebenarnya Melissa dan Riska sudah tampak ngantuk berat, tetapi mereka tetap memaksa untuk tetap berada dihalaman.

"Aku masuk dulu Del." ucap Ilham sambil melirikku sesaat.

"Oke mas." balas Adel singkat.

Saat Ilham sudah masuk kedalam Villa. Aku juga berusaha untuk membujuk Riska dan Melissa supaya masuk kedalam juga.

"Istirahat gih kak, Mel. Udah kemaleman nih, lagian kalian udah cape seharian tadi." ucapku pelan

"Oke, tapi harus dianterin sampe ke depan kamar ya." ucap Melissa

"Iyaaaa. Ayo cepet." ucapku sambil melirik ke arah Adellia.

Saat Melissa mulai berdiri dan bergerak menuju Villa. Aku cepat-cepat berbisik ditelinga Adellia.

"Tunggu disini ya." sambil mengedipkan salah satu mataku sebagai kode.

Adellia hanya tersenyum manis lalu membalas kedipan dariku. Tak lama kemudian setelah aku mengantar Melissa dan Riska kekamarnya, aku langsung bergegas pergi menuju halaman. Disana tampak Adellia yang sedang duduk diayunan sendirian. Perlahan aku mulai mendekatinya dan duduk diayunan sebelahnya.

"Ada yang mau diomongin Ram?" tanya Adel dengan raut wajah bingung.

"Iya Del, ada yang mau aku omongin sama kamu." ucapku dengan gugup

"Tentang apa tuh?" tanyanya penasaran

".........." Sesaat aku hanya diam, aku hanya berfokus mengumpulkan seluruh keberanianku.

"Ram? Kok diam aja?" tanya Adel kebingungan.

"Sejujurnya, Aku udah lama suka sama kamu Del." ucapku dengan cepat.

"Aku udah suka sama kamu, sejak pertama kali kita ketemu. Tapi waktu itu aku ga berani ungkapinnya, karena aku takut kamu menjauh." ucapku perlahan

"..........." Adel hanya diam menatapku dalam-dalam. Aku tak mengerti kenapa responnya sangat dingin.

"Aku berani ungkapinnya sekarang, karena aku ngerasa kamu juga punya perasaan yang sama." tambahku

" Jadi, kamu mau gak jadi pacarku Del?" ucapku sambil menatap matanya

"Maaf Ram." ucapnya singkat dengan raut wajah menyesal.

"............" aku hanya diam karena merasa kecewa dan kesal kepada diriku sendiri. Aku menyesal telah mengungkapkannya.

"Kenapa Del?" tanyaku dengan lesu

"............" Adel kembali diam sembari menatapku dengan sedih.

"Kayaknya memang aku yang salah karena terlalu berharap." ucapku dengan senyum terpaksa

"Bukan salah kamu Ram, tapi salahku." ucapnya dengan mata yang tampak mulai merah dan berkaca-kaca.

"Apa alasannya Del? Kenapa?" tanyaku pelan

"Maaf Ram, aku gak bisa." jawabnya dengan suara yang bergetar, lalu pergi meninggalkanku.

Aku hanya bisa diam berdiri memandangnya dari belakang. Perlahan dia semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari pandanganku. Tubuhku terasa lemas, dadaku terasa sesak dan pikiranku mulai kacau.

Perlahan aku mulai mengerti, jadi inilah yang namanya patah hati.


Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahmoedz99 dan 29 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh watcheatnsleep
profile picture
Nah gitu dong gentle... 🤭
profile picture
blckmmb7
kaskus addict
Ayo Ram angkat gelasmu emoticon-Angkat Beer,biar hilang bebanmu.emoticon-Ngacir
profile picture
g3nk_24
aktivis kaskus
Ayo.. tuang air kedamaian 🥃🥃🥃
profile picture
key.99
kaskus holic
jangan khawatir masih ada yang antri tuh... emoticon-Wowcantik
profile picture
k8junai
kaskus addict
yah... gua ga ngerti lagi deh mending gua dengerin lagu tembang jawa mangil nyiroro kidul kalo terjadi kaya gitu mah mending jaga jarak dan belajar ga peduli kaya dulu daripada ketergantungan emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk
profile picture
k8junai
kaskus addict
dan gua pikir ini cerita bakal kaya rizal sama risa nyatanya enggak penuh dengan pata hati kesel banget gua
profile picture
Maaf...kentang ram
profile picture
Sexbomb
kaskus addict
dikentangin pas lagi patah hati itu rasanya anjayani
profile picture
lega tp sedih.. ehh gimana sih emoticon-Hammer2
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 9 dari 9 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di