CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f469518a2d19562a578fdb9/tegal-salahan-jilid-ii

TEGAL SALAHAN (Jilid II)

Spoiler for Warning!:






Part 1:
Genderuwo Jajan Bakso



Namanya Kang Tarno. Dia ini adalah tetangga ane Gansist. Pekerjaannya, selain sebagai petani juga nyambi berjualan bakso keliling kampung. Kang Tarno memang terkenal sebagai sosok yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja.

Ia berjualan dari siang hingga larut malam, berkeliling dari satu desa ke desa lain. Berbeda dengan tukang bakso keliling yang kebanyakan menggunakan gerobak, Kang Tarno berjualan dengan menggunakan rombong yang dipikul. Bukan tanpa sebab. Letak desa yang berada di kaki perbukitan dengan jalanan yang kebanyakan masih berbatu dan naik turun, membuat sedikit kesulitan kalau harus berjualan dengan menggunakan gerobak.

Seperti hari itu, jam sepuluh pagi Kang Tarno sudah siap untuk berangkat berjualan. Setelah membaca Bismillah, dipikulnya rombong bakso yang lumayan berat itu. Ia menyusuri setiap jalanan desa sambil sesekali memukul mukul mangkok dengan menggunakan sendok. "Ting...ting...ting," demikian suara sendok beradu dengan mangkok yang menjadi ciri khas bakso Kang Tarno. Bisa dipastikan setiap terdengar suara itu, maka tak lama lagi Kang Tarno bakalan lewat.

Selain terkenal enak, bakso Kang Tarno juga sangat murah. Satu mangkok hanya ia hargai seribulimaratus rupiah. Tak heran kalau jualan beliau sangat laris. Kami anak anak desa juga sangat menyukainya. Untuk anak anak, Kang Tarno tak pernah mematok harga. Berapapun kami membeli selalu dia layani dengan ramah. Kadang, cukup hanya dengan uang duaratus atau tigaratus perak, kami sudah bisa menikmati satu atau dua buah bola bakso yang ditusuk dengan lidi lalu diolesi kecap dan saos. Terasa sangat lezat dinikmati sambil berjalan pulang dari sekolah.

Namun hari itu sepertinya bukan hari keberuntungan bagi Kang Tarno. Berkeliling desa dari jam sepuluh pagi sampai jam dua sore, baru tiga mangkok bakso yang berhasil ia jual. Kang Tarno tak patah semangat. Ia memutuskan untuk melanjutkan jualannya ke desa sebelah.

Panas terik dan keringat yang bercucuran tak ia pedulikan. Sambil memikul rombong baksonya ia berjalan ke arah utara, menuju ke desa Tarumas. Alhamdulillah, di desa itu ia berhasil menjual lima mangkok bakso.

Sejenak Kang Tarno beristirahat di poskamling yang ada di sudut perempatan jalan. Sambil menikmati sebatang rokoknya, sesekali Kang Tarno kembali memukul mukul mangkok dengan menggunakan sendok, berusaha menarik perhatian para pembeli.

Habis rokok sebatang, tak juga ada pembeli yang datang. Kang Tarnopun kembali memikul rombong baksonya, berjalan ke arah barat, menyusuri jalan raya beraspal menuju ke arah desa Patrolan.

Matahari telah hinggap di punggung bukit Asem di sebelah barat, saat Kang Tarno tiba di desa Patrolan. Beberapa mangkok bakso kembali berhasil ia jual. Saat adzan maghrib berkumandang, Kang Tarno singgah di sebuah warung kopi. Limabelas mangkok bakso telah berhasil ia jual. Jadi ia merasa pantas untuk menghadiahi dirinya dengan secangkir kopi hitam kesukaannya.

Selepas Maghrib, Kang Tarno kembali melanjutkan jualannya. Kali ini ia menuju ke arah selatan, ke desa Mojoretno. Namun, di desa itu sepi. Tak seorangpun yang tertarik untuk membeli baksonya.

Kang Tarno tak patah semangat. Ia mengubah arah langkahnya menuju ke arah timur. Desa Kedhungsono menjadi harapan terakhirnya. Biasanya di malam hari banyak pemuda desa yang nongkrong di poskamling. Mereka langganan tetap Kang Tarno.

Namun harapan tinggal harapan. Sampai di desa itu keadaan juga tak kalah sepi. Tak ada seorangpun yang nongkrong di poskamling. Kang Tarno menurunkan rombong baksonya, lalu duduk di bangku kayu yang ada di poskamling itu. Untuk mengusir rasa sepi, Pak Tarno menyalakan radio kecil yang memang selalu ia bawa saat berjualan. Siaran wayang kulit menemani laki laki itu menikmati rokok kreteknya. Sesekali ia bersenandung, mengikuti alunan suara sinden yang menembangkan gendhing gendhing jawa dari radio kecilnya.

Sampai hampir tengah malam, tak juga ada pembeli yang datang. Pelan Kang Tarno membuka laci tempat uang di rombong baksonya. Beberapa lembar uang ia keluarkan, lalu ia hitung. Baru balik modal, ditambah sedikit keuntungan.

Kang Tarno menghela nafas. Mungkin memang hanya segitu rezekinya hari ini. Setelah merapikan kembali rombong baksonya, Kang Tarnopun kembali berjalan. Kali ini ia memutuskan untuk pulang saja. Percuma juga kalau dilanjutkan berjualan. Hari sudah lewat tengah malam. Tak ada lagi orang yang berkeliaran di jalan.

Sambil memikul rombong baksonya yang terlihat masih sangat berat, Kang Tarno berjalan ke arah utara, melewati area Tegal Salahan menuju ke desa Kedhungjati.

Meski banyak yang bilang kalau area Tegal Salahan ini angker, namun Kang Tarno tak pernah merasa takut. Toh selama ini, setiap pulang berjualan ia selalu lewat di tempat itu. Dan tak pernah sekalipun ia mengalami hal hal yang aneh.

Namun malam itu ada yang berbeda. Kang Tarno merasakan tengkuknya sedikit merinding saat mendekati buk yang ada diantara tanjakan dan turunan jalan Tegal Salahan. Udara juga terasa lebih dingin. Angin yang bertiup sepoi sepoi membawa aroma bau prengus yang menusuk indera penciumannya.

Kang Tarno menghentikan sejenak langkahnya. Dari tempatnya berdiri, terlihat dua sosok bayangan hitam tinggi besar duduk diatas buk beberapa meter di depannya. Satu di sebelah kanan jalan, satu lagi di sisi seberangnya.

"Djanc*k! Apes tenan dino iki. Wes dodolan ra payu, mulih malah dicegat mbah Ndruwo!" (Djanc*k! Apes benar hari ini. Sudah jualan nggak laku, pulang malah dicegat mbah Ndruwo!) gerutu Kang Tarno dalam hati.

Sempat terbersit niat di hati Kang Tarno untuk berputar balik dan mencari jalan lain. Namun niat itu segera ia urungkan. Jalan memutar terlalu jauh. Bisa bisa baru pagi hari nanti ia sampai di rumah.

Akhirnya, setelah mulutnya komat kamit entah mengucapkan kalimat apa, Kang Tarno kembali berjalan dengan kepala sedikit menunduk, berusaha untuk tidak mengacuhkan keberadaan kedua makhluk itu.

Namun, nasib baik rupanya masih enggan untuk berpihak pada Kang Tarno. Saat ia lewat tepat di depan kedua makhluk itu, serempak kedua sosok hitam itu melompat turun dari atas buk dan menghampirinya. Sontak Kang Tarno segera menurunkan rombong baksonya. Kedua lututnya bergetar hebat. Laki laki itu jatuh terduduk diatas jalan berbatu yang sedikit basah oleh embun.

Lewat sudut matanya, Kang Tarno mengamati kedua sosok hitam tinggi besar itu. Sangat menyeramkan. Seluruh tubuh makhluk itu diselimuti oleh rambut lebat berwarna keabu abuan yang terlihat kasar. Dan wajahnya, lebih menyeramkan lagi. Mata bulat besar sebesar lampu senter berwarna merah menyala, hidung pesek besar dengan lubang hidung sebesar pantat gelas, dan mulut lebar dengan sepasang taring sebesar pisang raja yang mencuat dari kedua sudut bibirnya.

Yang lebih menyeramkan lagi adalah, salah satu dari kedua sosok itu memiliki payudara yang sangat besar dan panjang, menggelambir turun hampir menutupi seluruh perutnya yang buncit, tanpa ada sehelai benangpun yang menutupinya. Sangat menjijikkan.

"Bakso, rong mangkok!" (Bakso, dua mangkok!" salah satu dari sosok itu menunjuk ke arah rombong bakso Kang Tarno. Suara makhluk itu terdengar sangat serak dan berat.

Kang Tarnopun mulai sibuk meracik dua mangkok bakso pesanan makhluk itu dengan tangan gemetar. Tak butuh waktu lama, dua mangkok bakso siap dihidangkan. Dan tak menunggu lama juga, tanpa memperdulikan kuah bakso yang panas mengepul, kedua makhluk itu menenggak seluruh isi mangkok sampai tandas tak tersisa.

"As*, duduh panas ngono kok nekat diglogok. Opo ra mlonyoh cangkem'e?" (anj*ng, kuah panas gitu kok nekat ditenggak, apa nggak melepuh tuh mulutnya.) batin Kang Tarno heran.

"Imbuh! Rongpuluh mangkok!" (Nambah! Duapuluh mangkok!") kembali makhluk itu menunjuk rombong bakso Kang Tarno.

"Blaik! Kelakon dirampok Ndruwo tenan ki! Rongpuluh mangkok, gek iki mengko dibayar po ora yo?" (Sial! Beneran dirampok Ndruwo ini! Duapuluh mangkok, kira kira ini nanti dibayar apa enggak ya?) gerutu Kang Tarno dalam hati.

Namun laki laki itu tak kuasa menolak permintaan kedua makhluk hitam besar itu. Lenyap sudah seluruh isi dandang baksonya, setetes kuahpun tak ada yang tersisa. Kang Tarno terduduk lemas, membayangkan kerugian besar yang akan ia derita malam itu.

"HAAAIIIIIIIIKKKKKKKK.....!!!!!" kedua makhluk hitam tinggi besar itu bersendawa dengan sangat kerasnya. Bau nafas busuk menguar dari mulut keduanya, membuat Kang Tarno merasa mual bukan kepalang.

"Dhuwit'e!" (Uangnya!) salah satu dari makhluk hitam besar itu mengulurkan beberapa lembar uang puluhan ribu. Entah uang beneran atau bukan, Kang Tarno tak sempat memeriksanya. Laki laki itu langsung memasukkannya begitu saja ke dalam laci rombong baksonya.

Dan begitu kedua makhluk itu menghilang dibalik kegelapan, Kang Tarno juga langsung ngibrit, setengah berlari menaiki tanjakan jalan Tegal Salahan sambil memikul rombong baksonya yang kini terasa sangat ringan.

***

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke pasar untuk berbelanja, Kang Tarno menyempatkan diri memeriksa laci rombong baksonya. Dan benar saja, bukan lembaran uang puluhan ribu yang ia temukan, tapi hanya beberapa lembar daun sirih yang mulai mengering. Lemas seketika sekujur tubuh Kang Tarno. Dengan wajah lesu, akhirnya Kang Tarno menceritakan kejadian yang ia alami semalam kepada bapak mertuanya.

"Sudah, tak perlu kamu pikirkan kejadian itu. Sekarang kamu ke pasar saja, belanja. Nih, pakai uang bapak dulu. Nanti kamu jualan saja seperti biasa. Dan daun sirih itu, biarkan saja di dalam laci rombongmu. Jangan dibuang, siapa tahu bisa membawa keberuntungan." begitu nasehat sang bapak mertua, sambil memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu untuk modal belanja Kang Tarno.

Meski sedikit bingung, toh Kang Tarno menuruti begitu saja saran dari bapak mertuanya. Dan benar saja. Entah memang kebetulan atau bagaimana, sejak peristiwa itu, jualan bakso Kang Tarno maju pesat. Sekarang ia sudah memiliki kios bakso di pasar kecamatan yang lumayan ramai, dan tak perlu lagi bersusah payah memikul rombong keliling kampung untuk menjajakan baksonya.



*****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciptoroso dan 110 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057

Part 21 : Cinta Ditolak Setan Bertindak

Cinta ditolak, setan bertindak, mungkin pepatah itu pantas disematkan pada Mas Yatno. Sudah lama pemuda dari desa Kedhungsono itu menaruh hati pada Mbak Sum, salah satu kembang desa dari Kedhungjati. Namun sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan. Entah apa sebabnya, Mbak Sum tak pernah menanggapi segala bujuk rayu dari Mas Yatno.

Namun, sepertinya Mas Yatno ini bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. Meski sudah beberapa kali ditolak, ia masih terus saja mengejar cinta Mbak Sum. Segala macam carapun ia coba, dan sepertinya satupun tak ada yang berhasil. Mbak Sum tetap teguh dengan pendiriannya.

Pernah suatu ketika, mungkin karena sudah putus asa, Mas Yatno sampai nekad mencuri celana dalam milik Mbak Sum yang sedang dijemur. Celana dalam itu dibawa ke tempat orang pintar. Niatnya sih, ia ingin menguna gunai Mbak Sum. Tapi niat buruknya itu gagal total.

Celana dalam yang telah dijampi jampi, secara diam diam dikembalikan ke tempat jemuran di rumah Mbak Sum, dengan tujuan agar celana dalam itu nantinya dikenakan oleh Mbak Sum dan jampi jampinya bekerja. Namun sialnya, celana dalam yang disangkutkan di tempat jemuran itu secara tak sengaja terbang terbawa angin dan jatuh ke dalam lumpur.

Mbak Sum yang tak sadar kalau sedang dijampi jampi, memungut celana dalam itu dan berniat untuk mencucinya di kali bersama sama dengan pakaian kotor yang lain. Saat sedang dicuci itulah, tanpa sengaja celana dalam itu hanyut tanpa disadari oleh Mbak Sum. Gagal sudah rencana Mas Yatno. Beberapa hari ia menunggu, berharap jampi jampi dari si orang pintar bekerja, nggak taunya tak ada reaksi sama sekali. Dalam hati ia memaki maki si orang pintar, dikiranya jampi jampinya nggak manjur. Padahal memang celana dalam yang dijampi jampi itu tak pernah sempat dipakai oleh Mbak Sum.

"Lagian, kenapa pakai datang ke orang pintar segala? Buang buang duit saja. Kalau cuma sekedar mendapatkan cintanya Si Sum, belajar saja sama aku," demikian celetuk salah satu teman Mas Yatno, saat Mas Yatno menceritakan kesialannya.

"Kamu bisa memikat cewek?" tanya Mas Yatno penasaran, sambil menuang anggur merah ke dalam gelas kecil. Ya, saat itu mereka sedang minum minum di poskamling. Kegiatan yang sering ia lakukan dengan teman temannya. Mungkin karena itu juga Mbak Sum tak mau menerima cinta Mas Yatno. Sudah jelek, pengangguran, suka mabuk pula. Perempuan mana yang mau sama laki laki semacam itu.

"Sekarang sudah nggak jaman lagi main pelet kalau mau mendapatkan cewek. Sudah kuno tuh," sahut sang teman lagi.

"Lalu, bagaimana caranya?" tanya Mas Yatno lagi.

"Kalau nggak bisa dengan cara halus, ya pakai cara kasar," jawab sang teman lagi.

"Maksusnya gimana? Ndak paham aku," lagi lagi Mas Yatno bertanya.

"Kamu hamili saja tuh Si Sum. Kalau sudah hamil, mau nggak mau kan dia harus dinikahkan sama kamu," sang teman menyahut sambil tergelak.

"Gila! Itu nyari mati namanya. Ya kalau dia mau dinikahkan sama aku, kalau enggak? Bisa bisa aku malah berurusan sama polisi. Masih bagus kalau cuma dilaporkan polisi. Kalau aku dikeroyok anak anak Kedhungjati, apa nggak mati konyol?!"

"Ah, kamu mikirnya kejauhan." kata sang teman lagi. "Coba kamu pikir, perempuan, kalau sudah hamil di luar nikah, pasti akan menanggung malu besar. Nggak mungkin lapor polisi, karena takut aibnya menyebar. Percaya deh, pasti akan minta pertanggungjawaban kamu."

"Iya juga ya," gumam Mas Yatno. "Tapi bagaimana caranya? Baru lihat aku saja ia sudah kabur, gimana cara menghamilinya?"

"Oalah, gobl*k kok dipelihara. Pikirmu kamu harus dekatin dia terus nanya 'kamu mau tak hamili nggak?' gitu? Yang ada kamu yang digampar pakai golok. Mikir dong No!"

"Lha terus gimana caranya?" Mas Yatno kembali bertanya dengan wajah bingung.

"Sini, tak kasih tau caranya," teman Mas Yatno mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Mas Yatno. Mas Yatno tampak mengangguk angguk. Sepertinya ia mulai paham dengan apa yang dimaksud oleh temannya.

***

Setelah obrolan di poskamling malam itu, selama beberapa hari Mas Yatno jadi sering mondar mandir di dekat kali Tegal Salahan. Bukan untuk memancing atau mencari ikan, tapi untuk mengintip Mbak Sum yang memang terbiasa mandi dan mencuci di kali itu. Sepertinya ia sudah terhasut oleh kata kata temannya. Namun, ia belum menemukan kesempatan yang benar benar pas.

Hingga pada suatu hari, kesempatan itupun tiba. Saat itu sore hari. Kebetulan cuaca agak mendung. Seperti biasa, Mbak Sum mandi di kali Tegal Salahan, tanpa menyadari kalau ada sepasang mata sedang mengawasinya. Sebenarnya, tempat khusus untuk mandi di kali itu agak tersembunyi, dikelilingi oleh tanaman perdu yang sengaja ditanam oleh warga setempat, agar orang yang sedang mandi tidak kelihatan dari jalan. Namun Mas Yatno sepertinya tak kekurangan akal, ia mencari tempat yang agak tinggi di ladang milik salah satu warga. Dari tempat itu, ia dengan leluasa bisa menyaksikan pemandangan yang membuat matanya tak sanggup untuk berkedip.

Nasib baikpun sepertinya kini berpihak pada Mas Yatno. Mendung di langit semakin tebal. Lalu hujan deras tiba tiba turun tanpa disangka sangka. Mbak Sum yang sedang mandi tentu saja kalang kabut. Bergegas ia berpakaian, lalu setengah berlari meninggalkan sungai. Tak ada waktu untuk berlari pulang, kecuali Mbak Sum mau basah kuyup kehujanan. Gadis itupun memilih untuk berteduh di gubuk yang ada di sawah milik Mbah Mo, tanpa menyadari bahwa bahaya sedang mengancamnya.

Mas Yatno yang melihat Mbak Sum berteduh di gubuk itu tentu saja kegirangan. Inilah kesempatan yang selama ini ia tunggu tunggu. Dengan setengah berlari, Mas Yatno mendatangi gubuk itu, dan nyelonong masuk begitu saja.

Mbak Sum terkejut. Mas Yatno menyeringai senang. Dengan buas diterkamnya tubuh Mbak Sum. Mbak Sum berteriak dan meronta. Namun apalah daya, sebagai seorang perempuan, ia kalah kuat dengan Mas Yatno. Jeritannyapun tak bisa menolongnya, karena segera lenyap di telan hujan.

"BAJ*NG*N KAMU YATNO!!!" maki Mbak Sum sambil terus meronta ronta, membuat Mas Yatno sedikit kesal. Dengan kasar ditamparnya Mbak Sum dengan sekuat tenaga, hingga gadis itu jatuh terkulai dan pingsan.

"Bagus!" batin Mas Yanto. Dengan pingsannya Mbak Sum, berarti ia bisa lebih mudah melaksanakan niat kotornya. Dengan terburu buru ia menanggalkan semua pakaiannya, lalu ditindihnya tubuh Mbak Sum yang telah tergolek pingsan. Nafsu bejatnya benar benar telah naik ke ubun ubun. Dengan nafas memburu, ia berusaha untuk menanggalkan pakaian Mbak Sum. Namun, baru juga satu kancing baju Mbak Sum yang berhasil ia buka, mata gadis itu terbuka, menatap tepat ke arah mata Mas Yatno, membuat Mas Yatno tercekat.

Bagaimana tidak, pandangan mata gadis itu bukanlah seperti tatapan orang yang ketakutan, tapi tatapan penuh dendam. Tajam dan menusuk. Bibir tipisnya mendesis, lalu menyeringai seram. Tangannya dengan cepat menyambar lengan Mas Yatno yang masih berada di depan dadanya, lalu memelintirnya dengan sekuat tenaga, membuat Mas Yatno terpelanting ke samping.

"Perempuan j*l*ng! Beraninya kamu .....!!!!"

"Tutup mulutmu baj*ng*n!" bentak Mbak Sum sambil bangkit berdiri.

"Kau...?!" Mas Yatno terkesiap. Suara itu, jelas bukan suara Mbak Sum. Ia kenal betul dengan suara Mbak Sum yang selalu terdengar lembut dan merdu. Sedang suara yang barusan ia dengar, terdengar sangat serak dan berat.

"Hahahaha....!!!!! Kenapa?! Kaget?! Aku sudah muak dengan laki laki yang tidak menghargai wanita sepertimu! Rasakan ini!!!"

"Bhug!!!"

"Arrrrggggghhhhh...!!!" suara bergedebug disambung dengan suara jerit Mas Yatno terdengar melengking saat Mbak Sum tiba tiba menendang pangkal paha Mas Yatno dengan sekuat tenaga.

"Hahahaha .....!!!! Mampus kau manusia laknat!" Mbak Sum tertawa tergelak, melihat Mas Yatno yang masih telanjang bulat itu berguling guling kesakitan sambil memegangi alat vitalnya.

"Arrrggghhh...!!!! Ampuuuuunnnn...!!!" teriak Mas Yatno parau.

"Hahaha ...!!! Ampun katamu?! Tak ada ampun untuk orang sepertimu!" Mbak Sum menyambar sebatang dahan kayu kering sebesar lengan yang tergeletak di lantai gubuk itu. "Sini, biar aku tumbuk 'burung'mu sampai hancur! Biar kau tak bisa macam macam lagi dengan perempuan!"

"Huaaaaaaaaaa......!!!!!!" tanpa memperdulikan derasnya hujan, tanpa memperdulikan tubuhnya yang masih telanjang, dan tanpa memperdulikan pangkal pahanya yang masih terasa ngilu bukan kepalang, Mas Yatno lari tunggang langgang menerobos derasnya hujan, diiringi suara tawa Mbak Sum yang melengking menakutkan.

***

Malam harinya, orang tua Mbak Sum memanggil Pak Modin. Mereka cemas, karena semenjak pulang mandi dari kali Tegal Salahan, Mbak Sum jadi bertingkah aneh. Ia seperti tak mengenali keluarganya. Dan setiap melihat laki laki, ia mengamuk dan berusaha menyerangnya. Bahkan bapaknya sendiri nyaris menjadi sasaran amukannya.

Setelah dijampi jampi oleh Pak Modin, akhirnya diketahui kalau ternyata Mbak Sum kesurupan arwahnya Dewi ( agan dan sista masih ingat dengan Dewi kan?). Pantas saja, ia begitu benci saat melihat laki laki.

Dengan bantuan Pak Modin, akhirnya arwah Dewi berhasil dikeluarkan dari tubuh Mbak Sum. Dan setelah Mbak Sum sadar, diberi minum dan ditenangkan, terkuak sudah apa yang sebenarnya dialami Mbak Sum di gubuk Mbah Mo sore tadi.

Desa Kedhungjati geger. Kakak laki laki Mbak Sum yang tidak terima dengan perbuatan Mas Yatno, segera mengumpulkan teman temannya dan melabrak ke desa Kedhungsono.

Namun siapa sangka, saat menemukan orang yang mereka cari, amarah mereka yang menggunung tiba tiba reda. Bagaimana tidak, orang yang ingin mereka labrak, nampak terkapar tak berdaya di atas tempat tidur dengan kondisi yang sangat mengenaskan. 'burung'nya membengkak sebesar buah terong ungu.

Karma berlaku. Niat buruk Mas Yatno mendapat balasan yang setimpal. Semenjak kejadian itu, Mas Yatno tak berani lagi menampakkan wajahnya di depan Mbak Sum. Hanya kedua orang tuanya yang datang meminta maaf. Itu juga atas anjuran orang pintar yang mengobati Mas Yatno. Kata si orang pintar itu, Mas Yatno tidak akan bisa sembuh sebelum Mbak Sum memaafkannya.

Mbak Sum yang memang berhati lembut itu tak tega juga melihat penderitaan Mas Yatno. Meski masih menyimpat rasa sakit hati, iapun memaafkan perbuatan Mas Yatno. Dan ajaib, beberapa hari kemudian Mas Yatno benar benar sembuh. 'Burung'nya yang kemarin bengkak sebesar buah terong itu sudah kempes dan normal seperti sediakala.

*****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jojo8228 dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
pulaukapok
kaskus maniac
Gaspollllll....mkn asek.
profile picture
Kapok deh mas yatno. Makanya klo mau dapet cewek, kerja yg bener. Biar jelek klo byk duit pasti ada juga cewek yg mau.emoticon-Big Grin
profile picture
saran buat mas yatno,seharusnya setelah minta maaf sama mbak sum dia berdoa semoga bengkaknya masih bertahan
karena biaya buat bengkak seperti terong butuh biaya yang besar
😁😁😁😁
profile picture
re.dear
kaskus addict
Tak disangka, ane bisa tau kemana misteri celana dalamnya ilang ada disini. emoticon-Toast
profile picture
Alhamdulillah jin yg menyerupai mba Sari baik jadi mba Sum masih selamat 😇
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@makgendhis dia baik kalau sama perempuan sist, tapi kalau sama laki laki benci setengah mati. Eh, tapi pernah juga sih dia merasuki perempuan anaknya juragan petimati
profile picture
@indrag057 bentar gan.. mumpung saya lagi santai, saya baca dulu ceritnya sampai tamat emoticon-Peace
profile picture
adriantz
aktivis kaskus
jadi besar tanpa pengobatan malah kebeneran dong gan, ga usah ke mak er*t segala emoticon-Wakaka
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@makgendhis siipp, monggo sist, silahkan dibaca sampai tamat
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@adriantz wakaka, besar tapi ga bisa berfungsi kalau yang ini gan
profile picture
@indrag057 sudah dr kemarin2 dong hahaha 😁
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@makgendhis haha, iya. Maaf sist, beneran dah, baru liat coment yang ini. Notifnya ga tau ketutup ama apaan
profile picture
@indrag057 nootifnya ketutup sm iklan gan 😁
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@makgendhis haha, bisa jadi sist

Kadang kebanyakan notif sampai ada yang kelewat ga kebaca
profile picture
@indrag057 @makgendhis iyah gt kdg notif ketumpuk jd ga kebaca
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@Rainbow555 @makgendhis hu-um, apalagi kalau lagi musim ngejar toposter gini, notifnya ikut kejar kejaran
profile picture
@indrag057 @makgendhis lah iys blm kebaca udah ilang ketimbun. Mn ipennya nyambung terus lgemoticon-Ngacir
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@Rainbow555 @makgendhis na itu, dulu keknya ga ada top poster gini, naru belakangan ini ada. Tapi seru sih, bikin tambah rame threadnya
profile picture
@indrag057 @makgendhis yah kudu ada istirahat juga harusnya misal jeda dua bulan. Kalo nyambung terus malah jrg mampir di tritnya lho pada balapan ngejunk
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@Rainbow555 @makgendhis yang ikut event jadi sepi threadnya ya, ga ada yang coment gegara pada sibuk ngejunkemoticon-Ngakak
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 20 dari 40 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di