CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Debate Club /
Anda Bertanya Berwin Menjawab - Edisi 2016 - Part 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dde992b48c38d5e5e7b344e/anda-bertanya-berwin-menjawab---edisi-2016---part-2

Anda Bertanya Berwin Menjawab - Edisi 2019/2020

Semua macam pertanyaan boleh ditanyakan di thread ini.

Tidak semua pertanyaan akan dijawab.

Thread memakai sistem buka tutup, kapan buka dan kapan tutup tidak pasti karena tidak ada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri.


Thread2x sebelumnya :

Thread2 sebelumnya :
(ABBeM) Anda Bertanya Berwin Menjawab
(ABBeM) Anda Bertanya Berwin Menjawab - Part 2
Archive (ABBeM) Anda Bertanya Berwin Menjawab
Anda Bertanya Berwin Menjawab - Edisi 2013---part-1
Anda Bertanya Berwin Menjawab - Edisi 2013 - Part 2
Anda Bertanya Berwin Menjawab - Edisi 2013 - Part 3

================
By Leehongkyun :
1. Jodoh dan Takdir
2. Kisah Kakek, Cucu, dan Kuda (Tidak semua yang kamu kira buruk itu benar2 buruk)
3. Menyerah dan "merelakan" (Melakukan hal sama dan mengharap hasil berbeda adalah kegilaan)
4. Contoh bijak tentang nasib dan takdir (serta menyikapi ramalan)
5. cara menjadi bijak ala Berwin.
6. Materi dan Kekayaan.
7. Menyerah bukan pilihan.
8. Cara Mendidik Anak
9. Katakanlah kejujuran walaupun pahit?

==============
by Unnatural11
1. menyikapi dendam

by Beuted

1. Ini pun akan berlalu.


*Catatan : Saya sering kali menjawab pertanyaan dgn kata WANDA.

Maksud dari kata WANDA adalah "Wah Ndak Tau".

Waktu paruh dari pengetahuan : 50 % dari semua pengetahuan yang tertulis disini kemungkinan besar (80%) akan menjadi tidak lagi valid dalam waktu 10 thn setelah periode penulisan dan/atau periode dimana pengetahuan itu menjadi sebuah hal yg diterima umum sebagai bernilai benar.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abang1122 dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh berwin
Saya dgr punya degree PhD di Indonesia itu ga ada artinya kalau kita nyari kerja ya om?
Byk yg ngomong ke saya lbh mending ga usah ambil S3 krn di Indonesia ga kepake?

Padahal di Indonesia jumlah doktor itu cuma 31 rb orang. Di luar negeri, seperti India saja dalam 1 tahun bisa menghasilkan 24rb Doktor.
Cina skrg punya 500rb doktor.
Itu kenapa ya om? Kok di Indonesia malah doktor jadi termarjinalkan?
profile-picture
leo.ambles memberi reputasi
profile picture
TS berwin
Retired Moderator


1. Somewhat true.

2. Saya ada cerita begini...

Sekitar 12-13 thn yg lalu saya pernah kenal dgn seseorang mahasiswa Indonesia di Singapore, bidang studinya berhubungan dgn biomedical engineering gituan. Dia lulus dan masuk sebagai 1 % lulusan terbaik dari NUS, ketika dia lulus pemerintah Singapore mau kasih dia kerjaan jadi researcher di A* (ASTAR= Agency for Science Technology and Research) ini semacam BBPT lah kalo di Indonesia, ini kenalanan saya diiming2xin fastrack buat jadi PR di Singapore + kerja di gaji SGD 3000, saat itu ini udah lumayan banget sebagai fresh graduate.

Padahal di Singapore belom ada kerjaan yg cocok berhubungan dgn bidang ini, kenalan saya ini kerjanya cuman kaya baca research publication, bikin summary/review, ngebantuin prof di universitasnya buat ngajuin proyek, dll gituan. Dia kemudian bisa ngelanjutin pendidikan S2 dibidang yg sama dan dapat bursary dari A* untuk belaajr ke US.

Dia pernah nanya sama profesornya kenapa pemerintah Singapore kog kayanya gaji buta dia dan beberapa koleganya padahal mereka itu gak ada "kerjaan" realnya, si Profesornya bilang kalo gak begitu maka gak ada yang mau belajar hal ini dan gak ada yang mau jadi expert dibidang ini, pemereintah Singapore bersiap untuk mentransformasikan ekonominya waktu itu menuju bidang2x yang lebih hi-tech istilahnay dan mereka harus alokasiin dana untuk captive lulusan2x terbaik ini agar bisa digunakan/dimanfaatkan kemudian hari ketika infrastruktur dan ekosistem nya tepat.

Point yg saya mau omong adalah kalo kamu tanya kenapa doktor termarjinalkan karena pemerintah kita entah tidak mampu ato apa gak bisa meretain doktor2x ini ato orang2x yang punnya Phd dan gak punya program jg untuk chanelling mereka punya keahlian ini mau digunakan buat apa di Indonesia.

Kalo ngomong kasarnya, masalah di Indonesia itu masih masalah memenuhi kebutuhan primer, urusan pendidikan Phd gituan itu urusan sekunder/tertier yg gak ada urgensinya relatif dibandingkan urusan pangan, sandang dan papan.
profile picture
sosrobahu.iptek
aktivis kaskus

Lah om, India itu juga sama aja kyk Indonesia. Masih struggling utk memenuhi kebutuhan primer rakyatnya yg banyak?

Tapi ga tau kenapa banyak org India yang lanjut sampai S3 bahkan di univ2 terkenal di luar negeri. Pas saya tanya org India katanya ada skema pinjaman gitu om buat org2 India yang sekolah di luar negeri, tp ga tau detailnya gimana.
profile picture
TS berwin
Retired Moderator
@sosrobahu.iptek

Betul tp masalah proposioinalitas, mereka terliaht demikian karnea populasi mereka yang besar.

Sama kaya RRC, ada 1,3 milliar manusia, yang masih dibawah garis kemiskinan jg 400-500 jt, uidah nyaris dobel penduduk Indonesia namun yang udah berhasil lewat garis kemiskinan ada 700-800 juta.

Begitu juga dgn kondisi ekonomimnya dan national interestnya yang udah butuh tenaga2x terdidik ataupun yg mempunyai gelar doktor sebagai bagian dari effort R&D nasional mereka.

Indonesia belom mencapai titik itu, karena yach belom dirasakan oleh pembuat kebijakan itu udah ada kebutuhan mendeksak buat itu atuapun dianggap tidak ada dana / alokasi dana unutk hal tersebut.

Belom lagi masalah kultur jg ada pengaruh, India semisalnya, disana anak kalo lahir kalo yg cowok diharapkan jadi insinyur kalo yg cwek jadi dokter medis, selama masa kolonial udah tertanam dalam psyche mereka kalo terdidik maka hidupnya lebih baik bisa dapat kerja di pemerintahan kolonial, dll.

Bahkan yg dibawa sama Inggris ke koloni lainnya itu kebanyakan orang dari India kan walopun Inggris punya koloni di Afrika dan Asia timur tp kalo bawa orang yg dipekerjakan di kantor2x administrasi koloni2x Inggris itu kebanyakan pasti orang India.

National Scholarship Program ? Indonesia jg punya kalo model beginian lah, ada berapa banyak program bea siswa di Indonesia coba, ada jalur DIKTI ada progam Beasiswa Unggulan, ada LPDP, ada yg khusus Santri berprestasi, belom lagi kita bicara yang dari yayasan2x dan kerjasama dgn mendikbud ato yg sendiri2x.

Pertanyanaya fundignya berapa dan bisa absorb berapa banyak org yg mau ?

RRC pada thn 1994 mentargetkan mengirim 100 juta mahasiwa mereka ke LN untuk program studi master dan doctoral sebelum 2010. Entah berapa yang beneran dikirim atua berhasil dikirim tp yang saya mau bilang pemerintahnya punya target demikian dan artinya merkea udah punya program ini lulusan2x ntarnya mau dibikin apa di RRC dan gimana manfaatinnya.

Indonesia bisa kah memberikan pekerjaan yg setara atau dgn value yang sama seperti yg bisa didapatkan lulusannya yg dikirim ke LN ?

Saya waktu ke Jepang hire semacam tour guide freelance gitu yg bisa bahasa Indonesia dan orangnya ternyata mahasiwa pertanian dari Indonesia belajar di Univ Tokyo, dia asal Aceh dari tekangon kalo gak salah.

Dia S1 nya di Indoneisa tp kemudian ambil beasiswa untuk S2 di Jepang, saya tanya sama dia udah lulus dari Jepang mau balik ke Indonesia, dia bilang harus karena beasiswanya bilang dia harus selama beberapa thn kerja di Indonesia/pemerintah gitu tp menurut dia paling dia bakal ditempatin jadi dosen ato bikin tulisan doank kaya laporan gitu. Dia itu tertarik dgn penggunaan binatang untuk memerangi hama di pertanian dan ingin meneliti soal itu tp di Indonesia menurut dia kayanya gak bisa memfasilitasi hal ini dan seionrnya yang orang Indonesia jg akhrinya malah kerja di Thailand dan meneliti untuk pemerintah Thailand so dia jg berencana sama.
profile picture
azroel3
kaskus geek
@berwin
mod berwin kok mantap banget sih jawabnya, cocok jadi dosen ente mod, ambil S2 NUS/NTU aja mod. heheh
profile picture
sosrobahu.iptek
aktivis kaskus
@berwin

Ada 1 org yang LPDP ke Australia malah jadi propagandist papua merdeka di sana om.
Bingung kan?
profile picture
TS berwin
Retired Moderator
@sosrobahu.iptek

Yah itu kan karena udah pinter terus sekarang dia merasa bahwa ohh ini yang bener itu yg salah ato ini yang sejalan/seide dgn idealisme dia ato ini yg dianggap jadi kesempatan buat dia untuk mengaktualisasikan diri dia.

Sebeanrbya saya mah gak bingung kalo ada yang begitu.

Pejuang pergerakan nasional kita di awal abad ke 20 bukannya jg sama, ada yang dapat kesempatan belajar/bersekolah bagian dari politik etis Belanda dan ada yan sampe melanjutkan pendidikan ke Belanda/Eropa segala, tau2xnya balik ke Indonesia ada yang melakukan agitasi menuntut kemerdekaan.

Dipandang dari sisi Belanda mungkin disaat itu jg ada orang yang kaya kamu yang bilang udah dibayarin pake duit negara ke Belanda eh malah jadi propagandist Indonesia merdeka.
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 6 dari 6 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di