CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
TEGAL SALAHAN (Jilid II)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f469518a2d19562a578fdb9/tegal-salahan-jilid-ii

TEGAL SALAHAN (Jilid II)

Spoiler for Warning!:




TEGAL SALAHAN (Jilid II)(TAMAT)




Part 1:
Genderuwo Jajan Bakso



Namanya Kang Tarno. Dia ini adalah tetangga ane Gansist. Pekerjaannya, selain sebagai petani juga nyambi berjualan bakso keliling kampung. Kang Tarno memang terkenal sebagai sosok yang sangat rajin dan ulet dalam bekerja.

Ia berjualan dari siang hingga larut malam, berkeliling dari satu desa ke desa lain. Berbeda dengan tukang bakso keliling yang kebanyakan menggunakan gerobak, Kang Tarno berjualan dengan menggunakan rombong yang dipikul. Bukan tanpa sebab. Letak desa yang berada di kaki perbukitan dengan jalanan yang kebanyakan masih berbatu dan naik turun, membuat sedikit kesulitan kalau harus berjualan dengan menggunakan gerobak.

Seperti hari itu, jam sepuluh pagi Kang Tarno sudah siap untuk berangkat berjualan. Setelah membaca Bismillah, dipikulnya rombong bakso yang lumayan berat itu. Ia menyusuri setiap jalanan desa sambil sesekali memukul mukul mangkok dengan menggunakan sendok. "Ting...ting...ting," demikian suara sendok beradu dengan mangkok yang menjadi ciri khas bakso Kang Tarno. Bisa dipastikan setiap terdengar suara itu, maka tak lama lagi Kang Tarno bakalan lewat.

Selain terkenal enak, bakso Kang Tarno juga sangat murah. Satu mangkok hanya ia hargai seribulimaratus rupiah. Tak heran kalau jualan beliau sangat laris. Kami anak anak desa juga sangat menyukainya. Untuk anak anak, Kang Tarno tak pernah mematok harga. Berapapun kami membeli selalu dia layani dengan ramah. Kadang, cukup hanya dengan uang duaratus atau tigaratus perak, kami sudah bisa menikmati satu atau dua buah bola bakso yang ditusuk dengan lidi lalu diolesi kecap dan saos. Terasa sangat lezat dinikmati sambil berjalan pulang dari sekolah.

Namun hari itu sepertinya bukan hari keberuntungan bagi Kang Tarno. Berkeliling desa dari jam sepuluh pagi sampai jam dua sore, baru tiga mangkok bakso yang berhasil ia jual. Kang Tarno tak patah semangat. Ia memutuskan untuk melanjutkan jualannya ke desa sebelah.

Panas terik dan keringat yang bercucuran tak ia pedulikan. Sambil memikul rombong baksonya ia berjalan ke arah utara, menuju ke desa Tarumas. Alhamdulillah, di desa itu ia berhasil menjual lima mangkok bakso.

Sejenak Kang Tarno beristirahat di poskamling yang ada di sudut perempatan jalan. Sambil menikmati sebatang rokoknya, sesekali Kang Tarno kembali memukul mukul mangkok dengan menggunakan sendok, berusaha menarik perhatian para pembeli.

Habis rokok sebatang, tak juga ada pembeli yang datang. Kang Tarnopun kembali memikul rombong baksonya, berjalan ke arah barat, menyusuri jalan raya beraspal menuju ke arah desa Patrolan.

Matahari telah hinggap di punggung bukit Asem di sebelah barat, saat Kang Tarno tiba di desa Patrolan. Beberapa mangkok bakso kembali berhasil ia jual. Saat adzan maghrib berkumandang, Kang Tarno singgah di sebuah warung kopi. Limabelas mangkok bakso telah berhasil ia jual. Jadi ia merasa pantas untuk menghadiahi dirinya dengan secangkir kopi hitam kesukaannya.

Selepas Maghrib, Kang Tarno kembali melanjutkan jualannya. Kali ini ia menuju ke arah selatan, ke desa Mojoretno. Namun, di desa itu sepi. Tak seorangpun yang tertarik untuk membeli baksonya.

Kang Tarno tak patah semangat. Ia mengubah arah langkahnya menuju ke arah timur. Desa Kedhungsono menjadi harapan terakhirnya. Biasanya di malam hari banyak pemuda desa yang nongkrong di poskamling. Mereka langganan tetap Kang Tarno.

Namun harapan tinggal harapan. Sampai di desa itu keadaan juga tak kalah sepi. Tak ada seorangpun yang nongkrong di poskamling. Kang Tarno menurunkan rombong baksonya, lalu duduk di bangku kayu yang ada di poskamling itu. Untuk mengusir rasa sepi, Pak Tarno menyalakan radio kecil yang memang selalu ia bawa saat berjualan. Siaran wayang kulit menemani laki laki itu menikmati rokok kreteknya. Sesekali ia bersenandung, mengikuti alunan suara sinden yang menembangkan gendhing gendhing jawa dari radio kecilnya.

Sampai hampir tengah malam, tak juga ada pembeli yang datang. Pelan Kang Tarno membuka laci tempat uang di rombong baksonya. Beberapa lembar uang ia keluarkan, lalu ia hitung. Baru balik modal, ditambah sedikit keuntungan.

Kang Tarno menghela nafas. Mungkin memang hanya segitu rezekinya hari ini. Setelah merapikan kembali rombong baksonya, Kang Tarnopun kembali berjalan. Kali ini ia memutuskan untuk pulang saja. Percuma juga kalau dilanjutkan berjualan. Hari sudah lewat tengah malam. Tak ada lagi orang yang berkeliaran di jalan.

Sambil memikul rombong baksonya yang terlihat masih sangat berat, Kang Tarno berjalan ke arah utara, melewati area Tegal Salahan menuju ke desa Kedhungjati.

Meski banyak yang bilang kalau area Tegal Salahan ini angker, namun Kang Tarno tak pernah merasa takut. Toh selama ini, setiap pulang berjualan ia selalu lewat di tempat itu. Dan tak pernah sekalipun ia mengalami hal hal yang aneh.

Namun malam itu ada yang berbeda. Kang Tarno merasakan tengkuknya sedikit merinding saat mendekati buk yang ada diantara tanjakan dan turunan jalan Tegal Salahan. Udara juga terasa lebih dingin. Angin yang bertiup sepoi sepoi membawa aroma bau prengus yang menusuk indera penciumannya.

Kang Tarno menghentikan sejenak langkahnya. Dari tempatnya berdiri, terlihat dua sosok bayangan hitam tinggi besar duduk diatas buk beberapa meter di depannya. Satu di sebelah kanan jalan, satu lagi di sisi seberangnya.

"Djanc*k! Apes tenan dino iki. Wes dodolan ra payu, mulih malah dicegat mbah Ndruwo!" (Djanc*k! Apes benar hari ini. Sudah jualan nggak laku, pulang malah dicegat mbah Ndruwo!) gerutu Kang Tarno dalam hati.

Sempat terbersit niat di hati Kang Tarno untuk berputar balik dan mencari jalan lain. Namun niat itu segera ia urungkan. Jalan memutar terlalu jauh. Bisa bisa baru pagi hari nanti ia sampai di rumah.

Akhirnya, setelah mulutnya komat kamit entah mengucapkan kalimat apa, Kang Tarno kembali berjalan dengan kepala sedikit menunduk, berusaha untuk tidak mengacuhkan keberadaan kedua makhluk itu.

Namun, nasib baik rupanya masih enggan untuk berpihak pada Kang Tarno. Saat ia lewat tepat di depan kedua makhluk itu, serempak kedua sosok hitam itu melompat turun dari atas buk dan menghampirinya. Sontak Kang Tarno segera menurunkan rombong baksonya. Kedua lututnya bergetar hebat. Laki laki itu jatuh terduduk diatas jalan berbatu yang sedikit basah oleh embun.

Lewat sudut matanya, Kang Tarno mengamati kedua sosok hitam tinggi besar itu. Sangat menyeramkan. Seluruh tubuh makhluk itu diselimuti oleh rambut lebat berwarna keabu abuan yang terlihat kasar. Dan wajahnya, lebih menyeramkan lagi. Mata bulat besar sebesar lampu senter berwarna merah menyala, hidung pesek besar dengan lubang hidung sebesar pantat gelas, dan mulut lebar dengan sepasang taring sebesar pisang raja yang mencuat dari kedua sudut bibirnya.

Yang lebih menyeramkan lagi adalah, salah satu dari kedua sosok itu memiliki payudara yang sangat besar dan panjang, menggelambir turun hampir menutupi seluruh perutnya yang buncit, tanpa ada sehelai benangpun yang menutupinya. Sangat menjijikkan.

"Bakso, rong mangkok!" (Bakso, dua mangkok!" salah satu dari sosok itu menunjuk ke arah rombong bakso Kang Tarno. Suara makhluk itu terdengar sangat serak dan berat.

Kang Tarnopun mulai sibuk meracik dua mangkok bakso pesanan makhluk itu dengan tangan gemetar. Tak butuh waktu lama, dua mangkok bakso siap dihidangkan. Dan tak menunggu lama juga, tanpa memperdulikan kuah bakso yang panas mengepul, kedua makhluk itu menenggak seluruh isi mangkok sampai tandas tak tersisa.

"As*, duduh panas ngono kok nekat diglogok. Opo ra mlonyoh cangkem'e?" (anj*ng, kuah panas gitu kok nekat ditenggak, apa nggak melepuh tuh mulutnya.) batin Kang Tarno heran.

"Imbuh! Rongpuluh mangkok!" (Nambah! Duapuluh mangkok!") kembali makhluk itu menunjuk rombong bakso Kang Tarno.

"Blaik! Kelakon dirampok Ndruwo tenan ki! Rongpuluh mangkok, gek iki mengko dibayar po ora yo?" (Sial! Beneran dirampok Ndruwo ini! Duapuluh mangkok, kira kira ini nanti dibayar apa enggak ya?) gerutu Kang Tarno dalam hati.

Namun laki laki itu tak kuasa menolak permintaan kedua makhluk hitam besar itu. Lenyap sudah seluruh isi dandang baksonya, setetes kuahpun tak ada yang tersisa. Kang Tarno terduduk lemas, membayangkan kerugian besar yang akan ia derita malam itu.

"HAAAIIIIIIIIKKKKKKKK.....!!!!!" kedua makhluk hitam tinggi besar itu bersendawa dengan sangat kerasnya. Bau nafas busuk menguar dari mulut keduanya, membuat Kang Tarno merasa mual bukan kepalang.

"Dhuwit'e!" (Uangnya!) salah satu dari makhluk hitam besar itu mengulurkan beberapa lembar uang puluhan ribu. Entah uang beneran atau bukan, Kang Tarno tak sempat memeriksanya. Laki laki itu langsung memasukkannya begitu saja ke dalam laci rombong baksonya.

Dan begitu kedua makhluk itu menghilang dibalik kegelapan, Kang Tarno juga langsung ngibrit, setengah berlari menaiki tanjakan jalan Tegal Salahan sambil memikul rombong baksonya yang kini terasa sangat ringan.

***

Keesokan harinya, sebelum berangkat ke pasar untuk berbelanja, Kang Tarno menyempatkan diri memeriksa laci rombong baksonya. Dan benar saja, bukan lembaran uang puluhan ribu yang ia temukan, tapi hanya beberapa lembar daun sirih yang mulai mengering. Lemas seketika sekujur tubuh Kang Tarno. Dengan wajah lesu, akhirnya Kang Tarno menceritakan kejadian yang ia alami semalam kepada bapak mertuanya.

"Sudah, tak perlu kamu pikirkan kejadian itu. Sekarang kamu ke pasar saja, belanja. Nih, pakai uang bapak dulu. Nanti kamu jualan saja seperti biasa. Dan daun sirih itu, biarkan saja di dalam laci rombongmu. Jangan dibuang, siapa tahu bisa membawa keberuntungan." begitu nasehat sang bapak mertua, sambil memberikan beberapa lembar uang puluhan ribu untuk modal belanja Kang Tarno.

Meski sedikit bingung, toh Kang Tarno menuruti begitu saja saran dari bapak mertuanya. Dan benar saja. Entah memang kebetulan atau bagaimana, sejak peristiwa itu, jualan bakso Kang Tarno maju pesat. Sekarang ia sudah memiliki kios bakso di pasar kecamatan yang lumayan ramai, dan tak perlu lagi bersusah payah memikul rombong keliling kampung untuk menjajakan baksonya.



*****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
engaskoez dan 141 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057

Part 16a : Mbak Patmi Dan Wewe Gombel [bag. I]

Mbak Patmi, perempuan warga desa Kedhungsono ini sudah sejak lama merantau ke Jakarta. Dari zaman ia masih gadis, sampai sekarang sudah bersuami, ia masih tetap bekerja di Jakarta. Hanya sesekali saja ia pulang ke kampung untuk sekedar menjenguk orangtuanya.

Namun kali ini, ia pulang dan memutuskan untuk tinggal di kampung agak lama, karena permintaan orang tuanya. Mbak Patmi sedang mengandung anak pertamanya, sekaligus calon cucu pertama dari orang tua Mbak Patmi. Tak heran kalau orang tua Mbak Patmi sangat menginginkan agar Mbak Patmi melahirkan saja di kampung.

Sebagai anak yang berbakti, Mbak Patmi menuruti keinginan orang tuanya. Saat usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan, dengan diantarkan oleh suaminya, Mbak Patmi pulang. Hanya mengantar, karena setelah dua hari di kampung, sang suami harus kembali lagi ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan.

Jadilah Mbak Patmi menjalani hari harinya di kampung tanpa sang suami. Berat memang, disaat hamil begini harus berpisah dengan sang suami. Apalagi ini kehamilan pertamanya. Tapi demi orang tuanya yang telah membesarkannya sejak kecil, Mbak Patmi menjalani semua itu dengan rasa ikhlas.

Hari pertama setelah kepergian sang suami, Mbak Patmi mulai merasa kesepian. Kedua orang tuanya sibuk bekerja di ladang. Sedang kedua adiknya belum pulang dari sekolah. Akhirnya ia memutuskan untuk menyusul kedua orang tuanya ke ladang yang berada di area Tegal Salahan. Dan dari sinilah awal malapetaka yang menimpa Mbak Patmi.

Kedua orang tuanya lupa berpesan bahwa perempuan yang sedang hamil, datang bulan, atau pengantin baru, pantang untuk datang ke Tegal Salahan. Bisa kena tulah. Dan Mbak Patmi sendiri tak mengetahui pantangan itu. Nasi telah menjadi bubur. Mbak Patmi sudah terlanjur datang ke Tegal Salahan dalam keadaan hamil besar.

Takut terjadi hal hal yang tak diinginkan, Pak Mitro, ayah dari Mbak Patmi mendatangi salah satu orang pintar di desa itu. Mbah Atmo namanya. Oleh Mbah Atmo ini, Mbak Patmi dibuatkan sebuah gelang yang terbuat dari untaian ranting bambu kuning yang dipotong kecil kecil dan dijalin dengan menggunakan benang lawe. Tentu saja gelang tersebut juga telah dijampi jampi. Gelang itu segera dilingkarkan di pergelangan tangan Mbak Patmi, dan tidak boleh sampai lepas meski dalam kondisi apapun.

Sehari, dua hari, sampai tiga hari, tak ada kejadian apa apa. Kedua orang tua Mbak Patmipun mulai sedikit tenang. Demikian juga dengan Mbak Patmi. Ia yang memang kurang begitu percaya dengan hal hal yang berbau klenik, menganggap kalau kedua orang tuanya terlalu berlebihan.

Di hari ke empat, seperti biasa Pak Mitro dan istri pergi ke ladang sejak pagi. Sedang kedua adik Mbak Patmi pergi ke sekolah. Praktis Mbak Patmi di rumah sendirian.

Tak banyak yang bisa ia kerjakan, karena semua pekerjaan rumah telah diselesaikan oleh sang ibu sejak shubuh tadi. Ia sedang hamil, jadi kedua orang tuanya tak memperbolehkannya melakukan pekerjaan pekerjaan di rumah. Akhirnya ia hanya duduk duduk saja di kursi ruang tamu sambil mendengarkan lagu lagu dari radio transistor.

Sedang asyiknya Mbak Patmi menikmati alunan lagu dangdut, tiba tiba datang seorang nenek tua mengetuk pintu. Mbak Patmipun segera bangkit dan membuka pintu. Nyaris ia terpekik, saat di depannya telah berdiri seorang nenek tua bungkuk dengan tongkat bambu yang menyangga tubuh rentanya.

"Cari siapa Mbah?" tanya Mbak Patmi dengan suara sedikit gemetar. Tatapan mata nenek itu membuatnya sedikit merinding.

"Ah, tidak Nduk, ini, simbah cuma mau minta minum kalau boleh. Ini tadi dari sawah mau pulang kok tiba tiba merasa haus di jalan," jawab nenek itu dengan suaranya yang agak serak.

"Oh, boleh Mbah. Duduk dulu Mbah, biar saya buatkan teh," kata Mbak Patmi. Rasa gugupnya telah berangsur hilang, berganti dengan rasa trenyuh melihat nenek setua itu masih harus pergi ke sawah.

"Terimakasih Nduk, eh, tapi tunggu. Kamu ngapain pakai gelang seperti itu? Buang saja! Kayak wong edan pakai gelang begituan," seru nenek itu sambil duduk di balai balai bambu yang ada di teras rumah Mbak Patmi. Mbak Patmi hanya tersenyum, lalu segera beranjak ke dapur untuk membuat teh. Sambil mengaduk teh ia berpikir, sempat sempatnya itu nenek memperhatikan gelang yang ia pakai. Tapi mungkin memang terlihat aneh, gelang semacam itu memang tak lazim dikenakan oleh orang orang di desa itu. Jadi wajar kalau menarik perhatian si nenek bungkuk itu.

Tak butuh waktu yang lama untuk menyiapkan segelas teh hangat. Paling juga nggak sampai satu menit. Namun saat Mbak Patmi kembali ke teras, nenek yang tadi duduk di balai balai bambu itu telah raib entah kemana. Mbak Patmi mengedarkan pandangannya ke segenap penjuru halaman rumah, namun sosok yang dicarinya tak nampak batang hidungnya.

Kemana nenek itu? Batin Mbak Patmi. Tak mungkin si nenek bisa pergi secepat itu, mengingat untuk berjalan saja mesti dibantu dengan tongkat. Atau jangan jangan dia hanya pura pura. Dan ...

Pikiran buruk mulai melintas di benak Mbak Patmi. Ia segera meletakkan gelas yang dibawanya di atas balai balai bambu, lalu segera masuk ke dalam rumah. Seluruh sudut ruangan ia jelajahi, sampai ke kamar orang tua dan adik adiknya. Alhamdulillah, tak ada satupun barang berharga yang hilang.

Mbak Patmi lalu kembali duduk di kursi ruang tamu, sambil memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya. Sedikit aneh menurutnya. Seorang nenek datang hanya untuk minta minum, namun saat diambilkan justru tiba tiba menghilang. Dan yang lebih aneh lagi, kenapa seolah olah nenek itu tak menyukai gelang bambu kuning pemberian Mbah Atmo yang ia kenakan, sampai menyuruhnya untuk membuangnya?

Siapa nenek itu? Mbak Patmi merasa tak mengenalnya. Mungkin bukan warga desa sini. Kalau warga desa sini, pasti Mbak Patmi mengenalnya.

Ah, nantilah aku tanyakan pada bapak, pikir Mbak Patmi. Ia masih mengingat dengan jelas ciri ciri nenek tadi. Nenek tua bungkuk dengan wajah penuh keriput dan berjalan menggunakan tongkat bambu untuk menopang tubuhnya yang sudah renta.

Malam harinya, Mbak Patmi nampak sibuk mengacak acak tumpukan baju yang siang tadi dijemurnya. Sepertinya ia sedang mencari sesuatu. Mbok Mitro yang melihat tingkah anak sulungnya itu segera bertanya, "nyari apa to Nduk, kok diacak acak gitu pakaiannya?"

"Enggak Mak. Ini lho, kok celana dalamku nggak ada satu ya. Padahal tadi pagi sudah jelas jelas dicuci dan dijemur kok," jawab Mbak Patmi sambil masih terus sibuk membolak balik tumpukan pakaian di atas dipan.

"Sudah dicari di luar? Jangan jangan terbang terbawa angin," kata Mbok Mitro .

"Sudah Mak, malah sampai ke kebun tadi aku cari. Tapi nggak ada." sahut Mbak Patmi.

"Halah, cuma celana dalam sebiji saja lho, kok pada ribut," celetuk Parjo, adik Mbak Patmi.

"Bukan masalah celana dalamnya Jo, tapi kalau sampai jatuh ke tangan orang yang salah, bisa repot jadinya. Apalagi Mbakyumu itu lagi hamil," hardik Mbok Mitro pada Parjo, lalu menoleh ke arah Mbak Patmi, "coba kamu cari lagi yang bener. Jangan jangan nyelip dimana gitu."

"Sudah Mak, tapi tetep aja nggak ada. Atau ..., eh, jangan jangan ...."

"Jangan jangan apa Nduk?" tanya Mbok Mitro penasaran.

"Anu Mak, tadi siang ada nenek nenek bungkuk datang mau minta minum, eh, pas tak ambilin teh tiba tiba sudah nggak ada. Jangan jangan nenek itu yang ngambil celana dalamku."

Parjo dan Parni, kedua adik Mbak Patmi yang sedang asyik belajar tertawa serempak. "Hahaha, ada ada saja Mbakyu ini. Buat apa nenek nenek nyolong celana dalam?"

Lain tanggapan anak anak itu, lain pula tanggapan Pak Mitro. Ayah Mbak Patmi yang awalnya duduk santai sambil menikmati rokok tingwe itu mendadak menegakkan duduknya, seolah kaget mendengar penuturan sang anak.

"Seperti apa ciri ciri nenek itu Nduk?" tanya Pak Mitro. Mbak Patmipun menceritakan ciri ciri si nenek yang memang masih diingatnya dengan sangat jelas.

"Wah, nggak beres ini. Jangan jangan ....." Pak Mitro segera bangkit berdiri, lalu mengambil lampu senter di atas bufet. "Aku mau ke tempat Mbah Atmo dulu. Ndak enak perasaanku. Jangan jangan ini masih ada hubungannya sama peristiwa kemarin yang kamu nekat pergi ke Tegal Salahan itu."

Laki laki itu segera berjalan menuju ke arah pintu. Namun belum sempat ia meraih gagang pintu untuk membukanya, pintu sudah diketuk dari arah luar.

Ah, siapa pula yang bertamu malam malam begini, Pak Mitro segera membuka pintu, dan betapa terkejutnya ia saat tahu siapa yang telah berdiri di depan pintu.

bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
YossudarsoBoy92 dan 35 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
profile picture
Yang didepan pintu adalah tukang tahu bulat yg ingin menawarkan dagangannya......... wkwkwk. Lanjut gan seru nih
profile picture
pulaukapok
kaskus geek
Gaskeeeeeee
profile picture
ceritanya mantep2 nih gan.. serem2 euy..
profile picture
TS indrag057 
KASKUS Plus
@axxis2sixx alhamdulillah, thank's gan
profile picture
1980decade
kaskus maniac
Setting cerita mengingatkan ane ke masa kecil emoticon-Malu (S)
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di