CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Enggan Berlalu Di Pagi Haluu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f1d7e0409b5ca2cac14bf76/enggan-berlalu-di-pagi-haluu

Enggan Berlalu Di Pagi Haluu



Prolog

Mungkin, sesuatu yang sangat kita mimpikan, tidak selalu ingin diwujudkan. Terkadang mimpi itu malah semakin menghilang, mengajari kita untuk melawan kerasnya rindu.

Sendiri bersama kopi, pasti banyak orang yang pernah merasakannya. Di pagi hari yang dingin atau di senja hari yang hangat, di keramaian rutinitas mesin kota dan di manapun itu. Mungkin banyak orang yang pada saat ini sedang merasakannya. Terkecuali, untuk sebagian orang yang tidak suka minum kopi. Mereka pasti sedang khusyuk sendiri bersama teh, air putih, bir item, bir putih, aer oksigen, susu beruang, atau apapun itu. Tetapi minuman hanyalah sebuah minuman. Karena lembaran lembaran suatu kenanganlah yang membuat kita tidak bosan untuk menikmati kopi hangat ditengah kerinduan. Buat gw, kenangan adalah teman sejati untuk tersenyum, di dalam hati yang sedang kesepian.

Suatu pagi, di bulan juli th.2016
Gw duduk di sebuah teras, menatap cangkir kopi yang dari tadi tidak bosan gw aduk, aduk dan aduk. Bukan untuk melarutkan kopi, tapi untuk melarutkan kesedihan di dalam hati. Dan gw buka sebuah surat yang tergeletak di atas meja. Surat yang seminggu lalu diantarkan oleh seorang petugas jasa pengiriman.

Isinya :

Dear Usman.

Terima kasih, atas setiap detik yang pernah kita lewati bersama. Untuk setiap uap dari euphoria yang pernah kita buat bersama.

Aku hanya ingin bilang...
Esok adalah hari dimana aku menjadi bagian dari takdirnya, berbagi kebahagiaan di kehidupannya, serta menjadi sosok pertama yang ia tatap tatkala ia membuka mata di setiap pagi.

Mungkin saat ini kita adalah dua buah anak sungai yang terpisah. Yang dahulu kita adalah satu, kini kita harus menjalani alur sungai kita masing-masing. Tetapi akan ada saatnya bagi kita tuk bertemu lagi. Di lautan lepas, tempat dimana kita sudah saling mengikhlaskan serta membahagiakan cinta terakhir kita. Meskipun itu bukan kamu, aku bersyukur, karena kita telah menukar unsur air di dalam sungai kita, di kala sungai kita masih bersama.

Percayalah,
Aku telah membunuh mimpi kita, untuk mengubahnya menjadi kenangan.

Adel
10/07/2016

Setelah membaca itu. Gw tersenyum. Senyum yang seolah-olah menjadi talang untuk air mata gw yang jatuh, meski hanya satu tetes. Gw pejamkan mata, seperti baru kemarin tahun 2005. Tahun pertama kali gw rasakan jatuh cinta.


Index :
Part 1 - Jim Morrison
Part 2 - Bidadari lapar
Part 3 - Jemari yang mungil
Part 4 - Aroma buah stroberi
Part 5 - The Beatles di warung jamu
Part 6 - Gelas demi gelas
Part 7 - Happy Birthday Kurt
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tanpa.arah dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh simanusiakupluk

Masih Part 7 - Happy Birthday Kurt

Gw melihat Adel begitu damai, sungguh sejuk wajahnya. Saat Adel terdiam pun gw masih bisa meresapi wajah nya yang seraya tersenyum menemani gw saat ini.

"Gw baru tau, ternyata begini ya rasanya pake ecim." Ucap gw seketika.

"Hi hi hi elo tadi pake sok2an ngga mau segala. Emang apa yang lo rasa sekarang Man, enjoy kan?" Ucap Adel yang duduk di sebelah gw, menekukkan lututnya dan menatap gw.

"Huuff..." Gw menghembuskan nafas sejenak.

"Laper, lemas. Tapi gw bahagia Del, pikiran gw tenang banget." Ucap gw.

"Hehe sama gw juga laper kok, emang gini Man, tapi jangan makan dulu, nanti malah ilang efeknya kalo makan hi hi.," Ucap Adel.

"Oh gitu ya Del.. baru tau gue He He." Ucap gw.

"Kalau mau ngopi aja, atau nge teh. Gw buatin ya?" Ucap Adel.

"Tunggu2 deh.." Ucap gw, yang berlagak menggerakan tangan seolah menahan tawaran Adel.

"Kenapa?" Tanya Adel.

"Sepertinya ide bagus tuh wkwkwk." Ucap gw lagi yang memang berniat bercanda.

"Wkwkw lo emang bener2 ngeselin ya." Ucap Adel menoyor pelan kepala gw. Dan ia pun berlalu masuk kedalam membuatkan minuman hangat.

Gw tertawa selepas membercandai Adel. Sambil menunggu ia membuat minuman, gw menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Tak lama Adel pun kembali dengan membawakan secangkir kopi panas.

"Ekheemm..." Suara Adel yang gw tahu sengaja batuk.

"Kenapa lo ?" Tanya gw.

"Itu kopi Man." Ucap Adel.

"He He gw tau kopi, siapa yang bilang es buah." Ucap gw.

"Ah elah lo, lagi giting kayak gini aja masih sempet ya bikin gw bete." Ucap Adel, seperti biasa ia mencari2 lengan gw untuk ia cubit. Namun sayang, gw lebih dahulu menghindar.

"Orang mah coba in kek, trus bilang enak sama makasih gitu." Ucap Adel lagi.

"Yeelah Del, gw bilang makasih kok. Dari hati wkwkw.. lagian tu kopi masih panas Del. Lo tega bener kalo nyuruh gw langsung minum." Ucap gw.

"He he .. bener juga ya, ga kepikiran gw." Ucap Adel.

Gw dan Adel sempat terdiam bersama. Gw akui gw cukup terhanyut oleh keadaan saat ini, dimana badan gw terasa ringan, pikiran tenang dan kesenangan yang menyelimuti perasaan gw.

Sekilas gw juga memandangi Adel yang kedua matanya seperti orang sakit mata, melihat rambut hitamnya yang terurai agak kusut, serta bagian kulit lengan atau wajahnya yang bisa gw bilang sangat cerah, seolah memancarkan kilauan indah di kedua mata gw.

Kadang gw berpikir semua ini hanyalah mimpi indah yang membias memasuki ranah kenyataan dalam hidup gw. Tetapi semua hal indah yang gw rasakan saat ini memanglah nyata. Adel dengan semua kelembutan yang berjalan kontras dengan kenakalannya adalah sesuatu yang mutlak di hadapan gw. Dimana gw harus menerima realita ini, memahami bahwa ia mampu mengguncang logika gw terhadap sebuah persepsi. Karena ia memanglah ada dan berlangsung di hadapan gw, berbicara, tersenyum, serta bernafas dengan oksigen yang berada tak jauh di antara oksigen yang gw hirup pula. Terima kasih Del, karena detik ini gw seperti merasakan lo lebih dekat.

"Gue suka sama lo Del." Ucap gw, Mengatakan kejujuran yang selama ini terpendam. Namun sayang, gw mengucapkan itu hanya di dalam hati, tatkala gw memandang tatapan matanya yang lembut.

Gw terlalu lemah untuk sebatas berkata jujur. Dan terlalu takut, untuk kehilangan rasa nyaman ini.

"Hehehe jangan bengong gitu dong, males deh." Ucap Adel.

"He He lagi nikmati suasana gue." Ucap gw.

"Ngelawak dong ngelawak." Ucap Adel meminta gw tuk melawak.

"Aduuh ngga ada yang lucu aja elo udah cengar cengir tawa tiwi dari tadi." Ucap gw.

"Hahahaha kayak lo nggak aja sih Man." Ucapnya menepuk pelan bahu gw dengan gontai.

"Del nanti kado nya nyusul ye, lo ultah ngga ngabarin jauh2 hari si." Ucap gw.

"Santai aja, emang sengaja biar surprise lo Man." Ucap Adel.

"Yee lo mah aneh, kan lo yang ulang tahun Del, napa lo yang kasih surprise ke gw." Ucap gw.

"Hmmm.. iya ya,, kok lu tumben bener sih wkwkkwk." Ucap Adel.

"Hehe iyalah gue." Ucap gw.

"Wkwkww mulai deh, songong." Ucap Adel.

Gw dan Adel tak henti2nya bercanda di malam ini, malam saat ia merayakan ulang tahunnya ke 17 bersama gw seorang. Malam yang hening tapi terasa ramai. Ramai walau dalam hati gw merasa sedikit hening. Mungkin karena gw masih belum mampu berkata jujur terhadap apa yang gw rasa terhadap Adel. Namun setidaknya gw bisa tertawa lepas bersamanya di sebuah malam yang sederhana ini, dan mampu untuk membuat gw lupa mengucapkan happy birthday Kurt, seperti tahun2 sebelumnya.
profile-picture
rayelba memberi reputasi
Diubah oleh simanusiakupluk
profile picture
rayelba
kaskuser
Selamat ulang tahun Del😆
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 2 dari 2 balasan
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di