CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
AMOR & DOLOR (TRUE STORY)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f5f6244c820845955009f6e/amor-amp-dolor-true-story

AMOR & DOLOR (TRUE STORY)

Selamat Datang di Trit Kami

私のスレッドへようこそ




TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI YANG TELAH GANSIS READERBERIKAN DI TIGA TRIT GUE DAN EMI SEBELUMNYA. SEMOGA DI TRIT INI, KAMI DAPAT MENUNJUKKAN PERFORMA TERBAIK (LAGI) DALAM PENULISAN DAN PACKAGING CERITA AGAR SEMUA READER YANG BERKUNJUNG DI SINI SELALU HAPPY DAN TERHIBUR!


Quote:


Spoiler for MUARA SEBUAH PENCARIAN (TAMAT):


Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (ONGOING):


Spoiler for PERATURAN:


Spoiler for FAQ, INDEX, MULUSTRASI, TEASER:



HAPPY READING! emoticon-Cendol Gan


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
d0dittt dan 45 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

The Journey Begin

“Lo lagi becanda sama gue kan? Zy, gue lagi nggak mood becanda. Kalau emang lo itu mau kasih gue undangan nikah, nggak usah sok kayak Kuch Kuch Hota Hai gitu lah!” Katanya. Dia mengambil HP. Kayaknya dia mau pulang sendiri buat menghindari gue.

Gue pegang pergelangan tangan kanan dia, yang mana sedang menggenggam HP. Gue urungkan niat dia untuk kembali menghindar dari gue. “Dengerin aku dulu. Ayo pulang bareng aku. Kita ke rumah kamu.”

“Ngapain jadi ke rumah gue sih?”

“Kenapa emang? Bokap masih nerima aku kok. Nerima aku jadi calon suami kamu juga dia welcome banget malah.”

“Apa-apaan sih lo?” ujarnya setengah nggak percaya

“Gue buktiin kalau gue emang beneran mau nikahin lo.”

Gue ambil HP gue. Gue telepon orang paling penting di hidup gue, setelah ibu dan adik gue. “Halo? Assalamualaikum, Om Reza…” Gue sengaja membuat pembicaraan gue dan Om Reza bisa didengar oleh Emi dengan mengaktifkan loudspeaker HP gue.

“Kok Om Reza?” Gue bisa mendengar Emi berbisik ke gue karena dia nggak ngerti kenapa gue malah menelepon Om Reza. Mungkin dia bingung apa yang mau gue buktiin ke dia.

“Walaikumsalam… Ada apa, Ja? Tumben nelepon.”

“Om…” Sebenernya gue juga belum tau harus mulai darimana gue cerita ke Om Reza. Gue biasanya berbincang sekaligus berdiskusi oleh beliau secara langsung di rumah beliau. Jadi mungkin hal yang nggak biasa banget dilakuin oleh gue menelepon beliau seperti ini. Kecuali untuk kondisi emergency. Dan buat gue, saat ini adalah kondisi emergency.

“Iya, Ja?”

“Om, Ija mau nikah. Ija mau minta restu Om sebagai pengganti Papa kalau Ija mau nikahin Emi, Om.”

“Kamu udah mantapkan hati? Yakin ya dengan pilihan kamu? Alhamdulillah. Apalagi kalau kamu dengan Emi. Om Reza dan Tante Nadine juga merasa kalian berdua itu klop banget, walaupun memang kita jarang ketemu kan.”

“Iya, Om. Minta restunya ya, Om. Ija udah bilang sama Mama dan Dania juga.”

“Insyaallah Om kasih restu buat kamu, Ja. Jadi apa lagi yang membuat Om untuk berpikir dua kali? Asal jangan lupa kuliah kamu beresin cepetan, ok?”

“Makasih banyak ya, Om…”

“Rencananya kapan, Ja?”

“Lagi coba disusun dulu jadwalnya Om. Ija mau minta masukan dari Mbah juga untuk tanggal bagusnya. Ija harap sih sekitar awal atau pertengahan tahun depan.” Gue melirik ke Emi ketika gue mengatakan kapan tanggal yang sudah gue rencanakan diam-diam.

Sebenarnya rencana ini sudah gue susun dengan mindset kalau gue akan menikah dengan siapapun yang menerima lamaran gue. Entah itu Ara ataupun Emi. Tetapi ketika gue telah memantapkan hati gue untuk meminang Ara, ternyata hati gue jatuh ke Emi lagi.

Siapa sangka kalau semua rencana pernikahan yang sudah gue rencanakan di dalam benak gue itu malah akan gue laksanakan dengan cewek yang memang paling gue cintai, setelah ibu dan adik gue? Bukan Keket, bukan Dee, ataupun Ara. Tapi Emi. Cewek sederhana yang malah bisa melengkapi keseluruhan hidup gue.

“Jangan terburu-buru, tetapi jangan ditunda terlalu lama juga ya, Ja. Pastikan itu di waktu yang tepat.”

“Insyaallah Ija nggak buru-buru, Om. Tapi Ija juga nggak mau nunda lama-lama lagi. Ija nggak mau nanti jodohnya keburu diambil orang. Hahaha.”

“Tuhan itu udah menentukan jodoh untuk masing-masing umat-Nya. Nggak akan mungkin jadi saling berebut. Dan nggak akan mungkin juga nggak kebagian, apalagi sampai memilih yang sama jenisnya. Pokoknya Om mau kamu bener-bener yakinin diri kamu. Ja, menikah itu kalau bisa hanya satu kali dalam hidup. Jadi jangan sampai kamu salah memilih atau terburu-buru membuat keputusan ya.”

Gue menatap mata Emi yang keliatan masih nggak percaya dengan semua pembicaraan yang dia dengar antara gue dengan Om Reza. “Insyaallah, Ija udah yakin, Om.”

“Baik kalau gitu. Om kasih restu kok. Om tunggu kabar baik lainnya ya, Ja. Om mau Magriban dulu.”

“Oh iya, Om. Baik, Om. Nanti Ija kabari lagi. Ija tutup dulu ya, Om. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Salam buat Emi dan keluarga ya, Ja.”

“Iya nanti Ija sampaikan, Om.”

Gue simpen HP gue ke kantong celana jeans gue yang kini sudah kotor di bagian bawahnya karena terkena kubangan air dari rusaknya jalanan sekitar stasiun malam itu. Gue menarik napas dalam-dalam. Gue yakinkan diri gue kalau memang ini jalan terbaik yang akan dan seharusnya gue jalani selama ini.

“Gimana, Mi?”

“Aku masih sangat berusaha untuk mencerna semuanya, Zy.” Dia masih kelihatan kebingungan.

“Mencerna apa lagi? Ayo naik motor aku dulu. Kita omongin di rumah.”

“Kelamaan ngomongin di rumah.”

“Kita omongin di jalan kalau perlu.” Gue tarik lengan Emi untuk segera naik ke motor gue. Makin malam, para RoKer (Rombongan Kereta) semakin banyak yang turun di stasiun. Membuat keadaan di sekitar stasiun ini sangat tidak kondusif untuk kami berdialog.

“Ceritain semuanya. Bener-bener semuanya. Gue nggak bisa main terima begitu aja lamaran cowok cuma karena orangtua kita ngerestuin kita, Zy. Emang ini jamannya Siti Nurbaya segala jodoh-jodohan?”

Gue diam sesaat. Gue lirik Emi dari spion kiri gue. Gue liat, dia masih terlihat kebingungan, sedih, marah, dan lelah bercampur menjadi satu. Gue kayaknya confess ke dia di waktu yang nggak tepat. Siapa yang tau apa yang udah dia lalui selama dia jauh dari gue? Atau apa yang dia rasain hari ini, tepat sebelum gue menyatakan pada dia kalau gue akan menikahi dia.

“Mi. Emang kamu nggak mau nikah sama aku?” Tanya gue ke Emi.

“Aku…”

“Jujur aja.”

Gue sebenernya sangat belum siap menerima penolakan. Penolakan sebelumnya dari Ara memang membekas di diri gue karena saat itu Ara adalah orang yang memang gue tuju. Tetapi kalau kali ini gue dapet penolakan dari Emi, gue nggak paham lagi hati gue ini akan sekuat Emi atau nggak menerima kenyataan itu. Tapi gue ingin tau, apa yang benar-benar Emi rasakan dan inginkan. Jadi, nggak ada salahnya gue menanyakan ke dia, kan?

“Aku mau kok nikah sama kamu, Zy. Dari awal pun aku udah mau nikah sama kamu. Tapi jalannya sulit. Perjalanan menuju pelaminan bersama kamu itu sangat sulit. Mungkin kalau ini semua tentang cewek, aku masih bisa lebih tegar atau mungkin aku bisa maksa kamu milih. Tapi ini jadi berasa suliiiit banget, Karena aku harus berhadapan sama keluarga kamu. Aku…”

“Aku apa lagi? Bingung apa lagi?”

“Aku bingung. Kalau aku nerima lamaran kamu saat semua permasalahan yang selama ini aku hindarin, malah aku rasain lagi. Aku lagi capek banget, Zy. Aku capek diperlakukan begitu terus. Aku capek berasa berjuang dan cinta sendiri di hubungan ini. Walaupun hati aku nggak bisa bohong kalau aku sangat sayang dan cinta sama kamu. Tapi aku nggak bisa maksa hati aku yang udah lelah ini untuk terus berjuang cuma karena ego aku itu—”

“Kamu nggak akan berjuang sendiri lagi! Kamu nggak pernah cinta sendiri! Ada aku, Mi! Ada aku!” potong gue.

“Kamu bisa janji sama aku kalau kamu bakalan berubah dengan berani tanggung jawab buat semua yang terjadi selama ini? Berani menghadapi keluarga kamu tentang apa yang sebenarnya terjadi dan sebenarnya kamu rasain tanpa mikir ‘gue males ngurusnya…’?”

Gue menggenggam tangannya. “Aku janji, selama ada kamu di sisi aku. Aku janji, Mi. Cuma kamu kunci kekuatan hidup aku sekarang. Mi, jangan pergi lagi ya? Sama aku terus ya, Mi? Jangan pernah tinggalin aku lagi? Nikah sama aku.”

“Zy. Maaf aku masih belum yakin. Nggak semudah itu nerima balik…”

“Butuh bukti apa lagi, Mi? Bahkan bokap—”

“Papa aku kenapa? Kamu belum cerita gimana kamu bisa ngelamar aku duluan ke Papa aku tanpa sepengetahuan aku…”

FLASHBACK

Quote:


END OF FLASHBACK

“Kalau kamu nggak percaya, nanti di rumah kamu tanya langsung ke Papa kamu…”

“Aku masih bingung mau ngerespon apa…”

“Nggak perlu respon apapun. Cukup yakinin lagi hati kamu kalau kamu mau balik lagi sama aku dan nggak akan pernah pisah lagi sama aku.”

“Zy! Udah ah! Apaan sih lo? Kenapa jadi sok desperate begitu? Drama banget! Males bener dengernya.”

“Gue rela sok desperate begini demi bisa dapetin lo lagi, Mi.”

“Gue nggak suka sok dikejar kayak begitu.”

“Tapi kalau gue nggak ngejar lo, lo bisa aja nggak nerima gue lagi kan, Mi?”

“……”

“Jawab, Mi!”

“Aku sayang sama kamu. Aku sangat amat sayang sama kamu, Zy. Tapi… Aku nggak punya pegangan apapun, kalau kamu bener-bener mau berubah.”

“Aku janji…”

“Janji apaan?”

“Apa mau kamu?”

“……”

“Mi?”

“Aku punya syarat kalau kita mau ngelanjutin pernikahan ini, Zy. Ada dua syarat. Dan kamu harus milih salah satunya.”
profile-picture
profile-picture
profile-picture
namikazeminati dan 32 lainnya memberi reputasi
profile picture
tom122
kaskus addict
Hmmm mulai lehai dia menjeda part, kentang di siang bolong euy
profile picture
TS yanagi92055
kaskus maniac
@tom122 kalo kebanyakan ntar lieur bacanya bre wkwkwk
profile picture
Martincorp
kaskus addict
Ane tau nih syarat yang diminta sis Emi nih...wkwkwkwk
profile picture
@Martincorp minta keperjakaan pirji buat emi yak....wkwkwk...
profile picture
pulaukapok
kaskus addict
Lanjjoooottt
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 5 dari 5 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di