CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Female / Wedding & Family /
ANTARA IBU, ISTRI DAN WANITA PENERUS KETURUNANKU
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f5970af7e3a723f7a5f1de0/antara-ibu-istri-dan-wanita-penerus-keturunanku

ANTARA IBU, ISTRI DAN WANITA PENERUS KETURUNANKU



Terinspirasi dari kisah nyata peliknya kehidupan berumahtangga.

ANTARA IBU, ISTRI DAN WANITA PENERUS KETURUNANKU


Widya yang pertama kali membuat aku jatuh cinta, dia yang pertama kali membuatku mengerti arti pengorbanan, dia juga yang mengajariku tentang keikhlasan.

Awalnya kami cukup bahagia dengan kehidupan rumahtangga kami sampai munculnya banyak pertanyaan kapan, kapan dan kapan punya anak.

Lima tahun berlalu tapi kami tak kunjung dikarunia anak. Ibuku sudah mulai ribut, mengingat aku adalah anak lelaki satu-satunya.
Quote:

Aku dan Widya sepaham anak memang penerus keturunan tapi memiliki anak bukan satu-satunya tujuan pernikahan. Konseling pernikahan yang pernah kami ikuti mengatakan ada banyak tujuan pernikahan, selain meneruskan keturunan juga sebagai sarana belajar mengasihi dengan tulus, belajar bekerja sama dan belajar bersabar.

Tepat di ulang tahunnya yang ke 35, setelah 8 tahun usia pernikahan kami, Widya meminta kado.
Quote:

Sebenarnya aku sudah berkali-kali menyarankan agar kami mengadopsi seorang anak tetapi Widya menolak, alasannya dia tidak siap membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Quote:

Bagaimana mungkin? Kami berdua sudah pasrah untuk tidak memiliki anak kandung. Dokter sudah mengatakan kalau Widya mandul. Widya punya cacat bawaan di rahimnya namun keadaan ini tidak mengurangi sedikitpun cintaku pada Widya.
Quote:

Meyli, seorang gadis muda yang bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket dekat kantor. Tak ada yang istimewa dari dia kecuali Rudi yang sering menggodanya jika kami membeli rokok disana. Rudi, teman kantorku, mengenalnya karena rumah kontrakan mereka berdekatan.

Hingga suatu waktu sekitar jam 9 malam, aku mau pulang setelah lembur, hujan turun dengan derasnya hingga aku terhalang untuk berjalan ke parkiran. Tidak jauh dari tempatku berdiri, Meyli juga sedang menunggu hujan reda. Karena sudah saling kenal, malam itu kami berbincang sambil menunggu redanya hujan.
Quote:

Meyli bersedia mengandung anakku karena dia butuh uang. Gajinya di minimarket tidak cukup untuk membiayai hidup dan menyekolahkan kedua adiknya. Meyli adalah anak yatim piatu. Ayahnya sudah lama meninggal, disusul kematian ibunya 3 tahun lalu ketika dia masih duduk di kelas 2 SMA.

Kesepakatan antara Widya, Meyli dan akupun terjadi. Setelah Meyli melahirkan seorang anak laki-laki, aku dan Widya langsung mengadopsinya.
Widya sangat senang dengan kehadiran Jojo. Meyli pun terlihat tulus menyerahkan Jojo kepada Widya. Sebagai balasannya aku membelikan Meyli sebuah rumah untuk ditempati bersama kedua adiknya dan membiayai sekolah kedua adiknya.

Sikap ibu kepada Widya semakin sinis sejak kami mengadopsi Jojo tapi Widya tidak terlalu mempedulikannya karena kesibukannya mengurus Jojo. Widya sangat menyayangi Jojo. Aku melihat cinta yang tulus yang diberikannya kepada anak itu.

Ibu juga tidak suka kepada Jojo dan kerap menjuluki Jojo anak yang tidak jelas asal usulnya bahkan ibu tidak mau mengakui dirinya sebagai neneknya Jojo.

Karena kekesalanku pada sikap Ibu akhirnya aku mengungkapkan jatidiri Jojo. Ibuku terkejut sekaligus senang. Sejak saat itu sikapnya langsung berubah 180 derajat bahkan mulai membangga-banggakan Jojo di depan keluarga.
Quote:

Kukira setelah mengetahui rahasia ini sikap Ibu terhadap Widya menjadi lebih baik, nyatanya ibu semakin tidak menganggap Widya.

Ibu kerap mengundang Meyli ke rumahnya. Tutur laku Meyli membuat ibu semakin menyukainya bahkan ibu menyuruhku untuk segera menikahinya.

Kadang otakku memikirkan tubuh Meyli tapi hatiku masih melekat kepada Widya. Aku mencintai Widya, bahkan ketika aku memutuskan meniduri Meyli karena semata-mata aku tidak sanggup menolak permintaannya.

Widya adalah cinta pertamaku. Kala itu kami masih kelas 3 SMP. Pada kertas surat wangi berlogo hati berwarna merah jambu aku ungkapankan semua perasaanku kepadanya.

Walaupun ungkapan cinta yang kusampaikan dibalas dengan penolakan, namun tidak menyurutkan niatku untuk tetap menunggunya. Masa SMP berakhir, SMA berlalu, kuliahpun sudah lulus namun dia tetap pada pendiriannya, demikianpun aku. Dia tetap menolakku bahkan semakin membenciku tapi aku tetap menunggunya.

Takkan lari gunung dikejar, mungkin itu pepatah yang tepat untukku. Berawal dari reuni teman SMP, komunikasi kami semakin membaik. Mungkin karena kami sudah semakin dewasa, bukan ABG lagi. Seiring waktu berjalan kami merasa ada kecocokan hingga akhirnya sepakat menuju jenjang pernikahan.

Aku kira semua akan lebih baik ketika Jojo hadir dan memberi kebahagiaan untuk Widya. Tetapi nyatanya masalah semakin kompleks karena Ibu memaksaku untuk menikahi Meyli dengan alasan menginginkan cucu.
Quote:

Malam itu kami saling diam, tidak bicara sepatah katapun. Aku tahu Widya sangat tertekan dengan perlakuan ibu tapi aku yakin dia sanggup bertahan.
Quote:

Secepat kilat aku menuju Rumah Sakit yang diberitahu adikku.
Ibuku kena serangan jantung ketika dia sedang membereskan bunga-bunga di taman samping rumah.

Beruntung akhirnya ibuku siuman. Setelah kondisinya stabil, dokter memperbolehkannya masuk ruang perawatan.

Sabtu sore aku mengajak Widya dan Jojo yang berusia 4 tahun untuk menjenguk ibu. Tak disangka Meyli juga sudah ada disana. Aku melihat perlakuan ibu kepada Meyli sangat kontras dengan perlakuannya kepada Widya. Ibu sengaja meminta Meyli menyuapinya. Aku melihat kekecewaan yang besar di mata Widya. Kuputuskan segera pulang bersama Widya dan Jojo.
Quote:

Sialnya ibu juga sudah mengatakan tentang pernikahan ini kepada Meyli. Dan anehnya Meyli pun menyanggupinya padahal aku tahu Meyli sudah memiliki calon suami. Semudah itukah Meyli memutuskan Tono?

Widya menyadari keadaan yang semakin rumit ini. Dia memintaku segera mengurus perceraian kami agar aku bisa menikahi Meyli seperti keinginan ibu. Ucapannya membuatku benar-benar marah. Belum pernah aku semarah ini kepadanya, malam itu aku meninggalkan rumah, kulaju kencang mobilku tanpa tahu arah.

Aku bingung, terjebak dalam permainan yang rumit. Aku tidak bisa menyenangkan hati tiga perempuan sekaligus.
Jelas saja aku ingin berbakti kepada ibuku, disisi lain aku ingin selalu bersama dengan cinta pertamaku dan aku juga ingin melihat kebahagiaan wanita yang menjadi penerus keturunanku.

Malam semakin larut ketika aku keluar dari rumah membawa perasaan marah terhadap Widya, jadi kuputuskan datang ke rumah Meyli. Meyli menyambutku dengan baik dan lembut.

Sejak pertengkaran itu hubunganku dengan Widya menjadi kaku, sebaliknya hubunganku dengan Meyli semakin dekat. Aku menjadi semakin tertarik dengan Meyli dan entah kenapa aku mulai cemburu setiap kali dia bercerita tentang Tono. Aku semakin sering menginap di rumahnya.

"Kalian menunggu apa lagi? Meyli bilang kamu sudah sering menginap di rumahnya.",kata ibu suatu kali.

Aku bertambah bingung dengan semua keadaan dan perasaan ini. Bukankah seharusnya aku tidak perlu merasa bersalah kepada Widya karena semua ini berawal dari permintaannya?

Mendapat restu dari ibu, sikap Meyli padaku mulai berubah. Dia minta hubungan kami harus segera diresmikan. Dia sudah tidak segan bergelayut manja padaku walaupun aku merasa agak risih.
Quote:

Kami tidak pernah membicarakan apapun sejak pertengkaran itu, hanya saja hubungan kami tidak sehangat dulu dan aku juga mulai sibuk dengan Meyli.

Hari itu otakku mumet jadi kuputuskan pulang lebih awal dari kantor. Aku berniat akan membicarakan masalah ini dengan Widya walaupun sebenarnya aku tidak tahu keputusan apa yang akan kubuat. Kulaju mobilku menuju rumah dan ketika hampir tiba kulihat mobil Widya keluar pagar, karenanya kuputuskan berkunjung ke rumah Meyli saja.

Aku memarkir mobilku agak jauh dari rumah Meyli karena jalan ditutup, katanya ada warga yang meninggal.

Pagar sedikit terbuka, mungkin Meyli lupa menguncinya. Sesaat sebelum aku mengetuk pintu, sayup-sayup kudengar pembicaraan mereka, Meyli dan Tono.

Kuurungkan niat masuk ke rumah itu. Aku kembali ke mobil dan mencoba menelpon Meyli. Aku mengatakan akan berkunjung ke rumahnya.
Quote:
Aku memang memberinya sebuah minimarket untuk dikelola sendiri sebagai sumber mata pencahariannya.

Lalu kuputuskan mengunjungi ibu. Ada rasa yang bercampur aduk di dada setelah mendengar pembicaraan Meyli dan Tono. Awalnya ingin kuungkapkan kepada Ibu tapi urung kulakukan.
Quote:

Aku hanya mengangguk dan sebenarnya kesal dengan kata mandul yang kerap diucapkan ibu mengenai Widya.
Quote:

Adikku pernah mengatakan agar jangan terlalu membebani pikiran ibu supaya sakitnya tidak kumat. Aku jadi serba salah jika melihat ibu menangis. Aku sangat menyayangi ibu, ibulah yang berjuang mati-matian untuk menyekolahkan kami bertiga sejak kematian ayah ketika aku masih duduk di bangku SMP. Aku dan kedua adikku berhasil menjadi sarjana, semua karena pengorbanan ibu. Bersyukur kami bertiga punya pekerjaan yang bagus saat ini, termasuk aku yang menjadi salah satu pemimpin di BUMN dan memiliki beberapa minimarket yang dikelola Widya. Salah satu minimarket itulah yang kuberikan kepada Meyli.

Setelah menyantap makan malam di rumah ibu kuputuskan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ternyata Widya belum pulang. Jojo ditinggal di rumah berdua dengan Bi Imah. Tumben sekali, baru kali ini dia tidak membawa serta Jojo jika sedang keluar.
Quote:

Aku semakin penasaran kemana perginya Widya. Kuambil ponsel dan mencoba menghubunginya berkali-kali tapi tidak diangkat.

Kemudian tidak berapa lama bunyi klakson mobilnya terdengar. Jojo langsung memeluk maminya penuh kerinduan.
Quote:
.
Aku selalu menyukai sikapnya yang tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

Menyadari Jojo yang ketakutan akhirnya akupun diam. Kubiarkan Widya membimbing Jojo masuk kamar.
"
Quote:

Aku terdiam, Widya benar-benar serius dengan perceraian ini.
Quote:

Segera kami berangkat ke rumah sakit, Jojo tinggal di rumah bersama Bi Imah.
Quote:
.
Sekarang ibu sudah di ruang perawatan, semua anak dan menantunya berkumpul, Meyli juga ada disana. Aku melihat wajah Widya yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Meyli, sementara Meyli berusaha dekat dengan ibu.

Karena keadaan ibu yang sudah membaik, aku dan Widya memutuskan pulang. Malam itu adik bungsuku dan Meyli yang menunggui ibu di rumah sakit. Meyli menawarkan diri untuk menjagai ibu dan ibu menyetujuinya.

Quote:

Tak ada sepatah katapun kuucapkan sepanjang perjalanan pulang. Aku sedang menetapkan hatiku untuk membuat keputusan.

Setelah 3 hari dirawat akhirnya ibu pulang ke rumah. Kuajak Widya untuk menemui ibu yang baru pulang dari rumah sakit.
Quote:


Belum pernah dia menjawab aku seemosi itu. Widya keluar dari kamar dan tidur di kamar Jojo.

Malam itu kubatalkan ke rumah ibu, aku hanya menelpon menanyakan keadaannya.

Pagi tiba dan saatnya aku ke kantor. Sejak bangun tadi aku belum melihat Widya dan Jojo. Kata Bi Imah, mereka pergi pagi-pagi sekali, ada acara jalan-jalan dari sekolah Jojo. Akh, ayah macam apa aku ini sampai tidak tahu apa-apa tentang kegiatan anak sendiri.

Sesaat sebelum berangkat ke kantor, ponselku berdering. Ternyata dari pengacara yang ditemui Widya kemaren. Kami sepakat bertemu pada jam istrahat makan siang.

Dua hari kemudian aku kembali mengajak Widya ke rumah ibu. Aku meyakinkan ini permintaanku terakhir kepadanya, setelahnya aku tidak akan pernah memaksanya lagi. Akhirnya Widya bersedia, mungkin karena dia tahu aku sudah bertemu dengan pengacara itu.
Quote:

Widya melempar senyum kepada ibu tapi ibu hanya membalas senyum tipis. Begitulah sikap ibu kepada Widya dan aku tahu Widya sudah cukup sabar dengan perlakuan ibu.
Quote:


Ibu marah sekali, sambil menunjuk Widya berkata
Quote:

Seketika Widya menangis, jelas sekali hatinya terluka.
Quote:

Kutinggalkan Ibu yang sedang menangis bersama adikku.

Aku merasa sangat berdosa karena membuat Ibu menangis, aku menyesal tapi aku harus segera membuat keputusan.

Keesokan harinya kuputuskan tidak masuk kantor. Paginya kuantar Jojo ke sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah Jojo bercerita kalau ibu pernah menyuruhnya memanggil Meyli dengan sebutan "Mama", bukan "Tante". Aku kaget mendengarnya.

"Trus Jojo bilang apa sama nenek?"

"Jojo bilang mama Jojo itu mami, bukan Tante Meyli. Jojo cuma sayang sama mami. Mami juga sayang sama Jojo",katanya

Sesampai di rumah kudapati Widya sedang merapikan kamar Jojo. Segera kupeluk dirinya dan kubisikkan kata maaf di telinganya.
Quote:

Sekarang aku mengetahui hubungan Meyli dan Tono. Tono adalah cinta pertama Meyli sekaligus lelaki yang merenggut kegadisannya. Sialnya, mereka berdua mempunyai rencana licik atas pernikahanku dengan Meyli, mereka ingin menguasai hartaku jika aku dan Meyli menikah.
Quote:


Terimakasih, jangan lupa tinggalkan jejak berupa, cendol, rate, dan share. Salam Belajar Bersama Bisa
Ini cerpen atau curhat?
profile-picture
Arnisarah memberi reputasi
profile picture
Cerpen yg terinspirasi dengan kejadian yg mirip 😁
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 1 dari 1 balasan
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di