CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab L
Adipati Gading Kencana Beraksi


'Mereka sudah sampai...', hampir serentak Rangga dan para pemimpin pasukannya di medan pertempuran berpikir hal yang sama.

Sadar atau tidak, semangat mereka pun berubah.

Senapati Lesmana yang memperhatikan terus dengan cermat situasi di medan perang bisa merasakan hal itu. Senapati Glagah Wiru dan kedua orang senapati yang lain juga bisa merasakan hal itu.

“Celaka! Ki Adipati, perintahkan Adi Lesmana untuk mundur masuk ke dalam kota.”, seru Senapati Rendra.

“Ijinkan aku untuk memimpin pasukan melindungi jalan mundur mereka”, ujar Senapati Glagah Wiru sebelum Adipati Jalak Kenikir sempat menjawab.

Adipati Jalak Kenikir terkejut, “Tapi... --”

Ketika dia melihat ekspresi wajah ketiga orang senapati-nya, Adipati Jalak Kenikir dengan segera menyadari bahwa keadaan mereka saat ini tidak mengijinkan penundaan waktu berlama-lama. Dengan segera Adipati Jalak Kenikir menganggukkan kepala.

“Laksanakan!”, ujar Adipati Jalak Kenikir dengan tegas.

Senapati Glagah Wiru tanpa membuang waktu segera berlari turun, sesekali melompati beberapa anak tangga sekaligus. Senapati Rendra pun dengan segera memerintahkan prajuritnya untuk memberi aba-aba bagi Senapati Lesmana untuk mundur masuk ke dalam kota. Sangkakala ditiup memberi tanda perintah untuk mundur bagi pasukan Kadipaten Jambangan.

Perintah itu tidak mengejutkan bagi Senapati Lesmana yang bisa merasakan perubahan pada lawan mereka di medan tempur.

“ATUR BARISAN! JANGAN MUNDUR SEMBARANGAN!”, seru Senapati Lesmana dengan suara keras, melihat beberapa prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan yang mulai berhamburan lari ke dalam kota dan membuat barisan mereka tak teratur.

Dalam keadaan yang berbahaya bagi pasukan Kadipaten Jambangan itu, tiba-tiba gerbang kota terbuka dan lima ratus prajurit berkuda, dipimpin oleh Senapati Glagah Wiru berderap maju. Tanpa banyak bicara, tiba-tiba Senapati Glagah Wiru memutar pedang dan memenggal kepala seorang prajurit yang kebetulan berlari paling depan untuk masuk ke dalam ibukota kadipaten.

“KEMBALI KE DALAM BARISAN!”, seru Senapati Glagah Wiru dengan mata melotot, membuat langkah kaki prajurit-prajurit yang berhamburan hendak masuk ke dalam kota terhenti.

Di depan sana, Senapati Lesmana juga bekerja keras untuk mengatur pasukannya yang sempat porak poranda.

“Ki Jumantri! Bentuk garis pertahanan!”

“Ki Saroja! Pertahankan sayap kiri!”

Demikian Senapati Lesmana berkuda dari satu sisi ke sisi yang lain, mengatur barisan pasukannya, sementara Senapati Glagah Wiru dengan cepat menyusul ke depan membantu dia mengatur pasukan. Beruntung bagi pasukan Kadipaten Jambangan, karena di saat yang sama, Rangga memilih untuk memastikan para senapati lepas dari kepunngan dan kembali ke barisan mereka.

“Atur kembali barisan! Jangan memburu lawan!”, teriak Rangga menahan pasukannya yang hendak memburu ke depan.

Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana dengan terampil memimpin pasukan mereka mundur teratur masuk kembali ke dalam kota. Dari atas tembok kota, Senapati Rendra dan Senapati Nakula mengatur prajurit-prajurit yang ada di atas tembok untuk mengganggu pasukan Rangga dengan anak panah-anak panah mereka.

Senapati Glagah Wiru memimpin pasukan berkudanya untuk bergerak dari satu tempat, ke tempat lain, mengganggu pasukan Rangga, sementara Senapati Lesmana dengan tangan besi mengatur mundurnya pasukan masuk kembali ke dalam kota.

Sementara kepulan debu yang terlihat di kejauhan itu, semakin lama semakin besar.

“Pasukan berkuda”, gumam Senapati Nakula.

“Dan jumlah mereka ribuan banyaknya.”, sambung Senapati Rendra.

“Pasukan Rangga yang menghilang itu, tak lebih dari seribu orang dan mereka bukan pasukan berkuda.”, ujar Adipati Jalak Kenikir dengan alis berkerut, ada sedikit nada sumbang dalam dia berujar.

“Rangga dan para pemimpin pasukan Kademangan Jati Asih tentu yang paling tahu. Ada sesuatu yang tak kita mengerti, tapi kita bisa merasakan perubahan semangat pasukan Rangga.”, ujar Senapati Rendra menjelaskan.

“Maksud Ki Rendra?”, tanya Adipati Jalak Kenikir ragu-ragu.

“Kita tidak tahu siapa yang datang, tapi Rangga dan pimpinan-pimpinan pasukan Kademangan Jati Asih tahu, jika mereka sama tidak tahunya dengan kita, maka kedatangan pasukan itu tentunya akan menimbulkan was-was dalam hati mereka.”, ujar Senapati Rendra menjelaskan.

“Namun yang terjadi adalah sebaliknya, kita bisa melihat ketegangan yang menekan mereka menguap dengan datangnya pasukan itu. Artinya ada kepastian dalam diri mereka, bahwa pasukan yang datang adalah bala bantuan.”, sambung Senapati Nakula.

“Siapa mereka?”, tanya Adipati Jalak Kenikir sambil matanya mengawasi pasukan berkuda yang makin terlihat jelas itu.

“Bisa seribu pasukan yang menghilang itu, bisa pula bala bantuan dari Adipati Gading Kencana. Bisa juga Raden Rangga dan para pimpinan pasukan Kademangan Jati Asih salah menduga. Tapi kita tidak bisa mengambil resiko, mempertaruhkan nyawa Adi Lesmana.”, jawab Senapati Rendra.

Sementara mereka bercakap-cakap, pasukan Kadipaten Jambangan sudah sampai di dekat gerbang kota. Pasukan berkuda Senapati Glagah Wiru mendahului masuk ke dalam, sedangkan Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana sendiri, memimpin kesatuan yang lain untuk membentuk garis pertahanan di sekitar gerbang yang terbuka lebar.

Kesatuan demi kesatuan mulai mundur masuk ke dalam kota, sementara pasukan pemanah yang ada di atas tembok kota tidak membiarkan pasukan Rangga dengan mudah mendesak masuk.

Pertempuran sengit terjadi di sekitar gerbang kota Kadipaten Jambangan. Rangga bersama Tumenggung Widyaguna dan beberapa orang senapati yang tidak terluka, memimpin prajurit-prajurit pilihan untuk menembus pertahanan pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin oleh Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana.

Di saat pasukan Rangga bertempur dengan sengit berusaha menembus pertahanan pasukan Kadipaten Jambangan dan menerobos masuk melalui gerbang kota, tiba-tiba dari arah lain sayup-sayup terdengar derap suara pasukan berkuda.

Dengan terkejut Adipati Jalak Kenikir dan kedua orang senapati yang mendampingi dirinya, mengok ke arah datangnya suara derap kuda tersebut. Dari tempat mereka mengamati situasi, mereka melihat barisan panjang prajurit berkuda, dengan panji-panji dan umbul-umbul berkibaran.

“Adipati Karangpandan!”, seru Adipati Jalak Kenikir terkejut.

“Pasukan Prabu Jayabhuanna!”, seru Senapati Nakula dalam waktu yang hampir bersamaan.

Wajah Senapati Rendra memucat, senapati tua itu pun berseru tak mengerti, “Apa yang terjadi di Kadipaten Serayu!? Mengapa pasukan mereka bisa berada di sini!?”

Bukan hanya pihak Kadipaten Jambangan yang terkejut, dari pihak pasukan Rangga pun terdengar seruan Rakryan Rangga Wirapati berseru, “Pasukan, tahan serangan!”

Tiba-tiba pertempuran antara pasukan Rangga dan pasukan Kadipaten Jambangan terhenti.

Pasukan yang baru datang itu mendekat dengan cepat, derap kaki kuda semakin keras, bahkan tanah pun terasa bergetar.

Di belakang pasukan berkuda itu, terlihat pula menyusul ribuan pasukan berbaris ke arah Kadipaten Jambangan. Adipati Jalak Kenikir melihat ke arah ribuan pasukan yang baru datang itu dengan mata terbelalak.

“Jannapati keparat!”, desisnya tak percaya, ketika dia melihat belasan ribu pasukan gabungan para adipati sedang meluruk ke arah Kadipaten Jambangan.

Jika di atas menara, di balik tembok ibukota Kadipaten Jambangan, Adipati Jalak Kenikir dan kedua senapati mengawasi kedatangan pasukan yang besar itu dengan hati tak karuan, di bawah sana, Rangga dan Tumenggung Widyaguna saling berpandangan untuk beberapa saat.

“Tahan serangan! Mundur!”, seru Rangga keras.

Pertempuran di depan pintu gerbang ibukota Kadipaten Jambangan itupun terhenti sejenak. Rangga menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke arah Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana.

“Ki Glagah Wiru!”, seru Rangga memanggil.

“Apa maumu Raden Rangga!?”, tanya Senapati Glagah Wiru dengan suara lantang.

“Gencatan senjata!”, seru Rangga menjawab tak kalah lantang.

Senapati Glagah Wiru saling berpandangan dengan Senapati Lesmana. Tanpa kata, mereka sudah mengerti maksud satu sama lain, Senapati Lesmana pun mengangguk tanda setuju.

Senapati Glagah Wiru menjawab Rangga, “Baiklah, tapi kau tarik mundur dahulu pasukanmu.”

“Tentu saja.”, jawab Rangga singkat.

“Pasukan telik sandi! Tugas kalian selesai, kembali pada pasukan!”, seru Rangga keras.

Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana pun dengan hati berdebar-debar, melihat belasan Bekel dan Lurah Prajurit dari antara pasukan mereka berlarian keluar dan bergabung dengan pasukan Rangga. Di antara mereka, terdapat pula Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras yang diam-diam menyusup dan menyamar menjadi prajurit Kadipaten Jambangan. Wajah Senapati Lesmana merah padam menahan marah, tangannya sudah bergerak ketika dengan cepat Senapati Glagah Wiru menyambar dan menahannya.

“Sabar Di...”, ujar Senapati Glagah Wiru dengan tegas, matanya dengan tajam, tak lepas mengamati pasukan Rangga.

Senapati Lesmana melihat ke arah Rangga, dan dia melihat Rangga, Tumenggung Widyaguna dan para senapati, juga sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan sorot mata yang tajam.

“Bagus sekali Raden Rangga...”, ujar Senapati Lesmana menahan geram.

Rakryan Rangga Aswatama tertawa kecil, “Kalian beruntung, jika pasukan dari arah Serayu itu datang lambat beberapa menit saja...”

Senapati Lesmana dan Senapati Glagah Wiru terdiam membayangkan, keringat dingin membasahi punggun mereka, membayangkan jika hal itu terjadi. Dalam waktu singkat, seluruh prajurit telik sandi sudah kembali bergabung dengan pasukan Rangga.

“Pasukan! Kembali ke barisan utama!”, seru Rangga dengan lantang.

“Mundur! Cepat mundur!”, dari pihak Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana pun terdengar perintah yang sama, dengan buru-buru mereka memimpin pasukan mereka memasuki pertahanan ibukota Kadipaten Jambangan.

Ketika pasukan Kadipaten Jambangan sedang bergegas masuk ke dalam kota, pasukan Rangga pun bergerak cepat mundur, menjauh dari ibukota Kadipaten Jambangan, bergerak kembali ke arah penduduk Kademangan Jati Asih yang menunggu di kejauhan. Rangga dan Tumenggung Widyaguna, bersama beberapa orang senapati berjaga di barisan belakang sambil memandangi pasukan pihak ketiga yang dengan cepat bergerak mendekat.

Terlihat Adipati Karangpandan berderap mendekati mereka, memimpin sepasukan prajurit berkuda.

“Raden Rangga! Hendak pergi ke mana!?”, serunya dengan suara lantang dengan senyum mengejek.

“Setan!”, desis seorang senapati.

Dengan cepat Rangga menyambar tangan senapati itu.

“Jangan tanggapi paman.”, ujar Rangga dengan tenang.

“Benar, abaikan saja orang itu. Toh ini semua masih termasuk dalam perhitungan kita.”, ujar Tumenggung Widyaguna dengan tenang, meskipun sorot matanya yang tajam tak lepas mengawasi Adipati Karangpandan yang sedang tertawa berkakakan di kejauhan.

“Lupakan Kadipaten Jambangan.”, ujar Rangga dengan tegas.

“Sebisa mungkin, segera kumpulkan rekan-rekan yang gugur dalam pertempuran ini. Sebelum matahari tenggelam, aku ingin kita sudah meninggalkan perbatasan ibukota Kadipaten Jambangan.”, kata Rangga pada para pengikutnya.

“Siap raden.”, ujar mereka serempak.

Dalam pertempuran itu, tak kurang dari sepertiga pasukan Rangga, gugur. Tak kalah banyak pula jumlah prajurit yang terluka. Mereka bergerak perlahan ke arah penduduk Kademangan Jati Asih yang menunggu di kejauhan, sambil mengumpulkan rekan-rekan mereka yang gugur maupun terluka. Suasana hening, kecewa dan duka menyelimuti mereka.

Dari tempat mereka, Rangga dan yang lain melihat, pasukan mereka yang bertugas menggagalkan pengiriman perbekalan pasukan Kerajaan Watu Galuh sudah bergabung dengan barisan penduduk Kademangan Jati Asih.

Tak lama kemudian, terlihat sekelompok kecil pasukan berkuda ke arah mereka.

“Raden Rangga.”, terdengar Senapati Gajah Petak, salah satu dari sekelompok kecil pasukan yang berkuda itu, memanggil.

“Paman Gajah Petak, bagaimana dengan situasi kalian?”, sapa Rangga sekaligus bertanya.

“Heh... biar Adi Watu Gunung saja yang menjawab.”, gumam Senapati Gajah Petak sementara matanya memandangi pasukan Prabu Jayabhuanna yang dengan cepat mengepung ibukota Kadipaten Jambangan.

Rangga menepuk pundak Gajah Petak, “Sudahlah paman, lupakan. Seandainya mereka tidak memusuhi dan mengancam barisan kita, sebenarnya aku juga tidak ingin menyerang Kadipaten Jambangan.”

“Hemm...”, Gajah Petak menggeram pelan.

Rangga sudah mengalihkan perhatiannya pada Senapati Watu Gunung yang melaporkan keberhasilan mereka dengan singkat. Tidak lupa menyampaikan juga jasa Gagak Seta dan prajurit-prajurit telik sandi yang membuat misi mereka tercapai dengan lancar. Wajah Ki Ageng Aras terlihat ikut berbinar, mendengar muridnya berhasil menjalankan tugas dengan cemerlang.

“Bagaimana dengan tawanan perang dari pasukan Kerajaan Watu Galuh dan Kadipaten Jambangan?”, tanya Senapati Watu Gunung setelah selesai menyampaikan laporannya.

“Bebaskan saja mereka, sudah terlampau banyak nyawa pahlawan gugur hari ini.”, jawab Rangga dengan suara sedikit bergetar.

“Raden, sekarang ke mana tujuan kita?”, tiba-tiba Gajah Petak bertanya.

Bersambung ke Bab LI
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di