CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f097c33349d0f7f756c9282/cerita-silat-bersambung-----mahakala-yajna

Cerita Silat Bersambung --- MAHAKALA YAJNA

Heningnya malam antarkan getaran nestapa hatiku,
diri ini onggokan debu kelak tersapu ombak waktu.

saking penggalan tutur Kalih Pingpitu



BAB I
(Raden Rangga)


Gbr diambil dr : islamidia.com

Semilir udara pagi menusuk tulang dan matahari masih sembunyi dalam selimut malam, tapi sayup-sayup sudah terdengar suara kesibukan di beberapa rumah. Bau nasi ditanak, tercium samar-samar, seiring suara kesibukan di dapur. Di rumah lain ada juga yang diwarnai tangisan bayi dan dendang si ibu bernyanyi berusaha menenangkan si jabang bayi.

Perlahan-lahan, sebuah kademangan kecil di pinggiran Kerajaan Watu Galuh, bangun dari tidurnya. Seiring langit pagi yang berubah warna, hari yang baru pun dimulai.

Pintu-pintu rumah mulai terbuka, para lelaki berangkat bekerja, entah itu ke ladang dan sawah, ataupun pekerjaan lainnya seperti berburu, pande besi, pedagang dan sebagainya. Para wanita pun memiliki kesibukannya mereka, ada yang sibuk di dapur, ada pula yang pergi mencuci ke sungai. Sementara yang masih anak-anak mulai berkumpul membentuk kelompok-kelompok, sibuk dengan permainan serta petualangan mereka sendiri.

Denyut-denyut kehidupan mengisi seluruh kademangan, …, kecuali di satu tempat.

Tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk Kademangan Jati Asih, terlihat sebuah rumah yang pintu dan jendelanya masih tertutup rapat.

Di sekeliling rumah itu terhampar kebun yang cukup luas. Kebun itu dipenuhi tanaman tapi terlihat tidak terawat, dipagari pagar bambu, tapi ala kadarnya saja.

Seperti juga pintu rumah yang masih tertutup, pintu pagar yang sudah legrek itu, juga masih berdiri malas menghalangi jalan masuk orang ke dalam pekarangan.

Suasana di sekitar rumah itu jadi makin sunyi, karena setiap orang yang akan melewati rumah itu akan berjalan dengan hati-hati dan sesedikit mungkin mengeluarkan suara, seperti takut membangunkan seseorang atau sesuatu.

Yang sedang berjalan bersama sambil ngobrol dengan tetangga, begitu mendekati rumah tersebut akan menutup mulut dan baru setelah lewat, mereka kembali mengobrol dengan penuh semangat. Yang berjalan sendirian dan menghibur diri dengan bersiul-siul, akan berhenti bersiul ketika lewat di depan rumah tersebut.

Bahkan anak-anak pun terlihat lebih menahan diri waktu melewati rumah tersebut, meskipun yang namanya anak-anak, sudah tentu susah buat menahan tawa dan canda.

Ketika penduduk Kademangan Jati Asih sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, rumah itu pun jadi semakin terasa sunyi. Meski letaknya di tengah-tengah rumah-rumah yang lain, kesunyian-nya membuat rumah itu seperti berada di dunia yang berbeda. Sebuah pulau terasing di tengah keramaian.

--------

Matahari perlahan-lahan merayapi langit, selambat siput tapi ajeg dan pasti. Tak pernah terhenti setarikan nafas pun, mengikuti tulisan Sang Maha Pencipta. Langit biru cerah, sesekali disaput awan tipis. Angin berhembus sepoi-sepoi, membuat rumput dan bunga liar bergoyang, mengayunkan tarian tanah surga. Burung-burung mengiringinya dengan kicauan, berpadu dengan gemericiknya air sungai dan suara kesibukan di kejauhan.

Rumah dan pekarangannya yang luas itu, tenggelam dalam tidur dengan nyenyaknya.

----------

Ketika matahari tepat sampai di tengah hari, pintu rumah itu tiba-tiba berderit terbuka perlahan-lahan.

Seorang laki-laki dengan rambut panjang tak berikat, berjalan keluar, gerak-geriknya serba kemalas-malasan, seakan mau berlomba, siapa yang bisa berjalan lebih lambat, melawan matahari yang berada tepat di atas kepalanya.

Sambil meregangkan badan, laki-laki itu menatap langit yang sudah terang benderang. Lalu lama terdiam, seperti orang lupa ingatan.

Waktu terus berlalu. Angin berhembus silir-silir. Suara bebek berkuak sayup-sayup terdengar di kejauhan. Gemericik suara air sungai kecil di belakang rumah, dan laki-laki itu hanya diam menatapi langit.

Sampai tiba-tiba terdengar perutnya berkeruyuk, “Kruuuk.....kluthuk kluthuk...”

Laki-laki itu pun menundukkan kepala, mengamati perutnya sendiri dan bergumam, “Oalah...ra duwe isin... saben dina njaluk diiseni...(terjemahan : dasar tak tahu malu, setiap hari minta diisi)

Kalau dilihat dari dekat, laki-laki itu tak terlalu tua, wajahnya tidak tampan, namun memiliki lekuk-lekuk garis wajah yang tegas dan berwibawa. Alisnya tebal dan membentuk garis yang tajam, memayungi matanya yang kemalas-malasan. Bibir-nya sedikit tersenyum, terlihat ringan tak ada beban hidup.

Sayangnya penampilan yang mestinya menarik itu, terpolusi dengan bau pemalas yang melekat erat pada dirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, kesan pemalas itu terpatri di sudut-sudut ekspresi gerak-gerik tubuhnya.

Masih dengan kemalas-malasan laki-laki itu pergi ke dapur di belakang rumah. Di antara onggokan sisa kayu bakar, terlihat masih ada sisa-sisa singkong dengan kulit menghitam.

Diambilnya mangkok dari bathok kelapa dan tak lama kemudian dia menyibukkan diri mengupas kulit singkong yang sudah hangus itu dengan jari-jari tangannya.

Tangannya terlihat liat dan kokoh, dengan otot padat dan pembuluh menyembul menghiasi lengan. Telapak tangan dan jari-jari-nya terlihat keras dengan kulit tebal dan bekas luka di sana sini.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu sudah bersantai di halaman belakang rumahnya. Berteduh di bawah pohon yang rindang. Dengan nikmatnya dia mengunyah singkong bakar sambil menekuni beberapa gulungan daun lontar.

Mulutnya tak berhenti mengunyah, sementara matanya menyusuri huruf demi huruf. Ketika membaca sorot matanya tampak serius, hilang bau malas yang tadi menguar dari aura tubuhnya. Mengamati sorot matanya, seperti melihat ke permukaan danau yang dalam, tenang tanpa riak gelombang.

------

Tiba-tiba sorot mata yang tenang itu berubah menjadi tajam.

Daun telinganya bergerak-gerak seperti telinga kelinci. Sesaat kemudian alisnya berkerut. Jarinya menggurat-gurat tanah, menghitung-hitung sesuatu.

“Hmm.... sepertinya raja tua itu akhirnya mangkat juga...”, desisnya.

Dengan hati-hati dia meletakkan gulungan-gulungan lontar ke dalam sebuah kotak kayu, kemudian menutupnya baik-baik. Laki-laki itu pun bangkit berdiri dan berjalan ke dalam rumah. Ketika dia keluar ke halaman depan, kotak kayu yang berisi gulungan lontar itu sudah tidak berada di tangan-nya.

Penampilannya juga sudah berubah.

Rambutnya sudah digelung dan dirapikan, meskipun masih terlihat kemalas-malasan, namun aura wibawa yang terpendam, sedikit terpancar dari penampilannya sekarang ini.

Dia bersihkan amben bambu yang ada di depan rumahnya, sesudah itu dia siapkan satu kendi besar air minum dan 4 buah gelas dari potongan bambu. Sisa singkong bakar yang belum habis dia makan, dia hidangkan pula di sebuah piring dari tanah liat.

Laki-laki itu mengamat-amati hidangan yang sudah dia siapkan, sepotong singkong yang terlalu kecil dia ambil dan dilontarkan ke mulutnya sendiri., “Hehee... lumayan...”

Entah, maksudnya sajian di amben itu yang lumayan enak dilihat, atau singkong yang dia kunyah yang lumayan rasanya.

Setelah menyiapkan semuanya, dia pun pergi untuk membuka pintu pagar pekarangan. Baru saja dia membuka pagar, di ujung jalan terlihat empat orang laki-laki berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya.

Melihat lelaki pemalas itu, ke empat laki-laki itu yang sedang berlari itu menghentikan larinya. Mereka berjalan cepat dengan sedikit membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormat.

“Aduh den... ketiwasan den... ketiwasan.... Raden Rangga... kademangan kita tertimpa musibah.” Ujar salah satu dari empat orang laki-laki itu dengan nafas masih memburu, begitu mereka sampai di hadapan si lelaki pemalas.

Di antara mereka berempat, dialah yang tertua dan berjalan paling depan.

Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu dengan tenang menepuk-nepuk pundak laki-laki tua itu, “Sudah...sudah...cup...cup...cup... Seperti langit mau rubuh saja...”

“Eh... ya...” Ki Demang bingung tak tahu harus menjawab apa.

Suasana yang tadinya tegang jadi sedikit cair. Entah siapa, Ki Demang mendengar salah seorang pengikutnya tertawa kecil. Karena tak mungkin dia marah pada Raden Rangga, akhirnya dia cuma bisa melotot pada tiga orang lain yang ikut datang bersama dia.

“Ki Demang jangan panik dulu. Mari masuk ke dalam, baru nanti ceritakan perlahan-lahan, apa yang terjadi, hingga Ki Demang jadi panik seperti sekarang ini.” Ujar Raden Rangga tidak memperpanjang godaannya pada Ki Demang.

Tanpa menunggu empat tamunya dia berjalan menuju ke amben di depan rumah.

Ketenangan-nya menular ke empat laki-laki yang lain. Tinggal sebersit rasa cemas masih menghiasi raut wajah mereka. Laki-laki yang dipanggil Raden Rangga itu memang jauh lebih muda dari mereka berempat. Namun, wibawa dan ketenangan yang memancar dari dirinya, membuat mereka merasa menemukan pegangan yang bisa mereka percaya dalam menghadapi semua masalah.

“Minum dulu.”, ujar Rangga singkat.

Empat lelaki itu melihat empat buah gelas yang sudah disediakan, tepat empat sesuai jumlah mereka yang datang. Lalu teringat pula, Rangga yang pemalas dan hampir tidak pernah keluar dari rumah, sudah menunggu mereka di depan pagar, ketika mereka tiba.

Ki Demang dan tiga orang pengikutnya saling berpandangan. Dari sorot mata mereka, terlihat rasa kagum. Selesai mereka minum beberapa teguk, Rangga mengangsurkan singkong bakar ke arah mereka.

“Baik sekarang coba Ki Demang coba ceritakan dengan runut, tidak perlu terburu-buru,” kata Rangga berwibawa.

----------


“Pagi ini, datang menemui kami, seorang cantrik asuhan Resi Natadharma, membawa kabar genting...” Sampai di situ, Ki Demang terlihat berat untuk melanjutkan.

Raden Rangga tidak berkata apa-apa, hanya menunggu Ki Demang melanjutkan penuturannya.

Akhirnya Ki Demang pun melanjutkan degan terbata-bata, “Sang prabu dikabarkan sudah berpulang seminggu yang lalu.... dan putera mahkota Pangeran Puguh yang sekarang bertakhta, dengan gelar Prabu Jannapati.”

Ki Demang dan tiga lelaki yang lain, mengamati baik-baik raut wajah Rangga, berharap melihat dia menunjukkan reaksi tertentu. Namun mereka hanya bisa menelan rasa penasaran, karena wajah Rangga biasa-biasa saja, tak bergejolak sedikit pun.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

“Resi Natadharma mengingatkan, sikap raja yang sekarang, bisa jadi berbeda dengan almarhum kanjeng prabu yang sudah wafat”, jawab Ki Demang.

“Itu saja?”, tanya Rangga.

Ki Demang tampak ragu-ragu sebelum menambahkan, “Ini bukan pesan dari Resi Natadharma, tapi dari cerita cantrik yang menjadi utusan. Menurutnya, akan ada pembersihan oleh raja yang baru. Terlihat satuan-satuan pasukan dari beberapa kadipaten, yang diminta berkumpul ke ibu kota.”

“Sementara Pangeran Adiyasa, adik Pangeran Puguh, yang sebelumnya sempat didukung beberapa orang menteri dan penasehat agar dipilih menjadi putera mahkota, pergi tetirah ke Kadipaten Banyu Urip, sehari setelah upacara pengangkatan Prabu Jannapati.”

“Itu saja?”, untuk ketiga kalinya Rangga bertanya.

Ki Demang terlihat ragu, tapi akhirnya menganggukkan kepala, “Itu saja Den.”

Rangga tersenyum, “Kalau tidak ada yang lain, aku ingin melanjutkan tidur siangku.”

Ki Demang dan tiga tamu yang lain saling berpandangan.

Seorang dari mereka, seorang laki-laki setengah baya dengan badan kekar dan berkumis tebal, memberanikan diri untuk bertanya pada Rangga, “Raden... apa kita tidak perlu bersiap-siap?”

“Bersiap-siap untuk apa Ki Jagabaya?”, Rangga balik bertanya.

“Siap-siap... eh... bagaimana tentang kabar akan ada pembersihan...”, ragu-ragu Ki Jagabaya berusaha menjawab.

Raden Rangga tertawa kecil, lalu berdiri dari duduknya, dan mengangguk ke arah pintu keluar. Ke-empat tetamunya pun, terpaksa ikut berdiri dan dengan setengah hati berjalan pergi.

Ketika Ki Demang berjalan melewati dirinya, Rangga menepuk pundak lelaki tua itu, “Jangan kalian pikirkan tentang ruwetnya urusan di ibu kota. Aku kenal baik siapa itu Pangeran Puguh, percayalah, kademangan ini baik-baik saja.”

Mendengar jawaban Rangga, hati ke-empat tamunya pun jadi sedikit lega. Mereka tidak percaya pada raja yang baru ini, tapi mereka percaya Rangga. Rangga mengantar mereka sampai ke pagar depan, selama berjalan dia terlihat diam dan berpikir. Ke-empat tamunya itu tidak berani mengganggu.

Ketika mereka hendak berpamitan, Rangga berkata, “Setidaknya untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan seperti biasa.”

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan, wajah mereka terlihat hikmat. Resi Natadharma tidak mungkin mengirimkan utusan jika tidak ada berita yang sifatnya genting. Namun bila gosip dari cantrik itu benar, mereka pun tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan kademangan kecil seperti kademangan mereka menghadapi satuan khusus sebuah kerajaan. Itu sebabnya mereka merasa panik. Ketenangan dan jaminan dari Rangga memang menguatkan hati mereka, tapi tetap saja rasa terancam itu tidak hilang dari hati mereka.

“Kami mengerti Den”, jawab mereka hampir serempak.

“Aku akan meninggalkan Kademangan Jati Asih untuk beberapa waktu. Tidak lama ... tidak akan lebih dari seminggu. Kalau ada yang mencariku, Ki Demang suruh saja dia menunggu, atau meninggalkan pesan.”, Rangga menambahkan.

“Apakah kepergian Raden perlu kami rahasiakan?”, tanya Ki Demang.

Rangga menggelengkan kepala, “Tidak usah, hanya akan membuat kecurigaan yang tak perlu.”

Rangga masih menunggu Ki Demang dan yang lain hilang di ujung jalan, sebelum dia kembali ke dalam rumah. Tak ingin kepergiannya dilihat banyak orang, baru setelah mendekati tengah malam, Rangga berjalan meninggalkan Kademangan Jati Asih.

Membawa buntalan di atas pundak, Rangga berjalan menelusuri pematang-pematang sawah, jauh dari rumah-rumah penduduk. Sesekali terlihat sekelompok peronda yang berjalan mengitari jalan-jalan di Kademangan Jati Asih, namun tidak sulit bagi Rangga untuk bersembunyi dari pandangan mata mereka. Hanya dengan berhenti bergerak saja, dalam sepersekian tarikan nafas, keberadaan-nya seperti mengabur dari kesadaran orang-orang lain di sekelilingnya. Jangankan dari kejauhan dan tersembunyi dalam gelap. Rangga bisa saja berdiri satu meter di depan mereka, tanpa mereka sadar ada orang di depannya.

Rangga tidak berlari, hanya berjalan saja, bahkan langkah-langkahnya tidak terlihat cepat bergegas, tapi tubuhnya ringan seperti tertiup angin. Kalau memakai jubah putih, sudah terlihat melayang-layang seperti arwah gentayangan.

Rangga dengan cepat sampai ke perbatasan Kademangan, tak ada halangan yang berarti selama perjalanan.

Namun, ketika setapak saja kakinya baru melangkah meninggalkan batas kademangan Jati Asih, tiba-tiba satu sosok berkelebat cepat, jauh lebih cepat dari gerakan Rangga, menghadang jalannya. Suara angin berkesiur mengikuti lontaran sepasang kepalan tangan ke arah dada Rangga.

Rangga tidak kalah cepat bereaksi, tubuhnya menyurut mundur, seringan bulu yang tertiup angin. Dua tangannya bergerak menyambut kepalan lawan dengan telapak tangan yang terbuka. Ketika kedua pasang tangan itu bertemu, tidak terdengar suara benturan yang keras. Bahkan hampir-hampir tidak ada suara benturan sedikitpun. Namun tenaga yang dibawa dua tinju itu teredam oleh dua telapak tangan Rangga.

Dengan ringan tubuh Rangga melayang mundur, memasuki kembali tapal batas Kadengan Jati Asih, sementara sosok yang menyerang dirinya juga tidak maju memburu.

Matahari masih jauh dari terbitnya, ketika Rangga sampai di batas terluar Kademangan Jati asih. Orang-orang yang normal, masih nyenyak dalam tidurnya, tapi di garis perbatasan Kademangan Jati Asih, diapit dua gapura penanda batas, berdiri dua sosok saling berhadapan, dengan kaki terpentang menancap kukuh di bumi.


Bersambung ke bab II



profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
Bab XLIX
Rangga Terkepung


Senapati Lesmana berteriak keras, “BERSIAP! JANGAN LEPASKAN PANAH SEBELUM AKU MEMBERI ABA-ABA!”

Pasukan Rangga berderap maju, langkah-langkah, mendekati dua puluh langkah dari posisi mereka sebelumnya berhenti, Rangga memberikan perintah, “Pasukan perisai! Angkat perisai! Maju menyebar!”

Setiap kali Rangga memberikan perintah, selalu diikuti oleh kode-kode tertentu dengan mengibarkan panji-panji yang berbeda.

Selain mengikuti perintahnhya, para pimpinan kesatuan juga harus memperhatikan panji apa yang dikibarkan.

Saat ini pasukan yang membawa perisai, bergerak menyebar, barisan yang tadinya rapat sekarang menyisakan jarak dua-tiga langkah antar prajurit. Mereka semua mengangkat perisai yang lebar ke atas kepala, membentuk sudut, melindungi tubuh dan kepala mereka dari serangan panah lawan.

“Pasukan Panah, berlindung di antara perisai!”, menyusul perintah berikutnya

Dan pasukan panah pun melebur dengan pasukan perisai yang ada di depan mereka, berlindung di antara barisan perisai. Pasukan Rangga masih bergerak maju ke depan dengan langkah kaki yang tetap.

------

Di balik tembok kota, di atas salah satu menara, Adipati Jalak Kenikir dan tiga senapati yang lain mengamati pertempuran di bawah. Dari posisi mereka, mereka bisa melihat garis besar seluruh medan pertempuran tanpa ikut terbawa suasana di bawah sana.

Senapati Glagah Wiru berdesis, “Gawat, Adi Lesmana termakan irama lawan.”

“Menurut Ki Glagah Wiru apa yang seharusnya dia lakukan?”, tanya Adipati Jalak Kenikir, dia sendiri tak bisa membayangkan berada di tengah pertempuran.

Senapati Glagah Wiru menjawab, “Harusnya Adi Lesmana mengirimkan satuan-satuan kecil untuk mengganggu pergerakan barisan pasukan lawan, tidak membiarkan mereka maju teratur dengan bebas.”

“Mungkin Adi Lesmana bukan tidak tahu, tapi tidak bisa.”, Senapati Rendra ikut memberikan pendapat.

Senapati Glagah Wiru bertanya, “Maksud kakang, karena keadaan prajurit-prajurit yang dia pimpin saat ini?”

Senapati Rendra mengangguk, “Benar, terlihat mereka tidak siap untuk terjun dalam pertempuran dengan gelar terbuka seperti sekarang. Seperti tadi, beberapa orang melepaskan panah sebelum mendapat aba-aba, dan yang lain dengan segera mengikuti.”

Senapati Glagah Wiru menghela nafas, “Justru itu, mengapa aku berkata Adi Lesmana terbawa irama lawan.”

“Maksud Adi Glagah Wiru?”, tanya Senapati Rendra terjejut.

Senapati Glagah Wiru menunjuk ke pertempuran di bawah sana, “Adi Lesmana, terbawa oleh sikap dan pergerakan pasukan Raden Rangga, seakan-akan dia harus memimpin pasukannya seperti Raden Rangga memimpin pasukannya. Dia lupa, prajurit yang dia pimpin tidak cocok bertempur seperti itu.”

“Kakang Glagah Wiru ada benarnya, kalau bertempur dengan cara seperti ini, pasukan Adi Lesmana justru tidak bisa menunjukkan kelebihan mereka.” ujar Senapati Nakula.

Senapati Rendra mendesah, “Kalau seperti itu, lalu apa bedanya dengan geromboan begal Gunung Awu...?”

“Masih ada kelebihannya dibandingkan gerombolan begal itu, di sini ada Adi Lesmana yang bisa memimpin dan mengarahkan mereka sebagai satu kesatuan, meskipun tidak serapi seperti yang ditampilkan pasukan Raden Rangga.”, jawab Senapati Glagah Wiru.

Senapati Rendra terdiam sejenak dan akhirnya menganggukkan kepala, “Benar... kau benar Di... Adi Lesmana harusnya mengembangkan pertempuran ke arah yang sesuai dengan kelebihan pasukannya, yaitu dalam pertarungan satu lawan satu. Pertarungan yang rusuh dan menyulitkan Raden Rangga untuk membentuk formasi perang.”

Adipati Jalak Kenikir mengerutkan alis, “Jika dibiarkan terus seperti ini, apakah tidak berbahaya bagi Ki Lesmana?”

Ketiga orang senapati saling berpandangan untuk beberapa lama tidak ada yang berani menjawab. Senapati Rendra, yang tertua di antara mereka akhirnya membuka mulut.

“Adi Glagah Wiru, dalam hal strategi dan taktik pertempuran, kau yang paling mahir di antara kita semua.”, ujar Senapati Rendra.

Adipati Jalak Kenikir mengangguk, “Ki Glagah Wiru, tolong kau berikan pendapatmu.”

Senapati Glagah Wiru dengan hati-hati menjawab, “Untuk saat ini, keadaan Adi Lesmana belum begitu berbahaya. Meskipun hampir tidak mungkin menang, namun masih ada banyak kesempatan untuk mundur dari medan pertempuran. Bagaimanapun juga, jumlah pasukan kita tidak berada di bawah jumlah pasukan lawan dan begitu mereka mulai masuk dalam pertempuran jarak dekat, prajurit-prajurit kita punya banyak kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka.”

Adipati Jalak Kenikir bertanya, “Jika kita mengirimkan bantuan sekarang bagaimana?”

Senapati Glagah Wiru mengalihkan perhatiannya ke medan pertempuran, beberapa kali dia menghela nafas sebelum akhirnya menjawab, “Kita belum tahu, di mana keberadaan seribu orang prajurit Raden Rangga yang menghilang itu. Bisa jadi mereka sedang bersembunyi dan menanti pasukan kita keluar dari kota.”

Adipati Jalak Kenikir berpikir keras, keputusan ada di tangannya.

“Kita tunggu. Bukankah dari awal kita tidak mengharapkan kesatuan yang baru ini untuk menang? Apakah saat ini perbandingan kekuatan di medan tempur sudah di luar perkiraan awal?”, akhirnya Adipati Jalak Kenikir mengambil keputusan, sembari bertanya mencari kepastian.

Senapati Glagah Wiru memperhatikan jalannya pertempuran di bawah sana, dan setelah cukup lama berpikir akhirnya dia menjawab, “Masih masuk dalam perhitungan awal.”

“Baik, kalau begitu kita tunggu.”, ujar Adipati Jalak Kenikir pendek.

------

Pada saat itu, di medan pertempuran, kedua pasukan saling bertukar anak panah. Pasukan Senapati Lesmana berada di posisi yang lebih baik, tetapi pasukan Rangga menang dari sisi semangat, moral dan kedisiplinan.

Korban satu per satu terus berjatuhan dari kedua belah pihak.

Terutama dari pihak pasukan Rangga, tapi dengan teguh prajurit-prajurit yang masih berusia muda itu terus melangkah maju, di bawah hujan anak panah. Setiap kali hujan anak panah turun seperti gelombang, puluhan bahkan mungkin ratusan orang prajurit jatuh menjadi korban. Entah luka, atau nyawa. Perisai-perisai yang menahan anak panah itu sudah compang-camping, dihiasi belasan anak panah.

“Pasukan penyerang! Bersiap!”, seru Rangga, jarak mereka sudah tinggal dua puluh atau belasan langkah dari lawan.

“Pasukan tombak! Bersiap!”, seru Senapati Lesmana.

“Serang!”, seru Rangga sambil memacu kudanya ke depan, diikuti oleh para senapati yang tidak memimpin kesatuan.

Tumenggung Widyaguna dan kedua rakryan, juga berseru, “Serang!”

Namun ketiganya tidak maju memapak musuh seperti Rangga dan belasan orang senapati yang maju jauh mendahului pasukan mereka. Ketiganya menjaga posisi, maju bersama pasukan.

Tumenggung Widyaguna mengambil alih pimpinan pasukan, sementara Rangga dan para senapati mengamuk di depan, seperti pusaran angin yang menyerap prajurit di sekitar mereka. Menyerap mereka masuk, dan memuntahkan mereka kembali dalam keadaan luka bahkan mati.

Namun tidak lama itu terjadi, tentu saja Senapati Lesmana tidak membiarkan mereka meraja lela di antara pasukannya.

Senapati Lesmana berteriak-teriak dari atas kudanya, “Tedja! Lakukan tugasmu!”

Kemudian memacu kudanya ke posisi lain dan memberi perintah pada beberapa orang Bekel, “Bagus! Pimpin kesatuan -mu menghadang senapati lawan!”

Demikian dia mengatur pasukannya, dari satu titik ke titik lain.

Namun Raden Rangga dan para senapati berhasil memberi waktu bagi pasukan mereka untuk mendekat.

Tumenggung Widyaguna yang memimpin di depan berseru, “SERAANG!”

Pasukan Rangga meluruk maju, mereka maju sebagai kesatuan-kesatuan yang lebih kecil. Dengan cara begitu mereka bisa mengimbangi prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan yang rata-rata lebih berpengalaman dan selapis-dua lapis lebih tinggi ilmunya dari mereka. Tapi karena jumlah kedua pasukan kurang lebih berimbang, maka Rangga, Tumenggung Widyaguna dan para senapati harus bekerja keras untuk menyeimbangkan keadaan.

Adipati Jalak Kenikir dan tiga orang senapati terus mengamati dari atas menara. Serangan pasukan Rangga yang awalnya seperti ombak yang menderas, sekarang tertahan di garis pertahanan pasukan Kadipaten Jambangan.

Adipati Jalak Kenikir menoleh ke arah Senapati Glagah Wiru dan berkata, “Kau benar, orang per orang, pasukan kita jauh lebih baik dari pasukan mereka.”

“Benar..., tapi Adi Lesmana harus bekerja keras mengatur pasukan. Ki Adipati lihat, Raden Rangga dan para senapati, terus bergerak memancing pasukan kita, berusaha mengacaukan barisan kita, sesekali meninggalkan lubang dalam garis pertahanan kita. Sementara Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan Rangga di sayap pasukan memimpin pasukan mereka untuk bergerak merebut dan mengamankan posisi tersebut.”, Senapati Glagah Wiru menjelaskan sambil menunjuk ke tempat-tempat di medan pertempuran, di mana proses itu terjadi.

“Yang penting, kita harus bisa memastikan keselamatan Ki Lesmana.”, Adipati Jalak Kenikir dengan alis berkerut cemas.

“Tidak ada masalah, Adi Lesmana bisa menguasai keadaan dengan baik sekarang. Ki Adipati lihat? Adi Lesmana perlahan-lahan menguasai keadaan. Selama seribu pasukan yang menghilang itu tidak tiba-tiba muncul di sini, kita bisa memenangkan pertempuran hari ini.”, kata Senapati Rendra.

Senapati Glagah Wiru mengangguk, “Kakang Rendra benar, Adi Lesmana sampai saat ini masih berhasil menjaga sehingga pasukan Raden Rangga belum berhasil menerobos masuk.”

Di bawah sana, semakin lama waktu berjalan, ketika jumlah korban terus berjatuhan, kesatuan-kesatuan kecil mulai kehilangan anggotanya mereka pun semakin kesulitan dalam menghadapi prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan yang perlahan-lahan mulai beradaptasi dengan medan pertempuran.

Tanpa disadari, Rangga dan para senapati, terjebak masuk terlalu jauh ke dalam pasukan Kadipaten Jambangan. Tumenggung Widyaguna belum berhasil memimpin pasukan Kademangan Jati Asih untuk merebut rongga-rongga yang ditinggalkan Rangga, sebaliknya Senapati Lesmana menunjukkan kelebihannya dengan merebut kembali daerah yang terbuka.

Berbeda dengan Rangga dan para senapati yang terjun langsung bertarung dengan para prajurit lawan Senapati Lesmana lebih berfungsi sebagai pengatur pasukan. Dia tidak pernah terlibat langsung dalam pertempuran, tapi dengan jeli mengirimkan prajurit-prajuritnya sesuai dengan keadaan medan pertempuran.

Pada saat ini Rangga dikeroyok belasan orang prajurit yang bekerja sama dengan rapat, tak mudah bagi Rangga untuk melukai salah seorang dari mereka, tanpa mendapatkan serangan balik dari rekan yang lain. Prajurit-prajurit itu pun berkelahi dengan cerdik, mereka lebih berkonsentrasi untuk mengepung Rangga, sehingga dia tidak bisa bergerak ke lokasi lain dalam medan pertempuran.

Di belakang belasan prajurit itu, ada puluhan prajurit lain yang menyerang Rangga dengan senjata jarak jauh, baik panah maupun senjata rahasia.

Ketika Rangga berhasil melukai seseorang, dengan cepat prajurit lain menggantikan posisi prajurit yang terluka.

Senapati Lesmana dari waktu ke waktu, mengirimkan lebih banyak kesatuan memperketat kepungan terhadap Rangga. Membentuk berlapis-lapis kepungan, menjaga agar dia tidak bisa lepas kembali pada pasukannya.

Melihat pertempuran semakin berat, beberapa orang senapati sudah mulai terluka, Raden Rangga berseru, “Para senapati! Mundur! Bergabung dengan pasukan!”

Tidak seperti Senapati Lesmana yang dengan berani memerintahkan kesatuan-kesatuan dalam pasukannya untuk melakukan tugas tertentu, Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan Rangga tidak berani mengirimkan kesatuan-kesatuan di bawah pimpinannya bergerak lepas dari barisan utama. Akibatnya mereka tidak bisa mengirimkan bantuan bagi para senapati dan Rangga yang berada di antara barisan lawan.

Para senapati harus berjuang sendiri, untuk melepaskan diri dari kepungan lawan.

Rangga berusaha mengamati keadaan medan pertempuran, kemudian berseru “Paman Widyaguna! Jangan terpancing! Pertahankan garis pertempuran!”

Melihat rekan-rekan seperjuangannya yang harus berjuang di depan tanpa bantuan, mata Tumenggung Widyaguna memerah, jenggot putihnya berkibaran saat dia mengamuk dan memukul mundur belasan prajurit lawan yang ada di depannya.

Namun dia tidak berani memburu mereka ke depan, karena barisan pasukan mereka akan menjadi tidak beraturan jika dia melakukan hal itu.

“Gunakan sayap untuk membebaskan para senapati!”, seru Rangga pada Tumenggung Widyaguna.

Mendapatkan perintah dari Rangga, Tumenggung Widyaguna pun mengubah formasi pasukan, kedua Rakryan Rangga di sayap kiri dan kanan, memimpin sekelompok kecil satuan prajurit mendesak maju pasukan lawan.

Senapati Lesmana dengan segera mengatur kembali barisannya, seperti seekor harimau yang sudah berhasil menggigit leher lawan dan tak mau melepaskan gigitannya, meski mendapat serangan dari kiri dan kanan.

Senapati Lesmana memilih untuk memundurkan barisan di sayap kiri dan kanan, tanpa mengendurkan kepungannya atas para senapati dan Rangga yang terjebak di tengah-tengah pasukannya. Melihat tanggapan Senapati Lesmana, Rangga pun berpikir keras mencari jalan lain.

Tiba-tiba dari salah satu kepungan terdengar sorakan keras, “Kena!”

“Kakang Dalawangsi!”, terdengar Senapati Trimukti berseru marah sambil berusaha menerobos prajurit yang mengepungnya dan bergerak menolong Senapati Dalawangsi yang terluka cukup parah.

Tiba-tiba terdengar Tumenggung Widyaguna berseru, “Wirapati! Ambil alih pimpinan pasukan! Aswatama! Ikuti aku untuk membebaskan saudara-saudara kita dari kepungan!”

Raden Rangga yang mendengar seruan Tumenggung Widyaguna segera memahami maksud tumenggung tua itu, sambil menggerung keras dia menerobos kepungan yang ada di sisi kanannya, “Paman Widyaguna ke timur! Aku bereskan yang barat! Para senapati berkumpul! Kalian yang di sisi timur bergerak ke arah Paman Widyaguna! Yang di sisi barat bergerak ke arahku!”

Ketika melihat Tumenggung Widyaguna dan Rangga mengamuk dan korban mulai berjatuhan, Senapati Lesmana pun berteriak, “Hindari mereka, jangan keras lawan keras!”

Kemudian berkuda ke garis lain, dia memberikan perintah untuk menyerang ke arah pasukan Rangga yang kehilangan dua orang pimpinannya.

Sayap kiri dan kanan dari pasukan Rangga yang sekarang kehilangan pemimpin, terpukul mundur dan Rakryan Rangga Wirapati pun harus memundurkan garis perlawanan dan memendekkan garis pertempuran, agar barisan mereka tidak terputus.

Namun sebagai imbal balik, Rangga dan Tumenggung Widyaguna berhasil mengumpulkan para senapati menjadi dua kelompok kecil yang saling membantu di tengah kepungan lawan. Sehingga setidaknya, senapati-senapati yang terluka bisa mengambil nafas sejenak.

“Bertahan! Bertahan! Sesaat lagi saudara-saudara kita akan bergabung dan kita balikkan keadaan!”, seru Rangga menyemangati pasukannya.

“Bantuan yang kalian tunggu tidak akan pernah datang!”, seru Senapati Lesmana berusaha melemahkan semangat mereka.

“Lesmana, kalau kai berani jangan bersembunyi di belakang pasukanmu!” Seru Rakryan Rangga Aswatama.

“Hahahaha! Kita sedang berperang, bukan berduel!”, jawab Senapati Lesmana tertawa mengejek.

“Terobos kepungan! Kembali pada barisan!”, seru Rangga dan Tumenggung Widyaguna.

“Pasukan maju, bebaskan Raden Rangga dari kepungan lawan!”, seru Rakryan Rangga Wirapati berusaha mendesak mundur barisan lawan.

Senapati Lesmana pun menggerakkan pasukannya mmperketat tekanan atas pasukan Rangga.

Demikian kedua belah pihak saling melontarkan tantangan dan ejekan, saling bermanuver, saling mementahkan strategi lawan, mengiringi korban yang terus berjatuhan dari kedua belah pihak.

Di saat yang sama, seorang Bekel dari pasukan Kadipaten Jambangan memimpin pasukannya dengan hati tak menentu, memandangi korban yang berjatuhan dari pihak pasukan Rangga, dia berpikir, 'Kapan perintah bagi kami tiba?'

Di atas menara Senapati Glagah Wiru mengitarkan pandangannya ke garis-garis cakrawala di kejauhan, 'Apakah seribu orang prajurit itu akan datang bergabung? Kapan...? Dari mana?'

Mereka semua menanti, Rangga menanti, Adipati Jalak Kenikir menanti, para senapati, juga para prajurit telik sandi yang tersebar di antara pasukan Kadipaten Jambangan.

Tiba-tiba Senapati Rendra menunjuk ke satu kepulan debu yang perlahan terlihat semakin membesar di kejauhan, “Ada yang datang!”

Bersambung ke Bab L
profile-picture
profile-picture
profile-picture
erman123 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lonelylontong
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di